Sunday, April 9, 2017

Sebuah Pesan dibalik Pasar Malam (rona-rona)

Bianglala atau Keranjang Putar
Anak laki-laki berusia sekitar lima tahun itu merengek. Menarik tangan bapaknya kuat-kuat hingga badannya terhuyung ke depan. Melewati sela-sela sempit orang-orang yang berdiri berdesakan. Dari tadi ia memaksa bapaknya agar mengikuti keinginannya. Mencoba wahana permainan lain yang ditawarkan di Pasar Malam. Anak itu ingin merasakan sensasi yang berbeda ketika mencoba satu persatu wahana yang ada. Sebenarnya tidak masalah bagi bapaknya mengeluarkan sejumlah uang sebagai tarif masuk yang harus dibayar. Bapaknya hanya kewalahan ketika harus berdesakan antri membeli tiket masuk karena setiap loket dan pintu masuk wahana telah berjubel orang-orang tua dan anak-anaknya masing-masing. 

Ada pemandangan yang berbeda kala kita melewati jalan dari arah Kampung Ujung Labuan Bajo pada malam hari. Di sebelah kiri jalan tepatnya di lapangan sepak bola Kampung Ujung nampak terlihat keramaian manusia yang memadati areal tersebut. Suara riuh mereka bercampur satu dengan deru mesin genset yang dibunyikan. Semburat cahaya warna-warni menghiasi setiap sudut yang dulunya tanah kosong membentuk "aurora" indah. Di tengah lapang berdiri dengan megah aneka wahana pertunjukkan dan stand-stand pedagang kaki lima dadakan. Kendaraan mengular diam di sisi jalan. Rupanya lapangan sepak bola ini dipilih sebagai tempat pertunjukkan pasar malam (rona-rona) selama satu bulan penuh. Tak bisa dipungkiri bahwa pasar malam menjadi semacam pengobat kerinduan masyarakat Labuan Bajo terhadap hiburan saat ini. Hal ini terlihat jelas dari antusiasme masyarakat yang datang setiap malam selalu ramai. Sesuai namanya, pasar malam memang bergeliat hanya pada malam hari. Transaksi jual beli aneka barang dan jasa juga berlangsung pada malam hari.

Sesungguhnya justeru yang membuat pasar malam begitu menarik adalah keberadaan wahana permainan untuk anak-anak dan pertunjukkan atraksi menantang yang ditujukan khusus untuk orang dewasa. Memang wahana permainan anak yang tersaji belum dapat disandingkan dengan jumlah dan jenis wahana di taman hiburan anak terkenal sekelas Dineyland di Hongkong atau Dufan di Jakarta. Namun dengan adanya kereta api mini, komidi putar dengan berbagai karakter binatang dan model kendaraan, istana balon serta bianglala atau keranjang putar, anak-anak terlihat sudah sangat terhibur. Ketika anak-anak terlihat riang gembira dengan senyum dan gelak yang tak henti-hentinya, disitulah orang tua merasa bahagia. 

Rumah Balon
Yang tidak kalah menarik pertunjukan atraksi menantang yang dilakukan oleh orang profesional seperti sulap atau akrobatik berbahaya. Pertunjukan ini sengaja menyasar orang dewasa sebagai penontonnya. Tumben malam itu saya tidak tertarik menontonnya.   Saya hanya mendengar dari penonton yang barusan keluar dari arena mencekam itu, dengan keahlian khusus yang dimiliki katanya pesulap/akrobat (seolah-olah) memotong lidahnya sendiri. Suara orang berteriak terdengar hingga keluar arena. Bahkan suara histeris penonton menyembul dari segala penjuru arena saat melihat darah keluar dari lidah pesulap yang disayat. Penonton wanita menutup matanya rapat-rapat. Saya sempat merasa geli sendiri melihat mereka yang masih nekat menonton padahal sejatinya mental mereka tidak kuat menyaksikan atraksi berlangsung. Atraksi ini mengingatkan saya pada seni debus yang sangat familiar di daerah Banten. 

Di salah satu dua sudut lokasi pasar malam juga berdiri stand permainan ketangkasan. Jika bukan dilangsungkan di arena pasar malam yang mengantongi ijin resmi, permainan menguji ketangkasan ini dapat dikategorikan judi. Bagaimana tidak, hanya dengan mengorbankan sedikit uang, pemain mengharapkan keuntungan atau hadiah yang bernilai besar dengan bergantung pada peruntungan dan kemahiran atau ketangkasan belaka. Seorang ahli hukum pun tahu bahwa memang beda tipis antara judi dan hiburan di tempat seperti ini. Sebut saja permainan lempar gelang dan permainan menegakan botol menggunakan tongkat yang dipasangkan seutas benang kasur. Untuk permainan lempar gelang, pengunjung diwajibkan membeli gelang yang dibuat khusus dari selang kecil atau rotan dengan harga Rp.5 ribu untuk enam gelang. Gelang tersebut kemudian dilemparkan ke dalam kotak jam tangan. Apabila gelang masuk melingkari kotak jam tangan dengan sempurna, maka jam tangan yang ada di dalamnya menjadi milik kita. Saya melihat seorang anak remaja berhasil menggondol pulang jam tangan setelah gelang yang dilempar untuk kesekian kalinya masuk melingkar nyaman di kotak jam tangan yang dipajang. Saya pun penasaran untuk mencobanya. Apa daya hingga lemparan gelang tak terhitung, belum pernah sekalipun gelang itu masuk. Terlihat mudah namun sesungguhnya itu sangat sulit dilakukan. 


Permainan Ketangkasan: Lempar Gelang
Khawatir uang saya hilang begitu saja untuk satu permainan yang sulit saya taklukkan, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan beralih ke permainan ketangkasan lainnya yakni menegakan botol kecil kosong pada bidang miring menggunakan tongkat yang diikatkan benang kasur dan ujungnya dikaitkan dengan gelang dan gelang inilah yang kemudian bersentuhan langsung dengan mulut botol limbah minuman suplemen dewasa. Permainan ini mirip orang memancing dengan tarif Rp.5 ribu untuk lima kali kesempatan. Apabila sukses menegakan botol, silahkan memilih sendiri hadiah yang ada dibelakang seperti gitar, handpone dan boneka ukuran besar. Dalam beberapa kali percobaan, botol kosong itu selalu saja nyaris berdiri tegak. Saya melupakan ambisi membawa pulang gitar yang diming-imingi karena saya menyadari disaat botol tersebut nyaris berdiri tegak justeru disitulah rasa penasaran berkecamuk di pikiran. Kalau tidak segera dihentikan niscaya uang yang ada didompet tak terasa menguap begitu saja. 

Butuh Kesabaran Menegakan Botol
Seusai mengelilingi setiap sudut lokasi pasar malam, saya tidak menemukan arena atraksi tong setan atau tong maut. Pantas saja saya merasa ada sesuatu yang kurang padahal dari dahulu pasar malam selalu identik dengan pertunjukan atraksi tong setan/tong maut ini. Atraksi dimana pengendara motor mengendarai sepeda motor dengan kecepatan maksimal bergerak leluasa dalam wadah yang berbentuk tong dengan diameter tidak terlalu besar. Saya menduga mungkin minat remaja yang menggeluti atraksi ini dari masa ke masa terus berkurang karena begitu tingginya resiko kecelakaan yang mungkin terjadi bahkan hingga merenggut nyawa pengendaranya seketika. Jangankan menjadi pengendara, menjadi penonton yang menyaksikan atraksi saja membutuhkan nyali yang luar biasa.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan pasar malam atau rona-rona di Labuan Bajo setidaknya mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang haus akan hiburan khususnya hiburan yang digelar pada malam hari. Tengok saja perhelatan Festival Komodo dan Gebyar Undian BPD se-Indonesia yang digelar di Labuan Bajo beberapa waktu lalu, hampir tidak ada ruang kosong di sekitar panggung acara yang dapat dipijak. Masyarakat dari berbagai kalangan tumpah ruah memenuhi lokasi acara. Pun pertunjukkan pasar malam yang selalu disesaki penonton tiap malamnya. Pemerintah Daerah seharusnya mampu menyediakan tempat hiburan rakyat yang dapat diakses masyarakat pada malam hari sebagai kompensasi dari minimnya tempat hiburan yang murah meriah dan mudah diakses di siang hari. Pantai Pede yang selama ini menjadi satu-satunya pilihan favorit masyarakat Labuan Bajo, saat ini terkesan tidak terawat akibat tidak adanya kepastian kepemilikan lahan antara Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat. Masing-masing dari mereka mengklaim sepihak lahan Pantai Pede. Kedua tingkatan pemerintahan ini rupanya alpa bahwa Pantai Pede adalah ruang interaksi publik masyarakat. Tempat masyarakat menghilangkan penat dan stres sekaligus tempat berkreasi menyalurkan bakat dan kreativitas.
Terlihat Bule Bersama Keluarga Kecilnya
Pasar malam apabila dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin menjadi sarana pariwisata yang dapat menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke daerah ini. Saya melihat sendiri ada bule bersama keluarga kecilnya datang ke pasar malam dan menikmati seluruh wahana dan pertunjukkan yang ada. Pada bagian lain sepasang bule tengah sibuk mengabadikan gambar ekspresi wajah remaja yang sedang asyik menaiki wahana puting beliung atau gelombang putar. Sinyal positif ini seharusnya dapat direspon dengan sigap oleh Pemerintah Daerah. Saya yakin meski dalam hitungan empat minggu, jumlah uang yang beredar selama pertunjukkan pasar malam dapat menembus angka ratusan juta. Sebagai seorang yang sedikit banyak memahami ekonomi, jumlah uang sebesar tersebut tentu dapat memberi efek domino (multiplier effect) pada perekonomian daerah. Seharusnya pertunjukkan pasar malam menjadi kebijakan daerah dan menjadi even tahunan rutin dan dikemas lebih menarik seperti Shilin Night Market yang digelar setiap malam di Kota Shilin, Taiwan. Pada titik ini saya optimis kedepan Labuan Bajo Night Market akan menjadi kenyataan. Layak kita tunggu.

Rona-rona Kampung Ujung Labuan Bajo, 25 Maret 2017

No comments:

Post a Comment