Monday, February 6, 2017

Sensasi Berburu Pakaian bekas Impor (Rombengan)

Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah pernah mengeluarkan kebijakan melarang impor pakaian bekas dari luar negeri. Pemerintah berkeyakinan bahwa melalui pakaian bekas yang banyak masuk ke dalam negeri dikhawatirkan membawa serta kuman, bakteri dan virus penyakit dari luar negeri. Jelas saja kebijakan ini mendapat tentangan yang beragam dari masyarakat terutama dari para pedagang pakaian bekas itu sendiri bahkan protes keras yang disuarakan langsung oleh para pemburu pakaian bekas. Termasuk saya diantaranya. Saya menilai apapun alasannya, berburu pakaian bekas merupakan suatu sensasi luar biasa. Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kalimat. Paling tidak itu pula yang dirasakan sebagian besar pecinta pakaian bekas. Kok bisa?

***

Pagi itu, ia memulai hari dengan lebih ceria. Dari tadi senyum tipis akrab terbit di bibirnya. Alampun melengkapi gembiranya dengan matahari yang bersinar lembut. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk sesegera mungkin menggelar dagangannya di Pasar Wae Kesambi. Maklum hari ini adalah hari Sabtu di pekan pertama tiap bulan. Dimana ia memiliki jadwal khusus untuk membuka berbal-bal (ukuran jauh lebih besar dari karung biasa) rombengan. Hari yang juga sangat dinanti-nantikan para pemburu rombengan. Momen dimana para pemburu rombengan lebih dahulu berjubel memenuhi lapak-lapak dari pedagang itu sendiri. Sekali saja ia berteriak lantang "buka baru" para pemburu rombengan telah sigap mengambil pilihannya. Urusan harga kemudian yang penting rombengan yang dipilih cocok dan sesuai dengan keinginan. Ia berharap agar rombengan yang ada dalam bal-bal yang baru datang dari luar negeri memiliki kualitas yang baik. Sehingga seluruhnya laris dan akhirnya meraih untung besar. Sejuta asa kini menggelayut di hatinya.

***

Saya juga tahu kalau hari ini para pedagang rombengan di Pasar Wae Kesambi Labuan Bajo berlomba-lomba membuka bal-bal berisi pakaian bekas impor (rombengan). Pas sekali, momennya bertepatan dengan hari libur kerja. Olehnya sangat sayang kalau momen berburu rombengan ini dilewatkan begitu saja. Saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk memilah dan memilih rombengan yang saya incar. Kebetulan saat ini saya membutuhkan celana pendek dan jaket. Tapi kalau misalnya saya menemukan baju kaos, kemeja atau celana panjang jeans yang bagus, cocok dan bermerk orisinil mau tidak mau saya harus membelinya juga. Sepertinya istilah "mumpung ada dan mumpung murah" berlaku untuk kondisi ini.

***

Lain cerita dengan temanku yang bernama Ridho. Hampir dipastikan setiap Sabtu ia berburu rombengan. Selalu saja ada rombengan yang diminatinya. Yang penting bagus dan bermerk top, ia tak peduli ukurannya. Baginya ukuran yang penting tidak kekecilan karena kalau longgar masih ada penjahit langganannya yang akan mempermak sesuai keinginannya. Hasil buruan rombengannya sudah sangat banyak. Katanya hampir memenuhi satu lemari tiga pintu. Belum terhitung rombengan milik istri dan anak-anaknya. Kalau disatukan mungkin cukup untuk membuka butik atau distro khusus pakaian bekas lagi.

***

Saban Sabtu dan lebih-lebih Sabtu pada saat "buka baru" Pasar rombengan di Wae Kesambi Labuan Bajo selalu penuh sesak diminati pemburu rombengan yang berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda. Dari masyarakat biasa sampai yang luar biasa, yang sengaja datang menggunakan kendaraan pribadi. Berpenampilan necis dan sangat mengerti merk dan tren fashion terkini.

***

Pasar rombengan di Wae Kesambi Labuan Bajo tidak sedikit yang menyebutnya sebagai mall karena rombengan di sini dipajang sedemikian rupa sehingga mudah bagi pemburu rombengan untuk melihatnya dengan utuh. Kerap kali saya kesana berjumpa dengan kawan-kawan pemburu rombengan lainnya. Terkadang juga saya menemukan pemburu rombengan pemula yang masih malu-malu dan terlihat kikuk. Mungkin di pikirannya masih berkecamuk sebuah tanda tanya besar bahwa rombengan itu hanya layak digunakan oleh kaum berkasta rendah. Sikapnya masih sungkan untuk menerima  kenyataan bahwa rombengan itu barang impor. Banyak yang berkualitas dan masih terlihat baru karena label merk pabrik masih melekat. Yang tidak kalah pentingnya juga, rombengan yang kita beli apapun jenisnya dapat dipastikan hanya kita sendiri yang menggunakannya. Maka dari itu tidak berlebihan kiranya kalau saya menilai bahwa berburu rombengan memberi sensasi tersendiri bagi para pemburu rombengan. Bukan saja karena memilih rombengan itu memerlukan kecermatan tetapi juga keberuntungan. Bagaimana kualitas dan harga harus dapat dikompromikan.

Kamar 25° C, Labuan Bajo, 9 Februari 2017

No comments:

Post a Comment