Deja vu, frasa ini sudah tidak begitu asing lagi di telinga kita. Mungkin setiap orang pernah mengalaminya. Deja vu adalah suatu perasaan aneh bahwa seseorang pernah merasa berada di suatu tempat dan melakukan sesuatu yang sama sebelumnya. Perasaan ini yang kurasakan ketika mengunjungi Ende beberapa waktu yang lalu.
***
Selama empat hari aku berada di Ende, telah tiga kali aku menyusuri jalan ini, Jalan Ahmad Yani Ende. Pertama, ketika menumpang mobil temanku ke tempat ia mentraktirku makan malam di salah satu rumah makan di kawasan Pantai Ria. Kedua, saat mengunjungi situs pengasingan Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira. Ketiga, saat aku berjalan kaki sendiri selepas sholat shubuh. Bermaksud menghirup udara pagi segar dengan menapaki ruas jalan ke arah kanan hotel tempat ku menginap. "Sekalian jogging pagi". pikirku.
Saat itu, mentari masih malu-malu keluar. Jalanan lengang. Aktivitas warga kota Ende belum terlalu bergeliat. Hanya sesekali kendaraan dengan muatan beragam sayuran dan buah-buahan melintas. Sepertinya dari dan menuju pasar. Ada juga tukang ojek yang berspekulasi mencari penumpang di pagi buta. Bahkan sempat menawarkan jasanya padaku. Ia memperlambat laju sepeda motornya di sisiku. Aku menggeleng. Dia paham maksudku lantas mengeber sepeda motornya agak kencang dan sesaat kemudian menghilang di tikungan. Aku terus berjalan sambil sebentar-sebentar merentangkan kedua tanganku ke samping. Menghirup oksigen yang masih segar. Kini nafasku berhembus kencang tandanya aku mulai lelah. Kedua betisku memberi sinyal agar aku segera menghentikan langkah. Aku berhenti persis di depan Masjid yang nampak catnya mulai mengelupas. Disorot temaram lampu yang dipasang di tepi jalan, aku masih bisa melihat warna dindingnya yang agak kusam. Kombinasi kuning gading dan cokelat.
***
Tiba-tiba saja aku teringat pengalamanku belasan tahun yang lalu saat aku mudik lebaran Idul Fitri. Aku masih ingat, saat itu aku baru saja menyelesaikan ujian akhir semester genap tahun pertamaku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar. Karena jadwal kapal menuju kampungku-Labuan Bajo- berbenturan dengan jadwal ujian akhir yang masih tersisa, aku terpaksa memilih kapal tujuan Maumere. Meskipun aku tahu resikonya cukup berat, aku masih harus menempuh perjalanan darat selama dua malam satu hari menuju Labuan Bajo dengan kondisi tetap puasa termasuk resiko harus merogoh kocek lebih banyak karena adanya tambahan biaya sewa bus. Dengan menumpangi kapal Pelni "Tatamailau" aku tiba di Maumere pukul sepuluh malam. Dalam tempo yang singkat akupun telah berada di atas Bus AKAP DAMRI yang akan membawaku ke Labuan Bajo. Perjalanan Maumere-Labuan Bajo sama halnya dengan mengukur panjang jalan Pulau Flores. Maklum jarak kedua kota tersebut berjauhan. Itupun harus melewati kota-kota lain sebelumnya seperti Ende, Bajawa dan Ruteng.
Bus tiba di Ende menjelang shubuh. Semua penumpang diistirahatkan sejenak di kantor cabang DAMRI yang letaknya bersebelahan dengan masjid. Bus tersebut akan melanjutkan perjalanannya kembali pukul tujuh pagi. Aku lebih memilih langsung ke masjid untuk menunaikan sholat shubuh. Setelah sholat, aku istirahat sejenak di teras masjid sambil meregangkan otot-ototku yang masih kaku sejak semalam.
***
Aku duduk di deker depan masjid sambil memperhatikan setiap sudut masjid tersebut. "Inikah masjid yang belasan tahun lalu yang pernah kusambangi sholat shubuh sekaligus kujadikan tempat menghilangkan penat". Pikiranku bergerak liar, mencoba mengumpulkan keping memori yang perlahan mulai hilang di otak seiring waktu yang terus bergerak maju. Mencoba fokus pada kejadian beberapa tahun lampau. Kutemukan satu penggal cerita namun aku masih belum yakin kebenarannya. Fakta-fakta lapangan agak kabur, alibi cukup kuat. Armada Bus DAMRI sudah tidak nampak di sebelah jalan, berganti menjadi gedung pemerintahan. "Kalaupun bukan di masjid ini, lantas dimanakah keberadaan masjid yang kumaksud?" Pertanyaanku menggantung tak menemukan jawaban pasti. Aku berjalan gontai kembali ke hotel. Kini matahari pagi mulai menyelinap di ketiak Gunung Iya.
Jawaban itupun terkuak semuanya ketika seorang penjaga hotel memberikan keterangan panjang lebar kepadaku di sela-sela sarapan pagi. "Pul bus DAMRI sekarang telah dijadikan Kantor Perhubungan oleh Pemerintah Kabupaten Ende". Aku tersentak. Ternyata yang kulihat dan kualami tadi pagi bukan sekedar deja vu. Subhanallah. Dalam batin diam-diam aku bersyukur, Tuhan masih menganugerahiku umur panjang kepadaku.
***
Labuan Bajo, 18 Juni 2014 (Ramadhan pertama 1436 H)
No comments:
Post a Comment