Wednesday, October 16, 2019

Kebetulan Tidak Ada yang Kebetulan

Banyak yang menganggap sesuatu yang mustahil terjadi dianggap kebetulan. Bagi yang percaya pendapat ini bisa langsung mematahkan semangatnya untuk berbuat sesuatu. Ragu untuk memulai kembali. Sebaliknya, bagi orang optimis atau oportunis sekalipun, hal tersebut justru menjadi pelecut untuk berusaha lebih keras lagi. Bukankah temuan-temuan spektakuler abad ini lahir dari mimpi-mimpi besar. Perkembangan teknologi dewasa ini sesungguhnya bermula dari sebuah hayalan. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Bahkan dipikirkan saja sudah berat apalagi direalisasikan. Waktu yang bergulir membuktikan. Suara-suara putus asa dibungkam. Yang mustahil satu persatu nampak di depan mata. Kita tidak pernah membayangkan sebelumnya Neil Amstrong dan kawan-kawan berhasil menerbangkan Apollo XI dan mendarat di bulan. Saat ini, orang-orang telah bolak-balik keluar angkasa. Tidak hanya melakukan penelitian tetapi juga melakukan perjalanan wisata. Beberapa dekade sebelumnya. Kita hanya bisa berkomunikasi jarak jauh menggunakan gelombang suara. Saat ini, kita sudah dapat beinteraksi langsung saling berhadap-hadapan dengan lawan bicara hanya dengan sebuah alat bernama ponsel yang menggunakan jaringan internet. Dahulu sebuah televisi berbentuk tabung besar. Sekarang sudah sangat tipis dengan layar yang sangat lebar. Hampir seluruh peralatan elektronik menggunakan kabel sebagai perantara arus. Hari ini kita menyaksikan penggunaan kabel semakin berkurang. Diganti bluetooth dan jaringan wifi. Semuanya seperti instan. Dipermudah oleh adanya teknologi masa kini. Waktu semakin efisien namun hasilnya akan lebih efektif. Perkembangan zaman dimotori oleh orang-orang kreatif dan inovatif. Tak pernah puas dengan hasil yang dicapai sekarang. Dikembangkan terus menerus tanpa batas. Kita tahu bahwa kemampuan berpikir otak manusia ada batasnya. Namun bukan berarti monoton dan tidak akan berkembang lagi. Justru rasa ingin tahu banyak yang mendorong kita memutar otak untuk mencapainya. Merancang kembali cara yang tepat untuk merealisasikan rasa penasaran. Wajar orang berprinsip bahwa tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini.

***
Istilah kebetulan hanya lahir dari mulut orang yang tidak percaya diri dengan usaha dan kerja keras. Memandang kebetulan sebagai kemustahilan belaka. Ibarat mimpi di siang bolong yang tak pernah berbuah kenyataan. Kalaupun terjadi tidak bakal terulang kembali. Mentok. Padahal kemajuan jaman yang serba modern ini ditunjukkan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kemajuannya melebihi ekspektasi sebagai besar orang. Setiap saat selalu saja ada yang baru dicetuskan. Berbeda dari sebelumnya. Kebetulan bagian dari ketidaksengajaan. Alih-alih diulangi. Realitaspun masih dipertentangkan. Pada titik ini, orang dengan argumentasinya masing-maisng. Mencoba memberi jawaban dengan sejuta alasan. Dan itu adalah hak mereka masing-masing.

***
Menarik untuk didiskusikan. Sebagai contoh sederhana. Hari ini, tanggal 29 September 2019. Saya terbang menggunakan pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 029 dari Labuan Bajo menuju Denpasar. Tidak sampai disitu, saya duduk di kursi nomor 29. Kebetulankah?Saya rasa tidak. Bukankah pada setiap bulan yang akan datang kejadian akan berulang kembali. Tanggal 29, nomor penerbangan 29 dan duduk di kursi 29. Paling tidak sebulan dari sekarang.

Labuan Bajo, 29 September 2019

Ruang Tunggu

Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang kebanyakan tidak saling mengenal. Berkumpul untuk maksud yang sama. Menunggu sesuatu. Di ruang tunggu.

***

Ruang tunggu biasanya tersedia di bandara, pelabuhan, terminal dan stasiun. Namun, tidak jarang juga terlihat di fasilitas publik lainnya seperti di rumah sakit atau tempat praktek dokter, di bank dan di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta yang kegiatannya berinteraksi langsung dengan masyarakat umum. Fasilitas ruang tunggu sengaja disediakan untuk memberi kenyamanan kepada seseorang dalam menunggu sesuatu atau seseorang. 
Mengangkat tema sederhana ruang tunggu menjadi menarik manakala juga membicarakan aktivitas orang-orang di ruang tunggu.


***
Saat menulis blog ini, saya sementara berada di dalam ruang tunggu Bandara Komodo Labuan Bajo. Di tengah-tengah penumpang lain yang sama-sama sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Tentu dengan tujuan masing-masing. Sambil menulis, saya mengamati tingkah laku orang-orang di sekitar. 
Sebagian besar sedang memainkan ponsel mereka. Sudah bisa ditebak kalau mereka satu tanah air dengan saya. Ada yang membawa anak-anak. Dibiarkannya anak-anak mereka lari ke sana kemari. Beberapa kelompok terlihat sedang asyik bercerita. Sesekali tertawa lepas dan mengagetkan orang yang duduk diam namun sesekali menguap di dekatnya. Bahkan terlihat ada yang sedang tidur-tiduran di kursi panjang di sudut ruang tunggu. Sengaja menjauh dari kerumunan. Dua orang ibu-ibu tidak jauh dariku dari tadi sedang asyik menikmati makanan ringan yang dibawanya dari rumah sambil menonton layar tv besar yang menyiarkan berita demonstrasi di berbagai penjuru negeri. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan momen dengan berselfie ria pada titik-titik tertentu. Bergaya sedemikian rupa dan klikkk. Satu gambar memenuhi memori.

Berbeda dengan aktivitas penumpang lokal. Saya juga memperhatikan bagaimana tingkah laku penumpang asing (baca: bule).
Di antara mereka, terlihat sedang bercengkrama. Saling menyela pembicaraan satu sama lain. Mungkin mereka sedang mendiskusikan sesuatu.
Beberapa sibuk dengan bacaannya. Sebuah buku tebal yang dipegang dibaca dengan serius. Seorang berkaca mata sedang mengetik di laptop yang ditaruh di pahanya. Sepertinya dia sedang melihat kembali foto-foto aktivitasnya selama di Labuan Bajo yang tampil di layar monitor. Beberapa orang memperhatikan informasi penerbangan pada layar besar di ruang tunggu. Memastikan informasi yang dilihatnya dengan tiket yang dipegang. Sepasang dari mereka bahkan ada yang nekat. Mengumbar kemesraan dengan berciuman. Satu dua kali dengan jeda beberapa menit. Tidak malu dengan orang di sekitarnya termasuk saya yang duduk tepat berada di belakangnya.

Untuk menjaga privasi penumpang dalam ruang tunggu ini, saya sengaja tidak mengambil gambar mereka.

***

Ruang tunggu didesain senyaman mungkin. Dimaksudkan agar orang-orang tidak dilanda kejenuhan menunggu. Seharusnya, saat berada di ruang tunggu. Banyak hal positif yang bisa dilakukan. Seperti beberapa orang bule yang memanfaatkan waktu dengan membaca buku. Kalaupun menggunakan telpon genggam, sebaiknya pula digunakan untuk membaca buku dan berita dari aplikasi online yang banyak tersedia. Tidak hanya sekedar main game-meskipun saya tahu ada juga manfaatnya.
Saya tidak tahu apakah menulis blog ini dapat dikategorikan kegiatan positif. Lamat-lamat petugas bandara memanggil seluruh penumpang pesawat tujuan Denpasar untuk segera masuk ke dalam pesawat. Saya pun bergegas ke pintu pemeriksaan tiket.

Labuan Bajo, 29 September 2019

Monday, September 23, 2019

Selaksa doa untuk Nauzan Semesta

Hari ini. Tepat tiga tahun yang lalu. Anak keempatku. Mungkin juga ini anak bungsuku. Lahir ke planet ini. Berjenis kelamin laki-laki. Berbeda dengan ketiga kakaknya yang lahir malam hari. Dia pertama kali melihat dunia persis di jeda adzan dzuhur dan iqamat. Suaranya lantang. Meskipun itu sebangsa tangisan. Tumbuh sehat dan pintar. Makin kesini wajahnya semakin mirip denganku. Minimal itu kata isteriku. Atau mamanya juga.

Nauzan dan kenakalannya
Hari ini dia berulang tahun. Disyukuri tapi tak perlu dirayakan. Dia belum mengerti penuh. Makna pertambahan usia. Tak ada permintaan khusus apalagi istimewa. Baju polisi yang dimintanya tempo hari. Belum juga saya penuhi. Sesekali dia merajut. Tapi sebentar-sebentar dia lupa lagi.

Sudah lama saya tidak membelikannya mainan. Meski jarang sekali dia memintanya. Saat kami ke swalayan. Dia melihat robot mainan di sudut ruangan. Tidak beranjak dari situ. Matanya tertuju ke mainan yang dapat berubah menjadi mobil. Tanpa babibu, saya langsung membawa robot mainan berwarna kuning ke meja kasir. Membayarnya lunas. Nampak senyum merekah di bibirnya. Mainan merekat lekat di tangannya.

Nauzan bergaya bersama Anggota Polisi
Di usianya yang tiga tahun persis hari ini. Dia semakin lincah. Energik berlari ke sana ke mari. Bicaranya sudah mudah dipahami. Bertanya ini-itu kepada seluruh penghuni rumah. Termasuk kepada Betty, kucing kampung kesayangannya. Bukan laki-laki kalau tidak nakal. Sepertinya dia tahu. Malu pada rambutnya yang panjang nan keriting.

Nauzan waktu masih kecil
 Hari ini dia mengulang tanggal kelahirannya. Selaksa doa kupanjatkan tinggi-tinggi kepada Tuhan. Doa yang juga dilambungkan oleh Sang suri tauladan dan para sholihin. Agar dia kelak selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Menjadi anak yang sholeh. Pejuang agama sejati. Anak yang berguna dan senantiasa menjadi penyejuk mata orang tuanya. Aamiin..

Labuan Bajo, 18 September 2019

Monday, April 15, 2019

Pesona Indah Pucuk Merah


Tanaman Pucuk Merah (syzygium oleana)
Pucuk Merah. Dari namanya saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya tanaman itu. Apalagi kalau dilihat langsung tentu membuat kita kian takjub. Tanaman perdu yang masih merupakan satu klasifikasi famili dengan cengkeh ini kini lebih populer meskipun tidak sepopuler tanaman anhurium yang lebih dulu dikenal masyarakat. Keunikan tanaman yang dalam bahasa latin disebut syzygium oleana terletak pada pucuknya yang berwarna merah dan tidak jarang juga dijumpai berwarna oranye dan merah muda. Kalau kita perhatikan sekilas, daun muda yang berwarna merah tersebut seakan-akan seperti bunga yang menyembul dari balik dedaunan. Tanaman pucuk merah terlihat lebih indah manakala dibentuk sedemikian rupa. Kalau kebetulan bertandang ke Jakarta, cobalah tengok sendiri, begitu kita keluar dari Bandara Soekarno-Hatta hampir di sepanjang median jalan yang kita lewati, tumbuh subur tanaman pucuk merah dengan bentuk yang beraneka ragam yang sengaja ditanam untuk memanjakan mata tamu ibukota sekaligus mengurangi efek gas emisi yang ditimbulkan jutaan kendaraan yang hilir mudik.

Tanaman Pucuk Merah yang Tumbuh di Median Jalan
Rupanya, eksotisme pucuk merah mampu menarik perhatian banyak orang, termasuk Bupati Mangggarai Barat. Beliau sungguh terpesona dengan keindahan tanaman pucuk merah. Beliau ingin potret indahnya pariwisata di Mangggarai Barat semakin terpancar dengan hadirnya pucuk merah yang menghiasi sudut kota. Untuk merealisasikan impiannya, tidak tanggung-tanggung, beliau menyerukan kepada semua bawahannya untuk menanam pucuk merah pada median jalan dalam kota tentu sekaligus dengan kewajiban untuk memelihara dan merawatnya. Gerakan menanam pucuk merah terus bergeliat. Saat ini, setiap titik median jalan telah berbaris rapi anakan tanaman pucuk merah.


Dalam satu kesempatan, Bupati menegaskan bahwa beliau ingin di sisa pemerintahannya yang relatif tinggal 2 tahun ini, ada sesuatu yang sekiranya bakal menjadi kenangan berarti bagi warganya. Dia berharap agar tanaman pucuk merah yang berjajar nanti menjadi warisan berharga yang akan selalu diingat warganya. Sesuatu yang setidaknya mampu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bupati di sela-sela sederet prestasi lain yang bisa saja mudah dilupakan oleh warganya. Memberi kenangan manis dalam bentuk fisik seperti ini, mengingatkan kita pada langkah politis yang dilakukan Presiden RI pertama-Soekarno yang dikenal sebagai proyek mercusuar yakni politik dengan membangun gedung-gedung bersejarah (landmark) yang sengaja dibangun untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa negara kita adalah negara besar dan mampu. Proyek mercusuar pertama ini, dimaksudkan untuk menjawab tantangan bahwa Indonesia mampu dan siap menjadi tuan rumah yang baik dalam rangka perhelatan akbar Asian Games 1962. Meski dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun sebelum ajang olah raga level dunia ini berlangsung, Indonesia ternyata mampu membangun sejumlah gedung bersejarah (landmark) seperti Monumen Nasional (Monas), Monumen atau Patung Selamat Datang, Gedung Olahraga Bung Karno (GBK) dan Hotel Indonesia di Jakarta. Demi menyelamatkan muka negara di kancah dunia, Soekarno berhasil membuktikan bahwa negara kita tidak boleh dipandang sebelah mata. Padahal kita tahu sendiri, pada masa itu negara kita masih mengalami defisit anggaran. 

Salah Satu Proyek Mercusuar Soekarno dengan Membangun GBK
Mungkin terlalu berlebihan kalau membandingkan apa yang dilakukan oleh Bupati Manggarai Barat setara dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno namun setidaknya spirit untuk menunjukkan bahwa Labuan Bajo khususnya dan Kabupaten Manggarai Barat pada umumnya adalah benar-benar destinasi wisata yang pantas untuk dikunjungi. Daerah yang sangat indah dan mempesona bak surga yang sengaja diciptakan Tuhan di permukaan bumi.

Tanaman pucuk merah yang ditanam serentak di median jalan, sengaja memanfaatkan momentum musim hujan. Harapannya, begitu musim hujan pergi, akar-akar tanaman pucuk merah telah kokoh menghujam tanah dan tanaman ini tumbuh subur ditandai dengan pucuk-pucuknya yang menyembulkan warna merah yang indah.
Dan dari sana orang-orang mulai menceritakan siapa dibalik ide brilian ini??

Labuan Bajo, 28 Februari 2019

Thursday, September 6, 2018

Sang Kepala Sekolah Fenomenal

Terlihat masih sangat berwibawa (Foto diambil dari akun Facebook anaknya)

Lelaki itu kini telah renta. Usianya tak muda lagi. Tubuhnya pun tak setegap dulu. Saat berjalan dia sudah mengandalkan sebuah tongkat sebab kedua kakinya rapuh tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya. Rambutnya semakin tipis, memutih di sebagian besar lingkar kepalanya. Namun yang patut disyukuri dia masih sehat dan pikirannya belum diserang gejala dimensia. Dia masih mengingat semua kenangan di masa muda dengan baik. Ada yang sama, senyumnya masih sama seperti dahulu kami mengenalnya pertama kali meski di balik senyumnya itu, tak ada lagi rahang yang kokoh dan tampang sangar yang dia tunjukkan.


***

Menengok ke belakang persis sekitar 20 tahun yang lalu, terbersit serangkaian kenangan semasa masih bersekolah di SMP Negeri Komodo Labuan Bajo. Sejumlah nama terlintas dalam pikiran. Guru-guru dan juga teman seperjuangan satu persatu hadir menghiasi isi kepala. Tiba-tiba pikiran tertuju kepada satu sosok guru- tepatnya Kepala Sekolah saat itu. Seorang guru yang namanya sangat familiar di telinga para siswa saat itu. Sebuah nama yang menyimpan kesan bahwa dia adalah seorang yang sangat tegas-kalau tidak mau dibilang kejam. Saking kejamnya, begitu namanya disebut, siswa paling bajingan seantero sekolah sekalipun langsung nyalinya menciut, serupa kucing disiram air. Namanya ibarat petir di siang bolong. Dahsyat dan mencekam.

Saat itu, banyak siswa menganggapnya diktator. Sebab hampir setiap hari siswa yang kedapatan berbuat salah akan terkena hukuman darinya. Jangan pernah menganggap hukuman yang diberikan saat itu sama dengan hukuman yang diberikan guru-guru saat ini. Sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat. Hukuman yang diberikan guru saat itu sangat berat bahkan dapat dikatakan sadis. Begitulah dia, sangat memegang teguh prinsip penegakan disiplin di sekolah. Baginya, siapa saja yang melanggar peraturan sekolah yang telah ditentukan akan mendapatkan hukuman darinya, tak peduli laki-laki maupun perempuan. Kalau sudah menjadi tersangka, siswa tidak dapat lagi membela diri. Argumentasi yang disampaikan bisa saja menambah derita. Sanksi akan berlipat ganda. Beragam sanksi akan kita terima. Mula-mula dari yang standar atau biasa-biasa saja seperti disuruh berlutut, dijewer telinga dan dijemur. Meningkat ke level sedang seperti berlutut menghadap matahari, dicambuk menggunakan lidi dan ditendang menggunakan ujung sepatu lancip. Sedangkan sanksi berat dapat berupa ditampar berulang-ulang, dipukul menggunakan tongkat dengan sasaran betis-betis pasrah, disuruh jalan berlutut mengelilingi taman bahkan gedung sekolah yang dipenuhi duri, kerikil tajam bahkan pecahan kaca. Nampak memang sadis kan? Untuk sanksi level berat, kalau momennya ditarik ke kondisi saat ini, pasti sudah banyak orang tua yang akan melaporkan sang guru tersebut ke polisi dan mengeluarkan anaknya dari sekolah tersebut. Komnas Perlindungan Anak dan LSM Pecinta Anak sudah pasti akan turun tangan, mengadvokasi siswa yang menjadi korban sekaligus merekomendasikan sang guru diproses secara hukum.

Namun anehnya, saat itu tidak ada orang tua yang berniat melaporkan perangai guru seperti itu kepada aparat penegak hukum. Sepertinya para orang tua siswa sudah mafhum. Melekat dalam benak mereka bahwa untuk mendidik siswa agar dapat menjadi orang yang berhasil di kemudian hari adalah dengan cara menempanya dengan disiplin yang tinggi. Terkesan para orang tua sudah mengikhlaskan anaknya untuk dihukum apabila bersalah bahkan dengan alasan supaya kelak anaknya tidak manja dan tahan banting, banyak orang tua yang justru senang apabila anaknya dijatuhi hukuman di sekolah.

Kembali ke topik sanksi yang diberikan oleh sang guru tersebut.

Bayangkan, hanya karena ingin mengkultuskan dirinya sebagai guru yang paling kejam di sekolah, tak tanggung-tanggung dia mengoleksi beberapa tongkat dari kayu kukung yang akan digunakan untuk melecut betis-betis siswa yang bandel dan tongkat tersebut disimpan rapi di belakang lemari kerjanya. Ukuran tongkat yang digunakan untuk menghajar kaki-kaki siswa bervariasi, tergantung besar objek pendaratan. Diameternya berbeda-beda. Dari yang berdiameter layaknya gagang sapu sampai yang seukuran tongkat pramuka. Semacam tahanan, siswa-siswa yang bandel disuruh berbaris memanjang. Satu persatu menerima ‘hadiah’ darinya. Diayunkannya tongkat nabi Musa ke betis-betis siswa tidak hanya sekali tapi bertubi-tubi. Di baris terdepan, di tengah ataupun paling belakang, rasa perih dan sakit yang dirasakan sama saja. Kaki-kaki siswa sontak memerah bekas lecutan membentuk banyak garis-garis sama dengan. Wajah korban meringis tapi tak ada yang perlu dikasihani. Mungkin semua menyadari resiko logis masuk ke sebuah sekolah dengan predikat guru yang fenomenal sangat kejam. 

Meski demikian, tak pernah terdengar ada siswa yang sakit hati dan menaruh dendam padanya. Semuanya sepakat berkat didikan tegas dan disiplin seperti itu dapat membuat kita menjadi orang yang kuat dan tak mudah menyerah dengan kesulitan hidup. Sesungguhnya dibalik didikan ala militer yang dia terapkan, memateri di hati dan pikiran kita bahwa dia adalah guru yang sangat bijaksana, yang memegang teguh prinsip “guru tak hanya mentransfer ilmu pengetahuan tapi juga mentransformasi nilai-nilai sakral kehidupan. Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Tanpa menafikkan peran kepala sekolah lainnya, baik sebelum maupun setelah dia menjabat sebagai Kepala Sekolah. SMP Negeri Komodo Labuan Bajo termasuk sekolah favorit yang digandrungi siswa baru saat itu. Reputasi SMP Negeri Komodo mengangkasa sejak dia menjadi komandan tertinggi di sekolah ini. Boleh dikroscek, banyak alumninya yang saat ini telah menjadi orang hebat. Memegang posisi penting di berbagai bidang profesi. Menjadi pemimpin bagi banyak orang.

Sedang duduk di kursi sambiltangan memegang tongkat
{Foto diambil dari akun Facebook anaknya)
Sebagai manusia biasa, dia juga tak bisa mengelak dari waktu yang bergulir. Kini, dia telah semakin ringkih, tak bisa lagi berbuat lebih banyak. Anak-anaknya telah meraih sukses semua. Dia hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sambil menghibur dirinya dengan bermain bersama cucu-cucu tercinta. Semoga selalu diberi kesehatan dan umur panjang, pahlawan tanpa tanda jasa kami.  


Kamar, Labuan Bajo, 5 September 2018






Thursday, August 30, 2018

Juara yang Tertunda

Lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SD, SMP dan SMA tahun 2018 di Padang Provinsi Sumatera Barat resmi ditutup. Satu persatu kontingen dari masing-masing provinsi meninggalkan ranah Minang. Macam-macam perasaan berkecamuk. Ada yang pulang dengan dada ditegakkan karena berhasil menyabet medali. Ada pula yang tetap berjalan dengan kepala tegak meski medali tidak berhasil dibawa pulang. Pun dengan kontingen dari Provinsi NTT yang tetap bangga meski hanya berhasil membawa pulang satu buah medali perunggu yang dipersembahkan oleh peserta OSN tingkat SMA mata pelajaran fisika. Sedangkan peserta lainnya dari Provinsi NTT termasuk Lunar gagal mempersembahkan medali. Sebuah hasil maksimal yang patut diterima dan disyukuri.

***

Lomba OSN digelar selama dua hari berturut-turut. Saat ini saya hanya fokus mengurai jalannya lomba OSN tingkat SD khususnya mata pelajaran Matematika. Hari pertama masing-masing peserta mengerjakan dua type soal yang berbeda isian singkat dan isian disertai langkah-langkah penyelesaian. Sedangkan hari kedua, type soal berbeda lagi yakni eksplorasi. Ketiga type soal ini memiliki persamaan, di antaranya semua soal berbentuk isian tanpa ada satupun berbentuk pilihan ganda, durasi waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal masing-masing 90 menit dan setiap type memiliki soal menggunakan bahasa Inggris. Sampai di sini, kita sudah dapat membayangkan betapa sulitnya soal-soal OSN itu. 

Sebagai orang tua sekaligus guru privat dadakan Lunar di rumah, saya pun mengakui bahwa soal-soal OSN memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Sebagian besar soal yang ditanyakan, bukanlah jenis soal matematika umum sebagaimana yang diajarkan di dalam kelas. Saya bahkan menyangsikan anak SMP bahkan SMA dapat menyelesaikan soal tersebut dengan mudah. Tidak jarang soal yang ditanyakan mirip soal matematika saat seleksi CPNS. Sebagai seorang yang bukan memiliki latar belakang pendidikan matematika, saya harus jujur mengatakan bahwa bobot soal yang ditanyakan sontak membuat saya mengernyitkan dahi. Dari awal sampai akhir tak ada yang mudah. Semuanya memerlukan pisau analisis yang lebih tajam. Tidak mudah untuk dipahami dengan hanya membacanya satu kali. Untuk lebih memahami maksud setiap soal, saya sampai mencoba menelaahnya berulang-ulang. Mengerti maksudnya saja sudah menyita waktu yang banyak apalagi mengerjakannya. Durasi waktu yang disediakan sepertinya tidak seimbang dengan banyaknya soal yang harus dikerjakan seturut tingkat kesulitan yang tiada tara. 

Berdasarkan video yang ditayangkan panitia pada saat malam keakraban pasca lomba, selama lomba berlangsung, sebagian besar tampang peserta tidak menunjukkan wajah ceria. Nampak tegang dan terlihat sedikit stres. Berbagai tingkah lugu mereka dalam menghilangkan kebosanan masing-masing ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Seorang anak laki-laki berkaca mata tebal terlihat sedang mengucek-ngucek matanya yang sipit. Seorang lainnya, anak bertubuh agak tambun terlihat sedang menguap lebar. Seorang anak perempuan terlihat sedang asyik meniup-niup poni yang sering menghalangi matanya. Dalam tayangan beberapa kali tertangkap kamera, peserta lomba sedang bertopang dagu sambil menggigit ujung pulpen. Bagaimana dengan Lunar?Ahh..sayang sekali, Lunar hanya tampil di layar pada momen dia bersama teman-temannya berdiri di lapangan sekolah saat menanti lomba dimulai. 

Pasca lomba saya mencoba menanyakan Lunar perasaannya menghadapi soal-soal OSN. Dia terlihat lesu, tak ada senyum mengembang di bibir mungilnya. Saya sangat hapal dengan situasinya seperti ini. Saya merangkul Lunar erat-erat dan berbisik lirih padanya. "Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah mencobanya. Benar salah itu urusan nanti".

















Wednesday, August 22, 2018

Reuni itu Kan Kita Jelang

Di salah satu momen kita berkumpul
Dua puluh dua tahun bukan angka sedikit. Apalagi untuk mengukur durasi waktu lamanya kita tak bersua. Lebih dari dua dekade berlalu, saya masih merasakan keharuan itu. Perasaan semacam dicampuradukkan. Belum selesai kita bersorak gembira karena berhasil melewati ujian pamungkas EBTANAS bersama-sama sehingga pada saat membuka amplop kelulusan yang dibagikan guru dan dinyatakan lulus, langsung diperhadapkan pada situasi bahwa sebentar lagi kita akan berpisah. Dekat atau jauh dari pelupuk mata, sementara atau mungkin selamanya. Tak ada yang dapat menebak kapan momen kebersamaan itu akan berulang. Saya hanya dapat menduga bahwa ruang dan waktu tidak akan berpihak kepada kita untuk bertemu kembali secepatnya. Saya menjabat tangan bahkan mendekap tubuh kalian satu persatu. Saya merasakan pegangan dan pelukan kita lebih erat dari biasanya. Seperti sedang mengirim pesan kepada semesta bahwa agar momentum indah itu biarkan tetap terjaga. Bagi saya, walau hanya tiga tahun bersama kalian di SMPN Komodo, keakraban itu telah cukup untuk menciptakan sederet kenangan manis yang mustahil untuk dilupakan. Saya juga dapat memastikan bahwa tidak ada niat saya sama sekali untuk menghapus rangkaian kisah klasik kita di memori kepala saya. Kenangan indah bersama kalian tak pernah ada habisnya. Tak ada buku tebal yang memadai untuk menuliskan sejarah panjang bersama kalian. Sebab masing-masing dari kita mengambil bagian sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah yang akan bertutur berdasarkan pengalamannya sendiri. 
 
Di usia kini, Nampak masih gagah dan cantik
Dalam jarak yang terbentang, kerinduan untuk menjalin kembali silaturrahmi semakin menggila. Saya merasa tali persaudaraan yang sempat terputus harus segera kita rajut kembali. Menyusun kembali puzzle-puzzle yang sempat terhambur. Membentuk bangunan komunitas alumni tempat kita pulang bersama. Menumpahkan segala keluh kesahmu. Menyalurkan cerita yang belum usai.
Reuni mini di salah satu restoran sudut kota
Sahabat, saya sudah tidak sabar bernostalgia dengan masa lalu itu. Mendengar langsung kisah perjalanan hidupmu selama ini. Mengulik kembali lembar kenangan saat kita bersama dulu. Saat kita sekolah, dengan segala dinamikanya. Kau masih ingat, seluruh wajah guru dan sahabat kita? Bagaimana kabar mereka sekarang? Firasat saya, mereka juga senantiasa menanyakan hal itu pada dirinya. Olehnya itu, saya mengetuk sanubari kalian. Mari kita ciptakan waktu dan ruang khusus untuk berkumpul kembali. Kita bereuni dengan alasan pernah dilahirkan sama dari rahim SMPN Komodo. Saya sadar waktu dan jarak kalian belum seirama namun kalian perlu menyadari bahwa kebersamaan itu sangat penting adanya. Bukankah kata orang bijak menjalin kembali silaturrahmi dengan cara berkumpul bersama dapat meningkatkan rezeki?

Sahabat bantu saya mewujudkan mimpi itu...

Labuan Bajo, 27 Juli 2018