| Ilustrasi: ada Kayung di antara mereka |
| Ilustrasi: Kayung Berdoa |
Seperti kebanyakan anak-anak pantai, ia tak pernah punya cita-cita tinggi. Mungkin ia tahu bahwa cita-cita adalah sebuah mimpi yang dipaksakan. Bukan pesimis tapi ia sadar ia berasal dari keluarga kurang mampu. Bapaknya hanyalah seorang nelayan miskin. Melaut dan menangkap ikan dengan menumpang perahu orang lain. Hasil tangkapan tidak seberapa karena harus dibagi banyak kepada pemilik perahu. Pemilik perahu mendapat bagian lebih. Untuk perahunya, untuk mesin perahu dan dirinya sendiri. Sementara bapaknya memperoleh sisanya. Itupun masih harus dibagi lagi dengan rekan kerja yang lain yang sama-sama berstatus sebagai anak buah. Berniat meringankan beban hidup keluarga, ibunya bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sebuah pilihan hidup yang rumit antara membagi waktu untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Mengandalkan penghasilan orang tuanya yang tak seberapa itu justeru semakin meyakinkannya bahwa cita-cita adalah beban masa depannya. Meskipun demikian, diam-diam orang tuanya berikrar dalam hati. "Nasib anakku harus lebih baik dari nasib kami sekarang".
Tekad itu terjaga dengan baik hingga tak terasa Kayung dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Teman sepermainan Kayung semasa kecil sudah banyak yang menikah bahkan ada yang kini telah memiliki anak seumuran anak SMP. Teman Kayung tak ada yang berpendidikan tinggi. Terhitung jari yang menamatkan pendidikan jenjang SMA. Kebanyakan drop out di SMP dan SD. Di masyarakat, Kayung tampil bersahaja dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya. Orang tua Kayung tak pernah jumawa dengan keadaan sekarang. Bapaknya masih saja melaut meski kali ini nasibnya lumayan baik karena telah memiliki perahu sendiri. Perahu bekas yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya selama ini hingga uangnya cukup untuk membeli perahu.
Bak gayung bersambut, pasca diwisuda Kayung tidak lama menganggur. Dalam satu kesempatan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ia langsung dinyatakan lulus dan diterima kerja menjadi PNS. Tidak tanggung-tanggung Kayung merupakan warga kampung nelayan pertama yang berhasil menjadi PNS. Seluruh warga kampung nelayan tercerahkan. Para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah. Anak laki-laki kampung nelayan tidak lagi berminat menjadi nelayan. Sedangkan anak perempuan langsung menolak ketika orang tuanya menyuruh mereka menikah. Kultur kampung nelayan terus berubah seiring keberhasilan Kayung menduduki jabatan tertentu di pemerintahan meskipun masih di level eselon IV. Hampir tak terdengar lagi anak-anak kampung nelayan yang putus sekolah. Bahkan anak remaja sudah banyak yang sengaja meninggalkan kampung nelayan semata-mata pergi untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Efek Kayung membuat anak-anak terobsesi mengikuti jejaknya. Bagi orang tua kampung nelayan lainnya, Kayung sering dijadikan kiblat keberhasilan mendidik anak.
Mengetahui dirinya obyek percontohan, Kayung merasa biasa-biasa saja. Ia justeru bersyukur orang-orang terinspirasi terhadap perjuangan orang tuanya.
Maka dengan sendirinya dapat meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya. Kayung tahu apa yang diraihnya hari ini adalah benih yang ditanam orang tuanya sejak dahulu. Kerja keras yang diramu dengan kesabaran dan untaian doa orang tuanya, menjadikan Kayung menapak kesuksesan. Bahwa hasil tak pernah mengingkari niat dan proses.
| Kampung Nelayan Kayung |
Namun, karir Kayung di pemerintahan tak selamanya mulus. Sudah tiga kali acara pelantikan digelar namanya tak pernah disebutkan. Jabatannya masih sama seperti tujuh tahun lalu. Seorang teman Kayung pernah menanyakan kepadanya bagaimana perasaan Kayung sampai saat ini belum dipromosi ke jabatan yang lebih tinggi. Dengan wibawa ia berujar panjang "Saya tetap bersyukur atas jabatan yang masih diamanatkan kepada saya. Terus terang, saya tidak punya ambisi sama sekali terhadap jabatan tinggi. Bagi saya Tuhan telah memberi bonus rezeki yang tiada tara kepada saya. Menjadi sarjana apalagi menjadi PNS itu sudah luar biasa sebab di satu sisi saya cukup beruntung dibanding teman-teman saya yang tidak bisa kuliah bahkan sekolah. Jadi untuk urusan karir di pemerintahan, saya mengalir seperti air saja". Teman Kayung masih bertanya. "Mengapa tidak mencoba mendatangi Bupati untuk minta naik jabatan". Kayung menjawab singkat. "Itu bukan karakter saya dan juga saya tahu diri, nenek moyang saya hanyalah seorang pelaut. Apa yang saya capai sekarang bukanlah mimpi yang terbeli".




