Monday, April 18, 2016
Finger Print, Sesuatu yang Barukah?
Wanita Pecinta Bunga
Menunggu Kiprah Bupati Sesungguhnya
3 Minggu menjadi Ibu Rumah Tangga
Semula aku berpikir, pekerjaan seorang ibu atau istri di rumah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan, bisa lebih santai bahkan kelihatannya banyak waktu istirahatnya. Namun setelah dilakoni meskipun sesaat, sebagai lelaki yang terbiasa beraktivitas di luar rumah, peran itu sungguh sangat sulit dilaksanakan. Paling tidak itu yang aku rasakan.
***
Jauh hari, istriku telah merencanakan untuk mudik ke kampung halaman menjelang lebaran idul adha. Ia mengajakku dan anak-anak sekalian untuk ikut serta bersamanya. Katanya, ia ingin sekali berlebaran bersama orang tua dan handai taulannya di kampung. Maklum, pasca kami menikah hingga dianugerahi tiga orang anak, tak pernah sekalipun aku merayakan lebaran bersama mertua dan keluarga besar istriku. Bila dipikir-pikir sepertinya memang tidak adil rasanya apabila saban lebaran, baik idul fitri maupun idul adha selalu dirayakan bersama keluarga besarku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan perasaan istriku saat itu. Aku dengan sengaja membiarkan istriku dirundung rindu ingin berkumpul bersama orang tua dan keluarga besarnya. Padahal aku tahu pertemuan antara anak dan orang tua, bukan sekedar mampu menghilangkan dahaga rindu, namun merupakan momentum yang tepat bagi istriku untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya dengan cara bersujud dan bersimpuh langsung di kedua kaki orang yang telah berjasa besar kepadanya.
Menampik keegoisanku, akhirnya kupersilahkan istriku untuk mudik lebaran. Ia mengajakku bersama anak-anak turut serta. Namun, mengingat waktu libur yang singkat serta disaat yang bersamaan aku disibukkan oleh tugas kantor yang menumpuk, dengan terpaksa aku memutuskan untuk tidak ikut mudik. Istriku akan mudik dengan membawa serta anak tengahku (Nilam) yang kebetulan sekolahnya diliburkan cukup lama dan anak bungsuku (Rais) yang masih bebas kemana saja karena belum terikat aturan sekolah. Sementara anak sulungku (Lunar) dipaksa bertahan seraya menemaniku karena jeda libur sekolah hanya sebentar. Akhirnya hari yang dinantikan istriku tiba.
***
Saat istriku mudik, semua tugas rumah beralih kepadaku. Dari bangun pagi hingga menjelang tidur semua harus kukerjakan sendiri, bukan sehari saja tapi tiga minggu lamanya. Memasak, menyapu dan mengepel rumah, mencuci piring dan pakaian, menyetrika serta mempersiapkan seluruh kebutuhan Lunar ke sekolah dan kebutuhanku ke kantor. Sungguh aku sangat kaku melakukan semuanya. Karena tidak cekatan dalam bekerja aku pernah menanak nasi yang hasilnya masih mentah, aku pernah membiarkan rumah, pakaian dan piring tidak dibersihkan berhari-hari. Aku dan Lunar pernah ke kantor dan sekolah dengan seragam masih kusut karena belum disetrika. Tidak pernah sekalipun Lunar ke sekolah dengan gaya rambut terikat karena aku sama sekali tidak paham cara menata bahkan mengikat rambut perempuan dengan model masa kini. Seringkali dalam sehari aku dan Lunar hanya mengandalkan rumah makan sebagai tempat sarapan, makan siang bahkan makan malam. Tak jarang karena pulasnya tidur akibat lelah seharian bekerja mengurus rumah, aku dan Lunar sama-sama terlambat ke kantor dan ke sekolah. Itulah sebagian insiden yang kerap terjadi padaku pasca ditinggal mudik istri.
***
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Butuh kekuatan dan kesabaran yang tinggi dalam menjalankannya. Mungkin di kantor banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk duduk diam, mengikuti rapat ataupun berbicara ngalor ngidul dengan teman sekantor. Atau paling sibuk kita lebih banyak berkutat di depan komputer, namun lantas menganggap tugas kita sudah paling berat padahal sama sekali stamina tubuh tidak banyak terporsir. Bayangkan dengan tugas yang diemban ibu rumah tangga, semua tugasnya bermandikan peluh bahkan nyaris tanpa ada waktu untuk sekedar menarik nafas dalam-dalam. Ia bertanggung jawab dalam menyediakan segala sesuatu yang terbaik untuk suami dan anak-anak. Ia tidak pernah mengeluh dengan tugasnya. Ia dituntut untuk bersabar menghadapi tingkah polah anak-anak. Karena begitu berat tugasnya dalam membersihkan bahkan menghias rumah, ia menjadi lupa diri untuk sekedar berlama-lama di depan cermin mempercantik dirinya.
Dalam tiga minggu aku menilai diriku sendiri telah gagal berperan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sebab tugas berat yang diemban seorang ibu rumah tangga yang baik adalah bangun duluan untuk memastikan semuanya beres sebelum kita bangun dan ia memilih untuk tidur terakhir hanya ingin memastikan kita sudah tertidur pulas dan didekap mimpi indah.
Dan pada akhirnya aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang tulus kepada istriku yang telah menjadi istri yang sholehah bagiku dan ibu yang menjadi panutan bagi anak-anakku sekaligus menjadi ibu rumah tangga andalan bagiku, dan ketiga anak-anaku.
Saat dibekap insomnia. Rumahku 14 Mei 2016
Chef Keluarga
Sadar ilmu kulinernya masih dangkal. Ia berupaya menambah referensi menunya setiap saat. Saat aku bertugas ke luar daerah, ia selalu mengingatkanku untuk membelikannya buku resep edisi terkini. Sayang hampir semua buku resep yang kubeli dibiarkannya menumpuk berselimut debu dan jelaga di lemari sudut ruangan. Bahkan lebih tragis lagi sebagian buku resep yang selesai dibaca diletakkannya begitu saja di meja ruang tamu dan menjadi sasaran tangan jahil Rais untuk mengoyaknya, menyobeknya kemudian dengan riang dihamburkannya dalam bentuk serpihan-serpihan kertas di lantai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku tidak tahu buku resep itu benar-benar sudah khatam dibaca dan dipahami secara baik atau karena daftar menu di dalamnya yang sulit dipraktekkannya sehingga buku tersebut kebanyakan menghiasi meja di ruang tamu.
Pernah sekali, secara diam-diam aku mengamatinya berjibaku membuat kue tart. Aneka bahan makanan dibiarkan tergeletak di lantai dapur. Semua jenis alat pendukung parkir diam di sekitarnya, menunggu perintah bekerja. Tidak tahu sudah berapa kali buku resep dibolak-balik. Keringat menetes deras dari jidat dan dagunya. Aku masih menunggu kapan semuanya dimulai. Untuk tidak mengurangi semangatnya, aku sengaja berpura-pura tidak memperhatikannya. Akhirnya alat pelumat sekaligus pencampur adonan berderu, pertanda ia sudah menemukan keyakinan. Satu persatu bahan dimasukkan, berubah warna dan bentuk. Mengeluarkan aroma sedap tak terkira. Meski jarakku cukup jauh, air liurku sempat meleleh, tidak tahan untuk segera mencicipi karya perdana istriku.
Kue tart hijau telah selesai dikreasikan. Tersaji menantang yang melihatnya. Ketiga anakku mengerumuni meja makan tempat istriku menata kue tart karyanya. Berlagak seperti juri Master Chef mereka berbaris. Masing-masing kedua tangan mereka memegang sendok dan piring kecil. Aku mendekat dan berbasa-basi menanyakan apa yang telah dibuat istriku. Dia menjawab dengan menyerahkan sepotong kue tart kepadaku. Aku mencicipinya perlahan. Giliran ia yang kembali bertanya kepadaku. "Bagaimana rasanya?". Aku masih meraba rasa dengan lidahku. Ia kembali memberondongku dengan pertanyaan yang sama. Aku menjawab singkat. "Maknyus !!!" sambil kedua jempol keatas kuacungkan. Istriku tersenyum mengembang seakan beban berat baru saja lepas dari pundaknya. Ia sukses sebagai Chef Keluarga.
Labuan Bajo, 18 April 2016