Saturday, May 7, 2016

Pantai Pede riwayatmu kini

Semilir angin berhembus. Bergerak manja dari arah barat, membasuh permukaan air laut lalu terbang mengelus wajah. Sebentar saja membelai rambut ia lalu menghilang menyelinap di sela2 daun bidara yang pohonnya tumbuh pongah di pantai sebab seingatku dulu, ya dulu sekali, di Pantai Pede ini juga banyak di tumbuhi pohon kelapa dengan rimbunan buah yang menjuntai. Namun kini pohon kelapa tak lagi terlihat sama sekali. Yang tersisa hanya pohon bidara saja.
Air laut cukup tenang hingga riaknya tak berdebur. Ikan -ikan kecil leluasa bermain di bibir pantai. Tengah asyik berkejaran satu dengan yang lain. Beberapa perahu kecil nelayan nampak tengah tertambat. Istirahat sejenak mengikuti tuannya yang butuh waktu memulihkan tenaga setelah sekian hari terus melaut. Begitulah pemandangan indah pagi ini di pantai Pede yang sayang untuk dilepaskan.
***
Pesona Pantai Pede tak pernah lekang oleh waktu. Berjuta cerita lahir dari rahimnya. Tempat yang tepat untuk mencari inspirasi sekaligus solusi. Ia ibarat ibu kandung yang setia mendengar keluh kesah. Mendengarkan seksama setiap problema, merahasiakan galau yang tercurah,  namum tidak lupa melahirkan jalan keluar yang bijak.
Ia juga berperan sebagai rumah tempat kita pulang. Tempat yang cocok untuk melepas kepenatan, merileksasi seluruh bagian tubuh dari rutinitas.
Pantai Pede dengan setia menyambut siapa saja yang datang. Ia siap mengharmonisasikan kembali perasaan yang labil. Bersedia menetralkan kembali jiwa yang goyah.
***
Pantai Pede sangat akrab dengan masyarakat Manggarai Barat. Betapa tidak, pasca Labuan Bajo dikenal luas oleh masyarakat dunia, semua pantai yang biasa menjadi ruang publik kini tak dapat lagi diakses bebas masyarakat. Semua pantai kini telah berganti tuan. Kepemilikan tanah pesisir dan pantai menjadi milik pengusaha besar atau kerap disebut investor, dari luar daerah maupun luar negeri. Praktis Pantai Pede menjadi pilihan satu-satunya sebagai ruang publik, disamping letaknya yang tidak jauh dari pusat kota namun juga mudah dijangkau bahkan dengan hanya berjalan kaki. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengunjung tak perlu dipungut biaya untuk memasuki area pantai ini.
Karena menjadi area publik satu-satunya, maka saban hari orang-orang tak jemu mendatanginya. Pagi, siang bahkan malam hari. Hari kerja lebih-lebih hari libur. Sendiri, dengan pasangan, bersama keluarga bahkan teman-teman dekat.
***
Aku sendiri memiliki jadwal tetap untuk berkunjung ke Pantai Pede setiap akhir pekannya. Mengajak keluarga kecilku untuk menikmati liburan akhir pekan dengan sederhana. Saking sederhananya, terkadang kami memanfaatkan momentum liburan akhir pekan di Pantai Pede dengan hanya menggelar sarapan pagi dengan menu nasi kuning bungkus yang sengaja dibeli terlebih dahulu di warung sebelum kami ke pantai. Menu boleh biasa tapi apabila disantap sambil memandang bentang laut yang indah serta dimanjakan dengan alunan debur ombak dan diiringi angin sepoi-sepoi yang langsung merasuk ke pori-pori tentu menjadi sebuah untaian pengalaman yang sungguh sanga luar biasa.
Bila niat kita ke Pantai Pede semata-mata untuk rekreasi, maka belum sempurnalah rekreasi kita bila tidak ikut mandi dan menceburkan diri di lautnya. Berenang, menyelam ataupun sekedar berendam tentu menjadi sebuah paket wajib yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan. Aku menduga kandungan air lautnya mampu membuat kita betah berlama-lama dalam dekapannya. Pasirnya terbilang putih, lembut dan renyah bila diinjak langsung dengan telapak kaki.
Anak-anakku paling gembira ketika kuajak ke Pantai Pede. Bagi mereka, sensasi kepuasan bermain bebas di pasir melebihi kadar kepuasan saat menerima hadiah mainan baru. Tawa riang mereka ketika berjibaku dengan air laut dan pasir seolah-seolah memberi kesan kalau hidup haruslah selalu dinikmati. Bahwa raga dan jiwa memiliki hak istimewa untuk diperlakukan lebih santai. Tak terus menerus diberondong dengan suguhan problematika.
***
Belakangan, polemik terkait Pantai Pede menyeruak. Hal ini bermula dari rencana Pemerintah Provinsi NTT yang (katanya) sebagai pemilik tunggal dari aset berharga ini, menyetujui ijin pengelolaan Pantai Pede diberikan kepada pihak ketiga untuk membangun hotel berbintang. Rencana ini ditentang keras masyarakat. Mereka khawatir setelah Pantai Pede diprivatisasi, seluruh akses menuju Pantai Pede akan ditutup untuk khalayak. Tidak ada lagi ruang yang representatif bagi masyakat untuk berkumpul dan mengekspresikan kebahagiaannya dengan bertamasya. Tak ada lagi tempat yang strategis untuk mengaktualisasikan diri dalam bentuk atraksi dan pentas seni. Padahal hilang atau terhapusnya spot yang biasa digunakan sebagai media interaksi sosial ini sama saja menafikkan kreativitas dan menyuburkan sindrom depresi.
Anehnya, gelagat ini sepertinya sengaja diacuhkan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat. Bupati sebagai pucuk pimpinan di daerah ini tidak serius memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Bupati cenderung tidak berkutik pada titah gubernur, meskipun hati kecilnya berbisik lain. Bupati memilih berseberangan pendapat dengan masyarakat, LSM pegiat pariwisata dan aktivis lingkungan bahkan dengan pihak gereja (katolik) sekalipun.
Sebenarnya Bupati telah mencoba memfasilitasi pertemuan antara Pemerintah Provinsi dan kelompok masyarakat. Namun seperti sudah diprediksi dari awal bahwa pertemuan ini akan berakhir deadlock. Wajar saja sebab Pemerintah Provinsi tetap keukeuh mengijinkan pihak ketiga untuk membangun hotel berbintang dan itu sama saja mengiris hati masyarakat yang sedari awal berjuang mempertahankan Pantai Pede sebagai ruang publik.
Pemerintah Provinsi beralasan pengelolaan Pantai Pede oleh pihak ketiga untuk membangun hotel berbintang akan memberi keuntungan yang lebih kepada daerah berupa peningkatan pendapatan asli daerah melalui sewa pakai aset tanah.
Sebagai orang awam, aku berpendapat meski menggunakan logika sederhana. Pertama, Bukankah PAD yang dicapai tiap tahun akan dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat? Lantas mengapa Pantai Pede yang sudah jelas-jelas memberi kebahagiaan langsung kepada masyarakat mesti dikorbankan lg? Apalah arti PAD yang tinggi sementara rakyat menderita?
Kedua, Pemerintah Provinsi memprivatisasi Pantai Pede melalui pemberian ijin pembagunan hotel berbintang oleh pihak ketiga dengan sistem sewa pakai. Katakanlah Pantai Pede milik Pemprov NTT yang sengaja disewakan. Apakah Pemkab Manggarai Barat tidak berniat sedikitpun untuk menyewa saja Pantai Pede ini untuk selanjutnya dikelola dengan baik layaknya Pantai Kuta di Bali yang bebas dikunjungi masyarakat. Aku yakin besaran sewa pakainya tentu lebih murah karena selain Pemkab Manggarai Barat adalah anak kandung Pemprov NTT, juga yang lebih penting adalah Pantai Pede sengaja disewa bukan dengan tujuan akhir untuk dikomersilkan tetapi semata-mata digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pada titik ini aku sangat yakin kalau mayoritas masyarakat menyetujui penggunaan anggaran dari APBD untuk membiayai ikhwal ini.
***
Pantai Pede riwayatmu kini...terus berada dalam ruang yang tak pasti hingga tidak terasa engkau kian terabaikan. Letakmu ada di Kabupaten Manggarai Barat namun secara perlahan masyarakat disini terancam tak lagi dapat menikmati keelokanmu termasuk aku dan keluarga kecilku.
Pantai Pede, 13 Mei 2016

2 comments:

  1. Apresiasi dengan tulisan ini bro. Kita bisa berenang di Pantai Pede suatu saat. Perkenankanlah saudaramu membagi apa yang kuketahui kepadamu bro, biar seperti air laut dan pasir, kita saling membutuhkan, saling berbagi.
    pertama; sistem pengelolaan Pantai Pede oleh pihak ketiga dengan Bagun Guna Serah. Itu berarti Pihak ketiga membangun di sana, menggunakannya, dan pada periode tertentu, apa yang dibangunnya akan diserahkan kepada Pemprop
    Kedua;yang saya dengar dari sumber terpercaya. Konsep pengelolaan pantai pede selalu berubah. Yang terakhir dengan sistem pembangunan kawasan rekreasi terpadu. Nanti di sana tetap ada tempat bermain, tetap ada tempat berenang untuk rakyat, tempat mengekspresikan seni.
    Ketiga; pantai yang ada di Manggarai Barat tetap menjadi milik negara. Bahwa ada satu dua pantai yang akses ke sana sulit, itu kenyataan. Tapi ke depan,Pemerintah bisa buka jalan di pinggir pantai seperti di kuta sana. Lalu kita pun berenang.Kita pun bermain ditempat yang sudah ada pemisahan yang jelas antara milik investor dan milik negara/pantai itu.

    ReplyDelete
  2. Pada akhirnya ketika upaya masyarakat tdk berhasil, maka kita harus terpaksa menerimanya. Saya hanya pesimis, karena sesungguhnya pantai tdk boleh dikuasai hingga 100 meter dari pasang tertinggi namun klo kita lihat hotel la prima, bintang flores, jayakarta selyruh garis pantaix tdk bisa digunkan oleh khalayak. Jgn sampai kejadian yg sama jg terulang pada Pede. Khusus di Kuta tdk ada hotel yg berbatasan dg pantai tapi jalan rayalah yg berbatasan lgsg dg pantai. Pulau bidadari yang hanya disewa asing sebelah barat tp untuk mancing disekitar pulau sj dilarang. Sy khawatir perahu nelayan yg biasa tertambat di pantai pede juga akan dilarang jg krn dianggap merusak pemandangan. Mudah2an ini hanya syak wasangka saya sj...hehehe...

    ReplyDelete