Monday, May 23, 2016

Sang Penafsir Mimpi



Namanya Mace, aku mengenalnya belumlah terlalu lama, baru berjalan sekitar 11 tahun. Namun karena selama itu pula aku masih sekantor dengannya, maka tidak bisa dibilang tidak aku mengenalnya lebih dekat. Mengenalnya menciptakan cerita sendiri bagiku. Beragam tema pembicaraan yang dia hasilkan. Tidak hanya sekedar tentang pekerjaannya sebagai pejabat dengan nama jabatan sepanjang jembatan tetapi juga terkait kisah klasik sebagai seorang laki-laki. Yah, apalagi kalau bukan tentang cerita makhluk lembut keturunan hawa. Ia begitu antusias ketika membedah topik ini. Sepertinya ia mempunyai cadangan cerita yang tak pernah habis-habis. Selalu ada, aktual dan akurat. Maklum, untuk ihwal ini pengalamannya cukup berlimpah.
Karena saban hari ia terus bercerita tentang wanita, maka raut wajahnya selalu berseri-seri. Senyum keteduhan selalu tersungging di bibirnya. Hatinya laksana dipenuhi bunga-bunga yang merekah. Lebih puitis dan romantis. Efek selanjutnya ruangan kerja kami menjadi segar dan merona. 

Suatu hari, ia tidak masuk kantor. Suasana begitu berbeda. Perasaan terman-teman refleks terpaut satu dengan lainnya merasakan ada sesuatu yang kurang bahkan hilang. Kami sepakat merindukan mulutnya kembali bercerita tentang keindahan, kelembutan dan pesona seorang wanita. Membayangkan bagaimana ia sangat bergelora menceritakan pengalaman terkininya tentang wanita. Aduhai, sungguh menarik dan menghipnotis.
Namun, belakangan perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Kuyakini ini ada kaitannya dengan Pilkada. Ia berubah drastis menjelang gaung pilkada ditabuh. Ia tidak lagi tertarik berbicara mengenai wanita. Baginya topik Pilkada lebih seksi dari tubuh wanita. Ia lebih sensitif membicarakan peluang menang-kalah calon kepala daerah. Analisisnya mengalahkan analisa seorang pengamat politik. Segala aspek calon kepala daerah diramu sedemikian rupa menjadi sebuah informasi berharga. Saking antusiasnya dengan dinamika politik lokal, tidak tanggung-tanggung ia menceburkan diri dalam tim pemenangan salah satu paket kepala daerah. Ia bergerak aktif menggalang dukungan bahkan terkesan terlalu vulgar dalam mengomentari calon kepala daerah yang bukan jagoannya. Ia tampil terang-terangan mengkampanyekan visi-misi kandidat calonnya. Berargumen lantang untuk mematahkan pendapat lawan. Ia tidak pernah takut dengan resiko yang dihadapinya kelak. Menurutnya, ia telah menghitung matang untung-ruginya.
Perubahan sikap di atas, dengan segala konsekuensi yang ada telah diterimanya sebagai sebuah pilihan politik yang pasti. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang harus dimaklumi oleh setiap orang.
Namun ada yang lebih menarik dari sederet perubahan perilaku kawanku satu ini. Mendadak ia telah menjadi seorang ahli tafsir mimpi. Bukan mimpi orang lain tapi mimpinya sendiri. Mimpi yang terangkai dari tidur singkatnya setiap malam dan merupakan buah dari hayalan panjangnya sebelum kedua kelopak matanya terkatup rapat saat malam hari. Pada umumnya, selain mimpi buruk orang-orang cenderung melupakan mimpinya saat bangun tidur dan baru teringat kembali manakala ada momen lain yang sebentuk dengan mimpinya beberapa waktu kemudian. Lain orang, lain pula kemampuannya. Baginya ia dapat mengingat secara runtut rangkaian mimpinya tadi malam. Sudah begitu, ia dengan segala teori yang ada mencoba menafsirkan isi mimpinya dengan tingkat keyakinan di atas rata-rata. Apabila dicermati lebih sungguh-sungguh, tafsir mimpinya masih seputar gelaran Pilkada. Entah menggunakan variabel apa, sedikit-sedikit tafsir mimpinya selalu memiliki relasi dengan dinamika politik lokal, isu estafet kepemimpinan daerah ke depan serta bagaimana gaya kepemimpinan bupati dan wakil bupati sekarang. Ia sangat pandai meramu semuanya menjadi sebuah diskursus menarik. Keakuratan analisis mimpinya hanya dapat dibuktikan oleh waktu yang bergulir. Probabilitas kebenaran dan kekeliruannya berimbang dan tidak ada yang mendominasi. Sehingga kesimpulannya bergantung pada keyakinan lawan bicaranya.

Berbicara mengenai kebenaran dan keakuratan mimpinya, aku mencoba menginterprestasikan melalui nalarku sendiri.

Mula-mula aku mempertanyakan mengapa objek analisisnya hanya berkutat pada mimpinya sendiri? Bukankah seluruh ahli nujum memiliki kemampuan yang tinggi dalam menafsirkan mimpi orang lain? Memberikan beberapa proyeksi yang mungkin terjadi sekaligus tidak terjadi pada kliennya. Bagaimana cara menggapai hal-hal yang bersifat positif sekaligus trik dan tips cara menghidar dari hal-hal yang bersifat negatif. Meskipun seluruhnya nyaris bergerak pada situasi menakar kemungkinan. Ahli nujum tetap tidak berani mengambil resiko dalam menafsir mimpinya sendiri. Barangkali kawanku satu ini, memiliki keahlian khusus yang bertolak belakang dengan etik seorang penafsir mimpi pada umumnya. Ia hanya berani menafsir mimpinya sendiri dan rabun dalam menafsir mimpi orang lain.
Kemudian aku juga mempetanyakan mengapa analisas mimpinya selalu bertautan dengan politik dan kekuasaan? Bukankan masih ada atmosfer lain dalam kehidupan ini? Katakanlah berkaitan dengan jodoh, rezeki, panjang umur, kesehatan dan lain-lain. Untuk urusan ini ia sengaja memendam rahasianya dalam-dalam.
Analisis mimpinya satu persatu meleset, ia mafhum. Meskipun ada juga yang hampir benar. Ingat, bukan benar-benar benar. Melihat analisa mimpinya yang nyaris benar tersebut, ia besar kepala, hidungnya mengembang dan tentu dipastikan ia akan semakin “gila” menganalisis mimpinya. Mimpi yang barusan terbeli.

Meja kantor, Labuan Bajo, 16 Mei 2016

2 comments:

  1. Omong soal mimpi, saya jadi ingat visi. tapi apa pun itu, hemat saya, mimpi sesamapun dapat kita jadikan bahan refleksi untuk mengasah mimpi kita. Mari bersama kita raih mimpi kita

    ReplyDelete