Tuesday, June 30, 2015

Lelaki dan Pintu Darurat

Sungguh ini bukan pilihan apalagi dikatakan pilihan tepat. Bagaimana tidak, Aku hanya diberi ruang untuk memilih; menerima atau sama sekali membatalkan perjalanan. Sebuah dilema yang menyandera pikiranku.

Aku mengamati seksama jadwal keberangkatan pesawat pada tiket yang sementara kupegang. Pukul 09.05 wita. Itu artinya, aku hanya memiliki waktu kurang lebih 25 menit untuk tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo. Diukur dari jarak rumahku ke Bandara sepertinya hampir tidak ada waktu bagiku untuk berleha-leha. Setidaknya dapat beristirahat sejenak di Bandara sebelum terbang menggunakan pesawat udara menuju Ende.
Kupaksa tukang ojek untuk menambah laju kecepatan kendaraannya. Si tukang ojek tidak menjawab tapi deru sepeda motornya berkata lain, suaranya menderu kencang disertai asap hitam dari cerobong knalpot. Ia bahkan nekat menerobos lampu merah yang sedang menyala menantang. Untuk saja Polantas saat itu tidak ada yang bertugas. Sepeda motor melaju kencang, meliuk dan nyaris menyalip semua kendaraan yang sedang melintas di depannya. Aku yang duduk di belakang hanya mampu menahan napas dan sesekali menutup mata.
***
Untung saja pintu loket check in masih dibuka. Seorang wanita petugas loket maskapai Garuda memberitahu kalau namaku telah berulang kali dipanggil untuk segera masuk ke ruang tunggu. Sepertinya aku penumpang terakhir yang melapor diri di loket keberangkatan. Aku minta maaf dan utarakan alasan keterlambatanku padanya. Ia tak menggubris pembicaraanku. Kulihat ia kembali berjibaku dengan tugasnya. Selepas itu, terdengar ia menelpon kawannya memberi informasi penumpang yang ditunggu-tunggu barusan melapor diri di counter. Di ujung kalimat, aku menyempatkan diri memintanya memberiku posisi duduk di dereta tengah dengan seat yang lebih dekat dengan jendela.
“Mbak, seat bagian tengah dekat jendela yah!”  
“Maaf Pak, karena bapak terlambat check in, maka posisi duduk penumpang semuanya sudah disesuaikan, tidak dapat diubah kembali”. Dia menimpali kata-kataku sambiil menyerahkan selembar boarding pass. Kulirik sekilas. “seat number: 21”. Aku menghela nafas panjang seraya berjalan tergesa-gesa menuju ruang tunggu di lantai dua.
Tidak ada tiga menit aku berada di ruang tunggu, sudah terdengar pengumuman yang menggema seantero ruang tunggu.
“Penumpang pesawat Garuda tujuan Kupang dengan nomor penerbangan GA 7026 segera memasuki pesawat udara melalui pintu 1”.
Pesawat udara yang akan aku tumpangi berjenis ATR 72-600. Pesawat propeler atau baling-baling yang sengaja didesain khusus oleh perusahaan Perancis dan Italia yang diandalkan sebagai transportasi udara regional untuk menjangkau daerah kepulauan dengan jarak penerbangan singkat. Di Indonesia, pesawat ini lebih banyak beroperasi di daerah Kalimatan, Sulawesi, Papua, Maluku dan Nusa Tenggara. Khusus wilayah Nusa Tenggara, salah satu rute penerbangan pesawat ini adalah Denpasar-Kupang dan sebaliknya dimana terlebih dahulu harus transit di Labuan Bajo dan Ende.
Sebagian besar penumpang yang ada di ruang tunggu bergegas mengantri di pintu pemeriksaan tiket terakhir. Aku tidak ingin terlambat untuk kedua kalinya, sehingga aku mengantri pada urutan nyaris paling depan. Aku dengan mudah meraih posisi terdepan karena saat masuk ke ruang tunggu. Aku sengaja memilih duduk di kursi yang kebetulan lowong dekat pintu keberangkatan. Belum lagi, barang yang kubawa cukup praktis sehingga memudahkan aku untuk menyelinap di tengah antrian. Aku hanya memanggul tas ransel dengan kapasitas pakaian yang cukup dipakai selama tiga sampai empat hari saja. Antrian mengular, rata-rata penumpang lokal. Meski di bagian belakang, aku melihat beberapa turis asing juga ikut mengantri. Sebelumnya aku menduga, kalau tujuan mereka adalah Denpasar karena hampir disaat yang bersamaan, pesawat udara tujuan pulau dewata juga telah boarding. Namun, saat ini aku begitu yakin kalau tujuan mereka sesungguhnya adalah Ende bukan Kupang. Artinya tujuan mereka sama denganku, hanya mungkin misinya yang jauh berbeda. Biasanya para turis asing sehabis menikmati seluruh pesona pariwisata di Labuan Bajo, masih menyempatkan diri berkunjung ke Ende untuk sekedar melihat Danau Kelimutu dari dekat. Beda denganku, misi ke Ende semata-mata untuk menunaikan  tugas luar dari kantor untuk menjalin kerja sama dengan salah satu media lokal yang cukup kesohor di daratan Flores. Pekerjaan rampung, aku langsung balik kembali ke Labuan Bajo dan sama sekali tidak ada dalam rencanaku untuk mengunjungi Danau yang terkenal dengan tiga warnanya yang eksotik itu.   
Setelah menunjukkan boarding pass dan selembar kartu identitas, seluruh penumpang diperkenankan masuk ke dalam pesawat meskipun sebelumnya harus melewati jembatan penghubung menuju apron pesawat.

Pesawat jenis ATR ini memiliki keunikan sendiri karena pintu masuk penumpang terletak di bagian belakang. Sedangkan pintu yang di depan dijadikan tempat menyimpan bagasi dan kargo. Di pintu pesawat, seorang pramuguri berdiri menyambut penumpang sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Wajah cantiknya memajang senyum termanis. Menyapa penumpang dengan kalimat memukau. Aku membalas senyumnya dan kemudian terus melangkah memasuki koridor pesawat. Di kiri kanan sebagian kursi sudah ditempati penumpang yang berasal dari Denpasar. Rupanya mereka tidak diperkenankan turun saat transit di Labuan Bajo. Kuambil bording pass di saku kemeja yang kukenakan. Kupastikan kembali nomor seatku. Benar, nomornya 21H. Awak kabin lain yang bertugas di koridor menawarkan bantuan.
“Maaf pak, nomor berapa?”
“21H”. Jawabku singkat sambil memperlihatkan boarding pass yang kupegang.   
“Paling depan pak!” Ia menunjuk ke arah depan sambil menyerongkan badan untuk memberi ruang kepadaku agar lebih leluasa saat berjalan berpapasan dengannya.
Aku tersentak. Tak menyangka seatku berada di deretan terdepan. “Bukankah nomor seat selalu dimulai dari nomor 1? Gumamku.
Apa boleh buat, pengaturan tempat duduk untuk pesawat ini memang dimulai dari nomor 21. Aku tidak tahu alasan pastinya mengapa demikian. Aku hanya tahu kalau kursi yang paling depan selalu dilengkapi dengan pintu darurat di kiri dan kanannya. Aku mulai khawatir, dengan cemas berharap agar seatku bukan tepat di dekat pintu darurat.

Aku cukup lega meskipun nomor 21 berada di deretan terdepan. Kode H menunjukkan kalau seatku lebih dekat ke lorong bukan dekat ke pintu darurat seperti yang kukhawatirkan semula. Setelah menyimpan ranselku di dalam compartement yang terletak di atas kepala, aku duduk dan bersiap mengenakan sabuk pengaman. Di sebelah kananku seorang turis asing laki-laki. Badannya tegap, memiliki cambang lebat di pipi yang menyatu langsung dengan kumis dan janggotnya. Aku sempat melihat kaki kanannya dibalut perban putih. Basa-basi aku menyapanya. Ia membalas sapaku dengan suara agak pelan sehingga nyaris tak terdengar dan kebetulan pula suara mesin pesawat mulai berderu kencang.

Namun tiba-tiba, seorang pramugari meminta turis asing di sampingku untuk pindah ke seat deretan tengah. Pramugari mengatakan kalau turis asing tadi menderita cedera kaki sehingga dikhawatirkan tidak maksimal dalam menerima tugas sebagai operator pintu darurat. Pramugari beralasan kalau seat dekat dengan pintu darurat sebaiknya ditempati oleh penumpang yang memiliki stamina kuat dan sehat baik jasmani maupun rohani. Ternyata bukan hanya turis asing di samping kananku yang pindah ke belakang, namun seorang bapak berperawakan oriental yang duduk di sebelah kiri lorong justru meminta sendiri agar dirinya dipindahkan ke seat belakang yang kebetulan masih terlihat kosong. “Mengapa Bapak itu minta pindah?” batinku penuh tanda tanya.
Pramugari menunjukku seakan tanpa kompromi. Memintaku untuk menjadi operator pintu darurat. Perasaanku serba salah. Menerimanya tentu membuatku tidak tenang. Sebaliknya apabila menolaknya dimana aku harus menyimpan perasaan malu. Aku sadar, selain aku, seluruh penumpang yang duduk dari deretan depan hingga tengah adalah perempuan. Dari gestur tubuhnya kubaca, mereka menggodaku untuk menerima tugas maha berat ini. Aku semakin tak ada pilihan saat pramugari mengkonfirmasi kembali kesediaanku. Dia menikmati kegamanganku.
“Bagaimana pak, bisa?”. Pramugari bernama Vitanne yang kutahu dari tagname             di seragamnya bertanya basa basi.
Aku mengangguk perlahan. Ia mengerti bahasa tubuhku dan dalam waktu singkat memberi kursus singkat kepadaku cara penggunaan pintu darurat. Di akhir kalimat ia meyakinkanku agar pintu darurat hanya dapat dibuka apabila pesawat dalam keadaan bahaya. Kembali aku mengangguk. Namun sungguh aku tak paham secara detail penjelasannya. Aku tiba-tiba merasakan ada semacam beban berat yang sengaja di taruh pundakku. Kali ini tak ada pilihan lain, aku hanya memasrahkan perjalanan pada Tuhan. 

***
Pesawat mulai bergerak, menyesuaikan haluan untuk lepas landas. Dua crew cabin melaksanakan tugasnya. Seorang pramugari bertugas menyampaikan petunjuk dan tindakan keselamatan kepada penumpang. Sementara pramugari Vitanne menyelaraskan dengan gerakan khusus seperti memperagakan dimana letak pintu darurat dan toilet, cara menggunakan sabuk pengaman dan jaket keselamatan. Aku yakin sebagian besar penumpang tidak tertarik memperhatikan ritual ini. Beda denganku. Sejak menyandang status sebagai operator pintu darurat, aku justeru menyimak penjelasan sekaligus gerakan secara cermat. Memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan. Aku tahu kalau kursus singkat ini tidak berarti apa-apa kalau tidak diikuti dengan praktek cara membuka pintu darurat. Bagaimana kalau pintu darurat tidak berfungsi dengan baik?
Pesawat tepat berada di ujung landasan bersiap lepas landas.
Pasca tinggal landas, tiba-tiba perasaanku membuncah. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku tidak tenang, selalu dihantui bayangan pesawat ini mengalami gangguan selama penerbangan. Kucoba menepis halusinasi. Namun semakin kumencoba menghilangkan bayangan itu, justeru semakin kuat mempengaruhi keseimbangan otakku. Semula aku membayangkan pesawat mengalami gangguan teknis dan kerusakan mesin lantas mendarat darurat di daratan ataupun permukaan air. Di tengah suasana panik dan histeris demikian, orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mengevakuasi diri sendiri untuk segera keluar pesawat melalui pintu darurat. Penumpang berharap pintu darurat dapat segera dibuka. Namun pada titik harapan mereka meninggi, aku ternyata tidak mampu membuka pintu darurat dengan baik. Entah karena kebodohanku, atau karena memang lama pintu darurat tidak pernah digunakan, pintu darurat menjadi rusak dan sulit untuk dibuka. Semua penumpang terperangkap di dalam pesawat. Mereka hanya bisa teriak, menangis dan histeris. Doa serentak menggelayut di awan. Dalam hitungan detik burung besi meledak, menyisakan puing-puing besi dan onggokan daging serta abu tulang-belulang manusia. Nyawa hanya dibatasi waktu yang singkat. Semua orang pasti menyalahkanku. Tidak bisa tidak.
Pikiranku semakin kacau. Lama-kelamaan, phobia yang kurasakan tidak hanya saat pesawat mendarat darurat namun mulai bergeser ke hal lain. Benakku disandera serius oleh pikiran yang lebih suram, pesawat jatuh dan menghujam bumi. Aku membayangkan pesawat tersambar petir, tabrakan sesama pesawat, dihantam badai cumulonimbus, di bajak bahkan ditembak teroris.

Dalam hitungan normal penerbangan Labuan Bajo-Ende menghabiskan waktu kurang dari satu jam. Namun, aku justeru merasakan penerbangan ini bagitu sangat lama. Biasanya aku selalu menikmati penerbangan ke manapun. Menemukan kebahagiaan saat berada di angkasa. Merasakan keindahan bentangan awan yang berbaris rapi serta gugusan pemandangan alam di bawah dari udara. Saat ini, situasinya berbeda seratus delapan puluh derajat. Aku sungguh sangat menderita selama dalam pesawat. Nafasku berhembus tidak teratur. Aku sangat was-was. Turbulensi sedikit saja membuatku langsung panik. Suhu ruang kabin yang ber-AC tidak mampu membendung keringatku yang keluar lewat pori-pori. Bajuku setengah basah. Telapak tangan dan kakiku berair. Pramugari Vitanne yang duduk di balik pintu kokpit tidak jauh dariku tidak menangkap gelagatku. Ia asyik saja membagi senyum kepada penumpang lainnya.
“Dasar!” gumamku entah kutujukan kepada siapa. Aku menyesal mengapa aku menerima permintaan pramugari Vitanne tadi. Padahal aku sudah tahu kalau aku sangat tidak bisa duduk di dekat pintu darurat. Aku phobia dan trauma dengan kondisi seperti itu. Phobia dan trauma merasuki kehidupanku sejak aku masih kecil. Penyebabnya juga sepele namun membekas abadi di otakku. Saat itu aku menonton film barat yang menceritakan kecelakaan pesawat dimana seluruh penumpangnya termasuk pilot dan awak kabinnya tewas mengenaskan. Penyebabnya bukan karena penumpang terhempas dan terbentur tetapi karena terbakar. Penumpang terkepung api yang bersumber dari percikan yang menyambar bahan bakar pesawat yang tertumpah kala pendaratan darurat. Sebenarnya waktu untuk menyelamatkan diri dengan cara keluar dari pesawat cukup banyak namun karena akses seluruh pintu darurat tiba-tiba rusak, terus terkunci dan tidak bisa dibuka secara paksa sekalipun. Penumpang meregang nyawa di tengah usaha membuka pintu darurat. Dan perasaan itu, masih bersemayam di pikiranku hingga kini.

Perasaanku terus berkecamuk meskipun pramugari telah menginformasikan dalam waktu beberapa menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Aroeboesman Ende. 
Penumpang yang sempat tertidur nampak sudah bugar kembali. Tidak seperti diriku yang masih dirundung masalah. Aku masih menganggap tugasku belum selesai sehingga rasa gugupku belum juga berangsur hilang. Aku tiba-tiba teringat akan penelitian Ben Sherwood, Presiden ABC News yang menyimpulkan bahwa delapan puluh persen kecelakaan pesawat udara terjadi pada 11 menit yaitu 3 menit setelah tinggal landas dan 8 menit sebelum landing. Pikiranku kembali tertuju pada insiden kecelakaan pesawat Lion Air saat melakukan pendaratan di Bandara Ngurah Rai Denpasar beberapa waktu yang lalu. Pilot salah mengambil keputusan, pesawat yang dikemudikannya tidak mendarat tepat di landasan tetapi jatuh di laut beberapa meter sebelum mencapai ujung landasan. Setengah badan pesawat tenggelam ke dasar laut namun insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa. Seluruh penumpang dinyatakan selamat dan dapat dievakuasi keluar karena pintu darurat pesawat dapat berfungsi dengan baik.
Aku pun teringat perkataan seorang pilot helicopter yang duduk disampingku pada penerbangan beberapa waktu yang lalu.
“Ada dua bandara di Indonesia yang memiliki sensasi paling menantang dan menegangkan dalam mendaratkan pesawat dan salah satunya di bandara Ende ini”.
Pilot itu melanjutkan pembicaraannya.
“Untuk itu, tidak semua pilot mampu melakukannya”. Aku mengangguk dan tidak berusaha mengetahui alasannya lebih jauh. Aku hanya berprasangka apa yang dikatakannya betul sekaligus berharap pilot yang mengemudikan pesawat ini mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku akui Bandara Ende memang menegangkan. Sebelum roda pesawat mencium bibir landasan, pesawat dipaksa bermanuver melewati sebuah gunung yang berdiri pongah di ujung landasan. Bila diperhatikan, jarak roda pesawat dengan puncak gunung ketika melakukan ancang-ancang pendaratan tidak lebih dari lima meter dan menurutku itu sangat berbahaya.
***
Pesawat mendarat dengan mulus. Bergerak lambat menuju apron lalu berhenti dengan sempurna. Sabuk pengaman dilepaskan. Penumpang mulai berdiri dan menjangkau barang yang sengaja ditaruh di compartement di atas kepala. Penumpang tujuan Ende satu persatu turun meninggalkan pesawat. Aku masih menengadahkan kedua tangan ke atas seraya bersyukur Tuhan telah melindungi perjalananku.   

Labuan Bajo, 24 Juni 2014 (saat sulit tidur di kamar)

   





No comments:

Post a Comment