Bagi
masyarakat awam, perhelatan pilkada telah usai. Kepala Daerah terpilihpun telah
dilantik bersandingan dengan gagah. Suara-suara diskusi bertema pilkada telah
lenyap berganti dengan isu-isu hangat nasional yang disiarkan televisi
sepanjang hari. Dari berita pelik sampai berita ringan sekalipun. Kehidupan
masyarakat telah berjalan normal kembali. Sekat tim sukses telah tersingkap. Tak
lagi ada istilah kubu-kubuan, paket-paketan dan posko-poskoan. Pertanda
kehidupan demokrasi berjalan sukses di tengah masyarakat. Beberapa waktu lalu,
masyarakat telah melaksanakan hak dan kewajibannya memilih dan mengamankan
pelaksanaan Pilkada. Sekarang giliran mereka menagih realisasi sederet janji
yang terumbar dalam kampanye. Dan kalaupun tidak seluruhnya, cukup sebagian
saja yang benar-benar merupakan aksi nyata dari pelaksanaan kata demi kata
buaian yang masih segar terpelihara angin.
Singgasana
telah diraih. Kursi empuk dinikmati. Mimpi menghadirkan perubahan berharap
cemas pada program dan kebijakan daerah yang sementara disusun seefektif
mungkin. Komposisi kabinet siap dikocok ulang. Mengenyampingkan rasionalitas
yang bersandar pada kinerja. Istilah “siapa dekat dia dapat” menjadi familiar.
Pegawai yang memiliki kontribusi lebih dalam mendukung calon Bupati yang
memenangkan pertarungan 9 Desember 2014 yang lalu menjadi sangat istimewa. Tempat
terhormat dan nyaman menjadi pilihan subjektif. Bupati tersandera, kebijakannya
tidak lagi murni dan orisinil. Dikendalikan tim kecil yang secara tidak sengaja
merongrong kewenangannya.
Hingga
Bupati begitu yakin dengan kebijakan yang dipilihnya. Padahal kebijakan yang
diambilnya tak pernah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada publik. Akibatnya
kebijakan menuai kritik dan protes dari masyarakat. Bupati seakan menutup mata
dan telinga terhadap suara-suara pengharapan. Terbius bisikan-bisikan orang
terdekat yang hanya datang menghisap madu lantas diam-diam pergi, menjauh dan
menghilang ketika manisnya telah pudar.
Pada
titik itu, dia mencoba merangkul yang pernah “ditendang”, mendekat yang pernah
“diusir” bahkan bersujud pada orang yang pernah dianggapnya “musuh besar”.
Kekuasaan
adalah amanah Tuhan dan masyarakat, karena itu laksanakan dengan baik karena
Tuhan dan masyarakat dapat menarik kembali amanah dan kepercayaan itu
sewaktu-waktu.
No comments:
Post a Comment