Air
adalah sumber kehidupan. Sejak awal kehidupan seluruh makhluk hidup terutama
manusia sangat bergantung pada ketersediaan air demi menjaga kelangsungan hidupnya.
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi di samping
energi dan bahan pangan. Tanpa ketiganya manusia tidak akan bisa hidup dengan
layak. Air yang dibutuhkan selain tawar juga harus bersih dan layak dikonsumsi. Terkadang, kondisi ini tidak berlaku bagi warga di kepulauan. Di tengah apatisme,
saat ini mereka hanya menuntut tersedianya air tawar. Bersih dan layak dikonsumsi
menjadi urusan kemudian.
![]() |
| Ilustrasi: Krisis Air Tawar di Kepulauan |
Krisis
air tawar di pulau-pulau kecil berpenghuni maupun tidak berpenghuni yang masuk
dalam wilayah laut Kabupaten Manggarai Barat telah menjadi permasalahan klasik
yang tak kunjung diselesaikan secara sistemik. Air tawar telah menjadi sesuatu
yang langka dan bernilai ekonomi tinggi. Bagaimana tidak, di tengah kondisi
ekonomi warga kepulauan yang relatif rendah, mereka dituntut harus bisa membagi
pengeluaran sehari-hari antara memenuhi kebutuhan dasar lainnya dan kebutuhan untuk membeli
air tawar. Harga air tawar di pulau-pulau menjadi lebih mahal karena harus
dipasok dari Labuan Bajo (kota kabupaten) menggunakan perahu nelayan. Bisa
dibayangkan biaya yang dikeluarkan sekadar untuk mendatangkan se-jerigen, se-ember
atau se-drum air tawar ke pulau. Saat laut tidak bersahabat, dimana ombak
tinggi menghalangi pelayaran ke Labuan Bajo, membuat krisis air tawar di
kepulauan berada pada titik nadir. Begitu sulitnya memperoleh air tawar, warga
di kepulauan terpaksa menggunakan air laut untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).
Penggunaan air laut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sedikit berkurang
saat musim penghujan datang. Pada saat air hujan turun membasahi tanah di
kepulauan, seolah-olah inilah anugerah terindah yang dirasakan warga
kepulauan.
Melihat
kondisi riil warga kepulauan bak anak tiri dan kurang mendapat perhatian, saya
mencoba mengungkap beberapa ironi pembangunan yang kelihatannya masih
mengedepankan pembangunan di daratan utama dan sebaliknya masih kerap
memunggungi lautan dan pulau-pulau kecil.
Ironi
Pembangunan antara Pulau Berpenghuni dengan Pulau (dulunya) Tidak
Berpenghuni.
Kabupaten
Manggarai Barat memiliki gugusan pulau yang indah dan menarik baik yang
berpenghuni maupun tidak berpenghuni. Secara umum hampir seluruh pulau
berpenghuni mengalami krisis air tawar. Sebut saja Pulau Komodo, Pulau Rinca,
Pulau Papagarang, Pulau Messah, Pulau Kukusan, Pulau Seraya Besar dan Seraya
Kecil, Pulau Boleng dan Pulau Longos.
Krisis
air tawar yang dialami warga pada beberapa pulau di atas, bertolak belakang dengan kondisi
pulau-pulau kecil lainnya (sebelumnya tidak berpenghuni) namun kini telah
berpenghuni karena telah dikuasai oleh pihak ketigaiInvestor (biasanya orang asing) melalui
transaksi jual beli atau sewa-menyewa dengan warga pulau yang mengklaim sebagai
pemilik pulau tersebut. Sederet pulau seperti Pulau Bidadari, Pulau Sebayur,
Pulau Kanawa saat ini telah dikuasai oleh pihak ketiga. Di pulau-pulau
tersebut, telah dibangun hotel (bungalow) dan restoran. Maklum saja dengan garis
pantai putih yang membentang dan dipadupadankan dengan panorama pulau dan
bawah laut yang memukau, pulau-pulau tersebut sangat prospektif apabila
dikelola untuk usaha di bidang pariwisata. Untuk menjalankan bisnisnya lebih
optimal, permasalahan air tawar harus segera ditanggulangi. Dengan kekuatan
modal yang tidak terbatas, pihak ketiga ini (baca investor) memasang alat penyulingan
air laut, yang dapat merubah rasa asin air laut menjadi air tawar bahkan bersih
dan layak diminum. Dari sini nampak terlihat bahwa pulau-pulau yang dikuasai
pihak ketiga (investor) tidak lagi merasakan kekurangan air tawar. Sementara
pulau-pulau yang dihuni warga kepulauan masih tetap merana akibat krisis air
tawar yang melanda.
Ironi
Pembangunan di Kepulauan dan di Daratan Utama.
Secara
kasat mata kita dapat melihat orientasi pembangunan di daratan lebih banyak
dibandingkan dengan di wilayah kepulauan. Di daratan nampak terlihat geliat
pembangunan di sana-sini. Beragam alasan demi memuluskan pembangunan di
daratan. Lajur jalan yang baru dibuka dikerjakan dengan alasan untuk membuka
aksesibilitas. Kondisi jalan ditingkatkan tiap tahun berlindung pada
kalimat untuk memudahkan mobilitas. Jembatan baru dibentang berbekal
argumentasi sebagai penghubung wilayah terisolir. Irigasi dibangun untuk mengejar
swasembada pangan. Jaringan listrik dan air bersih dipasang untuk meningkatkan
kualitas hidup masyarakat. Pada titik ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa
wilayah kepulauan sama sekali tidak tersentuh pembangunan karena jelas dapat dilihat pada
beberapa pulau telah dibangun dermaga, jalan setapak dan tembok penahan
gelombang. Saya tahu infrastruktur yang dibangun tersebut ditujukan untuk
kepentingan warga kepulauan. Namun saya yakin kalau kita melakukan survey yang
objektif untuk mengetahui kebutuhan mendasar warga kepulauan, sebagian besar
-kalau mau tidak dikatakan seluruhnya- akan menjawab pemenuhan kebutuhan air
tawar. Hal ini sekaligus menjawab bahwa pembangunan fisik lainnya selama ini
belumlah bersifat urgen dan mendesak.
Ironi
Pembangunan Sektor Pariwisata dengan Peningkatan Kesejahteraan Warga Kepulauan
Sebagai
daerah yang menggalakkan pariwisata sebagai leading sector, sudah
saatnya bagi daerah ini memperhatikan denyut nadi warga kepulauan. Meskipun
keberadaan binatang langka komodo hanya terdapat di Pulau Komodo dan Pulau
Rinca, hal ini tidak lantas membuat warga di kedua pulau tersebut menjadi sejahtera
padahal jumlah kunjungan wisatawan yang datang melihat langsung komodo di
habitatnya dari tahun ke tahun terus meningkat.
Warga di kedua pulau masih sering mengeluhkan masalah air
tawar/bersih. Belum lagi berbicara dampak nyata yang dirasakan warga kepulauan
di sekitar dua pulau besar tersebut. Kebijakan daerah seharusnya bergerak
simultan. Sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau harus terlampaui. Harus
diakui, pengembangan pariwisata daerah saat ini masih mengandalkan komodo
sebagai daya tarik utama serta keindahan pulau-pulau sebagai destinasi wisata
alternatif. Kondisi ini dapat dimaknai bahwa wisata alam dan wisata bahari di
kepulauan masih lebih menjanjikan bila dibandingkan dengan wisata alam lain yang
ada di daratan. Menjadi ironis manakala daerah ini gencar mempromosikan
keelokan objek wisata pantai, karakteristik terumbu karang dan keunikan biota
lautnya tanpa dibarengi upaya berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan
warga lokal di kepulauan. Kerinduan mereka yang utama sebagai kompensasi dari
dieksploitasinya wilayah kepulauan adalah terpenuhinya kebutuhan air
tawar/bersih. Tentu dengan tidak menafikkan kebutuhan akan listrik/penerangan, fasilitas kesehatan dan pendidikan.
Pada
akhir tahun 2014 yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menggagas
program desalinasi di Desa Papagarang yakni teknologi penyulingan air laut
untuk menghilangkan kadar garam berlebih pada air laut sehingga menghasilkan
air tawar yang dapat dikonsumsi dengan hasil produksi tinggi tetapi menggunakan
energi yang murah dan ramah lingkungan. Namun program tersebut tidak
berlangsung lama, belakangan saya mendengar alat penyuling air laut tersebut
mengalami kerusakan. Selain tidak adanya biaya pemeliharaan atas kerusakan
alat, saya menduga operator yang mengoperasikan alat ini tidak mendapatkan
pelatihan dan pendampingan yang memadai sehingga pada saat alat ini mogok
bekerja lantas dibiarkan teronggok begitu saja.
Program
desalinasi tidak menjangkau semua desa di kepulauan. Padalah dalam satu desa
terdapat dua sampai tiga pulau kecil berpenghuni yang jaraknya satu sama lain cukup jauh masih merasakah kekurangan air tawar. Mungkin saja alat penyulingan ini mahal
harganya karena mesti diimpor dari luar negeri. Namun kalau benar pemerintahan
saat ini konsekwen dengan program nawacita membangun dari pinggir, dari daerah
perbatasan dan kepulauan, saya rasa harga alat yang mahal sekalipun bukan menjadi alasan
rasional yang dapat diterima. Pada titik ini, saya sulit memahami bagaimana mau
meningkatkan kesejahteraan warga kepulauan kalau air tawar saja masih menjadi
mimpi panjang mereka.
***
![]() |
| Pulau Kelor dari Ketinggian |
Di
satu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah mendampingi Tim dari
Kemendagri mengunjungi Pulau Rinca untuk melihat langsung komodo di habitatnya.
Kami menyempatkan diri singgah di Pulau Kelor. Menikmati sejenak keindahan
pulau ini. Tim dari pusat tidak mau kehilangan momentum. Mereka terlihat asyik
memanjakan diri dengan berenang atau sekadar berendam di lautnya. Ada yang
terlihat sibuk menyusuri pantai dengan hanya bermain pasir. Ada pula yang nekat
naik ke atas puncak gunung untuk menikmati keindahan pulau dari
ketinggian.
![]() |
| Pulau Kukusan |
Semburat
kekecewaan nampak tergambar dari wajah mereka saat saya mengingatkan untuk
segera menghentikan aktivitas sementara karena harus menunaikan sholat jumat
yang waktunya sudah hampir dekat. Sebenarnya bisa saja kita memburu waktu untuk
sholat jumat di Labuan Bajo namun salah satu pejabat menginginkan untuk sholat
jumat di pulau terdekat. Akhirnya Pulau Kukusan yang menjadi pilihan yang masuk
akal. Pulaunya hanya sepelemparan batu dari Pulau Kelor.
![]() |
| Bersama Tim dari Pusat di Dermaga Pulau Kukusan |
Tanpa
membilas tubuh dengan air tawar karena persediaan air tawar di kapal yang kami
tumpangi habis, mereka langsung berganti pakaian. Tiba di masjid Pulau Kukusan
tepat saat khatib hendak naik ke atas mimbar. Kesulitan air tawar sungguh
terasa saat kami akan berwudhu. Kran air tempat wudhu tidak mengeluarkan air.
Toilet dan kamar mandi terkesan tidak terawat. Bahkan dipenuhi kotoran kambing.
Bau busuk menyeruak menyegel hidung. Karena tidak tersedianya air tawar, sepertinya toilet dan kamar mandi ini
telah beralih fungsi menjadi kandang kambing warga. Seorang ibu menawarkan air
tawar untuk kami berwudhu. Dari rasanya saya menduga itu adalah air hujan yang
turun semalam dan sengaja ditadah untuk persediaan keluarganya beberapa hari ke depan.
![]() |
| Miris, Tempat Wudhu yang Dipenuhi Kotoran Kambing |
![]() |
| Toilet dan Kamar Mandi Beralih Fungsi Menjadi Kandang Kambing |
"Kenapa rambutmu merah, sengaja dipirang kah?" Pertanyaan retorik
yang jawabannya sudah saya ketahui.
"Terlalu sering mandi air laut" Kata anak itu dengan ekspresi malu-malu.
"Memang tidak ada air tawar?" Saya terus menimpali.
"Air tawar hanya dipakai untuk memasak dan untuk minum". Jawaban miris dari mulut seorang bocah kelas dua SD.
"Berarti kalian mandi pakai air laut sebelum ke masjid tadi?" Tanyaku terus.
"Setiap hari kami mandi air laut. Pagi hari sebelum ke sekolah, siang hari setelah mengaji dan sore hari sebelum sholat maghrib" Anak itu bertutur panjang yang membuat teman-teman dari pusat menggelengkan kepala.
"Terlalu sering mandi air laut" Kata anak itu dengan ekspresi malu-malu.
"Memang tidak ada air tawar?" Saya terus menimpali.
"Air tawar hanya dipakai untuk memasak dan untuk minum". Jawaban miris dari mulut seorang bocah kelas dua SD.
"Berarti kalian mandi pakai air laut sebelum ke masjid tadi?" Tanyaku terus.
"Setiap hari kami mandi air laut. Pagi hari sebelum ke sekolah, siang hari setelah mengaji dan sore hari sebelum sholat maghrib" Anak itu bertutur panjang yang membuat teman-teman dari pusat menggelengkan kepala.
![]() |
| Anak-anak Pulau Kukusan yang Sedang Mandi di Laut |
Pulau
Kukusan, satu dari beberapa pulau berpenghuni di Kabupaten Manggarai Barat yang
hingga kini belum mandiri dalam penyediaan air tawar/bersih. Air tawar apalagi
air bersih dan air layak minum masih menjadi janji yang selalu terngiang saat
musim kampanye menjelang. Belum terealisir atau mungkin dilupakan. Saya hanya
berpikir, belum terlambat apabila pengambil kebijakan memutar arah kebijakan
dengan memprioritaskan pembangunan di kepulauan melalui pemenuhan kebutuhan
dasar berupa penyediaan air tawar/bersih bagi warga kepulauan. Sebab dari raut
wajah anak-anak kepulauan, saya dapat menangkap perasaan kebosanan atas kondisi
krisis air tawar/bersih selama ini. Mereka menitip pesan melalu senyum
getirnya, agar kedepan mereka dapat memanfaatkan air tawar/bersih untuk mandi
ke sekolah dan bersuci ke masjid atau ke tempat mengjia. Sebab sabun dan
shampo yang digunakan selama mereka mandi tak pernah sempurna berbusa di kulit tubuh dan kepala mereka.
![]() |
| Senyum Getir Anak-anak Pulau Kukusan bersama Tim dari Pusat |
Di tengah perjalanan pulang...Labuan Bajo, 7 April 2017








No comments:
Post a Comment