Thursday, April 13, 2017

Ironi Kehidupan Warga Kepulauan



Air adalah sumber kehidupan. Sejak awal kehidupan seluruh makhluk hidup terutama manusia sangat bergantung pada ketersediaan air demi menjaga kelangsungan hidupnya. Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi di samping energi dan bahan pangan. Tanpa ketiganya manusia tidak akan bisa hidup dengan layak. Air yang dibutuhkan selain tawar juga harus bersih dan layak dikonsumsi. Terkadang, kondisi ini tidak berlaku bagi warga di kepulauan. Di tengah apatisme, saat ini mereka hanya menuntut tersedianya air tawar. Bersih dan layak dikonsumsi menjadi urusan kemudian. 

Ilustrasi: Krisis Air Tawar di Kepulauan
Krisis air tawar di pulau-pulau kecil berpenghuni maupun tidak berpenghuni yang masuk dalam wilayah laut Kabupaten Manggarai Barat telah menjadi permasalahan klasik yang tak kunjung diselesaikan secara sistemik. Air tawar telah menjadi sesuatu yang langka dan bernilai ekonomi tinggi. Bagaimana tidak, di tengah kondisi ekonomi warga kepulauan yang relatif rendah, mereka dituntut harus bisa membagi pengeluaran sehari-hari antara memenuhi kebutuhan dasar lainnya dan kebutuhan untuk membeli air tawar. Harga air tawar di pulau-pulau menjadi lebih mahal karena harus dipasok dari Labuan Bajo (kota kabupaten) menggunakan perahu nelayan. Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan sekadar untuk mendatangkan se-jerigen, se-ember atau se-drum air tawar ke pulau. Saat laut tidak bersahabat, dimana ombak tinggi menghalangi pelayaran ke Labuan Bajo, membuat krisis air tawar di kepulauan berada pada titik nadir. Begitu sulitnya memperoleh air tawar, warga di kepulauan terpaksa menggunakan air laut untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Penggunaan air laut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sedikit berkurang saat musim penghujan datang. Pada saat air hujan turun membasahi tanah di kepulauan, seolah-olah inilah anugerah terindah yang dirasakan warga kepulauan. 

Melihat kondisi riil warga kepulauan bak anak tiri dan kurang mendapat perhatian, saya mencoba mengungkap beberapa ironi pembangunan yang kelihatannya masih mengedepankan pembangunan di daratan utama dan sebaliknya masih kerap memunggungi lautan dan pulau-pulau kecil.

Ironi Pembangunan antara Pulau Berpenghuni dengan Pulau (dulunya) Tidak Berpenghuni.  

Kabupaten Manggarai Barat memiliki gugusan pulau yang indah dan menarik baik yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni. Secara umum hampir seluruh pulau berpenghuni mengalami krisis air tawar. Sebut saja Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Papagarang, Pulau Messah, Pulau Kukusan, Pulau Seraya Besar dan Seraya Kecil, Pulau Boleng dan Pulau Longos. 

Krisis air tawar yang dialami warga pada beberapa pulau di atas, bertolak belakang dengan kondisi pulau-pulau kecil lainnya (sebelumnya tidak berpenghuni) namun kini telah berpenghuni karena telah dikuasai oleh pihak ketigaiInvestor (biasanya orang asing) melalui transaksi jual beli atau sewa-menyewa dengan warga pulau yang mengklaim sebagai pemilik pulau tersebut. Sederet pulau seperti Pulau Bidadari, Pulau Sebayur, Pulau Kanawa saat ini telah dikuasai oleh pihak ketiga. Di pulau-pulau tersebut, telah dibangun hotel (bungalow) dan restoran. Maklum saja dengan garis pantai putih yang membentang dan dipadupadankan dengan panorama pulau dan bawah laut yang memukau, pulau-pulau tersebut sangat prospektif apabila dikelola untuk usaha di bidang pariwisata. Untuk menjalankan bisnisnya lebih optimal, permasalahan air tawar harus segera ditanggulangi. Dengan kekuatan modal yang tidak terbatas, pihak ketiga ini (baca investor) memasang alat penyulingan air laut, yang dapat merubah rasa asin air laut menjadi air tawar bahkan bersih dan layak diminum. Dari sini nampak terlihat bahwa pulau-pulau yang dikuasai pihak ketiga (investor) tidak lagi merasakan kekurangan air tawar. Sementara pulau-pulau yang dihuni warga kepulauan masih tetap merana akibat krisis air tawar yang melanda.

Ironi Pembangunan di Kepulauan dan di Daratan Utama.

Secara kasat mata kita dapat melihat orientasi pembangunan di daratan lebih banyak dibandingkan dengan di wilayah kepulauan. Di daratan nampak terlihat geliat pembangunan di sana-sini. Beragam alasan demi memuluskan pembangunan di daratan. Lajur jalan yang baru dibuka dikerjakan dengan alasan untuk membuka aksesibilitas. Kondisi jalan ditingkatkan tiap tahun  berlindung pada kalimat untuk memudahkan mobilitas. Jembatan baru dibentang berbekal argumentasi sebagai penghubung wilayah terisolir. Irigasi dibangun untuk mengejar swasembada pangan. Jaringan listrik dan air bersih dipasang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pada titik ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa wilayah kepulauan sama sekali tidak tersentuh pembangunan karena jelas dapat dilihat pada beberapa pulau telah dibangun dermaga, jalan setapak dan tembok penahan gelombang. Saya tahu infrastruktur yang dibangun tersebut ditujukan untuk kepentingan warga kepulauan. Namun saya yakin kalau kita melakukan survey yang objektif untuk mengetahui kebutuhan mendasar warga kepulauan, sebagian besar -kalau mau tidak dikatakan seluruhnya- akan menjawab pemenuhan kebutuhan air tawar. Hal ini sekaligus menjawab bahwa pembangunan fisik lainnya selama ini belumlah bersifat urgen dan mendesak.

Ironi Pembangunan Sektor Pariwisata dengan Peningkatan Kesejahteraan Warga Kepulauan

Sebagai daerah yang menggalakkan pariwisata sebagai leading sector, sudah saatnya bagi daerah ini memperhatikan denyut nadi warga kepulauan. Meskipun keberadaan binatang langka komodo hanya terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, hal ini tidak lantas membuat warga di kedua pulau tersebut menjadi sejahtera padahal jumlah kunjungan wisatawan yang datang melihat langsung komodo di habitatnya dari tahun ke tahun terus meningkat. 

Warga di kedua pulau masih sering mengeluhkan masalah air tawar/bersih. Belum lagi berbicara dampak nyata yang dirasakan warga kepulauan di sekitar dua pulau besar tersebut. Kebijakan daerah seharusnya bergerak simultan. Sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau harus terlampaui. Harus diakui, pengembangan pariwisata daerah saat ini masih mengandalkan komodo sebagai daya tarik utama serta keindahan pulau-pulau sebagai destinasi wisata alternatif. Kondisi ini dapat dimaknai bahwa wisata alam dan wisata bahari di kepulauan masih lebih menjanjikan bila dibandingkan dengan wisata alam lain yang ada di daratan. Menjadi ironis manakala daerah ini gencar mempromosikan keelokan objek wisata pantai, karakteristik terumbu karang dan keunikan biota lautnya tanpa dibarengi upaya berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan warga lokal di kepulauan. Kerinduan mereka yang utama sebagai kompensasi dari dieksploitasinya wilayah kepulauan adalah terpenuhinya kebutuhan air tawar/bersih. Tentu dengan tidak menafikkan kebutuhan akan listrik/penerangan, fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Pada akhir tahun 2014 yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menggagas program desalinasi di Desa Papagarang yakni teknologi penyulingan air laut untuk menghilangkan kadar garam berlebih pada air laut sehingga menghasilkan air tawar yang dapat dikonsumsi dengan hasil produksi tinggi tetapi menggunakan energi yang murah dan ramah lingkungan. Namun program tersebut tidak berlangsung lama, belakangan saya mendengar alat penyuling air laut tersebut mengalami kerusakan. Selain tidak adanya biaya pemeliharaan atas kerusakan alat, saya menduga operator yang mengoperasikan alat ini tidak mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang memadai sehingga pada saat alat ini mogok bekerja lantas dibiarkan teronggok begitu saja.  

Program desalinasi tidak menjangkau semua desa di kepulauan. Padalah dalam satu desa terdapat dua sampai tiga pulau kecil berpenghuni yang jaraknya satu sama lain cukup jauh masih merasakah kekurangan air tawar. Mungkin saja alat penyulingan ini mahal harganya karena mesti diimpor dari luar negeri. Namun kalau benar pemerintahan saat ini konsekwen dengan program nawacita membangun dari pinggir, dari daerah perbatasan dan kepulauan, saya rasa harga alat yang mahal sekalipun bukan menjadi alasan rasional yang dapat diterima. Pada titik ini, saya sulit memahami bagaimana mau meningkatkan kesejahteraan warga kepulauan kalau air tawar saja masih menjadi mimpi panjang mereka. 

*** 
Pulau Kelor dari Ketinggian
Di satu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah mendampingi Tim dari Kemendagri mengunjungi Pulau Rinca untuk melihat langsung komodo di habitatnya. Kami menyempatkan diri singgah di Pulau Kelor. Menikmati sejenak keindahan pulau ini. Tim dari pusat tidak mau kehilangan momentum. Mereka terlihat asyik memanjakan diri dengan berenang atau sekadar berendam di lautnya. Ada yang terlihat sibuk menyusuri pantai dengan hanya bermain pasir. Ada pula yang nekat naik ke atas puncak gunung untuk menikmati keindahan pulau dari ketinggian. 
 
Pulau Kukusan
Semburat kekecewaan nampak tergambar dari wajah mereka saat saya mengingatkan untuk segera menghentikan aktivitas sementara karena harus menunaikan sholat jumat yang waktunya sudah hampir dekat. Sebenarnya bisa saja kita memburu waktu untuk sholat jumat di Labuan Bajo namun salah satu pejabat menginginkan untuk sholat jumat di pulau terdekat. Akhirnya Pulau Kukusan yang menjadi pilihan yang masuk akal. Pulaunya hanya sepelemparan batu dari Pulau Kelor.

Bersama Tim dari Pusat di Dermaga Pulau Kukusan
Tanpa membilas tubuh dengan air tawar karena persediaan air tawar di kapal yang kami tumpangi habis, mereka langsung berganti pakaian. Tiba di masjid Pulau Kukusan tepat saat khatib hendak naik ke atas mimbar. Kesulitan air tawar sungguh terasa saat kami akan berwudhu. Kran air tempat wudhu tidak mengeluarkan air. Toilet dan kamar mandi terkesan tidak terawat. Bahkan dipenuhi kotoran kambing. Bau busuk menyeruak menyegel hidung. Karena tidak tersedianya air tawar, sepertinya toilet dan kamar mandi ini telah beralih fungsi menjadi kandang kambing warga. Seorang ibu menawarkan air tawar untuk kami berwudhu. Dari rasanya saya menduga itu adalah air hujan yang turun semalam dan sengaja ditadah untuk persediaan keluarganya beberapa hari ke depan. 
Miris, Tempat Wudhu yang Dipenuhi Kotoran Kambing

Toilet dan Kamar Mandi Beralih Fungsi Menjadi Kandang Kambing
Selepas sholat saya iseng berdialog dengan anak-anak di teras masjid.

"Kenapa rambutmu merah, sengaja dipirang kah?" Pertanyaan retorik yang jawabannya sudah saya ketahui.
"Terlalu sering mandi air laut" Kata anak itu dengan ekspresi malu-malu.
"Memang tidak ada air tawar?" Saya terus menimpali.
"Air tawar hanya dipakai untuk memasak dan untuk minum". Jawaban miris dari mulut seorang bocah kelas dua SD.
"Berarti kalian mandi pakai air laut sebelum ke masjid tadi?" Tanyaku terus.
"Setiap hari kami mandi air laut. Pagi hari sebelum ke sekolah, siang hari setelah mengaji dan sore hari sebelum sholat maghrib" Anak itu bertutur panjang yang membuat teman-teman dari pusat menggelengkan kepala. 

Anak-anak Pulau Kukusan yang Sedang Mandi di Laut
Pulau Kukusan, satu dari beberapa pulau berpenghuni di Kabupaten Manggarai Barat yang hingga kini belum mandiri dalam penyediaan air tawar/bersih. Air tawar apalagi air bersih dan air layak minum masih menjadi janji yang selalu terngiang saat musim kampanye menjelang. Belum terealisir atau mungkin dilupakan. Saya hanya berpikir, belum terlambat apabila pengambil kebijakan memutar arah kebijakan dengan memprioritaskan pembangunan di kepulauan melalui pemenuhan kebutuhan dasar berupa penyediaan air tawar/bersih bagi warga kepulauan. Sebab dari raut wajah anak-anak kepulauan, saya dapat menangkap perasaan kebosanan atas kondisi krisis air tawar/bersih selama ini. Mereka menitip pesan melalu senyum getirnya, agar kedepan mereka dapat memanfaatkan air tawar/bersih untuk mandi ke sekolah dan bersuci ke masjid atau ke tempat mengjia. Sebab sabun dan shampo yang digunakan selama mereka mandi tak pernah sempurna berbusa di kulit tubuh dan kepala mereka. 

Senyum Getir Anak-anak Pulau Kukusan bersama Tim dari Pusat

Di tengah perjalanan pulang...Labuan Bajo, 7 April 2017 


 

No comments:

Post a Comment