Thursday, May 19, 2016

Memaknai usia yang berlalu

Kehidupan masa depan adalah hal ghaib yang menjadi misteri Ilahi sehingga wajar bila manusia tak memiliki kuasa untuk meramalkan secara persis apa yang bakal terjadi kelak. Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada ummatnya meskipun manusia seringkali lupa bersyukur atas setiap karunia-Nya.
***
Aku merasa detik waktu terus berlari hingga setahun berlalu begitu cepat. Hari ini, tak terasa umurku bertambah satu, menjadi 35 tahun. Durasi waktu yang semestinya membuatku menjadi lebih baik. Hari ini Tuhan masih memberikan kemurahan bagiku untuk dapat memperbaiki akhlakku di masa depan. Aku yakin Tuhan masih memberikan hadiah untuk menikmati indahnya ciptaan-Nya agar aku dapat mengevaluasi diri kembali. Tuhan masih memberikan kesempatan untukku bertobat dan memohon ampunan atas segala salah, khilaf dan dosa yang telah kuperbuat.
***
Merefleksi jejak langkah yang kutoreh setahun terakhir menempatkanku pada sebuah titik permenungan. Apakah aku termasuk bagian dari manusia yang beruntung atau justru sebaliknya menjadikanku manusia yang merugi. Beruntung apabila keadaanku saat ini lebih baik dari tahun sebelumnya dan merugi apabila tahun lalu lebih baik dari tahun ini. Keadaan yang baik bukan dalam konteks materi dan keduniawian namun lebih kepada aspek ibadah dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta. Seberapa besar hidup ini bermanfaat bagi orang lain dan bagi masa depan itu sendiri. Tidak hanya berhenti pada aspek kemanfaatan namun juga berharap sungguh pada keridhaan Azza wa Jalla.
Apabila sekiranya waktu yang telah lewat memahat lubang hitam besar pada catatan Malaikat Atid, aku ingin Tuhan tak pernah bosan menerima taubatku. Aku berharap di umurku yang kian bertambah ini, mampu menjadi goresan sejarah perjalanan hidupku. Bahwa saat ini bukan lagi waktunya yang tepat untuk melakukan introspeksi diri melainkan melakukan investigasi diri. Kemanakah arah akhir jarum timbangan menunjuk?Memberatkan amal kebajikan atau justru tersungkur pada dosa-dosa. Padahal aku tahu, umurku boleh bertambah namun usiaku sesungguhnya justru berkurang. Kakiku terus melangkah semakin dekat menuju keabadian. Di sisa usiaku aku terus bermunajat kepada-Nya semoga selalu diberkahi usia untuk hijrah menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bermanfaat bagi kekuarga dan sesama serta lebih gigih dalam memperjuangkan berkibarnya panji agama.
Syukur Alhamdulillah atas karunia-Mu, Tuhan...
Labuan Bajo, 19 Mei 2016

No comments:

Post a Comment