Friday, March 24, 2017

Keling dan Perjuangannya Mencari Cinta Sejati





Keling Menunjukkan Buku Nikahnya

Sejak ia sukses melafalkan qabul pada saat menerima ijab dari wali kekasihnya di depan Pak KUA, senyumnya terus mengembang. Setidaknya dua pesan yang ingin ia sampaikan kepada orang-orang yang sengaja hadir menjejali aula Kantor KUA. Pertama, ia lancar berikrar dan tidak menunjukkan perasaan gugup berlebihan pada saat menjawab ijab Pak KUA dan yang kedua, ia ingin menunjukkan bahwa anggapan orang selama ini kepadanya salah. Ia berhasil membalikkan fakta dirinyalah yang saat ini menjadi "raja sehari" bersanding gagah dengan gadis pujaan hatinya. 
 
***

Saya baru tahu kalau nama aslinya Fikri. Selama ini orang-orang sering memanggilnya Keling. Kelihatan memang tidak nyambung antara Fikri dan Kelling. Bahkan ditinjau dari sudut manapun kedua nama tersebut memang tidak saling bertautan. Namun itulah kenyataannya. Saya hanya bisa menduga kalau nama Keling mungkin terinspirasi dari iklan obat herbal merk Keling yang begitu fenomenal dahulu saat ia masih kecil. Obat ini efektif membantu meluruhkan batu oksalat (urine), memperlancar air seni dan menyembuhkan penyakit pinggang. Saya juga yakin orang tuanya pasti enggan memanggilnya Keling kalau saja mereka tahu bahwa Keling juga berarti panggilan kepada orang berpostur badan tinggi besar, berkulit hitam dan sering ditujukan kepada orang Tamil atau Afrika. Istilah keling seyogyanya harus digunakan hati-hati karena sesuatu yang sangat sensitif, bernuansa makian dan ofensif terhadap etnis tertentu. Tapi apapun itu, saat ini saya tidak akan membahas secara khusus asal-usul nama Keling. Saat ini, saya lebih tertarik membahas perjuangan Keling mencari sosok cinta sejati.

***

Ia lahir di akhir tahun 80-an di sebuah kampung nelayan Labuan Bajo. Terlahir normal dari rahim seorang ibu perkasa melalui bantuan tangan dingin langsung seorang nenek yang berprofesi sebagai seorang dukun bersalin. Pertumbuhannya sangat cepat. Terlihat dari postur tubuhnya yang bongsor. Perawakannya lebih tinggi dan lebih besar dibanding teman sebayanya. Di saat anak-anak sepantarannya tengah asik-asiknya bersekolah, ia justru memilih berhenti bersekolah. Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya sehingga ia nekat putus sekolah. Padahal kelas 1 SD saja ia belum lewati. Kedua orang tua susah payah merayunya untuk tetap bersekolah. Mereka sadar dengan kondisi Keling yang belum mahir mengenal huruf dan angka dikhawatirkan kelak akan membuat masa depannya suram. Bagaimana mungkin seorang yang buta huruf mampu bersaing dengan orang yang bertitel sarjana di tengah era teknologi modern saat ini. Standar rekrutisasi pegawai ataupun karyawan dari tahun ke tahun selalu meningkat. Kemajuan jaman niscaya akan menggilas orang-orang yang tak mampu bersaing karena tidak memiliki keahlian mumpuni. Naluri orang tua sering kali benar dan biarlah waktu yang akan membuktikannya.
Rupanya firasat orang tua Keling tidak meleset. Pekerjaan Keling remaja hingga dewasa hanya berkutat pada kekuatan otot. Menjadi tukang pikul dan bekerja serabutan sebagai buruh kasar. Maklum, fisiknya bongsor dan cukup kekar sehingga barang yang beratpun dengan enteng diangkatnya. Pekerjaan yang bersentuhan dengan baca tulis selalu dihindarinya. Ia tahu diri hanya angka nominal yang tertera di uang kertas dan petunjuk permainan di play station yang dihafalnya. 

Sebagai tukang pikul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo, jasanya kerap dimanfaatkan para pedagang ikan. Akhir-akhir ini Keling agak kesulitan melayani pelanggannya yang kian bertambah setiap hari sebab tukang pikul andalan lainnya beberapa bulan lalu telah meninggal dunia. Praktis Keling menguasai pasar angkat-mengangkat dan pindah-memindah barang di TPI setiap paginya. Meskipun demikian, ia tak pernah mematok tarif jasa pikulnya kepada orang-orang yang menggunakan jasanya. Ia tak pernah menolak ketika orang-orang membayarnya lebih dan sebaliknya ia tidak pernah protes ketika orang memberinya sedikit. Selepas bekerja pagi hari sebagai tukang pikul di TPI ia kemudian melanjutkan kerja serabutan di sekitar tempat tinggalnya. Sekali lagi kerjanya tidak jauh-jauh dari mengangkat dan memindahkan barang. Lumayan, penghasilan Keling cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri. Ia mampu membeli pakaian baru meskipun tidak dalam suasana hari lebaran. Jika masih surplus hasil jerih payahnya ia tabung sendiri. Bukan di bank konvensional tetapi disimpan di tempat yang sulit ditemukan orang lain di rumahnya. Keling tidak mau menyimpan uangnya di orang lain meskipun itu ibunya. Bukan bermaksud tidak percaya dengan ibunya tetapi ia tidak mau orang lain tahu berapa besar penghasilan yang disisihkannya saban hari dan berapa total keseluruhan tabungannya. Pada titik ini sayapun ikut heran dibuatnya. Meskipun tidak lama mengenyam pendidikan Keling tahu cara mengelola uang dengan baik. Merencanakan pengeluaran dengan hati-hati. Keling menggunakan uangnya secara hemat agar bisa ditabung sisanya. Harapannya tidak muluk-muluk. Jika sudah cukup ia ingin menikah. Merenda masa depan dengan berumah tangga. Sebuah harapan yang wajib diaminkan. 

Apa daya manusia hanya dapat merencanakan tetapi Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengabulkan. Keling telah berusaha untuk menjalin asmara dengan beberapa wanita. Jumlah wanita yang didekatinya hampir sama dengan yang menolaknya. Nasib Keling sungguh tragis. Namun tak ada istilah menyerah dalam kamus hidup Keling. Baginya, satu wanita yang menolak masih ada kemungkinan seribu wanita menerimanya. Orang-orang Kampung nelayan apatis dengan manuver Keling. Mereka merasa Keling bagai pungguk merindukan bulan. Keling tidak peduli. Toh, ditolak wanita bukan lagi hal baru baginya. Ia tidak larut dalam kesedihan yang lama. Cepat move on dan memulai jurus baru memikat wanita. Benar saja, Keling berhasil menaklukkan hati satu wanita. Kebetulan atau tidak bukan persoalan yang penting Keling sementara itu bahagia. Yah, hubungan mereka memang sementara saja sehingga kebahagiaan Keling pun hanya seketika. Keling cepat sadar kalau wanita itu tidak mencintainya dengan tulus. Wanita itu hanya mengincar uang Keling. Memperalat Keling untuk menuntaskan syahwat belanjanya. Untuk urusan mentraktir wanita belanja sesuatu, Keling lupa teori berhemat. Ia justru royal dan tanpa perhitungan. Alhasil uang yang susah payah dikumpulkan untuk menikah menguap begitu saja. Keling kembali jomblo untuk waktu yang cukup lama. Tak terhitung purnama ia dibekap sepi. Bukan Keling kalau ia surut dengan keadaan seperti ini.
Keling tetap semangat menatap masa depan. Baginya tak ada yang perlu ditangisi. Benteng ketegarannya masih tetap kokoh.
Melihat peluang untuk mendapatkan kekasih di kampung sendiri semakin tipis, Keling mengembara ke luar kota. Mula-mula ia berangkat ke Bima terus ke Lombok. Tidak berhasil disana ia merubah arah kembara. Kali ini tidak tangung-tanggung ia langsung ke Selayar Sulawesi Selatan. Setali tiga uang, nasibnya belum mengalami perubahan berarti. Masih berstatus lajang lapuk. Para wanita di rantau memiliki selera tinggi dan sepertinya sangat sulit dijangkau oleh Keling.
  
Keling bersama sang Istri Tercinta
Keling kembali ke Kampung Nelayan. Menata kembali piguranya yang retak. Masih dengan semangat membara. Saya harus mengakui daya juang Keling dalam mewujudkan harapannya. Saya merasa tidak banyak lelaki yang memiliki tekad keras seperti Keling. Jujur saya katakan, termasuk saya. Keling masih percaya bahwa Tuhan telah menciptakan seorang wanita dari tulang rusuk kanannya dan tidak sampai disitu ia justeru semakin yakin jodohnya itu sudah dekat. Keling telah berusaha sekuat tenaga bekerja keras, membanting tulang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bekal hidup berumah tangga. Ia juga sudah menempuh berbagai cara untuk menaklukkan hati wanita. Menebar pesona pada makhluk cantik keturunan hawa di muka bumi. Tapi jodoh belum juga menyapanya. Secara lahiriah perjuangan Keling sudah maksimal namun secara batiniah usahanya belum optimal. Sadar akan hal itu, Keling giat beribadah. Menangkupkan doa kiranya Tuhan memudahkan jodohnya. Pintanya hanya satu. Semoga Tuhan memberinya calon istri yang baik hati. Kategori cantik nomor sekian.

Foto Sala Udink.
Keling Memperlihatkan Jam Tangan yang Sama dengan Istrinya 
 
Ternyata Tuhan memang tidak tidur. Tuhan mendengar semua doanya. Keling dipertemukan dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik namun juga baik hati. Saya tidak tahu kisah kasih mereka bermula. Saya hanya tahu wanita itu serius dan tulus menerima Keling apa adanya. Sebagai bentuk keseriusan, wanita itu ikhlas mengikuti keyakinan Keling. Rapat singkat keluarga digelar untuk membicarakan seluruh tetek bengek pernikahan Keling. Disepakati pernikahan digelar sederhana. Panitia terbentuk dan bekerja penuh dedikasi. Seluruh administrasi pernikahan dilengkapi. Tenda terpasang sempurna. Pelaminan telah didekor dan kursi-kursi telah diatur rapi. Busana yang akan dikenakan Keling dan calon istrinya ketika menikah sudah siap. Tempat Keling melangsungkan ijab kabul memang di KUA Labuan Bajo tetapi yang banyak perubahan justeru rumah Keling. Setiap sudut rumah dihias sedemikian rupa agar dapat memanjakan mata para tamu yang datang. Keling komat-kamit merapal kalimat ijab kabul yang diajarkan Pak KUA. Kelihatan ia mau semuanya berjalan sempurna pada hari bersejarahnya nanti. Waktu terasa bergulir begitu lambat. Keling tidak sabar menyambut hari H pernikahannya. Keling mantap lahir bathin. 

Hari yang dinanti telah datang. Keluarga kecil, keluarga besar dan tetamu semua berbahagia. Mereka nampak gagah dan anggun mengenakan busana pesta andalan. Tidak terkecuali Keling dan calon isterinya. Tampilan mereka membuat kita berdecak kagum. Mereka telah menjelma menjadi raja dan permaisuri sehari.
Keling telah menikah, statusnya juga berubah. Kini ia resmi menyandang status sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Orang-orang yang telah mengacuhkannya selama ini diam seribu basa. Keling berhasil membungkam apatisme mereka dengan bukti buku nikah dari KUA Labuan Bajo. Angin kapal sekarang berbalik dari arah buritan. Menghempas orang-orang gagah, mapan dan berpendidikan namun belum juga menikah. Mereka dibully habis-habisan di dunia nyata dan lebih-lebih di dunia maya sampai mati kutu. Pada titik ini saya berharap mereka yang masih jomblo perlu banyak berguru pada seseorang yang bernama KELING. Untuk Keling, selamat menempuh hidup baru semoga SAMAWA...

Kampung Air..Labuan Bajo, 15 Maret 2017

Saturday, March 18, 2017

Bukan Mimpi yang Terbeli




Hasil gambar untuk pns
Ilustrasi: ada Kayung di antara mereka
    
Namanya Kayung, bukan nama aslinya tapi begitulah ia sering dipanggil. Sebenarnya nama resmi yang disematkan padanya oleh orang tua di dokumen administrasi kependudukan adalah Makrun. Seorang anak yang meski lahir di tengah kemiskinan kampung nelayan namun tetap tumbuh dengan belai kasih maksimal dari kedua orang tuanya. Kehidupan masa kecilnya tak ada yang istimewa. Semua dilakukan seperti umumnya anak kebanyakan. Bermain, mengaji dan sekolah. Untuk urusan sekolah, prestasinya pun biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dibanggakan. Eits, tunggu dulu, itu menurut kita. Menurut orang tua Kayung tidak. Mereka menganggap anaknya bersekolah saja itu sebuah kejutan. Menilai itu sebuah jawaban nyata dari doa yang tak putus-putus dipanjatkan ke Sang Khalik. Bagaimana mungkin ia tidak patut berbangga hati, anaknya masih tetap bersekolah sementara teman-teman Kayung sudah banyak yang putus sekolah. Saat itu, diakui memang minat anak-anak untuk bersekolah masih sangat rendah dan parahnya lagi didukung oleh pikiran sesat para orang tua yang lebih memilih anak-anaknya agar secepat mungkin terjun ke laut, menjadi nelayan meneruskan tradisi keluarga. Padahal kehidupan ekonomi masyarakat kampung nelayan kala itu tidak sedikit yang dikategorikan mampu atau kaya. Sehingga biaya sekolah bukanlah sebuah alasan yang masuk akal untuk tidak meneruskan pendidikan anak.








Hasil gambar untuk pns
Ilustrasi: Kayung Berdoa






















Seperti kebanyakan anak-anak pantai, ia tak pernah punya cita-cita tinggi. Mungkin ia tahu bahwa cita-cita adalah sebuah mimpi yang dipaksakan. Bukan pesimis tapi ia sadar ia berasal dari keluarga kurang mampu. Bapaknya hanyalah seorang nelayan miskin. Melaut dan menangkap ikan dengan menumpang perahu orang lain. Hasil tangkapan tidak seberapa karena harus dibagi banyak kepada pemilik perahu. Pemilik perahu mendapat bagian lebih. Untuk perahunya, untuk mesin perahu dan dirinya sendiri. Sementara bapaknya memperoleh sisanya. Itupun masih harus dibagi lagi dengan rekan kerja yang lain yang sama-sama berstatus sebagai anak buah. Berniat meringankan beban hidup keluarga, ibunya bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sebuah pilihan hidup yang rumit antara membagi waktu untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Mengandalkan penghasilan orang tuanya yang tak seberapa itu justeru semakin meyakinkannya bahwa cita-cita adalah beban masa depannya. Meskipun demikian, diam-diam orang tuanya berikrar dalam hati. "Nasib anakku harus lebih baik dari nasib kami sekarang".

***


Orang tua Kayung memang luar biasa. Pikirannya jauh ke depan. Ibarat orang main catur, ia sudah memikirkan beberapa langkah berikutnya sebelum melangkahkan bidak caturnya sekarang. Tidak sampai di situ, ia dengan percaya diri meyakini bahwa langkah yang dipilihnya akan berbuah kemenangan dengan raja lawan mati di kotak sudut. Meskipun orang tua Kayung dihimpit beban ekonomi, mereka tidak pernah menyerah untuk memberi hal yang terbaik untuk anaknya, termasuk terus menyemangati anaknya untuk terus bersekolah. Bapak Kayung menyadari, nasibnya sekarang menjadi nelayan itu karena kesalahannya dahulu yang memang tidak mau bersekolah. Oleh karena itu, ia bersikeras apapun yang terjadi ia tidak mau anaknya Kayung kelak menjadi nelayan mengikuti jejaknya. Biarlah menjadi nelayan cukup diwariskan kepada anak-anak kampung nelayan lainnya. Orang tua Kayung rupanya telah mengadopsi strategi Pemerintah Jepang untuk membangun kembali negaranya pasca bom atom meluluhlantakkan dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki dengan membangun sumber daya manusianya. Pemerintah Jepang tahu mustahil mengelola sumber daya alam dalam waktu dekat di tengah kota yang terpapar radiasi bom atom yang parah. Satu-satunya pilihan adalah dengan mengirim anak mudanya bersekolah jauh ke luar negeri. Hasilnya kita lihat sendiri. Jepang kini telah menjadi kiblat kemajuan teknologi bagi negara lain. Orang tua Kayung telah memilih investasi bisnis jangka panjang yang menguntungkan.

Tekad itu terjaga dengan baik hingga tak terasa Kayung dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Teman sepermainan Kayung semasa kecil sudah banyak yang menikah bahkan ada yang kini telah memiliki anak seumuran anak SMP. Teman Kayung tak ada yang berpendidikan tinggi. Terhitung jari yang menamatkan pendidikan jenjang SMA. Kebanyakan drop out di SMP dan SD. Di masyarakat, Kayung tampil bersahaja dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya. Orang tua Kayung tak pernah jumawa dengan keadaan sekarang. Bapaknya masih saja melaut meski kali ini nasibnya lumayan baik karena telah memiliki perahu sendiri. Perahu bekas yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya selama ini hingga uangnya cukup untuk membeli perahu.
Bak gayung bersambut, pasca diwisuda Kayung tidak lama menganggur. Dalam satu kesempatan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil ia langsung dinyatakan lulus dan diterima kerja menjadi PNS. Tidak tanggung-tanggung Kayung merupakan warga kampung nelayan pertama yang berhasil menjadi PNS. Seluruh warga kampung nelayan tercerahkan. Para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah. Anak laki-laki kampung nelayan tidak lagi berminat menjadi nelayan. Sedangkan anak perempuan langsung menolak ketika orang tuanya menyuruh mereka menikah. Kultur kampung nelayan terus berubah seiring keberhasilan Kayung menduduki jabatan tertentu di pemerintahan meskipun masih di level eselon IV. Hampir tak terdengar lagi anak-anak kampung nelayan yang putus sekolah. Bahkan anak remaja sudah banyak yang sengaja meninggalkan kampung nelayan semata-mata pergi untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Efek Kayung membuat anak-anak terobsesi mengikuti jejaknya. Bagi orang tua kampung nelayan lainnya, Kayung sering dijadikan kiblat keberhasilan mendidik anak.
Mengetahui dirinya obyek percontohan, Kayung merasa biasa-biasa saja. Ia justeru bersyukur orang-orang terinspirasi terhadap perjuangan orang tuanya.
Maka dengan sendirinya dapat meningkatkan harkat dan martabat orang tuanya. Kayung tahu apa yang diraihnya hari ini adalah benih yang ditanam orang tuanya sejak dahulu. Kerja keras yang diramu dengan kesabaran dan untaian doa orang tuanya, menjadikan Kayung menapak kesuksesan. Bahwa hasil tak pernah mengingkari niat dan proses. 



Kampung Nelayan Kayung


Namun, karir Kayung di pemerintahan tak selamanya mulus. Sudah tiga kali acara pelantikan digelar namanya tak pernah disebutkan. Jabatannya masih sama seperti tujuh tahun lalu. Seorang teman Kayung pernah menanyakan kepadanya bagaimana perasaan Kayung sampai saat ini belum dipromosi ke jabatan yang lebih tinggi. Dengan wibawa ia berujar panjang "Saya tetap bersyukur atas jabatan yang masih diamanatkan kepada saya. Terus terang, saya tidak punya ambisi sama sekali terhadap jabatan tinggi. Bagi saya Tuhan telah memberi bonus rezeki yang tiada tara kepada saya. Menjadi sarjana apalagi menjadi PNS itu sudah luar biasa sebab di satu sisi saya cukup beruntung dibanding teman-teman saya yang tidak bisa kuliah bahkan sekolah. Jadi untuk urusan karir di pemerintahan, saya mengalir seperti air saja". Teman Kayung masih bertanya. "Mengapa tidak mencoba mendatangi Bupati untuk minta naik jabatan". Kayung menjawab singkat. "Itu bukan karakter saya dan juga saya tahu diri, nenek moyang saya hanyalah seorang pelaut. Apa yang saya capai sekarang bukanlah mimpi yang terbeli".

Labuan Bajo,16 Maret 2017

Monday, March 6, 2017

Biar dari Kampung Asal Tidak Kampungan

Kalau sebelumnya tak pernah menginjakkan kaki di kota besar sebaiknya ketika ke sana berangkatlah bersama orang yang sudah berpengalaman. Sudah begitu, kita harus manut dengan nasehatnya. Jangan sekali-kali menyalahi pesan hati-hati yang diucapkan. Karena kehidupan di kota jauh berbeda dengan di kampung. Di kampung,  rasa kekeluargaannya masih sangat dijunjung tinggi. Sebaliknya, di kota nilai-nilai itu telah lama runtuh. Orang-orang kota tumbuh menjadi lebih individualis. Mereka lebih mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Oleh karena itu, saat pertama kali ke kota besar biarlah untuk sementara menjadi "kambing congek" dari teman yang menemani. Bisa jadi, kalau lalai akan menjadi salah satu sasaran korban kejahatan dari kerasnya kehidupan kota.

***
Untuk kesekian kalinya, saya berangkat ke Jakarta. Ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka Identifikasi dan Inventarisasi Pulau yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri bertempat di Hotel All Season Jakarta tepatnya di daerah bilangan Jakarta Pusat. Ternyata tugas luar daerah kali ini saya tidak sendirian. Atasan juga memerintahan teman saya untuk sama-sama ke Jakarta. Saya senang karena ada teman yang bisa diajak ngobrol selama di perjalanan dan selama melaksanakan tugas. Bagi saya pergi bersama-sama ke luar daerah memberi keuntungan tersendiri karena banyak pengeluaran yang semestinya dibayar sendiri kini dapat dihemat hingga maksimal 50 persen. Misalnya saja sewa taksi dari bandara ke hotel atau sebaliknya dibayar kongsi/patungan. Sewa akomodasi atau hotel penginapan yang pembayarannya ditanggung berdua.

***
Tak terasa waktu tempuh Labuan Bajo-Jakarta menggunakan pesawat garuda selama 2 jam dilalui. Semua nampak seperti biasa. Termasuk kondisi teman saya yang dari awal menjaga jarak dengan saya. Penampilannya memang sedikit kontras. Mungkin dibenaknya mau mengikuti cara traveller berpetualang. Celana jeans pendek dipadupadankan dengan kaos lengan pendek yang ditutupi jaket mirip seperti yang biasa dikenakan para atlet PON. Bersepatu kulit dengan kaos kaki sebetis. Topi re'a bergambar komodo (peci dengan ornamen khas Manggarai) tak pernah lepas dari kepalanya. Belakangan saya tahu kalau dia sengaja mengenakan topi re'a karena ingin menunjukkan kecintaannya pada kampung halamannya. Penampilan nyentriknya dilengkapi dengan tas samping yang disampir di bahunya.
Di dalam taksi yang kami tumpangi dari bandara menuju hotel, iseng-iseng saya bertanya pada teman saya ini. "Om sudah pernah ke Jakarta sebelumnya kah?" Mungkin pertanyaan saya terlalu menohok sehingga ia langsung merespon dengan menjawab "oh saya sudah sering kesini". Jawaban yang membuat saya sedikit lega. Sebab meskipun saya belum begitu menguasai seluk beluk kota Jakarta, saya tetap enggan menjadi tour guide baginya. Urusan kantor ke Jakarta mungkin sama tetapi tidak untuk urusan pribadi. Jauh hari saya sudah menjadwalkan waktu untuk menemui sanak keluarga yang ada di kota ini. Tentu setelah semua urusan kantor rampung.
Ketika taksi yang kami tumpangi melaju keluar tol menuju arah dalam kota dan bergabung bersama riuh dan deru kendaraan umum lainnya, teman saya nyeletuk ketika melihat di sekitar kami banyak berseliweran kendaraan roda tiga berwarna biru. "Kalau kita naik kendaraan lagi sekali-kali naik mobil yang berwarna biru itu, sepertinya perlu dicoba bagaimana rasanya". Pertanyaan tiba-tiba muncul di benak saya. "Mungkinkah seseorang yang sering ke Jakarta tidak mengenal yang namanya bajaj?" Pertanyaan itu menguap di dalam hati.
Rasa penasaran teman saya untuk mencoba bagaimana rasanya mengendarai kendaraan yang awal mulanya diimpor dari India ini akhirnya terjawab. Momen berharga itu ada saat di satu kesempatan saya mengajaknya pergi ke kantor Kemendagri. Saya melihatnya sangat takjub. Memanfaatkan momentum di dalam bajaj untuk berselfie ria. Untuk kesekian kali saya melihatnya bergaya kampungan. Berulang kali saya menasehatinya agar berlaku biasa saja. Tidak norak yang dapat memancing perhatian orang. Betul saja, saat kami pulang ke hotel dengan menumpang bajaj kembali, telepon genggam yang baru dibelinya di kampung sebelum berangkat ke Jakarta dijambret pengendara motor. Bagaimana tidak, sepanjang jalan dia terlihat sibuk merekam segala sesuatu dengan hp miliknya yang dipegang dengan posisi tangan kiri berada di luar jendela bajaj. Saya yakin Penjambret itu sudah dari tadi mengincar kelengahannya. Sopir bajaj mencoba mengejar namun apa daya laju sepeda motor di keramaian lebih lincah daripada bajaj. Penjambret mengendarai motor meliuk-liuk di sela-sela kendaraan yang ramai sebelum hilang di tikungan. Saya hanya bisa membesarkan hatinya bahwa "untung" yang digondol hanyalah sebuah telepon genggam bukan nyawa kami.
Sesungguhnya saya turut andil atas musibah yang dia alami. Ya, saya merasa seharusnya saya tidak bosan mengingatkannya agar selalu berhati-hati. Seharusnya "musibah" yang mendekapnya bisa dibatalkan apabila saya turun tangan menghentikan kecerobohannya. Hebatnya dia lekas mengikhlaskan yang terjadi barusan.
Setiap musibah tentu memberi hikmah. Untuk hal ini saya berharap dia memetik pelajaran pertama dari kejadian naas yang menimpanya.
Rupanya harapan saya berujung sia-sia. Di hari yang sama namun di waktu yang berbeda, takdir teman saya masih juga dirundung sial. Lagi-lagi ia menjadi objek penderitaan. Menjadi sasaran penipuan berkedok undian berhadiah di Passer Baroe. Ia dengan mudah mempercayai sales promotion girl (SPG) ketika menawarkan sesuatu kepadanya. Terperdaya bujukan maut SPG sindikat kejahatan yang mengenakan pakaian minim, sadar atau tidak, ia mau saja membeli barang yang konon katanya didiskon fantastis karena teman saya mendapatkan undian berhadiah yang kemasannya nampak bersegel. Bisa-bisanya ia menyempatkan diri ke ATM untuk mengambil uang demi melakukan transaksi "aneh" itu. Saya tahu ia tak memegang banyak uang cash, sebab sebelum ia terjebak dengan kondisi itu, ia masih sempat meminjam uang saya saat akan ke TKP. Sekali lagi, sebenarnya bisa saja dia luput dari aksi penipuan itu kalau saja dia mau sedikit sabar mendengarkan larangan saya kepadanya. Begini ceritanya. Saat dia mulai terperdaya dengan bualan SPG, dia masih sempat menelpon saya menanyakan ikhwal yang terjadi. Reflek saya memintanya untuk segera menghindar dari lokasi dia berada. Saya bahkan sampai berteriak memintanya untuk langsung kembali ke hotel tempat kami menginap. Dasar sudah takdirnya kembali naas, ia justru meyakinkan saya di ujung telpon bahwa apa yang dia alami adalah sebuah keberuntungan. Saya dapat menangkap kesan seolah-olah dewi fortuna bersemayam di dirinya. Dia merasa sebagai sosok manusia pilihan yang mendapat perlakuan istimewa. Apa mau dikata. Pada situasi seperti ini tidak mungkin saya menyambanginya. Itu sama saja saya menabuh genderang perang kepada para sindikat itu karena dengan sengaja telah merusak skenario jahat mereka. Bagaimana murkanya mereka terhadap saya bila ikan yang sudah masuk dalam jaring mereka lantas tiba-tiba saya lepaskan. Biarlah untuk hal ini saya dibilang pengecut dan tidak solider. 

***
Bepergian jauh, merantau, berpetualang, menjelajah, melanglang buana atau apapun namanya, selama kita menjejakkan kaki di kota besar yang nota bene baru pertama kalinya kita datangi, bertindaklah biasa saja, tidak sok dan tiba-tiba menjadi serba tahu dan tidak asing namun tetap ekstra hati-hati menghadapi karakter orang kota yang majemuk. Bila pergi bersama orang berpengalaman, hilangkan keegoisan sementara dan takzim mendengar nasehatnya. Bisa jadi pengalaman dia di kota besar menjadi pelajaran berarti yang menuntun kita selamat dan nyaman di perjalanan selanjutnya. Persetan orang bilang kita berasal dari kampung asalkan tindakan kita sama sekali tidak kampungan selama berada di kota besar. Apalagi sekelas Jakarta. Ini ibukota negara bung!!!

Labuan Bajo, 25 Februari 2017

Friday, March 3, 2017

PNS= Pegawai Ngangkut Sampah

Ada-ada saja kebijakan yang diambil Pemerintah Daerah untuk mengatasi permasalahan sampah di daerah ini. Kebijakan yang bila dicermati secara mendalam menunjukkan kecenderungan sikap panik Pemerintah Daerah dalam menyikapi realitas bahwa salah satu permasalahan utama daerah ini adalah masih bertebarannya sampah di mana-mana. Kebijakan tidak popular yang digunakan untuk mengatasi permasalahan sampah yang tidak kunjung tuntas adalah dengan menggerakkan PNS untuk memungut dan membersihkan sampah di pinggir jalan selokan, drainase, sungai dan pantai sekalipun. Kebijakan yang dinilai tidak efektif sekaligus kontradiksi dengan semangat menciptakan PNS yang produktif dan profesional. 

***
Boleh-boleh saja jika PNS ditugaskan memungut sampah dan membersihkan lingkungan. Toh, bukankah seorang PNS telah bersumpah saat memulai karir menjadi PNS untuk siap ditempatkan di mana saja, mungkin termasuk merangkap tugas sebagai cleaning service atau setidak-tidaknya menjadi "pasukan orange" yang bertugas membersihkan jalan-jalan, pasar, selokan, sungai dan pantai. PNS Dituntut untuk bisa mengemban tugas sebagai petugas kebersihan seraya memberikan teladan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. PNS harus mampu mengkampanyekan kepada masyarakat gerakan membuang sampah pada tempatnya. Namun,  mobilisasi PNS untuk membersihkan sampah menjadi tidak efektif manakala hal ini dijadikan sebuah kegiatan rutin. Sedikit-sedikit PNS disuruh membersihkan area publik. Jika kegiatan ini terus dilaksanakan, dikhawatirkan justru membuat masyarakat semakin malas dan tidak respek terhadap kebersihan karena dalam otak mereka telah tersistem kalimat pembantah yang berbunyi "tidak apa membuang sampah sembarangan karena ada PNS yang akan membersihkannya nanti". Hampir setiap hari Jum'at pagi atau setiap menjelang even penting yang dilaksanakan Pemda PNS digerakkan untuk kerja bakti. Meninggalkan tugas kantor yang menumpuk serta menunda melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan hanya dengan alasan PNS masih sibuk bergelut dengan sampah di lapangan. Pada titik ini, Bupati rupaya berada pada sebuah dilema besar: Meningkatkan kinerja PNS dengan memacu kerja keras, disiplin dan tanggung jawab di bidangnya atau sekedar bekerja mengikuti perintah atasan yang sesungguhnya tidak relevan dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). 

Kalau mau bijak, sesungguhnya masih banyak alternatif solusi lain yang bisa diambil untuk mengatasi masalah sampah tanpa harus menerjunkan PNS. Paling tidak kita dapat bercermin dari daerah lain yang tiap tahun langganan memperoleh piala adipura atas keberhasilan menjaga kebersihan kota. Nampak jelas terlihat bahwa tak sekalipun PNS disana yang intens turun tangan membersihkan lingkungan. PNS difokuskan untuk bekerja sesuai tupoksinya. PNS dituntut harus bekerja profesional dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing karena penilaian atas kinerja seluruhnya terukur. Dewasa ini paradigma penilaian kinerja PNS bukan lagi berbasis anggaran tapi telah bergeser berbasis kinerja. 

Strategi daerah lain dalam mengatasi sampah perlu kiranya diadopsi  mengingat sampah sangat identik dengan penyakit dan merupakan musuh utama dari kebersihan dan keindahan. Dalam konteks daerah ini, mustahil kita optimal mengembangkan sektor pariwisata sementara di sisi lain daerah ini tidak mampu mengatasi permasalahan sampah minimal meningkatkan rasio jumlah sampah yang ditangani dibanding jumlah produksi sampah masyarakat. 

Manajemen persampahan di daerah peraih adipura merubah persepsi berpikir kebanyakan yang tidak lagi menganggap sampah sebagai ancaman tetapi sebuah tantangan bahkan peluang. Kebijakan mengatasi sampah konsisten ditegakkan dari hulu ke hilir. Perda sampah betul-betul ditegakkan. Diikuti dengan kebijakan anggaran yang tidak setengah-setengah. Sarana dan prasarana persampahan diprioritaskan memadai. Memberdayakan peran RT/RW, Kepala Desa/Lurah untuk menggalakkan masyarakat agar terbiasa kerja bakti dan gotong royong membersihkan lingkungan, tentu dengan insentif yang relatif cukup. Merekrut petugas kebersihan yang berdedikasi tinggi. Menggandeng LSM pecinta lingkungan agar bersama rumah tangga melakukan inovasi pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga menjadi produk daur ulang yang bermanfaat dan bernilai ekonomis tinggi. Mendorong berdirinya bank sampah dan koperasi sampah di tengah masyarakat. 
***
Kewenangan teknis menjaga kebersihan kota sekaligus mengatasi permasalahan sampah menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup. Dalam konteks daerah ini, seharusnya Bupati berani mengevaluasi kinerja Dinas tersebut setiap saat dan tidak ragu untuk memberikan reward and punishment. Reward diberikan manakala sampah tidak lagi menjadi masalah daerah dan tidak segan menjatuhkan punishment manakala sampah masih "menghiasi" kota. Pada titik ini saya berpikir, jika daerah lain dengan mudahnya mengatasi permasalahan sampah tanpa terlihat menurunkan kekuatan penuh PNS untuk membersihkan lingkungan, mengapa daerah ini masih saja mengandalkan PNS berdiri di garda terdepan membersihkan kota dari sampah. Atau jangan-jangan PNS itu akronim dari Pegawai Ngangkut Sampah? Mungkin saja..Hehe....
Labuan Bajo, 20 Februari 2017