Namanya
Mace, aku mengenalnya belumlah terlalu lama, baru berjalan sekitar 11 tahun.
Namun karena selama itu pula aku masih sekantor dengannya, maka tidak bisa
dibilang tidak aku mengenalnya lebih dekat. Mengenalnya menciptakan cerita
sendiri bagiku. Beragam tema pembicaraan yang dia hasilkan. Tidak hanya sekedar
tentang pekerjaannya sebagai pejabat dengan nama jabatan sepanjang jembatan
tetapi juga terkait kisah klasik sebagai seorang laki-laki. Yah, apalagi kalau
bukan tentang cerita makhluk lembut keturunan hawa. Ia begitu antusias ketika
membedah topik ini. Sepertinya ia mempunyai cadangan cerita yang tak pernah
habis-habis. Selalu ada, aktual dan akurat. Maklum, untuk ihwal ini
pengalamannya cukup berlimpah.
Karena
saban hari ia terus bercerita tentang wanita, maka raut wajahnya selalu
berseri-seri. Senyum keteduhan selalu tersungging di bibirnya. Hatinya laksana dipenuhi
bunga-bunga yang merekah. Lebih puitis dan romantis. Efek selanjutnya ruangan
kerja kami menjadi segar dan merona.
Suatu
hari, ia tidak masuk kantor. Suasana begitu berbeda. Perasaan terman-teman
refleks terpaut satu dengan lainnya merasakan ada sesuatu yang kurang bahkan
hilang. Kami sepakat merindukan mulutnya kembali bercerita tentang keindahan,
kelembutan dan pesona seorang wanita. Membayangkan bagaimana ia sangat
bergelora menceritakan pengalaman terkininya tentang wanita. Aduhai, sungguh menarik
dan menghipnotis.
Namun,
belakangan perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Kuyakini ini ada
kaitannya dengan Pilkada. Ia berubah drastis menjelang gaung pilkada ditabuh. Ia
tidak lagi tertarik berbicara mengenai wanita. Baginya topik Pilkada lebih
seksi dari tubuh wanita. Ia lebih sensitif membicarakan peluang menang-kalah
calon kepala daerah. Analisisnya mengalahkan analisa seorang pengamat politik. Segala
aspek calon kepala daerah diramu sedemikian rupa menjadi sebuah informasi
berharga. Saking antusiasnya dengan dinamika politik lokal, tidak
tanggung-tanggung ia menceburkan diri dalam tim pemenangan salah satu paket kepala
daerah. Ia bergerak aktif menggalang dukungan bahkan terkesan terlalu vulgar
dalam mengomentari calon kepala daerah yang bukan jagoannya. Ia tampil
terang-terangan mengkampanyekan visi-misi kandidat calonnya. Berargumen lantang
untuk mematahkan pendapat lawan. Ia tidak pernah takut dengan resiko yang
dihadapinya kelak. Menurutnya, ia telah menghitung matang untung-ruginya.
Perubahan
sikap di atas, dengan segala konsekuensi yang ada telah diterimanya sebagai
sebuah pilihan politik yang pasti. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang harus dimaklumi
oleh setiap orang.
Namun ada
yang lebih menarik dari sederet perubahan perilaku kawanku satu ini. Mendadak
ia telah menjadi seorang ahli tafsir mimpi. Bukan mimpi orang lain tapi mimpinya
sendiri. Mimpi yang terangkai dari tidur singkatnya setiap malam dan merupakan
buah dari hayalan panjangnya sebelum kedua kelopak matanya terkatup rapat saat
malam hari. Pada umumnya, selain mimpi buruk orang-orang cenderung melupakan
mimpinya saat bangun tidur dan baru teringat kembali manakala ada momen lain
yang sebentuk dengan mimpinya beberapa waktu kemudian. Lain orang, lain pula
kemampuannya. Baginya ia dapat mengingat secara runtut rangkaian mimpinya tadi
malam. Sudah begitu, ia dengan segala teori yang ada mencoba menafsirkan isi
mimpinya dengan tingkat keyakinan di atas rata-rata. Apabila dicermati lebih
sungguh-sungguh, tafsir mimpinya masih seputar gelaran Pilkada. Entah
menggunakan variabel apa, sedikit-sedikit tafsir mimpinya selalu memiliki
relasi dengan dinamika politik lokal, isu estafet kepemimpinan daerah ke depan
serta bagaimana gaya kepemimpinan bupati dan wakil bupati sekarang. Ia sangat
pandai meramu semuanya menjadi sebuah diskursus menarik. Keakuratan analisis
mimpinya hanya dapat dibuktikan oleh waktu yang bergulir. Probabilitas kebenaran
dan kekeliruannya berimbang dan tidak ada yang mendominasi. Sehingga
kesimpulannya bergantung pada keyakinan lawan bicaranya.
Berbicara
mengenai kebenaran dan keakuratan mimpinya, aku mencoba menginterprestasikan melalui
nalarku sendiri.
Mula-mula
aku mempertanyakan mengapa objek analisisnya hanya berkutat pada mimpinya
sendiri? Bukankah seluruh ahli nujum memiliki kemampuan yang tinggi dalam
menafsirkan mimpi orang lain? Memberikan beberapa proyeksi yang mungkin terjadi
sekaligus tidak terjadi pada kliennya. Bagaimana cara menggapai hal-hal yang
bersifat positif sekaligus trik dan tips cara menghidar dari hal-hal yang
bersifat negatif. Meskipun seluruhnya nyaris bergerak pada situasi menakar kemungkinan.
Ahli nujum tetap tidak berani mengambil resiko dalam menafsir mimpinya sendiri.
Barangkali kawanku satu ini, memiliki keahlian khusus yang bertolak belakang
dengan etik seorang penafsir mimpi pada umumnya. Ia hanya berani menafsir
mimpinya sendiri dan rabun dalam menafsir mimpi orang lain.
Kemudian
aku juga mempetanyakan mengapa analisas mimpinya selalu bertautan dengan
politik dan kekuasaan? Bukankan masih ada atmosfer lain dalam kehidupan ini? Katakanlah
berkaitan dengan jodoh, rezeki, panjang umur, kesehatan dan lain-lain. Untuk
urusan ini ia sengaja memendam rahasianya dalam-dalam.
Analisis
mimpinya satu persatu meleset, ia mafhum. Meskipun ada juga yang hampir benar.
Ingat, bukan benar-benar benar. Melihat analisa mimpinya yang nyaris benar
tersebut, ia besar kepala, hidungnya mengembang dan tentu dipastikan ia akan
semakin “gila” menganalisis mimpinya. Mimpi yang barusan terbeli.
Meja
kantor, Labuan Bajo, 16 Mei 2016
Omong soal mimpi, saya jadi ingat visi. tapi apa pun itu, hemat saya, mimpi sesamapun dapat kita jadikan bahan refleksi untuk mengasah mimpi kita. Mari bersama kita raih mimpi kita
ReplyDeleteAsal jgn mimpi basah..hehehe...
ReplyDelete