Tuesday, June 9, 2015

View, Akik dan Tim Sukses

Segala sesuatu ada masanya. Dia datang, eksis lalu diam-diam mengendap pergi kemudian hilang dalam peredaran, menjadi asing, menjadi purba dan terlupakan. Kalaupun masanya kembali ada daur waktu yang relatif lama yang mesti dilewati. 

Sejak Komodo semakin dikenal luas oleh masyarakat banyak terutama masyarakat mancanegara, banyak turis asing merasa penasaran dan tertarik untuk datang dan berkunjung ke Labuan Bajo. Daerah yang merupakan pintu gerbang utama untuk memasuki wilayah Pulau Flores dari arah barat sekaligus merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur. Daerah yang sesungguhnya tidak hanya mengandalkan komodo sebagai satu-satunya primadona kepariwisataan tetapi masih banyak destinasi wisata lainnya yang menyimpan rahasia dan nilai eksotis yang menjanjikan. Pulau dan pantai dengan segudang daya tarik namun belum terjamah tangan jahil manusia serta seni dan budaya yang lahir dari originalitas kultur masyarakat setempat. Semuanya menawarkan keindahan dan karakteristik tersendiri. 

Dewasa ini, arus masuk wisatawan kian tinggi begitu pula rata-rata lama tinggal wisatawan di Manggarai Barat. Namun yang mencengangkan, tingginya rata-rata lama tinggal lebih dipengaruhi oleh banyaknya orang asing yang memilih tinggal dan menetap di daerah ini. Satu persatu mereka menanamkan modalnya pada beberapa jenis usaha yang identik dengan pariwisata. Mereka tidak hanya mengincar lokasi tanah yang strategis namun juga beberapa titik lokasi yang menurut orang pribumi tidak menarik karena berada di atas bukit dan gunung. Akibatnya tanah dengan kontur yang tidak biasa tersebut dijual murah kepada para bule. Orang-orang pribumi tidak tahu lokasi tanah yang berada di punggung dan bahu gunung justeru terdapat surga yang terbentang luas di bawahnya. Mereka hanya tahu bahwa untuk mencapai medan tersebut dibutuhkan tenaga yang ekstra kuat. Mereka tidak pernah membayangkan sensasi yang dirasakan ketika berada di puncaknya. Ada pemandangan indah bak lukisan natural. Dari sinilah mulai muncul kata sakti "view". 

Lama kelamaan istilah view sudah menyebar dan menjadi tema menarik di masyarakat. Masyarakat lokal mulai paham kalau tingginya harga tanah yang dijual sangat bergantung dari viewnya. Berapapun luasnya tanah yang ingin dijual namun bila tidak memenuhi syarat mutlak, yakni view maka harganya akan terjun bebas. Sudah banyak bule yang terpaksa menahan kecewa ketika diajak oleh calo dan pemilik tanah untuk melihat tanah yang rencananya akan ditransaksikan ternyata tidak memiliki view
Saking populernya istilah view sampai-sampai masyarakat awam yang tinggal di pelosok pedalaman familiar dengan kata ini. Bila orang di Labuan Bajo mengidentikkan view dengan pemandangan laut dari kejauhan, maka orang-orang yang tinggal di pedalaman yang nota bene jauh dari laut mengidentikkan dengan apa?

Di satu kesempatan kunjungan kerja Tim Sosialisasi Pemekaran Kabupaten Manggarai Barat Daya di Kecamatan Kuwus, di sela-sela diskusi menarik terkait dengan rencana penempatan lokasi ibukota kabupaten nantinya. Seorang peserta rapat yang duduk di kursi belakang terlihat mengacungkan tangan kanan sepertinya serius ingin memberi komentar. Seorang bapak setengah baya yang mengenakan kemeja lengan panjang. Dari penampilannya sepintas aku menduga dia adalah bukanlah Kepala Desa atau perangkat desa. Dugaanku tidak meleset. Setelah memperkenalkan diri sebagai salah satu warga desa yang ada di wilayah Kecamatan Kuwus, dia menyampaikan pendapatnya tentang lokasi calon ibukota yang dinilainya strategis dan cocok untuk pengembangan ibukota ke depannya. Di akhir pernyataannya kembali dia meyakinkan Tim agar ibukota Kabupaten Manggarai Barat Daya ditempatkan di Wol Desa Golo Ronggot Kecamatan Welak. 
"Saya sebagai warga biasa, menyarankan kepada Tim untuk memprioritaskan penempatan ibukota Kabupaten Manggarai Barat di Wol Golo Ronggot Kecamatan Welak". Kata-katanya mengalir nampak sudah dipersiapkan matang. Dia melanjutkan kalimat terakhir. "Bukan apa-apa, bila dibandingkan dengan dua calon ibukota lainnya, saya rasa Wol cukup luas dan terbilang view. Dia menekankan kata "view" sambil mengacungkan jempolnya. Sontak peserta rapat terkejut mendengar bahasanya yang sok keinggrisan. Raut wajah peserta yang mendegarnya bervariasi. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang tersenyum kecil, ada yang bahkan tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepala. 

Aku dan Tim lainnya terperangah, tak percaya kalau istilah view telah disadur oleh bapak itu. Terlebih aku tak pernah menyangka kalau kata sakti tersebut akan keluar dari mulutnya. Aku berharap view yang dimaksudkannya adalah benar-benar pemandangan laut yang menakjubkan tetapi setahuku Kecamatan Welak bukan merupakan wilayah yang dibatasi oleh lautan. Mungkin saja pikiranku mandek, terlalu menganggap sesuatu secara kontekstual tanpa menelaah dari aspek mana dia berpikir. Aku hanya takjub sekaligus menyangsikan istilah view sudah jauh melanglang buana...


Kata view bukan lagi sesuatu yang istimewa di Labuan Bajo karena nyaris seluruh tanah yang lokasinya berada di ketinggian telah menjadi "milik" para bule. Berbagai macam modus yang digunakan untuk mendapatkan tanah tersebut. Jika Pemerintah sangat berhati-hati agar tanah dan pulau tidak menjadi milik mutlak orang asing, para bule ini tidak kehabisan akal. Ada yang hanya menyewa tanah namun tidak sedikit diantara mereka sengaja memanfaatkan orang lokal sebagai perantara transaksi jual beli atau lebih ekstrim lagi menjadi pemilik sementara tanah yang ada. Mendongkel nama tokoh masyarakat lokal sebagai pemilik tanah bayangan. Tetapi seluruh pengelolaan tanah ke depannya menjadi hak mutlah dirinya.
Kata view menjadi tidak asing lagi. Mungkin telah terbang bersama angin yang membawanya ke tempat lain.

*******

Tak berapa lama view bergeser menjadi batu akik. Aku tidak tahu persis awal mula orang-orang di Labuan Bajo mengenal batu akik. Aku menduga ini akibat dari pemberitaan yang sangat getol di media elektronik dan media on line akhir-akhir ini. Hampir setiap program acara di TV memproklamirkan batu akik. Fenomena batu akik di Labuan Bajo terbilang terlambat. Di kala daerah lain sudah jenuh mendiskusikan batu akik justeru di sini batu akik menempati trending topic pembicaraan di tengah masyarakat. Di forum formal apalagi yang terlontar di forum biasa. Tidak hanya menjadi bahan diskusi orang dewasa namun juga bagi anak muda bahkan anak-anak. Aku saja yang sepertinya kurang gaul dan tidak tidak terlalu interes dengan batu akik. Meskipun ada beberapa jenis batu akik yang sedikit banyak namanya aku ketahui. Itupun karena seringnya aku mendengar selentingan teman-teman se-kantor yang berbicara. 

Industri pengolah batu akik kelas rumahan menjamur di beberapa sudut kota. Seorang teman yang berprofesi sebagai PNS memanfaatkan waktu di luar jam kantor untuk menekuni pembuatan batu akik. Dia sengaja membeli perlengkapan sederhana dalam mengolah batu akik. Mesin pemecah dan penggosok batu akik sudah cukup. Batu yang sudah dibentuknya sesuai ukuran lalu dipoles manual dan jadilah sebuah batu yang indah dengan corak dan motif yang unik. Harganya relatif, tidak ada yang baku bergantung pada kualitas dan kelangkaan batu akik tersebut. Aku pernah iseng bertanya pada temanku itu. "Batu akik jenis apa yang menjadi ciri khas Manggarai Barat?". Dia menghentikan kerjanya sambil meletakkan sebuah alat yang dari tadi dipakainya membelah bongkahan batu di sampingnya. Nampaknya pertanyaanku menarik buatnya. "Jenis batu di daerah kita sebenarnya banyak tapi belum mempunyai nama paten". Jawabnya singkat penuh arti. Aku bertanya kembali "Dari wilayah mana jenis batu akik yang bagus-bagus ini?". Telunjukku mengarah ke batu-batu koleksinya yang sengaja disimpannya ke dalam sebuah wadah khusus. Belum sempat dia menjawab, dua orang pencinta batu akik datang untuk meminta pesanan batu akiknya beberapa hari lalu. 

Bongkahan batu akik telah leluasa dijual bebas. Dijual bersandingan dengan sayur dan buah-buahan. Di lain kesempatan sepulangku dari tugas luar di daerah Kecamatan Mbeliling. Aku sempat menghentikan sepeda motorku persis di depan rumah penduduk yang memajang beberapa bongkahan batu aneka bentuk dan warna. Untuk menarik calon pembeli yang kebetulan lewat, bongkahan batu tersebut dijejer di atas sebuah batu besar yang difungsikan sebagai etalase. Aku bertanya kepada pemiliknya yang kebetulan sedang menekuri bongkahan batu itu tidak jauh darinya. "Berapa harga satu bongkahan batu ini, Om?". Aku memilih menunjuk bongkahan batu yang lebih kecil. "Seratus ribu". Katanya meyakinkanku. Wow, aku surut ke belakang bermaksud menyembunyikan rasa kagetku. Aku tidak menyangka kalau harganya semahal itu. "Kalau yang kecil saja harganya seperti itu, bagaimana dengan bongkahan lainnya yang lebih besar". Gumamku. Namun ada yang menggelitik ketika kutanyakan lebih lanjut jenis batu yang dijualnya. "Om, Ini jenis batu apa?". Dia berkilah "Wah, kalau jenis batunya saya tidak tahu. Saya hanya melihat kalau batu ini memiliki warna dan corak yang berbeda dari batu lainnya". 
Kegandrungan masyarakat Manggarai Barat terhadap batu akik mencapai level tinggi atau tidak berlebihan jika disetarakan dengan istilah kekinian yakni demam batu akik. Pikiran masyarakat telah bergeser dari sebelumnya menganggap batu akik hanya dipakai oleh dukun dan paranormal. Batu akik selalu diidentikkan dengan mistik dan magis namun kini batu akik telah menjadi fashion tersendiri. Orang-orang tidak lagi malu memenuhi jemarinya dengan cincin bertahtakan batu akik, menggantungkan liontin batu akik besar ke leher hingga menjuntai ke dada. Begitu percaya dirinya mereka mengenakan semua itu. Pada titik ini aku berkeyakinan, para pencinta batu akik telah memikirkan langkah inovasi kedepan untuk mengganti behel atau kawat giginya dengan nuansa batu akik. Ah, bisa saja...


*******

Fenomena batu akik sebentar lagi punah, hilang dan mungkin tak dikenang lagi. Penyebabnya sepele, ada fenomena baru yang menggantikan kepopulerannya. Apakah gerangan?

Genderang pilkada belum sepenuhnya ditabuh tapi gemanya sudah menghiasi relung hati dan pikiran masyarakat Manggarai Barat. Maklumlah, dalam hitungan bulan, daerah ini akan menyelenggarakan pesta demokrasi berupa suksesi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat. Masing-masing kandidat telah mencuri star duluan untuk memperkenalkan diri seturut dengan gagasan yang disampaikan kepada masyarakat pemilih. Mereka memilih mendahului jadwal resmi KPUD karena khawatir elektabilitasnya bakal merosot. Berbagai cara ditempuh untuk menggait minat masyarakat termasuk membentuk tim pemenangan atau Tim Sukses. 
Tim Sukses diharapkan mampu menjadi corong suara sekaligus tim perekrut massa yang bekerja layaknya sales multi level marketing (MLM) dalam mencari pelanggan. Rekrutisasi yang mengadopsi sistem pemasaran berjenjang ini menempatkan para kandidat calon kepala daerah berada pada posisi puncak dengan menggapai gold level.
Bila partai politik pendukung dianggap kendaraan politik, maka tidak salah bila menyamakan tim sukses sebagai motor penggerak karena keberhasilan kandidat dalam mentransformasikan program dan gagasan kepada masyarakat juga bergantung pada kelihaian tim sukses meyakinkan pemilih yang kebetulan berada pada posisi gamang menentukan pilihan terbaik. Tim sukses harus mampu memberikan argumentasi logis kepada masyarakat yang cenderung kritis. Sedikit berbicara keliru menjadi bumerang bagi kandidat yang diusungnya. Namun sayang, kebanyakan tim sukses yang ada lebih sering mengobral mimpi daripada gagasan konkret, lebih nyaman menjadi spionase dalam mengintai pergerakan lawan daripada door to door menyapa pemilih sekaligus membagikan alat peraga serupa kalender dan stiker, lebih garang mengintimidasi pemilih yang tak sejalan dibanding memelihara basis massa.

Segala sesuatu memang ada masanya, datang, singgah lalu pergi. Sama seperti tim sukses yang kini menjadi fenomenal menggantikan batu akik yang baru saja booming, setelah sebelumnya, ketenaran batu akik telah pula meruntuhkan keperkasaan istilah "view". 
Dan usia tim sukses pun kuyakin hanya seumur jagung...


Labuan Bajo, 11 Juni 2015









No comments:

Post a Comment