Monday, April 18, 2016

Chef Keluarga

Menurutnya, hobinya adalah memasak? Ia mengatakan ini jauh hari sebelum acara Master Chef Indonesia tayang di televisi. Suatu ajang pencarian bakat memasak, dimana para pesertanya justeru bukan berasal dari profesi yang erat kaitannya dengan kuliner. Saat ia mengatakan itu, aku langsung tidak percaya. Bagaimana tidak, selama 9 tahun kami menikah. Belum satu kalipun masakan hasil olahannya yang dapat diandalkan untuk menjadi makanan favoritku. 

Secara khusus aku memang tidak memiliki makanan favorit namun bicara soal makanan aku lebih berselera terhadap makanan yang simpel saja. Simpel bukan berarti makanan itu diolah sesederhana menggoreng telur atau merebus mie instan. Simpel yang kumaksudkan adalah makanan tersebut tidak terlalu ribet saat dimakan, tidak sulit untuk dikunyah oleh mulut dan mudah dicerna oleh usus. Dengan kriteria itu, maka dengan sendirinya makanan kesukaanku sudah pasti sangat banyak. Mungkin akan sulit ditemukan di restoran atau rumah makan elit tetapi dengan sangat mudah dijumpai di warung kaki lima sekelas lesehan dan warteg.

Mungkin karena sederhananya seleraku, lidahku terbiasa dengan cita rasa biasa. Kerja sama kelima inderaku belum berjalan optimal, lebih-lebih indera perasa dan penciumanku terkadang tidak kompak. Masih sering misrasa.

Seleraku menurun ke ketiga anakku. Lunar anak sulungku menggemari ikan bakar, Nilam anak tengahku lebih berselera pada nasi goreng sedangkan Rais, si bungsu sangat lahap menghabisi udang goreng tepung. Semua daftar menu tadi dengan mudah disajikan istriku. Itupun karena aku yang mengajarinya mengolah menu itu dengan komposisi bahan dan bumbu yang paten, beberapa saat setelah kami menikah. Selebihnya yang kutahu ia hanya familiar menanak nasi, menumis sayur, menggoreng telur, merebus mie instan, memasak air, menyeduh teh dan kopi. Sedangkan kudapan yang sering ia sajikan masih seputar pisang goreng, ubi goreng dan puding. 

Sadar ilmu kulinernya masih dangkal. Ia berupaya menambah referensi menunya setiap saat. Saat aku bertugas ke luar daerah, ia selalu mengingatkanku untuk membelikannya buku resep edisi terkini. Sayang hampir semua buku resep yang kubeli dibiarkannya menumpuk berselimut debu dan jelaga di lemari sudut ruangan. Bahkan lebih tragis lagi sebagian buku resep yang selesai dibaca diletakkannya begitu saja di meja ruang tamu dan menjadi sasaran tangan jahil Rais untuk mengoyaknya, menyobeknya kemudian dengan riang dihamburkannya dalam bentuk serpihan-serpihan kertas di lantai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku tidak tahu buku resep itu benar-benar sudah khatam dibaca dan dipahami secara baik atau karena daftar menu di dalamnya yang sulit dipraktekkannya sehingga buku tersebut kebanyakan menghiasi meja di ruang tamu.

Pernah sekali, secara diam-diam aku mengamatinya berjibaku membuat kue tart. Aneka bahan makanan dibiarkan tergeletak di lantai dapur. Semua jenis alat pendukung parkir diam di sekitarnya, menunggu perintah bekerja. Tidak tahu sudah berapa kali buku resep dibolak-balik. Keringat menetes deras dari jidat dan dagunya. Aku masih menunggu kapan semuanya dimulai. Untuk tidak mengurangi semangatnya, aku sengaja berpura-pura tidak memperhatikannya. Akhirnya alat pelumat sekaligus pencampur adonan berderu, pertanda ia sudah menemukan keyakinan. Satu persatu bahan dimasukkan, berubah warna dan bentuk. Mengeluarkan aroma sedap tak terkira. Meski jarakku cukup jauh, air liurku sempat meleleh, tidak tahan untuk segera mencicipi karya perdana istriku. 

Kue tart hijau telah selesai dikreasikan. Tersaji menantang yang melihatnya. Ketiga anakku mengerumuni meja makan tempat istriku menata kue tart karyanya. Berlagak seperti juri Master Chef mereka berbaris. Masing-masing kedua tangan mereka memegang sendok dan piring kecil. Aku mendekat dan berbasa-basi menanyakan apa yang telah dibuat istriku. Dia menjawab dengan menyerahkan sepotong kue tart kepadaku. Aku mencicipinya perlahan. Giliran ia yang kembali bertanya kepadaku. "Bagaimana rasanya?". Aku masih meraba rasa dengan lidahku. Ia kembali memberondongku dengan pertanyaan yang sama. Aku menjawab singkat. "Maknyus !!!" sambil kedua jempol keatas kuacungkan. Istriku tersenyum mengembang seakan beban berat baru saja lepas dari pundaknya. Ia sukses sebagai Chef Keluarga. 

Labuan Bajo, 18 April 2016    




1 comment:

  1. Kutip *belum satupun masakan fav
    Aiiii
    Tdk menghargainya dehhh

    ReplyDelete