Monday, April 18, 2016

Finger Print, Sesuatu yang Barukah?



Ada satu kultur baru yang diciptakan Ibu Wakil Bupati untuk meningkatkan disiplin pegawai yang bekerja di kantor megah ini, yakni apel pagi dan apel sore. Kultur yang mungkin mengadopsi sistem kerja di Provinsi ketika dia masih aktif bertugas di sana. Tradisi yang sengaja digelar, mungkin berangkat dari sebuah asumsi penilaian buruk bahwa tingkat disiplin pegawai di daerah ini saat ini terbilang rendah. Pegawai dengan santainya masuk terlambat namun pulang mendahului waktu semestinya. 

Ketika saya menulis catatan ini, rekan-rekan sejawat sementara kasak-kusuk bersiap mengikuti apel sore. Apel yang dilaksanakan setiap menjelang pulang kantor. Dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan akhir pegawai sampai pada detik terakhir menjelang pulang kantor. Apakah komposisi pegawai masih lengkap seperti keadaan di waktu pagi hari, bertambah atau malah berkurang. Menjadi menarik ketika dengan sedikit pesimistis kita mencoba merangkai sebuah pertanyaan reflektif, apakah cara seperti ini efektif untuk mengembalikan semangat kerja pegawai?
Karena sebuah pertanyaan reflektif maka jawabanpun tak perlu meneggunakan rumus baku. Cukup sederhana dan sepertinya mudah ditangkap logika biasa.
Begini, waktu efektif bekerja selasa-jumat seharusnya dimulai dari pukul 07.30 sampai 16.00 sedangkan khusus haris senin selalu dimulai pada pukul 07.00 wita sampai pukul 15.30 wita dengan istirahat siang selama sejam yakni pada pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00. Nah, kalian pasti mau tahu waktu apel pagi dan sore hari, kan? Sabar... saya sudah menjaminkan kata di depan tadi kalau perhitungannya tidak rumit-rumit amat. Waktu apel pagi selain hari senin, dilaksanakan pada pukul 07.45 s/d 08.00 atau tidak jarang selesai melewati jam 8 pagi, sedangkan waktu apel sore dimulai pada pukul 15.45 sampai selesai. Dari sini kalian pasti sudah bisa menebak apa yang saya maksud, kan?
Tanpa kalkulatorpun saya yakin kalian sudah dapat mengetahui bahwa akumulasi durasi waktu apel pagi dan sore menyita waktu kurang lebih setengah jam. Lamanya ini tentu mengurangi waktu efektif kita bekerja dalam sehari, seminggu, sebulan bahkan setahun. Apabila waktu terbuang ini kita gunakan untuk bekerja sungguh-sungguh tentu banyak hal yang dapat kita lakukan. Tidak usah berfikir jauh tentang berapa banyak masyarakat yang telah kita layani? tentang berapa banyak dokumen yang diterbitkan? tentang berapa kali rapat yang memutuskan kebijakan daerah yang telah digelar? Tidak usah berfikir sampai kesana, cukup kalian bertanya berapa banyak kertas bekas yang dapat dilipat untuk membuat sebuah amplop surat? Dan anggap saja seluruh pegawai dari Bupati sampai petugas cleaning service bekerja telaten melipat kertas bekas tersebut menjadi sebuah amplop layak pakai. Kali ini saya mempersilahkan kalian menggunakan mesin hitung untuk mengetahui persis berapa amplop yang tercipta sebab saya sendiri tidak mampu menghitungnya. 

Mengingat jaman sudah modern, kemajuan teknologi telah menyentuh seluruh aktivitas manusia, maka penggunaan teknologi tentu menjadi sebuah keniscayaan. Termasuk untuk mempermudah sebuah organisasi dalam mengontrol kehadiran anggotanya. Alat yang relatif sederhana yang mampu menggantikan presensi atau daftar hadir manual. Namanya finger print. Bentuknya bervariasi, ukurannya ada yang hanya sebesar kotak sabun. Harganya relatif terjangkau. Bagi daerah tidak perlu harus beradu argumen untuk mennyetujui penganggarannya. Cara kerja alat ini cukup simpel hanya dengan menempelkan jari-jari dengan sidik tertentu, maka kehadiran seseorang sudah dapat terdeteksi. Efisien sekaligus efektif. Efisien berarti pegawai tidak perlu repot-repot apel pagi dan sore. Efektif berarti pegawai bertanggung jawab terhadap kehadirannya masing-masing. Tidak lagi ada istilah titip absen atau dispensasi pada yang terlambat atau tidak hadir sekalipun. Saya kira praktek seperti ini berhasil sukses diberlakukan pada perusahaan-perusahaan milik negara maupun swasta. Tidak pernah kita menyaksikan pegawai pada perusahaan tersebut berbaris antri, berbanjar dan bersaf secara teratur, gerak jalan dan hormat-menghormati. Pikiran dan perilaku mereka sudah tersistem rapi, datang cepat, bekerja tekun dan tuntas kemudian pulang dengan tidak mewariskan pekerjaan untuk esok hari. 

Finger print bukan lagi sebuah pilihan tetapi telah menjadi sebuah keharusan. Perlu segera disediakan untuk mendongkrak naik disiplin pegawai. Catatan kritis yang perlu menjadi perhatian bagi pemangku kepentingan atau pembina kepegawaian tertinggi di daerah ini agar jangan sampai terulang budaya kerja pegawai dimana setelah mengisi presensi atau absensi atau finger print, pegawai langsung ngacir dari kantor dengan berbagai macam alasan hingga saatnya waktu pulang menjelang, pegawai tersebut kembali ke kantor untuk mengisi daftar hadir atau memindai sidik jarinya pada finger print tersebut. Tak ada karya, tak ada uotput, yang ada hanya tuntutan menerima hak berupa gaji dan honor. Kalau praktek semacam ini masih terjadi, sesungguhnya akar masalah bukan terletak pada apel pagi, apel sore, daftar hadir manual atau finger print tetapi justru pada ketegasan seorang pemimpin untuk mengontrol bawahan. Bahwa reward dan punishment benar-benar objektif.Itu saja.

Labuan Bajo, 14 April 2016

Wanita Pecinta Bunga



Ada yang berbeda ketika memasuki Kantor Bupati. Kesan feminim lebih terasa saat ini. Hampir setiap sudut ruangan sengaja ditata pot dengan beragam koleksi bunga. Wangi semerbak menyeruak memenuhi antero ruangan. Berhembus segar sepanjang hari. Menetralisir segala aroma yang diproduksi tubuh setiap manusia yang memasuki gedung mewah itu. Selain memberi kesan keindahan,  keberadaan bunga juga difungsikan untuk menangkal aura negatif yang datang dari berbagai penjuru.
Seni interior Kantor Bupati sengaja didesaign sedemikian rupa oleh Ibu Wakil Bupati. Wajar saja, dia adalah seorang wanita yang secara manusiawi mencintai keindahan dan kebersihan. Apalagi dia adalah seorang dokter yang notabene hatam betul dengan segala jenis kuman, bakteri dan virus penyebab penyakit. Matanya terbiasa dengan sajian estetika. Sangat cermat mengkritik sesuatu yang tidak pada tempatnya. Semuanya harus tertata rapi, asri dan memanjakan pandangan. Setiap ruangan diinspeksi untuk melihat penataan dan kebersihannya. Seluruh pegawai berjibaku dengan sampah, debu, dan jelaga. Tak ada lagi dokumen berserakan atau bertumpuk pada satu titik, tak ditemukan lagi barang rongsok di sudut ruangan, Tak terlihat lagi jamur yang tumbuh subur pada meja, kursi, lemari dan kaca jendela. Lantai menjadi kinclong hingga nyaris menjadi cermin. Sampai-sampai ibu-ibu yang terbiasa mengenakan rok, harus lebih ekstra hari-hati dalam berjalan karena kondisi lantai yang dapat memantulkan gambar secara jernih dan nyata. Sebagai pelengkap kesempurnaan, dipajanglah beberapa pot beserta bunga cantik nan menarik pada tempat-tempat strategis dengan maksud dan tujuan mulia. Menetralisir aroma dan energi ruangan.

Niat baik Ibu Wakil Bupati patut diapresiasi karena niat itu tidak berakhir dengan perintah lisan saja tetapi berkesempatan terjun langsung bergelut dengan tetek bengek pengaturan dan penataan kantor. Dan tidak jarang dia pun terlihat lelah seraya sesekali menyeka keringat pada wajahnya. 

Ibu Wakil Bupati baru 2 bulan menjabat. Jika melihat dari rentang waktu tersebut, sepertinya ada pesan khusus yang ingin disampaikan melalui karakter memimpinnya. Bahwa dia sangat perfeksionis dan profesional dalam bekerja. Selalu memastikan seluruhnya berjalan dengan baik, termasuk peduli terhadap hal remeh temeh mengurus bunga. Masyarakat terus menanti kinerja Ibu Wakil Bupati selanjutnya untuk berperan lebih aktif dan spektakuler untuk menyelesaikan urusan yang maha besar seklaigus sungguh-sungguh berorientasi pada kepentingan masyarakat. Tidak stagnan pada urusan merangkai dan menghias bunga.

Labuan Bajo, 13 April 2016

Menunggu Kiprah Bupati Sesungguhnya



Bagi masyarakat awam, perhelatan pilkada telah usai. Kepala Daerah terpilihpun telah dilantik bersandingan dengan gagah. Suara-suara diskusi bertema pilkada telah lenyap berganti dengan isu-isu hangat nasional yang disiarkan televisi sepanjang hari. Dari berita pelik sampai berita ringan sekalipun. Kehidupan masyarakat telah berjalan normal kembali. Sekat tim sukses telah tersingkap. Tak lagi ada istilah kubu-kubuan, paket-paketan dan posko-poskoan. Pertanda kehidupan demokrasi berjalan sukses di tengah masyarakat. Beberapa waktu lalu, masyarakat telah melaksanakan hak dan kewajibannya memilih dan mengamankan pelaksanaan Pilkada. Sekarang giliran mereka menagih realisasi sederet janji yang terumbar dalam kampanye. Dan kalaupun tidak seluruhnya, cukup sebagian saja yang benar-benar merupakan aksi nyata dari pelaksanaan kata demi kata buaian yang masih segar terpelihara angin.

Singgasana telah diraih. Kursi empuk dinikmati. Mimpi menghadirkan perubahan berharap cemas pada program dan kebijakan daerah yang sementara disusun seefektif mungkin. Komposisi kabinet siap dikocok ulang. Mengenyampingkan rasionalitas yang bersandar pada kinerja. Istilah “siapa dekat dia dapat” menjadi familiar. Pegawai yang memiliki kontribusi lebih dalam mendukung calon Bupati yang memenangkan pertarungan 9 Desember 2014 yang lalu menjadi sangat istimewa. Tempat terhormat dan nyaman menjadi pilihan subjektif. Bupati tersandera, kebijakannya tidak lagi murni dan orisinil. Dikendalikan tim kecil yang secara tidak sengaja merongrong kewenangannya.

Hingga Bupati begitu yakin dengan kebijakan yang dipilihnya. Padahal kebijakan yang diambilnya tak pernah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada publik. Akibatnya kebijakan menuai kritik dan protes dari masyarakat. Bupati seakan menutup mata dan telinga terhadap suara-suara pengharapan. Terbius bisikan-bisikan orang terdekat yang hanya datang menghisap madu lantas diam-diam pergi, menjauh dan menghilang ketika manisnya telah pudar.
Pada titik itu, dia mencoba merangkul yang pernah “ditendang”, mendekat yang pernah “diusir” bahkan bersujud pada orang yang pernah dianggapnya “musuh besar”.
Kekuasaan adalah amanah Tuhan dan masyarakat, karena itu laksanakan dengan baik karena Tuhan dan masyarakat dapat menarik kembali amanah dan kepercayaan itu sewaktu-waktu.

Labuan Bajo, 11 April 2016

3 Minggu menjadi Ibu Rumah Tangga

Semula aku berpikir, pekerjaan seorang ibu atau istri di rumah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan, bisa lebih santai bahkan kelihatannya banyak waktu istirahatnya. Namun setelah dilakoni meskipun sesaat, sebagai lelaki yang terbiasa beraktivitas di luar rumah, peran itu sungguh sangat sulit dilaksanakan. Paling tidak itu yang aku rasakan.
***
Jauh hari, istriku telah merencanakan untuk mudik ke kampung halaman menjelang lebaran idul adha. Ia mengajakku dan anak-anak sekalian untuk ikut serta bersamanya. Katanya, ia ingin sekali berlebaran bersama orang tua dan handai taulannya di kampung. Maklum, pasca kami menikah hingga dianugerahi tiga orang anak, tak pernah sekalipun aku merayakan lebaran bersama mertua dan keluarga besar istriku. Bila dipikir-pikir sepertinya memang tidak adil rasanya apabila saban lebaran, baik idul fitri maupun idul adha selalu dirayakan bersama keluarga besarku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan perasaan istriku saat itu. Aku dengan sengaja membiarkan istriku dirundung rindu ingin berkumpul bersama orang tua dan keluarga besarnya. Padahal aku tahu pertemuan antara anak dan orang tua, bukan sekedar mampu menghilangkan dahaga rindu, namun merupakan momentum yang tepat bagi istriku untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya dengan cara bersujud dan bersimpuh langsung di kedua kaki orang yang telah berjasa besar kepadanya.
Menampik keegoisanku, akhirnya kupersilahkan istriku untuk mudik lebaran. Ia mengajakku bersama anak-anak turut serta. Namun, mengingat waktu libur yang singkat serta disaat yang bersamaan aku disibukkan oleh tugas kantor yang menumpuk, dengan terpaksa aku memutuskan untuk tidak ikut mudik. Istriku akan mudik dengan membawa serta anak tengahku (Nilam) yang kebetulan sekolahnya diliburkan cukup lama dan anak bungsuku (Rais) yang masih bebas kemana saja karena belum terikat aturan sekolah. Sementara anak sulungku (Lunar) dipaksa bertahan seraya menemaniku karena jeda libur sekolah hanya sebentar. Akhirnya hari yang dinantikan istriku tiba.
***
Saat istriku mudik, semua tugas rumah beralih kepadaku. Dari bangun pagi hingga menjelang tidur semua harus kukerjakan sendiri, bukan sehari saja tapi tiga minggu lamanya. Memasak, menyapu dan mengepel rumah, mencuci piring dan pakaian, menyetrika serta mempersiapkan seluruh kebutuhan Lunar ke sekolah dan kebutuhanku ke kantor. Sungguh aku sangat kaku melakukan semuanya. Karena tidak cekatan dalam bekerja aku pernah menanak nasi yang hasilnya masih mentah, aku pernah membiarkan rumah, pakaian dan piring tidak dibersihkan berhari-hari. Aku dan Lunar pernah ke kantor dan sekolah dengan seragam masih kusut karena belum disetrika. Tidak pernah sekalipun Lunar ke sekolah dengan gaya rambut terikat karena aku sama sekali tidak paham cara menata bahkan mengikat rambut perempuan dengan model masa kini. Seringkali dalam sehari aku dan Lunar hanya mengandalkan rumah makan sebagai tempat sarapan, makan siang bahkan makan malam. Tak jarang karena pulasnya tidur akibat lelah seharian bekerja mengurus rumah, aku dan Lunar sama-sama terlambat ke kantor dan ke sekolah. Itulah sebagian insiden yang kerap terjadi padaku pasca ditinggal mudik istri.
***
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Butuh kekuatan dan kesabaran yang tinggi dalam menjalankannya. Mungkin di kantor banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk duduk diam, mengikuti rapat ataupun berbicara ngalor ngidul dengan teman sekantor. Atau paling sibuk kita lebih banyak berkutat di depan komputer, namun lantas menganggap tugas kita sudah paling berat padahal sama sekali stamina tubuh tidak banyak terporsir. Bayangkan dengan tugas yang diemban ibu rumah tangga, semua tugasnya bermandikan peluh bahkan nyaris tanpa ada waktu untuk sekedar menarik nafas dalam-dalam. Ia bertanggung jawab dalam menyediakan segala sesuatu yang terbaik untuk suami dan anak-anak. Ia tidak pernah mengeluh dengan tugasnya. Ia dituntut untuk bersabar menghadapi tingkah polah anak-anak. Karena begitu berat tugasnya dalam membersihkan bahkan menghias rumah, ia menjadi lupa diri untuk sekedar berlama-lama di depan cermin mempercantik dirinya.
Dalam tiga minggu aku menilai diriku sendiri telah gagal berperan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sebab tugas berat yang diemban seorang ibu rumah tangga yang baik adalah bangun duluan untuk memastikan semuanya beres sebelum kita bangun dan ia memilih untuk tidur terakhir hanya ingin memastikan kita sudah tertidur pulas dan didekap mimpi indah.
Dan pada akhirnya aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang tulus kepada istriku yang telah menjadi istri yang sholehah bagiku dan ibu yang menjadi panutan bagi anak-anakku sekaligus menjadi ibu rumah tangga andalan bagiku, dan ketiga anak-anaku.

Saat dibekap insomnia. Rumahku 14 Mei 2016

Chef Keluarga

Menurutnya, hobinya adalah memasak? Ia mengatakan ini jauh hari sebelum acara Master Chef Indonesia tayang di televisi. Suatu ajang pencarian bakat memasak, dimana para pesertanya justeru bukan berasal dari profesi yang erat kaitannya dengan kuliner. Saat ia mengatakan itu, aku langsung tidak percaya. Bagaimana tidak, selama 9 tahun kami menikah. Belum satu kalipun masakan hasil olahannya yang dapat diandalkan untuk menjadi makanan favoritku. 

Secara khusus aku memang tidak memiliki makanan favorit namun bicara soal makanan aku lebih berselera terhadap makanan yang simpel saja. Simpel bukan berarti makanan itu diolah sesederhana menggoreng telur atau merebus mie instan. Simpel yang kumaksudkan adalah makanan tersebut tidak terlalu ribet saat dimakan, tidak sulit untuk dikunyah oleh mulut dan mudah dicerna oleh usus. Dengan kriteria itu, maka dengan sendirinya makanan kesukaanku sudah pasti sangat banyak. Mungkin akan sulit ditemukan di restoran atau rumah makan elit tetapi dengan sangat mudah dijumpai di warung kaki lima sekelas lesehan dan warteg.

Mungkin karena sederhananya seleraku, lidahku terbiasa dengan cita rasa biasa. Kerja sama kelima inderaku belum berjalan optimal, lebih-lebih indera perasa dan penciumanku terkadang tidak kompak. Masih sering misrasa.

Seleraku menurun ke ketiga anakku. Lunar anak sulungku menggemari ikan bakar, Nilam anak tengahku lebih berselera pada nasi goreng sedangkan Rais, si bungsu sangat lahap menghabisi udang goreng tepung. Semua daftar menu tadi dengan mudah disajikan istriku. Itupun karena aku yang mengajarinya mengolah menu itu dengan komposisi bahan dan bumbu yang paten, beberapa saat setelah kami menikah. Selebihnya yang kutahu ia hanya familiar menanak nasi, menumis sayur, menggoreng telur, merebus mie instan, memasak air, menyeduh teh dan kopi. Sedangkan kudapan yang sering ia sajikan masih seputar pisang goreng, ubi goreng dan puding. 

Sadar ilmu kulinernya masih dangkal. Ia berupaya menambah referensi menunya setiap saat. Saat aku bertugas ke luar daerah, ia selalu mengingatkanku untuk membelikannya buku resep edisi terkini. Sayang hampir semua buku resep yang kubeli dibiarkannya menumpuk berselimut debu dan jelaga di lemari sudut ruangan. Bahkan lebih tragis lagi sebagian buku resep yang selesai dibaca diletakkannya begitu saja di meja ruang tamu dan menjadi sasaran tangan jahil Rais untuk mengoyaknya, menyobeknya kemudian dengan riang dihamburkannya dalam bentuk serpihan-serpihan kertas di lantai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku tidak tahu buku resep itu benar-benar sudah khatam dibaca dan dipahami secara baik atau karena daftar menu di dalamnya yang sulit dipraktekkannya sehingga buku tersebut kebanyakan menghiasi meja di ruang tamu.

Pernah sekali, secara diam-diam aku mengamatinya berjibaku membuat kue tart. Aneka bahan makanan dibiarkan tergeletak di lantai dapur. Semua jenis alat pendukung parkir diam di sekitarnya, menunggu perintah bekerja. Tidak tahu sudah berapa kali buku resep dibolak-balik. Keringat menetes deras dari jidat dan dagunya. Aku masih menunggu kapan semuanya dimulai. Untuk tidak mengurangi semangatnya, aku sengaja berpura-pura tidak memperhatikannya. Akhirnya alat pelumat sekaligus pencampur adonan berderu, pertanda ia sudah menemukan keyakinan. Satu persatu bahan dimasukkan, berubah warna dan bentuk. Mengeluarkan aroma sedap tak terkira. Meski jarakku cukup jauh, air liurku sempat meleleh, tidak tahan untuk segera mencicipi karya perdana istriku. 

Kue tart hijau telah selesai dikreasikan. Tersaji menantang yang melihatnya. Ketiga anakku mengerumuni meja makan tempat istriku menata kue tart karyanya. Berlagak seperti juri Master Chef mereka berbaris. Masing-masing kedua tangan mereka memegang sendok dan piring kecil. Aku mendekat dan berbasa-basi menanyakan apa yang telah dibuat istriku. Dia menjawab dengan menyerahkan sepotong kue tart kepadaku. Aku mencicipinya perlahan. Giliran ia yang kembali bertanya kepadaku. "Bagaimana rasanya?". Aku masih meraba rasa dengan lidahku. Ia kembali memberondongku dengan pertanyaan yang sama. Aku menjawab singkat. "Maknyus !!!" sambil kedua jempol keatas kuacungkan. Istriku tersenyum mengembang seakan beban berat baru saja lepas dari pundaknya. Ia sukses sebagai Chef Keluarga. 

Labuan Bajo, 18 April 2016