Tuesday, June 16, 2015

Tukang Ojek Pribadi

Mesin sepeda motor jenis bebek sementara kupanaskan. Sesekali kuseka debu yang masih nampak di bodinya. Sepeda motor buatan jepang ini telah siap kembali menunaikan tugasnya hari ini. Tugas rutin yang dilakoninya saban hari. Mengantar dan menjemput dua orang buah hatiku yang masih bersekolah. Lunar, anak sulungku kini duduk di kelas 2 SD dan yang kedua Nilam masih duduk di kelas O besar TK. Keduanya perempuan cantik yang menggemaskan. Usia keduanya terpaut 3 tahun. 

Seperti biasanya, sehabis sarapan dan minum susu, keduanya langsung bergegas meraih sepatu sekolah untuk dikenakan. Mereka telah siap untuk bersekolah hari ini. Diciuminya tangan ibunya yang berdiri di depan pintu meminta restu. Tak lupa mereka mencium pipi si bungsu Rais yang berdiri di dekat ibunya. Dengan salam singkat mereka melangkah keluar rumah. Bersiap menjemput asa.

Nilam telah di posisinya, duduk paling depan. Mencengkram batok setir sepeda motor dengan hati-hati. Kedua kaki ditaruhnya di tengah. Lunar duduk paling belakang. Memegang erat tubuhku. Kakinya telah sampai di stang kaki bagian belakang. Tidak terasa dia sudah semakin besar. Aku masih ingat kala dia masih balita. Dia tidak pernah mau duduk di belakang. Baginya duduk di depan sama halnya dengan mengendarai sepeda motor langsung. Dia menemukan kebahagiaan ketika menekan tombol klakson semaunya, menatap cakrawala di depan dengan leluasa. Terkadang rambutnya yang terhempas ditiup angin dibiarkan menerpa wajahku. Aku tahu dia sengaja melakukan itu sebab dia ingin memberikan sinyal kepadaku bahwa rambutnya harum semerbak. 

Sepeda motor menyusuri jalan berbatu sebelum sampai di jalan besar. Lunar dan Nilam sudah hafal betul jalan ini. Rona wajah mereka biasa saja melewati jalan ini, nampak tak terlihat takut sama sekali. Meskipun demikian aku tetap meminta mereka tetap hati-hati dan semakin mempererat pegangan. Tas yang mereka sandang terlihat naik turun pertanda jalan berbatu ini harus segera dibenahi sebelum menimbulkan korban jatuh.

Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedikit di bawah rata-rata. Maklum, membonceng anak dengan posisi duduk di depan dan di belakang sama halnya dengan membonceng ibu hamil. Tanggung jawab begitu besar. Ngebut sedikit sangat beresiko. Tujuan pertama mengantar Lunar ke sekolahnya karena dia masuk sekolah jam 7 pagi. Sedangkan Nilam diantar belakangan, waktu masih cukup lama. Dia baru masuk sekolah jam 8 pagi. Itu berarti Nilam "dipaksa" ikut mengantar kakaknya terlebih dahulu. Jarak sekolah mereka sebenarnya tidak jauh. Namun karena sekolah Nilam harus memutar arah menempuh jalur lingkar luar kota sehingga jaraknya menjadi cukup jauh. Lunar bersekolah di SDN Labuan Bajo 2. Aku sengaja mendaftarkannya di sekolah itu karena waktu aku SD, aku juga pernah mengenyam bahkan menamatkan pendidikan di sekolah ini. Istilah orang sekarang like father like daughter

Melihat Lunar bersekolah di sana, aku seperti memutar kembali kenangan belasan tahun lalu yang masih terajut abadi dalam memori kepalaku. Seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana, yang dibesarkan oleh orang tua dengan penghasilan pas-pasan. Ayahku atau kakek dari ketiga buah hatiku, Lunar, Nilam dan Rais berprofesi sebagai pelaut. Kalian pasti berpikir kalau ayahku memiliki kapal sendiri. Ah, kalian salah. Ayahku hanya bekerja sebagai nakhoda, itupun bukan di kapal tetapi perahu milik orang lain. Tanggung jawabnya maha besar membawa hasil laut si empunya perahu dari Labuan Bajo ke luar daerah. Biasanya dibawa ke Bali dan tidak jarang pula hingga ke Banyuwangi. Kami selalu berdoa semoga ayahku selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam mengarungi lautan luas. Di akhir doa, kami tak lupa menitipkan harapan kepada Tuhan. Berharap ayahku membawa oleh-oleh untuk kami sepulangnya berlayar berminggu-minggu.

Ibuku berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus membantu ayah mencari nafkah. Alasannya mulia, katanya ingin meringankan beban berat yang ada di pundak ayah. Ibuku membuat aneka kue untuk dijual di pasar-pasar. Sepulang sekolah, ibu terkadang menyuruhku menjual dagangan ke tetangga di sekitar rumah. Mula-mula aku malu dilihat teman-temanku namun karena kasihan melihat ibu yang sudah capek bekerja, aku menghilangkan perasaan itu. Terakhir ketika aku dewasa, aku baru sadari kalau membantu ibu berjualan kue di masa kecil memberi arti tersendiri buatku. Aku merenung mungkin ini merupakan cara lain ibuku menanamkan jiwa bisnis kepadaku, yang kelak dapat kumanfaatkan.


***

Lunar telah tiba di sekolah. Berjalan gontai memasuki halaman sekolah menuju kelasnya. Teman yang kebetulan duluan tiba menyambutnya dengan senyuman. Diapun membalasnya, bercengkrama sebentar, tertawa dan kemudian larut dalam gelak tawa yang tak berirama. Aku yang melihat tingkah mereka dari jauh mahfum. Ada senyum terbersit tiba-tiba.
Sepeda motor melaju kembali menuju arah sekolah Nilam. Masih dengan kecepatan sedang meski daya angkutnya berkurang.


***

Memang tidak bijak kiranya bila menghitung lamanya aku mengantar-jemput mereka bersekolah. Seolah terkesan aku terpaksa melakukannya. Aku hanya ingin membagi cerita. Disamping mutlak kewajiban orang tua untuk menyongsong masa depan anaknya agar lebih cerah, menjadi pandai dan memiliki pengetahuan lebih, mengantar dan menjemput anak sekolah merupakan kebahagian tersendiri. Paling tidak itu yang kurasakan. 

Coba bayangkan, tanpa alarm tetap yang mengingatkanku, aku sudah hapal jadwal pulang sekolah mereka berdua. Aku berupaya aku selalu menjemput mereka tepat waktu. Aku tidak mau mereka terlalu lama menungguku menjemputnya. Kalaupun di saat bersamaan aku masih sibuk di kantor, mereka selalu setia menungguku di pintu gerbang sekolah. Kalau sudah begitu, pikiranku di kantor pasti kacau dan tidak konsentrasi dalam bekerja. Sebab aku tidak ingin anakku pulang ke rumah berjalan kaki di tengah terik matahari dengan perut lapar dan tenggorokan yang kering. Cukup aku saja yang merasakan susahnya bersekolah di masa kecil. Seperti anak-anak lainnya kala itu, aku tidak pernah diantar-jemput orang tuaku bersekolah. Sehingga anak-anak yang tidak tahan dengan kondisi getir semacam ini dipastikan akan berhenti bersekolah. Orang tua yang masih menganggap sekolah tidak penting tentu maklum saja bahkan mereka berpikir ini peluang bagus buat anak untuk membantu orang tua bekerja di laut sebagai nelayan cilik.

Jujur mengantar dan menjemput anak memang terasa capek tetapi terus terang aku sangat menikmatinya. Aku berpikir dengan begitu aku dapat melihat tumbuh kembang anak secara langsung. Memantau mental dan sikap anak dengan lebih intens. Sangat berbeda mental dan kepercayaan diri anak yang diantar jemput orang tuanya dengan anak-anak yang pergi sekolah hanya diantar sampai di depan pintu rumah dan sama sekali tidak pernah dijemput saat pulang sekolah. Kalaupun dijemput biasanya dilakukan oleh tukang ojek langganan.

Mumpung raga ini masih kuat melakukannya, aku berharap semua anak-anakku; Lunar-Nilam dan Rais- dapat merasakan perhatian dan kasih sayang orang tuanya secara optimal. Paling tidak hanya dengan mengantar dan menjemput mereka sekolah. 



Labuan Bajo, 17 Juni 2015














No comments:

Post a Comment