Monday, April 18, 2016

Menunggu Kiprah Bupati Sesungguhnya



Bagi masyarakat awam, perhelatan pilkada telah usai. Kepala Daerah terpilihpun telah dilantik bersandingan dengan gagah. Suara-suara diskusi bertema pilkada telah lenyap berganti dengan isu-isu hangat nasional yang disiarkan televisi sepanjang hari. Dari berita pelik sampai berita ringan sekalipun. Kehidupan masyarakat telah berjalan normal kembali. Sekat tim sukses telah tersingkap. Tak lagi ada istilah kubu-kubuan, paket-paketan dan posko-poskoan. Pertanda kehidupan demokrasi berjalan sukses di tengah masyarakat. Beberapa waktu lalu, masyarakat telah melaksanakan hak dan kewajibannya memilih dan mengamankan pelaksanaan Pilkada. Sekarang giliran mereka menagih realisasi sederet janji yang terumbar dalam kampanye. Dan kalaupun tidak seluruhnya, cukup sebagian saja yang benar-benar merupakan aksi nyata dari pelaksanaan kata demi kata buaian yang masih segar terpelihara angin.

Singgasana telah diraih. Kursi empuk dinikmati. Mimpi menghadirkan perubahan berharap cemas pada program dan kebijakan daerah yang sementara disusun seefektif mungkin. Komposisi kabinet siap dikocok ulang. Mengenyampingkan rasionalitas yang bersandar pada kinerja. Istilah “siapa dekat dia dapat” menjadi familiar. Pegawai yang memiliki kontribusi lebih dalam mendukung calon Bupati yang memenangkan pertarungan 9 Desember 2014 yang lalu menjadi sangat istimewa. Tempat terhormat dan nyaman menjadi pilihan subjektif. Bupati tersandera, kebijakannya tidak lagi murni dan orisinil. Dikendalikan tim kecil yang secara tidak sengaja merongrong kewenangannya.

Hingga Bupati begitu yakin dengan kebijakan yang dipilihnya. Padahal kebijakan yang diambilnya tak pernah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada publik. Akibatnya kebijakan menuai kritik dan protes dari masyarakat. Bupati seakan menutup mata dan telinga terhadap suara-suara pengharapan. Terbius bisikan-bisikan orang terdekat yang hanya datang menghisap madu lantas diam-diam pergi, menjauh dan menghilang ketika manisnya telah pudar.
Pada titik itu, dia mencoba merangkul yang pernah “ditendang”, mendekat yang pernah “diusir” bahkan bersujud pada orang yang pernah dianggapnya “musuh besar”.
Kekuasaan adalah amanah Tuhan dan masyarakat, karena itu laksanakan dengan baik karena Tuhan dan masyarakat dapat menarik kembali amanah dan kepercayaan itu sewaktu-waktu.

Labuan Bajo, 11 April 2016

No comments:

Post a Comment