Saat ini wajah Labuan Bajo sudah sangat berbeda. Hampir setiap sudut kotanya mengalami perubahan. Di sana-sini tersentuh geliat pembangunan. Setahun saja kita meninggalkannya, saat kembali lagi niscaya banyak tempat yang telah berubah. Maklum saja, perubahan ini merupakan konsekuensi yang harus diterima. Bayangkan saja sebuah desa yang dahulu menjadi ibukota Kecamatan Komodo, lokasinya sangat jauh dari ibukota Kabupaten Manggarai yang mencapai jarak kurang lebih 120 km, namun pasca pemekaran Kabupaten Manggarai Barat sebagai daerah otonom baru, status Labuan Bajo kini telah berubah drastis menjadi ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kabupaten yang sangat identik dengan Komodo ini, layaknya sebuah gadis jelita yang menjadi rebutan para lelaki untuk dipinang dan dipersunting. Maklum saja, sejuta potensi wisata mampu menarik wisatawan dan investor berbondong-bondong mengunjunginya. Namun derap pembangunan yang sangat dinamis ini seolah sengaja ingin menghilangkan identitas dan karakter asli masyarakat pesisir Labuan Bajo sebagai masyarakat yang menggantungkan asanya pada laut dan pantai. Menjadi seorang nelayan dalam sebuah komunitas yang bernama kampung nelayan.

Sebagai salah seorang yang lahir dari rahim kampung nelayan di pesisir Labuan Bajo di awal tahun 80-an serta tumbuh dan besar di tempat ini. Sedikit banyak saya merasakan dan mengalami sendiri dinamika perkembangannya dari waktu ke waktu. Dari saat penerangan masih mengandalkan lampu pelita dan suluh hingga sekarang terang benderang oleh listrik. Dari saat uang Rp.5,- masih berlaku hingga sekarang orang mudah bertransaksi dengan kartu debet atau kredit. Dari saat sepeda menjadi barang langka hingga sekarang mobil telah menjadi hal biasa pelengkap pekarangan rumah.
Perlahan Labuan Bajo terus berkembang. Menyesuaikan laju pembangunan yang diproklamirkan Pemerintah. Dengan mengatasnamakan pembangunan, Pemerintah dengan mudah mempersempit ruang gerak masyarakat khususnya yang berada di kampung nelayan. Salah satu proyek berskala besar dimaksudkan untuk menyukseskan perhelatan akbar Sail Komodo 2013 yang lalu, Pemerintah mereklamasi pantai dan laut dengan membangun tembok penahan gelombang dengan jalan selebar 3 meter di sisinya sepanjang garis pantai Labuan Bajo dari utara ke selatan. Pemerintah dapat saja berkilah bahwa tujuan utama reklamasi laut dan pantai adalah untuk menghilangkan kesan kumuh pada kampung nelayan ini karena menganggap bangunan rumah masyarakat terkesan semrawut dan tidak tertata rapi. Dengan adanya jalan diharapkan agar aksesibiltas masyarakat semakin mudah. Pemerintah berpikir dengan terbangunnya jalan persis di sisi tembok penahan gelombang, seluruh rumah nantinya menghadap laut. Tapi tunggu dulu. Pemerintah sepertinya lupa dengan identitas dan karekter sebagian besar penduduk kampung nelayan di pesisir pantai. Bukankah dengan adanya reklamasi laut dan pantai justeru akan semakin menjauhkan mereka dengan laut. Serasa ada sekat tinggi yang membatasi gerak mereka dengan laut. Padahal tak bisa dipungkiri bahwa laut adalah sumber utama mata pencaharian mereka dan kampung nelayan adalah identitas asli masyarakat pesisir. Pada titik ini saya menjadi teringat akan keelokan pantai serta suasana kehidupan kampung nelayan dahulu.
Untuk itu, saya akan sedikit menggambarkan suasana keaslian kampung nelayan ini tempo dulu agar dapat merefleksikan bagaimana merawat identitas dan karakter yang nyaris sirna ini.
Perlahan Labuan Bajo terus berkembang. Menyesuaikan laju pembangunan yang diproklamirkan Pemerintah. Dengan mengatasnamakan pembangunan, Pemerintah dengan mudah mempersempit ruang gerak masyarakat khususnya yang berada di kampung nelayan. Salah satu proyek berskala besar dimaksudkan untuk menyukseskan perhelatan akbar Sail Komodo 2013 yang lalu, Pemerintah mereklamasi pantai dan laut dengan membangun tembok penahan gelombang dengan jalan selebar 3 meter di sisinya sepanjang garis pantai Labuan Bajo dari utara ke selatan. Pemerintah dapat saja berkilah bahwa tujuan utama reklamasi laut dan pantai adalah untuk menghilangkan kesan kumuh pada kampung nelayan ini karena menganggap bangunan rumah masyarakat terkesan semrawut dan tidak tertata rapi. Dengan adanya jalan diharapkan agar aksesibiltas masyarakat semakin mudah. Pemerintah berpikir dengan terbangunnya jalan persis di sisi tembok penahan gelombang, seluruh rumah nantinya menghadap laut. Tapi tunggu dulu. Pemerintah sepertinya lupa dengan identitas dan karekter sebagian besar penduduk kampung nelayan di pesisir pantai. Bukankah dengan adanya reklamasi laut dan pantai justeru akan semakin menjauhkan mereka dengan laut. Serasa ada sekat tinggi yang membatasi gerak mereka dengan laut. Padahal tak bisa dipungkiri bahwa laut adalah sumber utama mata pencaharian mereka dan kampung nelayan adalah identitas asli masyarakat pesisir. Pada titik ini saya menjadi teringat akan keelokan pantai serta suasana kehidupan kampung nelayan dahulu.
Untuk itu, saya akan sedikit menggambarkan suasana keaslian kampung nelayan ini tempo dulu agar dapat merefleksikan bagaimana merawat identitas dan karakter yang nyaris sirna ini.
Layaknya wilayah pesisir lainnya, kehidupan masyarakat kampung nelayan Labuan Bajo kala itu juga menyimpan identitas dan karakter asli wilayah pesisir. Setiap saat penduduk bergelut dengan laut dan pantai. Selalu saja ada kegiatan untuk mengekspersikan kegembiraan menatap air laut yang pasang dan surut. Perahu dan bagan nelayan (sejenis perahu yang memiliki tangan khusus untuk menangkap ikan) terlihat anggun menari mengikuti riak gelombang dan bila malam hari pendar cahaya dari lampu petromaks yang menyala dari perahu dan bagan di kejauhan membentuk formasi bak kunang-kunang berbaris melengkapi indahnya malam. Saat air laut pasang, nelayan tidak perlu mengayuh sampan jauh ke tengah laut hanya untuk menangkap ikan tapi cukup dengan menjulurkan alat pancing langsung dari tepi pantai, ikan dengan mudah akan didapat. Kebahagiaan juga terpancar dari raut wajah anak-anak pesisir. Bagi mereka menjadi waktu yang tepat untuk bermandi ria. Air laut pasang dianggap sebagai kolam renang raksasa yang selalu menggoda mereka untuk berenang. Untuk itu, dapat dipastikan tak ada anak-anak yang tak mampu berenang. Bahkan di usia dinipun mereka telah menguasai berbagai macam gaya berenang. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga mampu menyelam di kedalaman air untuk waktu yang cukup lama. Pemandangan menarik juga terlihat saat air laut surut di siang hari yang mencapai radius 500 meter dari tepi pantai. Para lelaki dewasa tengah sibuk memperbaiki perahunya yang rusak. Ada yang sekedar membersihkan dasar perahu dari kerang-kerang yang menempel. Ada juga yang sibuk mengecet kembali perahu agar terlihat indah kembali. Para ibu-ibu atau wanita dewasa juga tidak mau ketinggalan. Mengambil ember dan parang untuk mencari kerang dan siput. Beranjak pulang saat embernya penuh. Siput dan kerang diolah dengan sentuhan tradisional untuk dijadikan lauk-pauk keluarga. Anak-anak memanfaatkan siklus air laut surut ini juga untuk bermain. Ada yang bermain bola di atas pasir yang terhampar. Ada pula yang bermain perahu-perahuan di titik air laut yang tergenang bak oase di padang pasir. Jika air laut surut di malam hari, orang dewasa memanfaatkannya untuk berburu rajungan (sejenis kepiting). Berbekal lampu petromaks, ember, parang atau tombak, berjalan di air laut yang tingginya selutut mengawasi pergerakan kepiting dan hewan laut lainnya. Mata mereka sangat jeli membedakan rajungan dengan batu karang.
Suasana kekeluargaan begitu kental di kehidupan kampung nelayan. Warga yang kebetulan memperoleh hasil tangkapan lebih nampak ikhlas membagikan ikan tangkapannya kepada tetangga sebanyak untuk dikonsumsi. Bahkan ketika ada nelayan yang berhasil memperoleh ikan Cencara bertelur (ikan yang beraroma tajam namun enak dimakan), para tetangga membantu membelah ikan tersebut untuk mengeluarkan isi perut dan telur ikan di dalamnya. Seperti ada perjanjian mengikat dari dahulu telur ikan yang berhasil dipisahkan itu akan langsung menjadi milik tetangga yang membantu membelah ikan. Kekeluargaan terlihat nyata saat bulan purnama atau ketika laut sementara tidak bersahabat. Saat itu para nelayan memilih untuk tidak melaut. Menghabiskan waktu menunggu bulan baru dan laut kembali normal, biasanya mereka memilih untuk memperbaiki alat tangkap yang rusak. Salah satu aktivitas kampung nelayan malam hari yang tidak bisa saya lupakan adalah memperbaiki jaring yang rusak dan menggantinya dengan jaring yang baru. Di saat ini, saya menyaksikan para tetangga mengambil peran masing-masing untuk membantu warga lainnya menjahit jaring yang rusak atau yang baru yang dibentang panjang melewati sela-sela rumah panggung. Keceriaan nampak terlihat dari wajah mereka. Semangat gotong-royong ternyata telah lama tumbuh subur di jiwa mereka. Sebagian besar rumah di kampung nelayan berbentuk panggung dengan kolong rumah sering dijadikan tempat menaruh ikan. Karena keaslian identitas dan karakter sebagai kampung nelayan, tidak jarang bule (kami sering memanggilnya turis) datang berkunjung untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat nelayan. Mengabadikan momen berharga dengan kameranya dan hampir tidak dipercaya banyak foto-foto hasil jepretan mereka yang dikirim kembali dari luar negeri tiba di kampung nelayan.
Suasana kekeluargaan begitu kental di kehidupan kampung nelayan. Warga yang kebetulan memperoleh hasil tangkapan lebih nampak ikhlas membagikan ikan tangkapannya kepada tetangga sebanyak untuk dikonsumsi. Bahkan ketika ada nelayan yang berhasil memperoleh ikan Cencara bertelur (ikan yang beraroma tajam namun enak dimakan), para tetangga membantu membelah ikan tersebut untuk mengeluarkan isi perut dan telur ikan di dalamnya. Seperti ada perjanjian mengikat dari dahulu telur ikan yang berhasil dipisahkan itu akan langsung menjadi milik tetangga yang membantu membelah ikan. Kekeluargaan terlihat nyata saat bulan purnama atau ketika laut sementara tidak bersahabat. Saat itu para nelayan memilih untuk tidak melaut. Menghabiskan waktu menunggu bulan baru dan laut kembali normal, biasanya mereka memilih untuk memperbaiki alat tangkap yang rusak. Salah satu aktivitas kampung nelayan malam hari yang tidak bisa saya lupakan adalah memperbaiki jaring yang rusak dan menggantinya dengan jaring yang baru. Di saat ini, saya menyaksikan para tetangga mengambil peran masing-masing untuk membantu warga lainnya menjahit jaring yang rusak atau yang baru yang dibentang panjang melewati sela-sela rumah panggung. Keceriaan nampak terlihat dari wajah mereka. Semangat gotong-royong ternyata telah lama tumbuh subur di jiwa mereka. Sebagian besar rumah di kampung nelayan berbentuk panggung dengan kolong rumah sering dijadikan tempat menaruh ikan. Karena keaslian identitas dan karakter sebagai kampung nelayan, tidak jarang bule (kami sering memanggilnya turis) datang berkunjung untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat nelayan. Mengabadikan momen berharga dengan kameranya dan hampir tidak dipercaya banyak foto-foto hasil jepretan mereka yang dikirim kembali dari luar negeri tiba di kampung nelayan.

Dinamika kampung nelayan terus bergerak. Bergeser jauh dari kehidupan mereka dahulu. Dalam rentang kurun waktu yang tidak terlalu lama, satu persatu sejarah telah ditorehkan. Banyak cerita yang tercipta menjadi kenangan tersendiri. Bahkan bisa menjadi dongeng pengantar lelap sang buah hati kelak. Sebab semuanya telah hilang ditelan teori pembangunan serta diperparah oleh faktor migrasi penduduk dari luar daerah yang terus meningkat yang dikhawatirkan akan menggerus eksistensi masyarakat kampung nelayan terbukti banyak nelayan kini telah beralih profesi ke pekerjaan yang tak ada kaitannya dengan laut. Kampung nelayan di sepanjang pantai Labuan Bajo tak lagi seperti dulu sehinga wajar bila saya merindukan suasana kampung nelayan Labuan Bajo seperti dua dekade silam. Hari ini kampung nelayan itu nyaris tersingkir dilindas pembangunan yang tak berpihak kepada mereka.
Jalan baru reklamasi Labuan Bajo, 14 Februari 2017


No comments:
Post a Comment