Di dalam taksi yang kami tumpangi dari bandara menuju hotel, iseng-iseng saya bertanya pada teman saya ini. "Om sudah pernah ke Jakarta sebelumnya kah?" Mungkin pertanyaan saya terlalu menohok sehingga ia langsung merespon dengan menjawab "oh saya sudah sering kesini". Jawaban yang membuat saya sedikit lega. Sebab meskipun saya belum begitu menguasai seluk beluk kota Jakarta, saya tetap enggan menjadi tour guide baginya. Urusan kantor ke Jakarta mungkin sama tetapi tidak untuk urusan pribadi. Jauh hari saya sudah menjadwalkan waktu untuk menemui sanak keluarga yang ada di kota ini. Tentu setelah semua urusan kantor rampung.
Ketika taksi yang kami tumpangi melaju keluar tol menuju arah dalam kota dan bergabung bersama riuh dan deru kendaraan umum lainnya, teman saya nyeletuk ketika melihat di sekitar kami banyak berseliweran kendaraan roda tiga berwarna biru. "Kalau kita naik kendaraan lagi sekali-kali naik mobil yang berwarna biru itu, sepertinya perlu dicoba bagaimana rasanya". Pertanyaan tiba-tiba muncul di benak saya. "Mungkinkah seseorang yang sering ke Jakarta tidak mengenal yang namanya bajaj?" Pertanyaan itu menguap di dalam hati.
Rasa penasaran teman saya untuk mencoba bagaimana rasanya mengendarai kendaraan yang awal mulanya diimpor dari India ini akhirnya terjawab. Momen berharga itu ada saat di satu kesempatan saya mengajaknya pergi ke kantor Kemendagri. Saya melihatnya sangat takjub. Memanfaatkan momentum di dalam bajaj untuk berselfie ria. Untuk kesekian kali saya melihatnya bergaya kampungan. Berulang kali saya menasehatinya agar berlaku biasa saja. Tidak norak yang dapat memancing perhatian orang. Betul saja, saat kami pulang ke hotel dengan menumpang bajaj kembali, telepon genggam yang baru dibelinya di kampung sebelum berangkat ke Jakarta dijambret pengendara motor. Bagaimana tidak, sepanjang jalan dia terlihat sibuk merekam segala sesuatu dengan hp miliknya yang dipegang dengan posisi tangan kiri berada di luar jendela bajaj. Saya yakin Penjambret itu sudah dari tadi mengincar kelengahannya. Sopir bajaj mencoba mengejar namun apa daya laju sepeda motor di keramaian lebih lincah daripada bajaj. Penjambret mengendarai motor meliuk-liuk di sela-sela kendaraan yang ramai sebelum hilang di tikungan. Saya hanya bisa membesarkan hatinya bahwa "untung" yang digondol hanyalah sebuah telepon genggam bukan nyawa kami.
Sesungguhnya saya turut andil atas musibah yang dia alami. Ya, saya merasa seharusnya saya tidak bosan mengingatkannya agar selalu berhati-hati. Seharusnya "musibah" yang mendekapnya bisa dibatalkan apabila saya turun tangan menghentikan kecerobohannya. Hebatnya dia lekas mengikhlaskan yang terjadi barusan.
Setiap musibah tentu memberi hikmah. Untuk hal ini saya berharap dia memetik pelajaran pertama dari kejadian naas yang menimpanya.
Rupanya harapan saya berujung sia-sia. Di hari yang sama namun di waktu yang berbeda, takdir teman saya masih juga dirundung sial. Lagi-lagi ia menjadi objek penderitaan. Menjadi sasaran penipuan berkedok undian berhadiah di Passer Baroe. Ia dengan mudah mempercayai sales promotion girl (SPG) ketika menawarkan sesuatu kepadanya. Terperdaya bujukan maut SPG sindikat kejahatan yang mengenakan pakaian minim, sadar atau tidak, ia mau saja membeli barang yang konon katanya didiskon fantastis karena teman saya mendapatkan undian berhadiah yang kemasannya nampak bersegel. Bisa-bisanya ia menyempatkan diri ke ATM untuk mengambil uang demi melakukan transaksi "aneh" itu. Saya tahu ia tak memegang banyak uang cash, sebab sebelum ia terjebak dengan kondisi itu, ia masih sempat meminjam uang saya saat akan ke TKP. Sekali lagi, sebenarnya bisa saja dia luput dari aksi penipuan itu kalau saja dia mau sedikit sabar mendengarkan larangan saya kepadanya. Begini ceritanya. Saat dia mulai terperdaya dengan bualan SPG, dia masih sempat menelpon saya menanyakan ikhwal yang terjadi. Reflek saya memintanya untuk segera menghindar dari lokasi dia berada. Saya bahkan sampai berteriak memintanya untuk langsung kembali ke hotel tempat kami menginap. Dasar sudah takdirnya kembali naas, ia justru meyakinkan saya di ujung telpon bahwa apa yang dia alami adalah sebuah keberuntungan. Saya dapat menangkap kesan seolah-olah dewi fortuna bersemayam di dirinya. Dia merasa sebagai sosok manusia pilihan yang mendapat perlakuan istimewa. Apa mau dikata. Pada situasi seperti ini tidak mungkin saya menyambanginya. Itu sama saja saya menabuh genderang perang kepada para sindikat itu karena dengan sengaja telah merusak skenario jahat mereka. Bagaimana murkanya mereka terhadap saya bila ikan yang sudah masuk dalam jaring mereka lantas tiba-tiba saya lepaskan. Biarlah untuk hal ini saya dibilang pengecut dan tidak solider.




