| Ilustrasi: ada Kayung di antara mereka |
Namanya Kayung, bukan nama aslinya tapi begitulah ia sering dipanggil. Sebenarnya nama resmi yang disematkan padanya oleh orang tua di dokumen administrasi kependudukan adalah Makrun. Seorang anak yang meski lahir di tengah kemiskinan kampung nelayan namun tetap tumbuh dengan belai kasih maksimal dari kedua orang tuanya. Kehidupan masa kecilnya tak ada yang istimewa. Semua dilakukan seperti umumnya anak kebanyakan. Bermain, mengaji dan sekolah. Untuk urusan sekolah, prestasinya pun biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dibanggakan. Eits, tunggu dulu, itu menurut kita. Menurut orang tua Kayung tidak. Mereka menganggap anaknya bersekolah saja itu sebuah kejutan. Menilai itu sebuah jawaban nyata dari doa yang tak putus-putus dipanjatkan ke Sang Khalik. Bagaimana mungkin ia tidak patut berbangga hati, anaknya masih tetap bersekolah sementara teman-teman Kayung sudah banyak yang putus sekolah. Saat itu, diakui memang minat anak-anak untuk bersekolah masih sangat rendah dan parahnya lagi didukung oleh pikiran sesat para orang tua yang lebih memilih anak-anaknya agar secepat mungkin terjun ke laut, menjadi nelayan meneruskan tradisi keluarga. Padahal kehidupan ekonomi masyarakat kampung nelayan kala itu tidak sedikit yang dikategorikan mampu atau kaya. Sehingga biaya sekolah bukanlah sebuah alasan yang masuk akal untuk tidak meneruskan pendidikan anak.
| Ilustrasi: Kayung Berdoa |
Seperti kebanyakan anak-anak pantai, ia tak pernah punya cita-cita tinggi. Mungkin ia tahu bahwa cita-cita adalah sebuah mimpi yang dipaksakan. Bukan pesimis tapi ia sadar ia berasal dari keluarga kurang mampu. Bapaknya hanyalah seorang nelayan miskin. Melaut dan menangkap ikan dengan menumpang perahu orang lain. Hasil tangkapan tidak seberapa karena harus dibagi banyak kepada pemilik perahu. Pemilik perahu mendapat bagian lebih. Untuk perahunya, untuk mesin perahu dan dirinya sendiri. Sementara bapaknya memperoleh sisanya. Itupun masih harus dibagi lagi dengan rekan kerja yang lain yang sama-sama berstatus sebagai anak buah. Berniat meringankan beban hidup keluarga, ibunya bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sebuah pilihan hidup yang rumit antara membagi waktu untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Mengandalkan penghasilan orang tuanya yang tak seberapa itu justeru semakin meyakinkannya bahwa cita-cita adalah beban masa depannya. Meskipun demikian, diam-diam orang tuanya berikrar dalam hati. "Nasib anakku harus lebih baik dari nasib kami sekarang".
***
Orang tua Kayung memang luar biasa. Pikirannya jauh ke depan. Ibarat orang main catur, ia sudah memikirkan beberapa langkah berikutnya sebelum melangkahkan bidak caturnya sekarang. Tidak sampai di situ, ia dengan percaya diri meyakini bahwa langkah yang dipilihnya akan berbuah kemenangan dengan raja lawan mati di kotak sudut. Meskipun orang tua Kayung dihimpit beban ekonomi, mereka tidak pernah menyerah untuk memberi hal yang terbaik untuk anaknya, termasuk terus menyemangati anaknya untuk terus bersekolah. Bapak Kayung menyadari, nasibnya sekarang menjadi nelayan itu karena kesalahannya dahulu yang memang tidak mau bersekolah. Oleh karena itu, ia bersikeras apapun yang terjadi ia tidak mau anaknya Kayung kelak menjadi nelayan mengikuti jejaknya. Biarlah menjadi nelayan cukup diwariskan kepada anak-anak kampung nelayan lainnya. Orang tua Kayung rupanya telah mengadopsi strategi Pemerintah Jepang untuk membangun kembali negaranya pasca bom atom meluluhlantakkan dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki dengan membangun sumber daya manusianya. Pemerintah Jepang tahu mustahil mengelola sumber daya alam dalam waktu dekat di tengah kota yang terpapar radiasi bom atom yang parah. Satu-satunya pilihan adalah dengan mengirim anak mudanya bersekolah jauh ke luar negeri. Hasilnya kita lihat sendiri. Jepang kini telah menjadi kiblat kemajuan teknologi bagi negara lain. Orang tua Kayung telah memilih investasi bisnis jangka panjang yang menguntungkan.
Tekad itu terjaga dengan baik hingga tak terasa Kayung dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Teman sepermainan Kayung semasa kecil sudah banyak yang menikah bahkan ada yang kini telah memiliki anak seumuran anak SMP. Teman Kayung tak ada yang berpendidikan tinggi. Terhitung jari yang menamatkan pendidikan jenjang SMA. Kebanyakan drop out di SMP dan SD. Di masyarakat, Kayung tampil bersahaja dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya. Orang tua Kayung tak pernah jumawa dengan keadaan sekarang. Bapaknya masih saja melaut meski kali ini nasibnya lumayan baik karena telah memiliki perahu sendiri. Perahu bekas yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya selama ini hingga uangnya cukup untuk membeli perahu.
Bak gayung bersambut, pasca diwisuda Kayung tidak lama menganggur. Dalam satu kesempatan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ia langsung dinyatakan lulus dan diterima kerja menjadi PNS. Tidak tanggung-tanggung Kayung merupakan warga kampung nelayan pertama yang berhasil menjadi PNS. Seluruh warga kampung nelayan tercerahkan. Para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah. Anak laki-laki kampung nelayan tidak lagi berminat menjadi nelayan. Sedangkan anak perempuan langsung menolak ketika orang tuanya menyuruh mereka menikah. Kultur kampung nelayan terus berubah seiring keberhasilan Kayung menduduki jabatan tertentu di pemerintahan meskipun masih di level eselon IV. Hampir tak terdengar lagi anak-anak kampung nelayan yang putus sekolah. Bahkan anak remaja sudah banyak yang sengaja meninggalkan kampung nelayan semata-mata pergi untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Efek Kayung membuat anak-anak terobsesi mengikuti jejaknya. Bagi orang tua kampung nelayan lainnya, Kayung sering dijadikan kiblat keberhasilan mendidik anak.
Mengetahui dirinya obyek percontohan, Kayung merasa biasa-biasa saja. Ia justeru bersyukur orang-orang terinspirasi terhadap perjuangan orang tuanya.
Maka dengan sendirinya dapat meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya. Kayung tahu apa yang diraihnya hari ini adalah benih yang ditanam orang tuanya sejak dahulu. Kerja keras yang diramu dengan kesabaran dan untaian doa orang tuanya, menjadikan Kayung menapak kesuksesan. Bahwa hasil tak pernah mengingkari niat dan proses.
Tekad itu terjaga dengan baik hingga tak terasa Kayung dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Teman sepermainan Kayung semasa kecil sudah banyak yang menikah bahkan ada yang kini telah memiliki anak seumuran anak SMP. Teman Kayung tak ada yang berpendidikan tinggi. Terhitung jari yang menamatkan pendidikan jenjang SMA. Kebanyakan drop out di SMP dan SD. Di masyarakat, Kayung tampil bersahaja dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya. Orang tua Kayung tak pernah jumawa dengan keadaan sekarang. Bapaknya masih saja melaut meski kali ini nasibnya lumayan baik karena telah memiliki perahu sendiri. Perahu bekas yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya selama ini hingga uangnya cukup untuk membeli perahu.
Bak gayung bersambut, pasca diwisuda Kayung tidak lama menganggur. Dalam satu kesempatan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ia langsung dinyatakan lulus dan diterima kerja menjadi PNS. Tidak tanggung-tanggung Kayung merupakan warga kampung nelayan pertama yang berhasil menjadi PNS. Seluruh warga kampung nelayan tercerahkan. Para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah. Anak laki-laki kampung nelayan tidak lagi berminat menjadi nelayan. Sedangkan anak perempuan langsung menolak ketika orang tuanya menyuruh mereka menikah. Kultur kampung nelayan terus berubah seiring keberhasilan Kayung menduduki jabatan tertentu di pemerintahan meskipun masih di level eselon IV. Hampir tak terdengar lagi anak-anak kampung nelayan yang putus sekolah. Bahkan anak remaja sudah banyak yang sengaja meninggalkan kampung nelayan semata-mata pergi untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Efek Kayung membuat anak-anak terobsesi mengikuti jejaknya. Bagi orang tua kampung nelayan lainnya, Kayung sering dijadikan kiblat keberhasilan mendidik anak.
Mengetahui dirinya obyek percontohan, Kayung merasa biasa-biasa saja. Ia justeru bersyukur orang-orang terinspirasi terhadap perjuangan orang tuanya.
Maka dengan sendirinya dapat meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya. Kayung tahu apa yang diraihnya hari ini adalah benih yang ditanam orang tuanya sejak dahulu. Kerja keras yang diramu dengan kesabaran dan untaian doa orang tuanya, menjadikan Kayung menapak kesuksesan. Bahwa hasil tak pernah mengingkari niat dan proses.
| Kampung Nelayan Kayung |
Namun, karir Kayung di pemerintahan tak selamanya mulus. Sudah tiga kali acara pelantikan digelar namanya tak pernah disebutkan. Jabatannya masih sama seperti tujuh tahun lalu. Seorang teman Kayung pernah menanyakan kepadanya bagaimana perasaan Kayung sampai saat ini belum dipromosi ke jabatan yang lebih tinggi. Dengan wibawa ia berujar panjang "Saya tetap bersyukur atas jabatan yang masih diamanatkan kepada saya. Terus terang, saya tidak punya ambisi sama sekali terhadap jabatan tinggi. Bagi saya Tuhan telah memberi bonus rezeki yang tiada tara kepada saya. Menjadi sarjana apalagi menjadi PNS itu sudah luar biasa sebab di satu sisi saya cukup beruntung dibanding teman-teman saya yang tidak bisa kuliah bahkan sekolah. Jadi untuk urusan karir di pemerintahan, saya mengalir seperti air saja". Teman Kayung masih bertanya. "Mengapa tidak mencoba mendatangi Bupati untuk minta naik jabatan". Kayung menjawab singkat. "Itu bukan karakter saya dan juga saya tahu diri, nenek moyang saya hanyalah seorang pelaut. Apa yang saya capai sekarang bukanlah mimpi yang terbeli".
Labuan Bajo,16 Maret 2017
No comments:
Post a Comment