Monday, April 17, 2017

Setelah Membaca Buku Bunda Ana


Semula saya tidak pernah tertarik membaca buku insiratif, buku tips sukses dan buku psikologi pupuler. Bagi saya membaca buku semacam itu sungguh membosankan. Saya tidak pernah merasakan “kenikmatan” saat membaca buku-buku tersebut. Beda halnya dengan membaca buku non fiksi bertema lainnya seperti ekonomi, politik, sosial maupun agama, saya masih dapat menikmatinya. Untuk urusan membaca buku, saya paling suka membaca buku fiksi seperti novel dan komik. Sehingga wajar saja dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, yang paling banyak memenuhi rak buku saya justeru novel dan komik. Kemudian disusul buku bertema agama, ekonomi, dan politik. Satu-satunya buku psikologi yang saya miliki adalah buku “tes psikologi”. Buku ini sengaja saya beli beberapa saat setelah diwisuda. Buku ini berisi kisi-kisi dan tips menghadapi tes psikologi dan tes wawancara saat akan melamar kerja di perusahaan.

***

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat undangan dari seorang sahabat untuk menghadiri pembukaan seminar parenting dengan tema “Menjadi Orang Tua Efektif: Mengasuh Anak Sesuai dengan Potensi Genetiknya”. Seminar yang dibawakan oleh Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi,M.Si. Seorang psikolog pendidikan yang sudah malah melintang di kancah permotivasian. Jujur saja, awalnya saya memutuskan untuk menghadiri acara pembukaan ini bukan karena terkesima dengan narasumbernya yang bergelar "Doktor" namun karena semata-mata ingin menghargai undangan sahabat saya ini yang kebetulan bertindak sebagai Ketua Panitia kegiatan seminar. 

Undangan Seminar
Meski acara pembukaan tidak sempat dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat –hanya diwakilkan oleh Camat Komodo- undangan yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat cukup banyak yang hadir, menunjukkan mereka begitu antusias mengikuti acara pembukaan seminar ini. Di tengah acara berlangsung, narasumber seminar yang biasa akrab disapa Bunda Ana ini membagikan cenderamata secara simbolis kepada beberapa orang yang telah dipiih khusus oleh Panitia berupa buku karya terbaru dari sang bunda berjudul “Menjadi Orang Tua”.

Camat Komodo Membuka Seminar Parenting
Melihat cover buku dengan desain menarik, sedikit membuat saya terpikat. Saya betul-betul merasa penasaran terhadap isi buku tersebut saat ekor mata saya tidak sengaja membaca sub judul buku yang sedang dipegang oleh seorang bapak yang barusan menerima buku tersebut di atas panggung. Di sana tertulis kalimat inspiratif “Tidak Ada Kesempatan Kedua dalam Mengasuh Anak”. Sebuah kalimat pembangun jiwa yang membuat saya mantap harus bisa segera memiliki buku itu. Untuk sementara saya melupakan adagium “jangan melihat buku dari sampulnya”. 

Di akhir acara pembukaan seminar, saya menyempatkan diri membeli buku tersebut dengan harga yang relatif murah. Saya tidak pernah merasa rugi membeli sebuah buku sepanjang buku tersebut berkualitas. Di tahap ini, saya ingin segera larut membacanya, menyelami isinya, menimba ilmu yang ada di dalamnya dan menerapkan maknanya dalam kehidupan keluarga kecil saya.
Buku Karya Bunda Ana
Buku itu tidak terlalu tebal sehingga terkesan tidak menjemukan ketika memulai membacanya. Membaca sekilas buku ini kelihatan menarik. Betul saja, dalam mukaddimah, kurang lebih dua puluh halaman berisi testimoni 24 orang yang memberi apresiasi pada buku ini. Setelah larut membaca beberapa halaman pertama, saya lantas bisa mengambil kesimpulan bahwa materi buku ini terbilang ringan. Mudah dicerna dan dipahami karena Bunda Ana sengaja menggunakan bahasa sederhana untuk memudahkan proses transfer pengetahuan kepada para orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. 

Buku ini tidak sekadar berisi teori yang lahir dari sebuah hipotesa bagaimana mengasuh anak yang baik tetapi juga berangkat dari fakta dan pengalaman nyata Bunda Ana dalam mengasuh ketiga anaknya. Di sini Bunda Ana tidak hanya “omdo” (omong doang) tetapi menawarkan solusi mengasuh anak yang efektif dengan mengkombinasikan aspek teoritis dengan pengalaman pribadi hasil pendekatan interaksi intensif dengan ketiga anaknya sekaligus dengan lingkungannya.

Saya membaca buku ini hingga tuntas selama tiga hari. Terlalu lama untuk ukuran buku berhalaman kurang lebih 200 halaman. Apalagi besar huruf yang digunakan relatif besar. Belum lagi pada setiap bab disisipkan motto dari beberapa tokoh dunia terkenal yang dicetak dengan huruf cukup besar pula. Saya biasanya mampu melahap membaca novel setebal kitab suci dalam tempo dua hari. Itupun tidak terus-menerus bergumul dengan novel tersebut dari pagi hingga malam hari. Bahkan saya sering mengkhatam habis satu buah novel tebal dalam perjalanan udara dari Kupang-Labuan Bajo, atau sebaliknya yang hanya ditempuh waktu kurang lebih dua jam.

Waktu membaca buku Bunda Ana terbilang lama karena dalam setiap bab saya perlu merefleksikan kembali apa yang saya baca dan saya pahami terkait metode pengasuhan anak yang efektif dengan metode yang selama ini saya dan isteri saya terapkan dalam mengasuh anak kami. Untuk beberapa kasus, sebagai orang tua kami merasa metode pengasuhan anak yang selama ini kami terapkan sepertinya keliru.

Bunda Ana menyampaikan Materi Parenting
Anak adalah mutiara titipan Tuhan, sebagai anugerah sekaligus amanah. Oleh karenanya orang tua bertanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani serta kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi diri sendiri dan sesama. Peran yang dijalankan orang tua ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemberi Hidup.

Benar kata Bunda Ana, yang telah mengutip pendapat Virginia Satir, seorang penulis dan psikoteraphis dari Amerika yang dikenal luas sebagai “Ibu dari Terapi Keluarga” bahwa mengasuh anak bukanlah tugas yang mudah bahkan dapat dikatakan pekerjaan paling rumit. Setiap orang tua mungkin merasa telah melakukan yang terbaik demi anaknya, namun terkadang hasilnya berujung kurang bahagia –kalau tidak mau dikatakan tidak bahagia-. 

Untuk itu menjadi penting bagi orang tua untuk mengenal potensi anak, kemudian diasah dan dikembangkan dengan benar, maka keberhasilan sekaligus kebahagiaan hidup anak adalah sebuah keniscayaan. Mengasuh anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya akan membuat anak menjalani kehidupan dengan suka cita, sebaliknya orang tua merasa nyaman dan tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang tua idaman keluarga.

Potensi yang dimiliki anak layaknya sebuah pisau. Kelebihan berada pada sisi pisau yang tajam, sebaliknya kekurangan anak adalah sisi pisau yang tumpul dan mengarah ke atas. Orang tua harus cermat melihat kelebihan dan kekurangan anaknya. Kelebihan anak semestinya akan selalu diasah dan ditumbuhkembangkan hingga menjadi kekuatan anak. Sebaliknya kekurangan yang ada  pada diri anak tidak lantas membuat anak menjadi apatis, introver dan eksklusif.

Pola pengasuhan yang tidak mendikte anak untuk menjadi seseorang menurut kemauan orang tua atau sekadar mengikuti tren yang sedang berlangsung. Tidak juga menambah beban anak untuk menutupi kegagalan orang tua pada masa lalu. Di sini peran orang tua harus mampu berlaku adil. Memposisikan anak sesuai masanya karena setiap generasi memang memiliki masa dan tantangannya sendiri. Saya menggarisbawahi dengan dua garis bawah kalimat inspiratif dalam buku Bunda Ana “orang tua pernah menjadi anak-anak sedangkan anak-anak belum pernah menjadi orang tua, sehingga orang tualah yang harus menyesuaikan dengan kehidupan anak-anak”. 

Di bagian lain buku ini, Bunda Ana mengulas dengan runtut bagaimana berlaku sebagai orang tua yang bijak. Sebab seluruh tutur kata, sikap dan perbuatan orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Pada tahap ini, wajar ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan orang tua. Orang tua dituntut harus pandai menjadi teman sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Keterbukaan menjadi kata kunci di tengah komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak. Komunikasi yang disampaikan dengan jujur dan dituturkan dengan bahasa yang halus dan sopan diyakini akan memperkuat ikatan bathin antar keduanya.

Buku karya Bunda Ana, merupakan satu dari sekian buku psikologi popular cara mengasuh anak yang tersebar banyak di toko buku, selayaknya menjadi koleksi berharga bagi orang tua, baik yang telah lama berumah tangga, belum lama maupun yang akan berumah tangga. Karena dalam buku tersurat dan tersirat bagaimana memperlakukan anak agar anak tidak saja menjadi perhiasan tetapi juga penyejuk mata dan penenang jiwa orang tuanya.

Sebagai orang tua dari empat orang anak yang masih kecil, saya merasa buku Bunda Ana ibarat peta yang sangat membantu saya dalam menuntun biduk rumah tangga khususnya dalam hal mengasuh anak, bergerak ke arah mana nantinya. Belum terlambat kiranya apabila arah yang saya tuju kini meleset dari sasaran untuk selanjutnya memutar kemudi berbalik haluan. Sebab jauh di lubuk hati yang paling dalam saya berharap agar keempat anak saya dapat menjadi penyejuk hati dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat. Amiin

Terakhir, saya sedikit memberi saran kepada Bunda Ana agar pada edisi berikutnya buku ini disempurnakan lagi karena ada hal yang sifatnya memang bukan prinsipil namun sangat mengganggu saya sebagai pembaca dalam membaca. Maaf, terkesan banyak penggunaan tanda baca dan penulisan huruf yang salah yang sepertinya luput dari mata editor. Sukses selalu Bunda..Terima kasih..

Labuan Bajo, 18 April 2017





No comments:

Post a Comment