Saturday, March 18, 2017

Bukan Mimpi yang Terbeli




Hasil gambar untuk pns
Ilustrasi: ada Kayung di antara mereka
    
Namanya Kayung, bukan nama aslinya tapi begitulah ia sering dipanggil. Sebenarnya nama resmi yang disematkan padanya oleh orang tua di dokumen administrasi kependudukan adalah Makrun. Seorang anak yang meski lahir di tengah kemiskinan kampung nelayan namun tetap tumbuh dengan belai kasih maksimal dari kedua orang tuanya. Kehidupan masa kecilnya tak ada yang istimewa. Semua dilakukan seperti umumnya anak kebanyakan. Bermain, mengaji dan sekolah. Untuk urusan sekolah, prestasinya pun biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dibanggakan. Eits, tunggu dulu, itu menurut kita. Menurut orang tua Kayung tidak. Mereka menganggap anaknya bersekolah saja itu sebuah kejutan. Menilai itu sebuah jawaban nyata dari doa yang tak putus-putus dipanjatkan ke Sang Khalik. Bagaimana mungkin ia tidak patut berbangga hati, anaknya masih tetap bersekolah sementara teman-teman Kayung sudah banyak yang putus sekolah. Saat itu, diakui memang minat anak-anak untuk bersekolah masih sangat rendah dan parahnya lagi didukung oleh pikiran sesat para orang tua yang lebih memilih anak-anaknya agar secepat mungkin terjun ke laut, menjadi nelayan meneruskan tradisi keluarga. Padahal kehidupan ekonomi masyarakat kampung nelayan kala itu tidak sedikit yang dikategorikan mampu atau kaya. Sehingga biaya sekolah bukanlah sebuah alasan yang masuk akal untuk tidak meneruskan pendidikan anak.








Hasil gambar untuk pns
Ilustrasi: Kayung Berdoa






















Seperti kebanyakan anak-anak pantai, ia tak pernah punya cita-cita tinggi. Mungkin ia tahu bahwa cita-cita adalah sebuah mimpi yang dipaksakan. Bukan pesimis tapi ia sadar ia berasal dari keluarga kurang mampu. Bapaknya hanyalah seorang nelayan miskin. Melaut dan menangkap ikan dengan menumpang perahu orang lain. Hasil tangkapan tidak seberapa karena harus dibagi banyak kepada pemilik perahu. Pemilik perahu mendapat bagian lebih. Untuk perahunya, untuk mesin perahu dan dirinya sendiri. Sementara bapaknya memperoleh sisanya. Itupun masih harus dibagi lagi dengan rekan kerja yang lain yang sama-sama berstatus sebagai anak buah. Berniat meringankan beban hidup keluarga, ibunya bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sebuah pilihan hidup yang rumit antara membagi waktu untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Mengandalkan penghasilan orang tuanya yang tak seberapa itu justeru semakin meyakinkannya bahwa cita-cita adalah beban masa depannya. Meskipun demikian, diam-diam orang tuanya berikrar dalam hati. "Nasib anakku harus lebih baik dari nasib kami sekarang".

***


Orang tua Kayung memang luar biasa. Pikirannya jauh ke depan. Ibarat orang main catur, ia sudah memikirkan beberapa langkah berikutnya sebelum melangkahkan bidak caturnya sekarang. Tidak sampai di situ, ia dengan percaya diri meyakini bahwa langkah yang dipilihnya akan berbuah kemenangan dengan raja lawan mati di kotak sudut. Meskipun orang tua Kayung dihimpit beban ekonomi, mereka tidak pernah menyerah untuk memberi hal yang terbaik untuk anaknya, termasuk terus menyemangati anaknya untuk terus bersekolah. Bapak Kayung menyadari, nasibnya sekarang menjadi nelayan itu karena kesalahannya dahulu yang memang tidak mau bersekolah. Oleh karena itu, ia bersikeras apapun yang terjadi ia tidak mau anaknya Kayung kelak menjadi nelayan mengikuti jejaknya. Biarlah menjadi nelayan cukup diwariskan kepada anak-anak kampung nelayan lainnya. Orang tua Kayung rupanya telah mengadopsi strategi Pemerintah Jepang untuk membangun kembali negaranya pasca bom atom meluluhlantakkan dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki dengan membangun sumber daya manusianya. Pemerintah Jepang tahu mustahil mengelola sumber daya alam dalam waktu dekat di tengah kota yang terpapar radiasi bom atom yang parah. Satu-satunya pilihan adalah dengan mengirim anak mudanya bersekolah jauh ke luar negeri. Hasilnya kita lihat sendiri. Jepang kini telah menjadi kiblat kemajuan teknologi bagi negara lain. Orang tua Kayung telah memilih investasi bisnis jangka panjang yang menguntungkan.

Tekad itu terjaga dengan baik hingga tak terasa Kayung dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Teman sepermainan Kayung semasa kecil sudah banyak yang menikah bahkan ada yang kini telah memiliki anak seumuran anak SMP. Teman Kayung tak ada yang berpendidikan tinggi. Terhitung jari yang menamatkan pendidikan jenjang SMA. Kebanyakan drop out di SMP dan SD. Di masyarakat, Kayung tampil bersahaja dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya. Orang tua Kayung tak pernah jumawa dengan keadaan sekarang. Bapaknya masih saja melaut meski kali ini nasibnya lumayan baik karena telah memiliki perahu sendiri. Perahu bekas yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya selama ini hingga uangnya cukup untuk membeli perahu.
Bak gayung bersambut, pasca diwisuda Kayung tidak lama menganggur. Dalam satu kesempatan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ia langsung dinyatakan lulus dan diterima kerja menjadi PNS. Tidak tanggung-tanggung Kayung merupakan warga kampung nelayan pertama yang berhasil menjadi PNS. Seluruh warga kampung nelayan tercerahkan. Para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah. Anak laki-laki kampung nelayan tidak lagi berminat menjadi nelayan. Sedangkan anak perempuan langsung menolak ketika orang tuanya menyuruh mereka menikah. Kultur kampung nelayan terus berubah seiring keberhasilan Kayung menduduki jabatan tertentu di pemerintahan meskipun masih di level eselon IV. Hampir tak terdengar lagi anak-anak kampung nelayan yang putus sekolah. Bahkan anak remaja sudah banyak yang sengaja meninggalkan kampung nelayan semata-mata pergi untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Efek Kayung membuat anak-anak terobsesi mengikuti jejaknya. Bagi orang tua kampung nelayan lainnya, Kayung sering dijadikan kiblat keberhasilan mendidik anak.
Mengetahui dirinya obyek percontohan, Kayung merasa biasa-biasa saja. Ia justeru bersyukur orang-orang terinspirasi terhadap perjuangan orang tuanya.
Maka dengan sendirinya dapat meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya. Kayung tahu apa yang diraihnya hari ini adalah benih yang ditanam orang tuanya sejak dahulu. Kerja keras yang diramu dengan kesabaran dan untaian doa orang tuanya, menjadikan Kayung menapak kesuksesan. Bahwa hasil tak pernah mengingkari niat dan proses. 



Kampung Nelayan Kayung


Namun, karir Kayung di pemerintahan tak selamanya mulus. Sudah tiga kali acara pelantikan digelar namanya tak pernah disebutkan. Jabatannya masih sama seperti tujuh tahun lalu. Seorang teman Kayung pernah menanyakan kepadanya bagaimana perasaan Kayung sampai saat ini belum dipromosi ke jabatan yang lebih tinggi. Dengan wibawa ia berujar panjang "Saya tetap bersyukur atas jabatan yang masih diamanatkan kepada saya. Terus terang, saya tidak punya ambisi sama sekali terhadap jabatan tinggi. Bagi saya Tuhan telah memberi bonus rezeki yang tiada tara kepada saya. Menjadi sarjana apalagi menjadi PNS itu sudah luar biasa sebab di satu sisi saya cukup beruntung dibanding teman-teman saya yang tidak bisa kuliah bahkan sekolah. Jadi untuk urusan karir di pemerintahan, saya mengalir seperti air saja". Teman Kayung masih bertanya. "Mengapa tidak mencoba mendatangi Bupati untuk minta naik jabatan". Kayung menjawab singkat. "Itu bukan karakter saya dan juga saya tahu diri, nenek moyang saya hanyalah seorang pelaut. Apa yang saya capai sekarang bukanlah mimpi yang terbeli".

Labuan Bajo,16 Maret 2017

Monday, March 6, 2017

Biar dari Kampung Asal Tidak Kampungan

Kalau sebelumnya tak pernah menginjakkan kaki di kota besar sebaiknya ketika ke sana berangkatlah bersama orang yang sudah berpengalaman. Sudah begitu, kita harus manut dengan nasehatnya. Jangan sekali-kali menyalahi pesan hati-hati yang diucapkan. Karena kehidupan di kota jauh berbeda dengan di kampung. Di kampung,  rasa kekeluargaannya masih sangat dijunjung tinggi. Sebaliknya, di kota nilai-nilai itu telah lama runtuh. Orang-orang kota tumbuh menjadi lebih individualis. Mereka lebih mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Oleh karena itu, saat pertama kali ke kota besar biarlah untuk sementara menjadi "kambing congek" dari teman yang menemani. Bisa jadi, kalau lalai akan menjadi salah satu sasaran korban kejahatan dari kerasnya kehidupan kota.

***
Untuk kesekian kalinya, saya berangkat ke Jakarta. Ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka Identifikasi dan Inventarisasi Pulau yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri bertempat di Hotel All Season Jakarta tepatnya di daerah bilangan Jakarta Pusat. Ternyata tugas luar daerah kali ini saya tidak sendirian. Atasan juga memerintahan teman saya untuk sama-sama ke Jakarta. Saya senang karena ada teman yang bisa diajak ngobrol selama di perjalanan dan selama melaksanakan tugas. Bagi saya pergi bersama-sama ke luar daerah memberi keuntungan tersendiri karena banyak pengeluaran yang semestinya dibayar sendiri kini dapat dihemat hingga maksimal 50 persen. Misalnya saja sewa taksi dari bandara ke hotel atau sebaliknya dibayar kongsi/patungan. Sewa akomodasi atau hotel penginapan yang pembayarannya ditanggung berdua.

***
Tak terasa waktu tempuh Labuan Bajo-Jakarta menggunakan pesawat garuda selama 2 jam dilalui. Semua nampak seperti biasa. Termasuk kondisi teman saya yang dari awal menjaga jarak dengan saya. Penampilannya memang sedikit kontras. Mungkin dibenaknya mau mengikuti cara traveller berpetualang. Celana jeans pendek dipadupadankan dengan kaos lengan pendek yang ditutupi jaket mirip seperti yang biasa dikenakan para atlet PON. Bersepatu kulit dengan kaos kaki sebetis. Topi re'a bergambar komodo (peci dengan ornamen khas Manggarai) tak pernah lepas dari kepalanya. Belakangan saya tahu kalau dia sengaja mengenakan topi re'a karena ingin menunjukkan kecintaannya pada kampung halamannya. Penampilan nyentriknya dilengkapi dengan tas samping yang disampir di bahunya.
Di dalam taksi yang kami tumpangi dari bandara menuju hotel, iseng-iseng saya bertanya pada teman saya ini. "Om sudah pernah ke Jakarta sebelumnya kah?" Mungkin pertanyaan saya terlalu menohok sehingga ia langsung merespon dengan menjawab "oh saya sudah sering kesini". Jawaban yang membuat saya sedikit lega. Sebab meskipun saya belum begitu menguasai seluk beluk kota Jakarta, saya tetap enggan menjadi tour guide baginya. Urusan kantor ke Jakarta mungkin sama tetapi tidak untuk urusan pribadi. Jauh hari saya sudah menjadwalkan waktu untuk menemui sanak keluarga yang ada di kota ini. Tentu setelah semua urusan kantor rampung.
Ketika taksi yang kami tumpangi melaju keluar tol menuju arah dalam kota dan bergabung bersama riuh dan deru kendaraan umum lainnya, teman saya nyeletuk ketika melihat di sekitar kami banyak berseliweran kendaraan roda tiga berwarna biru. "Kalau kita naik kendaraan lagi sekali-kali naik mobil yang berwarna biru itu, sepertinya perlu dicoba bagaimana rasanya". Pertanyaan tiba-tiba muncul di benak saya. "Mungkinkah seseorang yang sering ke Jakarta tidak mengenal yang namanya bajaj?" Pertanyaan itu menguap di dalam hati.
Rasa penasaran teman saya untuk mencoba bagaimana rasanya mengendarai kendaraan yang awal mulanya diimpor dari India ini akhirnya terjawab. Momen berharga itu ada saat di satu kesempatan saya mengajaknya pergi ke kantor Kemendagri. Saya melihatnya sangat takjub. Memanfaatkan momentum di dalam bajaj untuk berselfie ria. Untuk kesekian kali saya melihatnya bergaya kampungan. Berulang kali saya menasehatinya agar berlaku biasa saja. Tidak norak yang dapat memancing perhatian orang. Betul saja, saat kami pulang ke hotel dengan menumpang bajaj kembali, telepon genggam yang baru dibelinya di kampung sebelum berangkat ke Jakarta dijambret pengendara motor. Bagaimana tidak, sepanjang jalan dia terlihat sibuk merekam segala sesuatu dengan hp miliknya yang dipegang dengan posisi tangan kiri berada di luar jendela bajaj. Saya yakin Penjambret itu sudah dari tadi mengincar kelengahannya. Sopir bajaj mencoba mengejar namun apa daya laju sepeda motor di keramaian lebih lincah daripada bajaj. Penjambret mengendarai motor meliuk-liuk di sela-sela kendaraan yang ramai sebelum hilang di tikungan. Saya hanya bisa membesarkan hatinya bahwa "untung" yang digondol hanyalah sebuah telepon genggam bukan nyawa kami.
Sesungguhnya saya turut andil atas musibah yang dia alami. Ya, saya merasa seharusnya saya tidak bosan mengingatkannya agar selalu berhati-hati. Seharusnya "musibah" yang mendekapnya bisa dibatalkan apabila saya turun tangan menghentikan kecerobohannya. Hebatnya dia lekas mengikhlaskan yang terjadi barusan.
Setiap musibah tentu memberi hikmah. Untuk hal ini saya berharap dia memetik pelajaran pertama dari kejadian naas yang menimpanya.
Rupanya harapan saya berujung sia-sia. Di hari yang sama namun di waktu yang berbeda, takdir teman saya masih juga dirundung sial. Lagi-lagi ia menjadi objek penderitaan. Menjadi sasaran penipuan berkedok undian berhadiah di Passer Baroe. Ia dengan mudah mempercayai sales promotion girl (SPG) ketika menawarkan sesuatu kepadanya. Terperdaya bujukan maut SPG sindikat kejahatan yang mengenakan pakaian minim, sadar atau tidak, ia mau saja membeli barang yang konon katanya didiskon fantastis karena teman saya mendapatkan undian berhadiah yang kemasannya nampak bersegel. Bisa-bisanya ia menyempatkan diri ke ATM untuk mengambil uang demi melakukan transaksi "aneh" itu. Saya tahu ia tak memegang banyak uang cash, sebab sebelum ia terjebak dengan kondisi itu, ia masih sempat meminjam uang saya saat akan ke TKP. Sekali lagi, sebenarnya bisa saja dia luput dari aksi penipuan itu kalau saja dia mau sedikit sabar mendengarkan larangan saya kepadanya. Begini ceritanya. Saat dia mulai terperdaya dengan bualan SPG, dia masih sempat menelpon saya menanyakan ikhwal yang terjadi. Reflek saya memintanya untuk segera menghindar dari lokasi dia berada. Saya bahkan sampai berteriak memintanya untuk langsung kembali ke hotel tempat kami menginap. Dasar sudah takdirnya kembali naas, ia justru meyakinkan saya di ujung telpon bahwa apa yang dia alami adalah sebuah keberuntungan. Saya dapat menangkap kesan seolah-olah dewi fortuna bersemayam di dirinya. Dia merasa sebagai sosok manusia pilihan yang mendapat perlakuan istimewa. Apa mau dikata. Pada situasi seperti ini tidak mungkin saya menyambanginya. Itu sama saja saya menabuh genderang perang kepada para sindikat itu karena dengan sengaja telah merusak skenario jahat mereka. Bagaimana murkanya mereka terhadap saya bila ikan yang sudah masuk dalam jaring mereka lantas tiba-tiba saya lepaskan. Biarlah untuk hal ini saya dibilang pengecut dan tidak solider. 

***
Bepergian jauh, merantau, berpetualang, menjelajah, melanglang buana atau apapun namanya, selama kita menjejakkan kaki di kota besar yang nota bene baru pertama kalinya kita datangi, bertindaklah biasa saja, tidak sok dan tiba-tiba menjadi serba tahu dan tidak asing namun tetap ekstra hati-hati menghadapi karakter orang kota yang majemuk. Bila pergi bersama orang berpengalaman, hilangkan keegoisan sementara dan takzim mendengar nasehatnya. Bisa jadi pengalaman dia di kota besar menjadi pelajaran berarti yang menuntun kita selamat dan nyaman di perjalanan selanjutnya. Persetan orang bilang kita berasal dari kampung asalkan tindakan kita sama sekali tidak kampungan selama berada di kota besar. Apalagi sekelas Jakarta. Ini ibukota negara bung!!!

Labuan Bajo, 25 Februari 2017

Friday, March 3, 2017

PNS= Pegawai Ngangkut Sampah

Ada-ada saja kebijakan yang diambil Pemerintah Daerah untuk mengatasi permasalahan sampah di daerah ini. Kebijakan yang bila dicermati secara mendalam menunjukkan kecenderungan sikap panik Pemerintah Daerah dalam menyikapi realitas bahwa salah satu permasalahan utama daerah ini adalah masih bertebarannya sampah di mana-mana. Kebijakan tidak popular yang digunakan untuk mengatasi permasalahan sampah yang tidak kunjung tuntas adalah dengan menggerakkan PNS untuk memungut dan membersihkan sampah di pinggir jalan selokan, drainase, sungai dan pantai sekalipun. Kebijakan yang dinilai tidak efektif sekaligus kontradiksi dengan semangat menciptakan PNS yang produktif dan profesional. 

***
Boleh-boleh saja jika PNS ditugaskan memungut sampah dan membersihkan lingkungan. Toh, bukankah seorang PNS telah bersumpah saat memulai karir menjadi PNS untuk siap ditempatkan di mana saja, mungkin termasuk merangkap tugas sebagai cleaning service atau setidak-tidaknya menjadi "pasukan orange" yang bertugas membersihkan jalan-jalan, pasar, selokan, sungai dan pantai. PNS Dituntut untuk bisa mengemban tugas sebagai petugas kebersihan seraya memberikan teladan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. PNS harus mampu mengkampanyekan kepada masyarakat gerakan membuang sampah pada tempatnya. Namun,  mobilisasi PNS untuk membersihkan sampah menjadi tidak efektif manakala hal ini dijadikan sebuah kegiatan rutin. Sedikit-sedikit PNS disuruh membersihkan area publik. Jika kegiatan ini terus dilaksanakan, dikhawatirkan justru membuat masyarakat semakin malas dan tidak respek terhadap kebersihan karena dalam otak mereka telah tersistem kalimat pembantah yang berbunyi "tidak apa membuang sampah sembarangan karena ada PNS yang akan membersihkannya nanti". Hampir setiap hari Jum'at pagi atau setiap menjelang even penting yang dilaksanakan Pemda PNS digerakkan untuk kerja bakti. Meninggalkan tugas kantor yang menumpuk serta menunda melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan hanya dengan alasan PNS masih sibuk bergelut dengan sampah di lapangan. Pada titik ini, Bupati rupaya berada pada sebuah dilema besar: Meningkatkan kinerja PNS dengan memacu kerja keras, disiplin dan tanggung jawab di bidangnya atau sekedar bekerja mengikuti perintah atasan yang sesungguhnya tidak relevan dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). 

Kalau mau bijak, sesungguhnya masih banyak alternatif solusi lain yang bisa diambil untuk mengatasi masalah sampah tanpa harus menerjunkan PNS. Paling tidak kita dapat bercermin dari daerah lain yang tiap tahun langganan memperoleh piala adipura atas keberhasilan menjaga kebersihan kota. Nampak jelas terlihat bahwa tak sekalipun PNS disana yang intens turun tangan membersihkan lingkungan. PNS difokuskan untuk bekerja sesuai tupoksinya. PNS dituntut harus bekerja profesional dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing karena penilaian atas kinerja seluruhnya terukur. Dewasa ini paradigma penilaian kinerja PNS bukan lagi berbasis anggaran tapi telah bergeser berbasis kinerja. 

Strategi daerah lain dalam mengatasi sampah perlu kiranya diadopsi  mengingat sampah sangat identik dengan penyakit dan merupakan musuh utama dari kebersihan dan keindahan. Dalam konteks daerah ini, mustahil kita optimal mengembangkan sektor pariwisata sementara di sisi lain daerah ini tidak mampu mengatasi permasalahan sampah minimal meningkatkan rasio jumlah sampah yang ditangani dibanding jumlah produksi sampah masyarakat. 

Manajemen persampahan di daerah peraih adipura merubah persepsi berpikir kebanyakan yang tidak lagi menganggap sampah sebagai ancaman tetapi sebuah tantangan bahkan peluang. Kebijakan mengatasi sampah konsisten ditegakkan dari hulu ke hilir. Perda sampah betul-betul ditegakkan. Diikuti dengan kebijakan anggaran yang tidak setengah-setengah. Sarana dan prasarana persampahan diprioritaskan memadai. Memberdayakan peran RT/RW, Kepala Desa/Lurah untuk menggalakkan masyarakat agar terbiasa kerja bakti dan gotong royong membersihkan lingkungan, tentu dengan insentif yang relatif cukup. Merekrut petugas kebersihan yang berdedikasi tinggi. Menggandeng LSM pecinta lingkungan agar bersama rumah tangga melakukan inovasi pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga menjadi produk daur ulang yang bermanfaat dan bernilai ekonomis tinggi. Mendorong berdirinya bank sampah dan koperasi sampah di tengah masyarakat. 
***
Kewenangan teknis menjaga kebersihan kota sekaligus mengatasi permasalahan sampah menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup. Dalam konteks daerah ini, seharusnya Bupati berani mengevaluasi kinerja Dinas tersebut setiap saat dan tidak ragu untuk memberikan reward and punishment. Reward diberikan manakala sampah tidak lagi menjadi masalah daerah dan tidak segan menjatuhkan punishment manakala sampah masih "menghiasi" kota. Pada titik ini saya berpikir, jika daerah lain dengan mudahnya mengatasi permasalahan sampah tanpa terlihat menurunkan kekuatan penuh PNS untuk membersihkan lingkungan, mengapa daerah ini masih saja mengandalkan PNS berdiri di garda terdepan membersihkan kota dari sampah. Atau jangan-jangan PNS itu akronim dari Pegawai Ngangkut Sampah? Mungkin saja..Hehe....
Labuan Bajo, 20 Februari 2017

Wednesday, February 22, 2017

Merawat Identitas Masyarakat Pesisir Labuan Bajo

Saat ini wajah Labuan Bajo sudah sangat berbeda. Hampir setiap sudut kotanya mengalami perubahan. Di sana-sini tersentuh geliat pembangunan. Setahun saja kita meninggalkannya, saat kembali lagi niscaya banyak tempat yang telah berubah. Maklum saja, perubahan ini merupakan konsekuensi yang harus diterima. Bayangkan saja sebuah desa yang dahulu menjadi ibukota Kecamatan Komodo, lokasinya sangat jauh dari ibukota Kabupaten Manggarai yang mencapai jarak kurang lebih 120 km, namun pasca pemekaran Kabupaten Manggarai Barat sebagai daerah otonom baru, status Labuan Bajo kini telah berubah drastis menjadi ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kabupaten yang sangat identik dengan Komodo ini, layaknya sebuah gadis jelita yang menjadi rebutan para lelaki untuk dipinang dan dipersunting. Maklum saja, sejuta potensi wisata mampu menarik wisatawan dan investor berbondong-bondong mengunjunginya. Namun derap pembangunan yang sangat dinamis ini seolah sengaja ingin menghilangkan identitas dan karakter asli masyarakat pesisir Labuan Bajo sebagai masyarakat yang menggantungkan asanya pada laut dan pantai. Menjadi seorang nelayan dalam sebuah komunitas yang bernama kampung nelayan.

 Foto Yayat Afrizhal.

Sebagai salah seorang yang lahir dari rahim kampung nelayan di pesisir Labuan Bajo di awal tahun 80-an serta tumbuh dan besar di tempat ini. Sedikit banyak saya merasakan dan mengalami sendiri dinamika perkembangannya dari waktu ke waktu. Dari saat penerangan masih mengandalkan lampu pelita dan suluh hingga sekarang terang benderang oleh listrik. Dari saat uang Rp.5,- masih berlaku hingga sekarang orang mudah bertransaksi dengan kartu debet atau kredit. Dari saat sepeda menjadi barang langka hingga sekarang mobil telah menjadi hal biasa pelengkap pekarangan rumah.
Perlahan Labuan Bajo terus berkembang. Menyesuaikan laju pembangunan yang diproklamirkan Pemerintah. Dengan mengatasnamakan pembangunan, Pemerintah dengan mudah mempersempit ruang gerak masyarakat khususnya yang berada di kampung nelayan. Salah satu proyek berskala besar dimaksudkan untuk menyukseskan perhelatan akbar Sail Komodo 2013 yang lalu, Pemerintah mereklamasi pantai dan laut dengan membangun tembok penahan gelombang dengan jalan selebar 3 meter di sisinya sepanjang garis pantai Labuan Bajo dari utara ke selatan. Pemerintah dapat saja berkilah bahwa tujuan utama reklamasi laut dan pantai adalah untuk menghilangkan kesan kumuh pada kampung nelayan ini karena menganggap bangunan rumah masyarakat terkesan semrawut dan tidak tertata rapi. Dengan adanya jalan diharapkan agar aksesibiltas masyarakat semakin mudah. Pemerintah berpikir dengan terbangunnya jalan persis di sisi tembok penahan gelombang, seluruh rumah nantinya menghadap laut. Tapi tunggu dulu. Pemerintah sepertinya lupa dengan identitas dan karekter sebagian besar penduduk kampung nelayan di pesisir pantai. Bukankah dengan adanya reklamasi laut dan pantai justeru akan semakin menjauhkan mereka dengan laut. Serasa ada sekat tinggi yang membatasi gerak mereka dengan laut. Padahal tak bisa dipungkiri bahwa laut adalah sumber utama mata pencaharian mereka dan kampung nelayan adalah identitas asli masyarakat pesisir. Pada titik ini saya menjadi teringat akan keelokan pantai serta suasana kehidupan kampung nelayan dahulu.
Untuk itu, saya akan sedikit menggambarkan suasana keaslian kampung nelayan ini tempo dulu agar dapat merefleksikan bagaimana merawat identitas dan karakter yang nyaris sirna ini. 

Foto Yayat Afrizhal.
Layaknya wilayah pesisir lainnya, kehidupan masyarakat kampung nelayan Labuan Bajo kala itu juga menyimpan identitas dan karakter asli wilayah pesisir. Setiap saat penduduk bergelut dengan laut dan pantai. Selalu saja ada kegiatan untuk mengekspersikan kegembiraan menatap air laut yang pasang dan surut. Perahu dan bagan nelayan (sejenis perahu yang memiliki tangan khusus untuk menangkap ikan) terlihat anggun menari mengikuti riak gelombang dan bila malam hari pendar cahaya dari lampu petromaks yang menyala dari perahu dan bagan di kejauhan membentuk formasi bak kunang-kunang berbaris melengkapi indahnya malam. Saat air laut pasang, nelayan tidak perlu mengayuh sampan jauh ke tengah laut hanya untuk menangkap ikan tapi cukup dengan menjulurkan alat pancing langsung dari tepi pantai, ikan dengan mudah akan didapat. Kebahagiaan juga terpancar dari raut wajah anak-anak pesisir. Bagi mereka menjadi waktu yang tepat untuk bermandi ria. Air laut pasang dianggap sebagai kolam renang raksasa yang selalu menggoda mereka untuk berenang. Untuk itu, dapat dipastikan tak ada anak-anak yang tak mampu berenang. Bahkan di usia dinipun mereka telah menguasai berbagai macam gaya berenang. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga mampu menyelam di kedalaman air untuk waktu yang cukup lama. Pemandangan menarik juga terlihat saat air laut surut di siang hari yang mencapai radius 500 meter dari tepi pantai. Para lelaki dewasa tengah sibuk memperbaiki perahunya yang rusak. Ada yang sekedar membersihkan dasar perahu dari kerang-kerang yang menempel. Ada juga yang sibuk mengecet kembali perahu agar terlihat indah kembali. Para ibu-ibu atau wanita dewasa juga tidak mau ketinggalan. Mengambil ember dan parang untuk mencari kerang dan siput. Beranjak pulang saat embernya penuh. Siput dan kerang diolah dengan sentuhan tradisional untuk dijadikan lauk-pauk keluarga. Anak-anak memanfaatkan siklus air laut surut ini juga untuk bermain. Ada yang bermain bola di atas pasir yang terhampar. Ada pula yang bermain perahu-perahuan di titik air laut yang tergenang bak oase di padang pasir. Jika air laut surut di malam hari, orang dewasa memanfaatkannya untuk berburu rajungan (sejenis kepiting). Berbekal lampu petromaks, ember, parang atau tombak, berjalan di air laut yang tingginya selutut mengawasi pergerakan kepiting dan hewan laut lainnya. Mata mereka sangat jeli membedakan rajungan dengan batu karang.

Foto Adryansyah Faiz.



Suasana kekeluargaan begitu kental di kehidupan kampung nelayan. Warga yang kebetulan memperoleh hasil tangkapan lebih nampak ikhlas membagikan ikan tangkapannya kepada tetangga sebanyak untuk dikonsumsi. Bahkan ketika ada nelayan yang berhasil memperoleh ikan Cencara bertelur (ikan yang beraroma tajam namun enak dimakan), para tetangga membantu membelah ikan tersebut untuk mengeluarkan isi perut dan telur ikan di dalamnya. Seperti ada perjanjian mengikat dari dahulu telur ikan yang berhasil dipisahkan itu akan langsung menjadi milik tetangga yang membantu membelah ikan. Kekeluargaan terlihat nyata saat bulan purnama atau ketika laut sementara tidak bersahabat. Saat itu para nelayan memilih untuk tidak melaut. Menghabiskan waktu menunggu bulan baru dan laut kembali normal, biasanya mereka memilih untuk memperbaiki alat tangkap yang rusak. Salah satu aktivitas kampung nelayan malam hari yang tidak bisa saya lupakan adalah memperbaiki jaring yang rusak dan menggantinya dengan jaring yang baru. Di saat ini, saya menyaksikan para tetangga mengambil peran masing-masing untuk membantu warga lainnya menjahit jaring yang rusak atau yang baru yang dibentang panjang melewati sela-sela rumah panggung. Keceriaan nampak terlihat dari wajah mereka. Semangat gotong-royong ternyata telah lama tumbuh subur di jiwa mereka. Sebagian besar rumah di kampung nelayan berbentuk panggung dengan kolong rumah sering dijadikan tempat menaruh ikan. Karena keaslian identitas dan karakter sebagai kampung nelayan, tidak jarang bule (kami sering memanggilnya turis) datang berkunjung untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat nelayan. Mengabadikan momen berharga dengan kameranya dan hampir tidak dipercaya banyak foto-foto hasil jepretan mereka yang dikirim kembali dari luar negeri tiba di kampung nelayan. 

 Foto Yayat Afrizhal.

Dinamika kampung nelayan terus bergerak. Bergeser jauh dari kehidupan mereka dahulu. Dalam rentang kurun waktu yang tidak terlalu lama, satu persatu sejarah telah ditorehkan. Banyak cerita yang tercipta menjadi kenangan tersendiri. Bahkan bisa menjadi dongeng pengantar lelap sang buah hati kelak. Sebab semuanya telah hilang ditelan teori pembangunan serta diperparah oleh faktor migrasi penduduk dari luar daerah yang terus meningkat yang dikhawatirkan akan menggerus eksistensi masyarakat kampung nelayan terbukti banyak nelayan kini telah beralih profesi ke pekerjaan yang tak ada kaitannya dengan laut. Kampung nelayan di sepanjang pantai Labuan Bajo tak lagi seperti dulu sehinga wajar bila saya merindukan suasana kampung nelayan Labuan Bajo seperti dua dekade silam. Hari ini kampung nelayan itu nyaris tersingkir dilindas pembangunan yang tak berpihak kepada mereka. 

Jalan baru reklamasi Labuan Bajo, 14 Februari 2017


Friday, February 10, 2017

Super Rais vs Boboiboy



Setiap generasi memproduksi tokoh hayal dan tokoh pahlawannya (baca: superhero) masing-masing. Tokoh superhero yang lahir dengan berbagai karakter yang kebanyakan termotivasi dari kekuatan super tak terbayangkan sebelumnya serta tidak jarang terinspirasi dari kedigdayaan berbagai jenis binatang. Setiap superhero yang ada memiliki penggemar fanatik sendiri. Termasuk Rais Bumi, putera pertamaku yang sangat menggandrungi Boboiboy. 

***
Hasil gambar untuk boboiboy
Kita masih ingat, di era 80-90-an begitu banyak lahir karakter superhero-superhero yang sengaja diciptakan lewat media komik lantas kemudian diangkat ke layar televisi. Penciptaan sebuah karakter superhero menunjukkan daya imaginasi yang tinggi dari sang kreatornya. Di Amerika dan negara eropa sebut saja Superman, Superboy, Batman, Aquaman, Spiderman, Wonderwoman dan lain sebagainya. Sedangkan di asia khususnya jepang pun tidak mau kalah. Jepang dewasa ini telah menjadi kiblat bagi negara-negara lain dalam ide pembuatan tokoh superhero dalam bentuk kartun dan animasi. Beragam superhero lahir di negeri sakura ini. Ada Giban, Satria Baja Hitam, Ultraman, Naruto, dll. Namun yang mencengangkan justru superhero yang baru-baru ini lahir di negeri jiran Malaysia. Apalagi kalau bukan Boboiboy. Serial animasi dengan sentuhan teknologi modern ini hampir tiap hari tayang di media televisi kita. Memanjakan mata dan hati anak-anak dengan cerita heroik Boboiboy dkk dalam menyelamatkan bumi dari ulah dan tangan jahil musuh-musuhnya. Aksi heroik Boboiboy, Gopal, Ying, Yaya dan Fang membuat takjub anak-anakku terutama Rais Bumi. Dia telah "cinta mati" dengan peran Boboiboy.

***

Kegandrungannnya pada Boboiboy sudah berada pada level super pula. Nyaris seluruh yang bernuansa Boboiboy dikoleksinya. Beberapa pasang baju dan celana Boboiboy, topi Boboiboy beraneka warna, jaket, kaos kaki, sandal, tas, jam tangan, bola bahkan sepatu bergambar Boboiboy. Meskipun dia belum sekolah tetapi koleksi buku bersampul Boboiboy juga telah dimilikinya. Tidak ketinggalan susu dan shampo yang memanfaatkan ketenaran Boboiboy dalam gambar kemasannya juga telah dibelinya.
Saking "gilanya" pada Boboiboy, sering dipraktekkannya dalam beberapa kesempatan bagaimana adegan Boboiboy mengeluarkan jurus kekuatan super lengkap dengan istilah atau aji-ajinya. Saya sering mendengar ia berteriak "Boboiboy api, Boboiboy tanah, Boboiboy air, Boboiboy angin, Boboiboy daun".
Tidak sampai di situ, belakangan ia hanya mau dipanggil Boboiboy. Sangat marah kalau kami berguyon memanggilnya dengan nama aslinya atau nama lain selain Boboiboy. Ia tidak pernah tahu kalau aku dan ibunya telah memilih nama terbaik baginya jauh sebelum ia lahir bahkan prosesi penyematan namanya secara resmi dilakukan dengan mengorbankan dua ekor kambing sebagai prasyarat seorang anak laki-laki pada saat diaqiqah.  

   
Aku tahu kegemarannya pada tokoh super Boboiboy tidak bertahan lama, hanya berlangsung saat ia masih kecil saja. Kelak ketika usianya sudah semakin tinggi perlahan dan pasti ia akan meninggalkan kenangan Boboiboy bersama seluruh koleksinya. Namun satu hal yang dapat dipetik dari cerita ini adalah anak sekecil Rais Bumi telah mampu melihat dan membingkai kesimpulan, mana tokoh yang protagonis dan mana tokoh antagonis. Mana yang patut dijadikan teladan dan mana yang patut ditinggalkan.

Pantai Pede, 5 Februari 2017

Monday, February 6, 2017

Sensasi Berburu Pakaian bekas Impor (Rombengan)

Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah pernah mengeluarkan kebijakan melarang impor pakaian bekas dari luar negeri. Pemerintah berkeyakinan bahwa melalui pakaian bekas yang banyak masuk ke dalam negeri dikhawatirkan membawa serta kuman, bakteri dan virus penyakit dari luar negeri. Jelas saja kebijakan ini mendapat tentangan yang beragam dari masyarakat terutama dari para pedagang pakaian bekas itu sendiri bahkan protes keras yang disuarakan langsung oleh para pemburu pakaian bekas. Termasuk saya diantaranya. Saya menilai apapun alasannya, berburu pakaian bekas merupakan suatu sensasi luar biasa. Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kalimat. Paling tidak itu pula yang dirasakan sebagian besar pecinta pakaian bekas. Kok bisa?

***

Pagi itu, ia memulai hari dengan lebih ceria. Dari tadi senyum tipis akrab terbit di bibirnya. Alampun melengkapi gembiranya dengan matahari yang bersinar lembut. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk sesegera mungkin menggelar dagangannya di Pasar Wae Kesambi. Maklum hari ini adalah hari Sabtu di pekan pertama tiap bulan. Dimana ia memiliki jadwal khusus untuk membuka berbal-bal (ukuran jauh lebih besar dari karung biasa) rombengan. Hari yang juga sangat dinanti-nantikan para pemburu rombengan. Momen dimana para pemburu rombengan lebih dahulu berjubel memenuhi lapak-lapak dari pedagang itu sendiri. Sekali saja ia berteriak lantang "buka baru" para pemburu rombengan telah sigap mengambil pilihannya. Urusan harga kemudian yang penting rombengan yang dipilih cocok dan sesuai dengan keinginan. Ia berharap agar rombengan yang ada dalam bal-bal yang baru datang dari luar negeri memiliki kualitas yang baik. Sehingga seluruhnya laris dan akhirnya meraih untung besar. Sejuta asa kini menggelayut di hatinya.

***

Saya juga tahu kalau hari ini para pedagang rombengan di Pasar Wae Kesambi Labuan Bajo berlomba-lomba membuka bal-bal berisi pakaian bekas impor (rombengan). Pas sekali, momennya bertepatan dengan hari libur kerja. Olehnya sangat sayang kalau momen berburu rombengan ini dilewatkan begitu saja. Saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk memilah dan memilih rombengan yang saya incar. Kebetulan saat ini saya membutuhkan celana pendek dan jaket. Tapi kalau misalnya saya menemukan baju kaos, kemeja atau celana panjang jeans yang bagus, cocok dan bermerk orisinil mau tidak mau saya harus membelinya juga. Sepertinya istilah "mumpung ada dan mumpung murah" berlaku untuk kondisi ini.

***

Lain cerita dengan temanku yang bernama Ridho. Hampir dipastikan setiap Sabtu ia berburu rombengan. Selalu saja ada rombengan yang diminatinya. Yang penting bagus dan bermerk top, ia tak peduli ukurannya. Baginya ukuran yang penting tidak kekecilan karena kalau longgar masih ada penjahit langganannya yang akan mempermak sesuai keinginannya. Hasil buruan rombengannya sudah sangat banyak. Katanya hampir memenuhi satu lemari tiga pintu. Belum terhitung rombengan milik istri dan anak-anaknya. Kalau disatukan mungkin cukup untuk membuka butik atau distro khusus pakaian bekas lagi.

***

Saban Sabtu dan lebih-lebih Sabtu pada saat "buka baru" Pasar rombengan di Wae Kesambi Labuan Bajo selalu penuh sesak diminati pemburu rombengan yang berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda. Dari masyarakat biasa sampai yang luar biasa, yang sengaja datang menggunakan kendaraan pribadi. Berpenampilan necis dan sangat mengerti merk dan tren fashion terkini.

***

Pasar rombengan di Wae Kesambi Labuan Bajo tidak sedikit yang menyebutnya sebagai mall karena rombengan di sini dipajang sedemikian rupa sehingga mudah bagi pemburu rombengan untuk melihatnya dengan utuh. Kerap kali saya kesana berjumpa dengan kawan-kawan pemburu rombengan lainnya. Terkadang juga saya menemukan pemburu rombengan pemula yang masih malu-malu dan terlihat kikuk. Mungkin di pikirannya masih berkecamuk sebuah tanda tanya besar bahwa rombengan itu hanya layak digunakan oleh kaum berkasta rendah. Sikapnya masih sungkan untuk menerima  kenyataan bahwa rombengan itu barang impor. Banyak yang berkualitas dan masih terlihat baru karena label merk pabrik masih melekat. Yang tidak kalah pentingnya juga, rombengan yang kita beli apapun jenisnya dapat dipastikan hanya kita sendiri yang menggunakannya. Maka dari itu tidak berlebihan kiranya kalau saya menilai bahwa berburu rombengan memberi sensasi tersendiri bagi para pemburu rombengan. Bukan saja karena memilih rombengan itu memerlukan kecermatan tetapi juga keberuntungan. Bagaimana kualitas dan harga harus dapat dikompromikan.

Kamar 25° C, Labuan Bajo, 9 Februari 2017

Monday, January 30, 2017

Mengantar Nilam masuk sekolah perdana

Ungkapan "menuntut ilmu sepanjang hayat" tak pernah salah. Selalu relevan dengan situasi yang ada. Meski jenjang pendidikan satu persatu harus dilewati. Semangat tinggi dan optimisme harus terus dihembuskan. Sekiranya itulah yang menjadi modal dasar anak untuk terus belajar dan menuntut ilmu demi merengkuh cita-cita kelak.
***
Bulan lalu, Nilam -anak kedua saya- telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat taman kanak-kanak. Ditandai dengan prosesi wisuda yang mengharukan. Tidak terasa kurang lebih 3 tahun lamanya Nilam telah diajar, dibina dan dibimbing oleh para guru TK yang sudah dengan sangat sabar, ikhlas dan penuh dedikasi mendampinginya.
***
Hari ini, Nilam masuk sekolah SD. Dia menjadi murid baru bersama puluhan anak lainnya yang memilih bersekolah di SDN Labuan Bajo 2. Dia begitu antusias menyambut peristiwa istimewa ini. Sepertinya dia tidak mau melewatkan momen berharga dalam catatan sejarahnya kedepan. Dia sudah sangat tidak sabar tampil gagah mengenakan seragam merah-putih. Dipadupadankan dengan topi dan dasi berwarna berani. Memanggul tas baru di pundak. Berjalan tegap dengan sepatu baru di kaki. Menyambut guru baru, kawan baru sekaligus status baru sebagai anak SD.
***
Mumpung semangatnya masih berkobar, saya sengaja mendampinginya masuk sekolah SD untuk pertama kalinya. Selain bermaksud terus memotivasinya, saya juga tidak mau dia menjadi iri, kurang percaya diri atau bahkan kecewa melihat seluruh teman-teman barunya diantar dan didampingi orang tuanya, sementara dirinya tidak.. Saya tidak mau perasaan itu terus ada dalam hatinya. Mungkin sederhana saja mengantarnya ke sekolah namun aku yakini ada pengaruh besar pada keyakinannya melangkah di kemudian hari. Oleh karena itu, hari ini sayapun tidak mau kehilangan keping masa itu. Mengantarnya sekolah selagi mampu karena bukan tidak mungkin esok atau lusa ragaku tak kuat lagi mengirinya.
***
Melangkahlah terus ke sekolah nak, sebab banyak orang yang belum tentu bisa melakukannya. Teruslah belajar sebab ilmu yang kau dapat hari ini menjadi harta berhargamu di kemudian hari. Jika ditekuni, Tak ada yang berjalan sia-sia..
Labuan Bajo, 18 Juli 2016