Wednesday, December 31, 2025

Ulang Tahun Sederhanamu

Hari ini kamu berulang tahun. 
Usiamu kini menginjak 45 tahun. 
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kita tak perlu merayakannya secara berlebihan. 
Biasanya aku mengajakmu makan malam di sebuah restoran mewah. 
Kencan spesial. 
Biar lebih romantis, sengaja kita tidak membawa anak-anak. 

Sebab kau sendiri tahu. Labuan Bajo-Kota Premium kita- beberapa hari terakhir sedang bermuram durja. 
Dia terlihat murung. 
Selintas berita menyesakkan dada hadir persis di penghujung tahun. 
Sebuah kapal wisata karam disapu gelombang tinggi di Selat Pulau Padar. 
Pulau eksotik yang dulu pernah kita daki bergandengan hingga puncaknya. 
Mirisnya terdapat wisatawan asing yang dinyatakan hilang dan setidaknya hingga kini belum ditemukan.

Kamu juga rasakan suasana malam pergantian tahun kali ini tidak begitu meriah.
Suara petasan redup sunyi. 
Terompet tahun baru hening layu. 
Bukan karena hujan bulan Desember. 
Lagi-lagi karena bentuk empati kita kepada keluarga korban kapal naas yang tenggelam pekan lalu. 
Kita tunjukkan keprihatinan kita atas duka yang dialami. 
Sekaligus kita perlu tunjukkan pada dunia bahwa Labuan Bajo masih layak dikunjungi. 

Tapi kamu tidak perlu khawatir. 
Aku tetap mengingat hari istimewamu ini.
Setidaknya aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu.
Bukan sekadar ucapan tanpa makna tapi sarat dengan doa-doa terbaik yang dilangitkan. 

Banyak harapan yang kudaraskan:
Semoga kamu panjang umur serta mulia.
Sehat jiwa raga,  bahagia serta sukses lahir dan bathin.
Menjadi istri dan ibu sholehah bagiku dan anak-anak.
Menua bersama dalam suka dan duka.
Keluarga kita sakinah, mawaddah, warahmah serta senantiasa dalam lindungan, ridho dan keberkahan ALLAH SWT. Aamiin YRA 🤲🏻

Rumah Sernaru, 1 Januari 2026

Tuesday, October 28, 2025

Pasar Murah

Tulisan ini berdasarkan asumsi semata. Saya tidak mencantumkan data kualitatif. Selain alasan karena kekurangan data pendukung, juga kekurangan waktu untuk mengolah data tersebut menjadi berarti. Di sini, Saya hanya mencoba memberikan ulasan sederhana dari aspek persepsi individu. Saya sengaja lakukan ini sekadar ingin memberikan pendapat yang memudahkan kita memahami urgensi pelaksanaan kegiatan Pasar Murah yang dilakukan oleh Pemerintah (Daerah). 

Setahu saya, Pasar Murah adalah program Pemerintah (Daerah) untuk membantu masyarakat untuk membeli barang kebutuhan pokok dengan harga relatif lebih murah. Langkah ini sengaja dilakukan setelah mencermati pergerakan naik harga barang terkini di pasaran. Beberapa media sudah mulai mengulas kenaikan harga. Potensi inflasi yang terjadi dan resiko menurunnya daya beli masyarakat. Lengkap dengan hitung-hitungan disertai gambar semacam kurva dan grafik.

Biasanya barang yang dijual murah berupa beras, minyak goreng, gula dan terigu. Tidak jarang juga disisipi barang lain seperti telur, daging ayam, daging sapi dan aneka bumbu dapur. Dalam kemasan paket atau dapat dibeli secara parsial. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan keluarga dan tentu kondisi keuangan.

Informasi kegiatan Pasar Murah memberi kebar gembira bagi emak-emak. Bak sesuatu yang sangat dinanti-nantikan. Persis seperti antusiasme menyambut promo diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan. Kondisi ini juga mengindikasikan beratnya beban ekonomi yang saat ini mereka hadapi. Setidaknya mereka berpikir, dengan harga murah ada sebagian uang belanja bulanan dapat disimpan atau dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.

Selain bertujuan untuk menstabilkan harga komoditas barang kebutuhan pokok tertentu seperti dampak kenaikan harga beras di tengah masyarakat, Pasar Murah juga dijadikan stimulus bagi Pemerintah (Daerah) untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kenaikan harga beras di satu sisi menguntungkan petani namun di sisi lain, masyarakat umum terutama mereka yang berpenghasilan rendah merasakan dampak pahitnya. Efek domino kenaikan harga terjadi pada hampir semua jenis barang kebutuhan pokok lainnya. 

Kenaikan harga beras dinilai ironis di tengah meningkatnya produksi beras nasional kita. Menteri Pertanian berulang kali menyampaikan bahwa produksi beras kita tahun ini tertinggi sepanjang usia negara kita. Stok beras di gudang Bulog menyentuh level tertinggi. Sejarah baru tercipta. Swasembada beras yang digadang-gadang sepertinya sudah di depan mata terjadi. Istilah impor beras menjadi sebuah mitos. Mengapa ini bisa terjadi, lain kali akan saya ulas singkat.

Kegiatan Pasar Murah biasanya dilakukan oleh Pemerintah (Daerah) menjelang hari raya besar keagamaan seperti lebaran Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Di saat-saat seperti itu, harga barang seperti dikomando merangkak naik. Alasan klasik tingginya permintaan masyarakat terhadap barang. Sementara ketersediaan barang dinilai sangat terbatas. Pedagang memanfaatkan momentum ini untuk menyesuaikan harga barang yang dijual. Hargapun naik malu-malu bahkan nekat melambung tinggi.

Kebiasaan harga berfluktuasi juga berlangsung pada saat barang mengalami penurunan produksi atau terdapat persoalan pada jalur distribusi barang. Dalam konteks pangan, produksi petani menurun drastis karena gagal tanam/panen akibat bencana atau lainnya. Nelayan juga berhenti melaut karena kondisi laut yang tidak bersahabat. Pasokan barang dari luar daerah terganggu akibat kapal penyeberangan menunda pelayaran karena cuaca yang tidak mendukung. Sementara di lain pihak, konsumsi masyarakat stabil bahkan mungkin bertambah.

Ketidakstabilan harga yang cenderung membuat harga menjadi relatif lebih mahal juga jamak terjadi akibat kebijakan Pemerintah Pusat yang menaikkan tarif dasar listrik (TDL), Bahan Bakar Minyak (BBM), aneka pajak dan lain-lain. Memang langkah tidak populer ini kemudian diikuti pemberian kompensasi kepada masyarakat berpenghasilan rendah dalam bentuk bantuan atau dana sosial. Namun dampak kenaikan harga tidak hanya sporadis pada barang tertentu saja namun nyaris melanda semua barang kebutuhan pokok masyarakat. Istilah ini lebih familiar disebut sebagai inflasi.

Meskipun secara psikologis, harga enggan turun dan kalaupun turun bukan kembali ke posisi harga awal. Pemerintah Daerah menempuh pelbagai kebijakan untuk mengerek harga agar bisa turun. Satu diantaranya dengan menggiatkan kegiatan Pasar Murah. Memotong rantai pasok distribusi barang dengan merayu distributor atau pelaku usaha besar untuk menjual langsung barang kepada masyarakat atau konsumen akhir dengan lebih murah minimal sama dengan harga barang yang mereka jual kepada pengecer. Supaya lebih berarti bagi masyarakat, ada baiknya Pemerintah (Daerah) menyelenggarakan Pasar Murah Bersubsidi sehingga barang yang dijual kepada masyarakat jauh lebih murah karena mendapatkan potongan harga yang signifikan atau dengan kata lain sebagian harga dibayar ditanggung oleh Pemerintah (Daerah) dalam bentuk subsidi.

Tentu harapannya agar kegiatan Pasar Murah benar-benar dapat dijalankan dengan baik sehingga tujuan utamanya dapat tercapai dengan tepat guna dan berhasil guna. Harga menjadi stabil dan masyarakat tidak menggerutu harga selalu naik turun tidak karuan. #SWD#
Labuan Bajo, 29 Oktober 2025

Friday, September 5, 2025

Kuliah

Tidak terasa anak sulungku sudah masuk kuliah. Menjadi mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Makassar. Meskipun tidak mengikuti jejakku berkuliah di kampus merah Unhas, aku tetap bangga padanya. Setidaknya ia telah mampu menaklukkan tes seleksi masuk perguruan tinggi dan berhasil menembus kampus negeri dengan pilihan jurusan yang diidamkan. Tentu dengan menyingkirkan banyak pesaing. Kebanggaan ini membuatku bahagia. 

Teringat lebih dari dua dekade yang lalu. Dimana akupun mampu menorehkan prestasi lulus seleksi menjadi salah satu mahasiswa baru di Unhas. Di tengah cibiran orang-orang yang tidak yakin atas kemampuanku. 

Saat itu, orang tuaku sangat bangga padaku. Mereka sudah banyak mendengar betapa sulitnya menembus kampus Unhas. Maklum, saat itu-dan saat ini-Unhas menjadi perguruan tinggi negeri terbaik se-Indonesia timur. 

Aku pernah mendengar langsung dari Bapakku kalau sedari awal mereka sudah yakin aku pasti bisa menaklukan ujian masuk ini. Bukan saja karena keseriusanku dalam mempersiapkan diri namun yang lebih berpengaruh adalah derasnya doa yang dipanjatkan ibuku di setiap sujud akhir di penghujung malam.

Saat berkuliah, begitu besar pengorbanan orang tuaku. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, mereka tidak pernah mempersoalkan biaya kuliahku. Belum lagi adik-adikku yang juga membutuhkan biaya untuk bersekolah. Padahal aku tahu penghasilan Bapakku tidak menentu, sebagai nelayan tradisional yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan tentu hasilnya tidak banyak sedangkan ibuku hanya pembuat sekaligus penjual kue rumahan. 

Mereka tidak pernah mengeluh dengan biaya kuliahku. Meskipun di beberapa kali kesempatan lewat surat yang ditulis Bapakku, mereka memintaku agar sedikit bersabar. Di kala aku membutuhkan uang secara tiba-tiba dan nominalnya cukup banyak, untuk kuliah dan kebutuhan hidup di tanah rantau, mereka hanya meminta sedikit waktu untuk terus mengusahakannya. Segala daya upaya telah dilakukan. Aku pernah mendengar dari beberapa orang, Ibuku pernah menggadaikan perhiasan kesayangannya hanya untuk memenuhi permintaan uang anaknya di negeri seberang. 

Mereka benar-benar bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Mereka meyakini hanya dengan pendidikan nasib kami bisa berubah. Baginya, cukup mereka saja yang berpendidikan rendah. Anak-anaknya harus meneruskan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Pada titik ini, Bapakku pernah berpesan, tugas kami hanya belajar dan berprestasi, sedangkan biaya semasa kuliah menjadi urusan mereka. Sedemikian getirnya mengais rezeki menjadi rahasia mereka.

Orang tuaku tidak mau anaknya hidup sengsara di daerah orang. Lebih memilih mereka yang menahan lapar dan mengetatkan ikat pinggang daripada mendengar kabar anaknya sakit karena kekurangan makan. Begitu pedulinya mereka demi keberhasilanku menuntut ilmu, sampai harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan segalanya dari mereka.

Aku tahu kondisi keuangan orang tuaku. Pas-pasan jika tidak mau dikatakan miskin. Aku harus pandai menyiasati kiriman uang dari mereka. Menggunakan uang sehemat mungkin. Berbelanja hanya untuk keperluan prioritas. Meskipun terkadang godaan teman untuk sedikit foya-foya berhasil meruntuhkan sikap efisienku. 

Hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari waktu normal. Menyandang status wisudawan terbaik fakultas. Menambah gelar bergengsi di ujung namaku. Mengakhiri secara perlahan tanggung jawab orang tua membiayai kuliahku. Dengan sedikit senyum terbersit di bibir, ada janji yang diam-diam mulai ditunaikan. 

Namun, prosesi wisudaku belumlah sempurna. Karena alasan keuangan, hanya Bapakku saja yang datang dari kampung menghadiri acara wisudaku. Ibuku di rumah, di kampung, tetap bekerja, mencari nafkah, bergelut dengan adonan, berkutat dengan asap kompor minyak tanah, membuat kue untuk dijual sendiri di pasar.

Aku masih ingat, memeluk erat Bapakku dengan toga kebesaran. Tubuh yang semakin ringkih, yang saban waktu diterpa angin laut malam. Bapak Andalan yang akrab dengan gemintang, bulan dan debur ombak. Saat itu dia begitu sangat berbahagia. Senyum khasnya tak pernah luput dari bibirnya. Matanya berkaca-kaca diliputi keharuan tiada terkira. Matakupun berlinang air mata. Bersyukur satu langkah sudah membuat orang tuakua bahagia. Di satu sisi, aku bersedih, ibuku tidak bersama kami. 

22 tahun berlalu, kini anak sulungku sudah menjadi mahasiswa baru. Sebentar lagi akan disibukkan dengan tugas kuliah. Menimba ilmu di dunia kampus. Bersosialisasi sesama mahasiswa dan dosen pengajar. Mengetahui dunia akademika lebih dalam. 
Kini aku dan istriku gantian yang akan memerankan kisah lama itu. Dengan dinamika yang sedikit berbeda. Setidaknya, aku sudah banyak belajar dari pengalaman masa silam. Mulai memahami tanggung jawab besar sebagai orang tua. 

Kunilai besar karena anakku perempuan. Lebih was-was rasanya jauh darinya. Ia harus pandai menjaga diri. Memilih kawan tidak boleh sembarangan. Tinggal sendiri secara mandiri di sebuah kost menjadi tantangan baru baginya.

Waktu SMP dan SMA ia memang sudah bersekolah pondok pesantren di Makassar. Saat itu, perasaan dan pikiran lebih tenang. Menitipkan anak bersekolah di pondok pesantren adalah pilihan yang tepat. Anak-anak tinggal dalam satu asrama. Ditempa ilmu agama dan ilmu dunia secara bersama-sama. 

Sebagai pelipulara, alasan yang membuatku sedikit bernafas lega. Pengalamanya terbiasa jauh dari orang tua dan kebiasaan mengurus sendiri kebutuhan di dalam pondok pesantren, menjadi bekal berharga baginya untuk hidup lebih mandiri. 

Tak bisa ku pungkiri, biaya kuliah dan biaya hidup di kota besar saat ini tidaklah murah namun syukur tak terhingga kepada Allah Azza wa jalla, kedua orang tuanya memiliki penghasilan tetap dan cukup. Sudah diagendakan khusus dalam satu bulan untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya secara tepat waktu. 

Pada titik ini, ku sadari tanggung jawabku membiayai kuliahnya sampai wisuda nanti mungkin lebih mudah karena aku membayarnya dari gaji bulanan yang ku terima. Yang kuraih hari ini merupakan kristalisasi keringat, air mata dan doa kedua orang tuaku selama ini yang menginginkan anaknya sukses dan berhasil di kemudian hari. 

Aku harus membayar lunas pengorbanan kedua orang tuaku kepada anakku untuk pendidikan. Bukankah sudah tertanam jelas di sanubari bahwa hanya dengan pendidikan kita bisa mengubah nasib sekaligus merubah dunia. Tentu dengan seturut doa agar anak-anakku juga merengkuh kesuksesan di masa mendatang. Aamiin YRA 🤲🏻













Sunday, April 6, 2025

Selamat Ultah Buat Putri Sulungku

Selamat Milad, Nak...

Hari ini kau kembali berulang tahun. 
Usiamu kini genap 18 tahun. 
Masih dalam kategori remaja. 
Bahkan sebentar lagi menginjak dewasa. 
Itu artinya dirimu tidak lagi menganggap kehidupan ini biasa-biasa saja. 
Dinamika hidup pasti akan kau jelang. 
Kau harus menentukan jalan mana yang akan kau pilih untuk menggapai pulau harapan. 
Bukan sekadar jalan datar dan landai saja.
Tetapi juga menanjak, berliku dan bergelombang. 
Jalan yang memiliki konsekuensinya masing-masing. 
Agar kau tak keliru dan tersesat dalam rimba raya.
Bergurulah pada yang berilmu dan memiliki segudang pengalaman.
Termasuk petuah berharga dari kedua orang tuamu. 
Dan bukan hanya itu, yang tidak kalah pentingnya.
Andalkan Sang Penciptamu dalam setiap keputusan yang kau tunaikan.
Sebab setiap peran yang kau lakoni.
dirimu sendiri yang akan mempertanggungjawabkan hak Ikhwal resikonya. 
Di hari bahagiamu ini.
Lagi-lagi tak ada kado berwujud barang yang kuberikan. 
Memang aku sengaja. 
Agar kau semakin mengerti
Cinta dan kasih sayangku padamu tidak hanya berbentuk fisik.
Namun juga immateri:
Tidak terlihat karena dalam bentuk bisikan mulia dalam sujud panjang. 
Tidak nampak karena lahir dari untaian pengharapan atas tengadah tangan di akhir sholatku. 
Sederet lafadz doa agar Allah SWT senantiasa melindungimu.
Memberimu umur panjang.
Merahmatimu dengan kesehatan lahir bathin.
Menganugerahimu kesuksesan dunia akhirat.
Memberkahi hidupmu menjadi anak sholehah penyejuk mata kedua orang tuamu.
Serta suluh terang bagi adik-adikmu kelak.
Selamat milad Ananda Lunar..
Makassar, 6 April 2025