Friday, March 24, 2017

Keling dan Perjuangannya Mencari Cinta Sejati





Keling Menunjukkan Buku Nikahnya

Sejak ia sukses melafalkan qabul pada saat menerima ijab dari wali kekasihnya di depan Pak KUA, senyumnya terus mengembang. Setidaknya dua pesan yang ingin ia sampaikan kepada orang-orang yang sengaja hadir menjejali aula Kantor KUA. Pertama, ia lancar berikrar dan tidak menunjukkan perasaan gugup berlebihan pada saat menjawab ijab Pak KUA dan yang kedua, ia ingin menunjukkan bahwa anggapan orang selama ini kepadanya salah. Ia berhasil membalikkan fakta dirinyalah yang saat ini menjadi "raja sehari" bersanding gagah dengan gadis pujaan hatinya. 
 
***

Saya baru tahu kalau nama aslinya Fikri. Selama ini orang-orang sering memanggilnya Keling. Kelihatan memang tidak nyambung antara Fikri dan Kelling. Bahkan ditinjau dari sudut manapun kedua nama tersebut memang tidak saling bertautan. Namun itulah kenyataannya. Saya hanya bisa menduga kalau nama Keling mungkin terinspirasi dari iklan obat herbal merk Keling yang begitu fenomenal dahulu saat ia masih kecil. Obat ini efektif membantu meluruhkan batu oksalat (urine), memperlancar air seni dan menyembuhkan penyakit pinggang. Saya juga yakin orang tuanya pasti enggan memanggilnya Keling kalau saja mereka tahu bahwa Keling juga berarti panggilan kepada orang berpostur badan tinggi besar, berkulit hitam dan sering ditujukan kepada orang Tamil atau Afrika. Istilah keling seyogyanya harus digunakan hati-hati karena sesuatu yang sangat sensitif, bernuansa makian dan ofensif terhadap etnis tertentu. Tapi apapun itu, saat ini saya tidak akan membahas secara khusus asal-usul nama Keling. Saat ini, saya lebih tertarik membahas perjuangan Keling mencari sosok cinta sejati.

***

Ia lahir di akhir tahun 80-an di sebuah kampung nelayan Labuan Bajo. Terlahir normal dari rahim seorang ibu perkasa melalui bantuan tangan dingin langsung seorang nenek yang berprofesi sebagai seorang dukun bersalin. Pertumbuhannya sangat cepat. Terlihat dari postur tubuhnya yang bongsor. Perawakannya lebih tinggi dan lebih besar dibanding teman sebayanya. Di saat anak-anak sepantarannya tengah asik-asiknya bersekolah, ia justru memilih berhenti bersekolah. Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya sehingga ia nekat putus sekolah. Padahal kelas 1 SD saja ia belum lewati. Kedua orang tua susah payah merayunya untuk tetap bersekolah. Mereka sadar dengan kondisi Keling yang belum mahir mengenal huruf dan angka dikhawatirkan kelak akan membuat masa depannya suram. Bagaimana mungkin seorang yang buta huruf mampu bersaing dengan orang yang bertitel sarjana di tengah era teknologi modern saat ini. Standar rekrutisasi pegawai ataupun karyawan dari tahun ke tahun selalu meningkat. Kemajuan jaman niscaya akan menggilas orang-orang yang tak mampu bersaing karena tidak memiliki keahlian mumpuni. Naluri orang tua sering kali benar dan biarlah waktu yang akan membuktikannya.
Rupanya firasat orang tua Keling tidak meleset. Pekerjaan Keling remaja hingga dewasa hanya berkutat pada kekuatan otot. Menjadi tukang pikul dan bekerja serabutan sebagai buruh kasar. Maklum, fisiknya bongsor dan cukup kekar sehingga barang yang beratpun dengan enteng diangkatnya. Pekerjaan yang bersentuhan dengan baca tulis selalu dihindarinya. Ia tahu diri hanya angka nominal yang tertera di uang kertas dan petunjuk permainan di play station yang dihafalnya. 

Sebagai tukang pikul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo, jasanya kerap dimanfaatkan para pedagang ikan. Akhir-akhir ini Keling agak kesulitan melayani pelanggannya yang kian bertambah setiap hari sebab tukang pikul andalan lainnya beberapa bulan lalu telah meninggal dunia. Praktis Keling menguasai pasar angkat-mengangkat dan pindah-memindah barang di TPI setiap paginya. Meskipun demikian, ia tak pernah mematok tarif jasa pikulnya kepada orang-orang yang menggunakan jasanya. Ia tak pernah menolak ketika orang-orang membayarnya lebih dan sebaliknya ia tidak pernah protes ketika orang memberinya sedikit. Selepas bekerja pagi hari sebagai tukang pikul di TPI ia kemudian melanjutkan kerja serabutan di sekitar tempat tinggalnya. Sekali lagi kerjanya tidak jauh-jauh dari mengangkat dan memindahkan barang. Lumayan, penghasilan Keling cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri. Ia mampu membeli pakaian baru meskipun tidak dalam suasana hari lebaran. Jika masih surplus hasil jerih payahnya ia tabung sendiri. Bukan di bank konvensional tetapi disimpan di tempat yang sulit ditemukan orang lain di rumahnya. Keling tidak mau menyimpan uangnya di orang lain meskipun itu ibunya. Bukan bermaksud tidak percaya dengan ibunya tetapi ia tidak mau orang lain tahu berapa besar penghasilan yang disisihkannya saban hari dan berapa total keseluruhan tabungannya. Pada titik ini sayapun ikut heran dibuatnya. Meskipun tidak lama mengenyam pendidikan Keling tahu cara mengelola uang dengan baik. Merencanakan pengeluaran dengan hati-hati. Keling menggunakan uangnya secara hemat agar bisa ditabung sisanya. Harapannya tidak muluk-muluk. Jika sudah cukup ia ingin menikah. Merenda masa depan dengan berumah tangga. Sebuah harapan yang wajib diaminkan. 

Apa daya manusia hanya dapat merencanakan tetapi Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengabulkan. Keling telah berusaha untuk menjalin asmara dengan beberapa wanita. Jumlah wanita yang didekatinya hampir sama dengan yang menolaknya. Nasib Keling sungguh tragis. Namun tak ada istilah menyerah dalam kamus hidup Keling. Baginya, satu wanita yang menolak masih ada kemungkinan seribu wanita menerimanya. Orang-orang Kampung nelayan apatis dengan manuver Keling. Mereka merasa Keling bagai pungguk merindukan bulan. Keling tidak peduli. Toh, ditolak wanita bukan lagi hal baru baginya. Ia tidak larut dalam kesedihan yang lama. Cepat move on dan memulai jurus baru memikat wanita. Benar saja, Keling berhasil menaklukkan hati satu wanita. Kebetulan atau tidak bukan persoalan yang penting Keling sementara itu bahagia. Yah, hubungan mereka memang sementara saja sehingga kebahagiaan Keling pun hanya seketika. Keling cepat sadar kalau wanita itu tidak mencintainya dengan tulus. Wanita itu hanya mengincar uang Keling. Memperalat Keling untuk menuntaskan syahwat belanjanya. Untuk urusan mentraktir wanita belanja sesuatu, Keling lupa teori berhemat. Ia justru royal dan tanpa perhitungan. Alhasil uang yang susah payah dikumpulkan untuk menikah menguap begitu saja. Keling kembali jomblo untuk waktu yang cukup lama. Tak terhitung purnama ia dibekap sepi. Bukan Keling kalau ia surut dengan keadaan seperti ini.
Keling tetap semangat menatap masa depan. Baginya tak ada yang perlu ditangisi. Benteng ketegarannya masih tetap kokoh.
Melihat peluang untuk mendapatkan kekasih di kampung sendiri semakin tipis, Keling mengembara ke luar kota. Mula-mula ia berangkat ke Bima terus ke Lombok. Tidak berhasil disana ia merubah arah kembara. Kali ini tidak tangung-tanggung ia langsung ke Selayar Sulawesi Selatan. Setali tiga uang, nasibnya belum mengalami perubahan berarti. Masih berstatus lajang lapuk. Para wanita di rantau memiliki selera tinggi dan sepertinya sangat sulit dijangkau oleh Keling.
  
Keling bersama sang Istri Tercinta
Keling kembali ke Kampung Nelayan. Menata kembali piguranya yang retak. Masih dengan semangat membara. Saya harus mengakui daya juang Keling dalam mewujudkan harapannya. Saya merasa tidak banyak lelaki yang memiliki tekad keras seperti Keling. Jujur saya katakan, termasuk saya. Keling masih percaya bahwa Tuhan telah menciptakan seorang wanita dari tulang rusuk kanannya dan tidak sampai disitu ia justeru semakin yakin jodohnya itu sudah dekat. Keling telah berusaha sekuat tenaga bekerja keras, membanting tulang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bekal hidup berumah tangga. Ia juga sudah menempuh berbagai cara untuk menaklukkan hati wanita. Menebar pesona pada makhluk cantik keturunan hawa di muka bumi. Tapi jodoh belum juga menyapanya. Secara lahiriah perjuangan Keling sudah maksimal namun secara batiniah usahanya belum optimal. Sadar akan hal itu, Keling giat beribadah. Menangkupkan doa kiranya Tuhan memudahkan jodohnya. Pintanya hanya satu. Semoga Tuhan memberinya calon istri yang baik hati. Kategori cantik nomor sekian.

Foto Sala Udink.
Keling Memperlihatkan Jam Tangan yang Sama dengan Istrinya 
 
Ternyata Tuhan memang tidak tidur. Tuhan mendengar semua doanya. Keling dipertemukan dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik namun juga baik hati. Saya tidak tahu kisah kasih mereka bermula. Saya hanya tahu wanita itu serius dan tulus menerima Keling apa adanya. Sebagai bentuk keseriusan, wanita itu ikhlas mengikuti keyakinan Keling. Rapat singkat keluarga digelar untuk membicarakan seluruh tetek bengek pernikahan Keling. Disepakati pernikahan digelar sederhana. Panitia terbentuk dan bekerja penuh dedikasi. Seluruh administrasi pernikahan dilengkapi. Tenda terpasang sempurna. Pelaminan telah didekor dan kursi-kursi telah diatur rapi. Busana yang akan dikenakan Keling dan calon istrinya ketika menikah sudah siap. Tempat Keling melangsungkan ijab kabul memang di KUA Labuan Bajo tetapi yang banyak perubahan justeru rumah Keling. Setiap sudut rumah dihias sedemikian rupa agar dapat memanjakan mata para tamu yang datang. Keling komat-kamit merapal kalimat ijab kabul yang diajarkan Pak KUA. Kelihatan ia mau semuanya berjalan sempurna pada hari bersejarahnya nanti. Waktu terasa bergulir begitu lambat. Keling tidak sabar menyambut hari H pernikahannya. Keling mantap lahir bathin. 

Hari yang dinanti telah datang. Keluarga kecil, keluarga besar dan tetamu semua berbahagia. Mereka nampak gagah dan anggun mengenakan busana pesta andalan. Tidak terkecuali Keling dan calon isterinya. Tampilan mereka membuat kita berdecak kagum. Mereka telah menjelma menjadi raja dan permaisuri sehari.
Keling telah menikah, statusnya juga berubah. Kini ia resmi menyandang status sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Orang-orang yang telah mengacuhkannya selama ini diam seribu basa. Keling berhasil membungkam apatisme mereka dengan bukti buku nikah dari KUA Labuan Bajo. Angin kapal sekarang berbalik dari arah buritan. Menghempas orang-orang gagah, mapan dan berpendidikan namun belum juga menikah. Mereka dibully habis-habisan di dunia nyata dan lebih-lebih di dunia maya sampai mati kutu. Pada titik ini saya berharap mereka yang masih jomblo perlu banyak berguru pada seseorang yang bernama KELING. Untuk Keling, selamat menempuh hidup baru semoga SAMAWA...

Kampung Air..Labuan Bajo, 15 Maret 2017

1 comment: