![]() |
| Bianglala atau Keranjang Putar |
Ada
pemandangan yang berbeda kala kita melewati jalan dari arah Kampung Ujung
Labuan Bajo pada malam hari. Di sebelah kiri jalan tepatnya di lapangan sepak
bola Kampung Ujung nampak terlihat keramaian manusia yang memadati areal
tersebut. Suara riuh mereka bercampur satu dengan deru mesin genset yang
dibunyikan. Semburat cahaya warna-warni menghiasi setiap sudut yang dulunya
tanah kosong membentuk "aurora" indah. Di tengah lapang berdiri dengan megah
aneka wahana pertunjukkan dan stand-stand pedagang kaki lima dadakan.
Kendaraan mengular diam di sisi jalan. Rupanya lapangan sepak bola ini dipilih
sebagai tempat pertunjukkan pasar malam (rona-rona) selama satu bulan penuh.
Tak bisa dipungkiri bahwa pasar malam menjadi semacam pengobat kerinduan
masyarakat Labuan Bajo terhadap hiburan saat ini. Hal ini terlihat jelas dari
antusiasme masyarakat yang datang setiap malam selalu ramai. Sesuai namanya,
pasar malam memang bergeliat hanya pada malam hari. Transaksi jual beli aneka
barang dan jasa juga berlangsung pada malam hari.
Sesungguhnya
justeru yang membuat pasar malam begitu menarik adalah keberadaan wahana
permainan untuk anak-anak dan pertunjukkan atraksi menantang yang ditujukan
khusus untuk orang dewasa. Memang wahana permainan anak yang tersaji belum dapat disandingkan dengan jumlah dan jenis wahana di taman hiburan anak terkenal
sekelas Dineyland di Hongkong atau Dufan di Jakarta. Namun dengan adanya kereta
api mini, komidi putar dengan berbagai karakter binatang dan model kendaraan,
istana balon serta bianglala atau keranjang putar, anak-anak terlihat sudah
sangat terhibur. Ketika anak-anak terlihat riang gembira dengan senyum dan
gelak yang tak henti-hentinya, disitulah orang tua merasa bahagia.
Yang
tidak kalah menarik pertunjukan atraksi menantang yang dilakukan oleh orang
profesional seperti sulap atau akrobatik berbahaya. Pertunjukan ini sengaja
menyasar orang dewasa sebagai penontonnya. Tumben malam itu saya tidak tertarik
menontonnya. Saya hanya mendengar dari penonton yang barusan keluar dari
arena mencekam itu, dengan keahlian khusus yang dimiliki katanya pesulap/akrobat
(seolah-olah) memotong lidahnya sendiri. Suara orang berteriak terdengar hingga
keluar arena. Bahkan suara histeris penonton menyembul dari segala penjuru
arena saat melihat darah keluar dari lidah pesulap yang disayat. Penonton
wanita menutup matanya rapat-rapat. Saya sempat merasa geli sendiri melihat
mereka yang masih nekat menonton padahal sejatinya mental mereka tidak kuat
menyaksikan atraksi berlangsung. Atraksi ini mengingatkan saya pada seni debus
yang sangat familiar di daerah Banten.
Di
salah satu dua sudut lokasi pasar malam juga berdiri stand permainan
ketangkasan. Jika bukan dilangsungkan di arena pasar malam yang mengantongi
ijin resmi, permainan menguji ketangkasan ini dapat dikategorikan judi.
Bagaimana tidak, hanya dengan mengorbankan sedikit uang, pemain mengharapkan
keuntungan atau hadiah yang bernilai besar dengan bergantung pada peruntungan
dan kemahiran atau ketangkasan belaka. Seorang ahli hukum pun tahu bahwa memang
beda tipis antara judi dan hiburan di tempat seperti ini. Sebut saja permainan
lempar gelang dan permainan menegakan botol menggunakan tongkat yang
dipasangkan seutas benang kasur. Untuk permainan lempar gelang, pengunjung
diwajibkan membeli gelang yang dibuat khusus dari selang kecil atau rotan dengan
harga Rp.5 ribu untuk enam gelang. Gelang tersebut kemudian dilemparkan ke
dalam kotak jam tangan. Apabila gelang masuk melingkari kotak jam tangan dengan
sempurna, maka jam tangan yang ada di dalamnya menjadi milik kita. Saya melihat
seorang anak remaja berhasil menggondol pulang jam tangan setelah gelang yang
dilempar untuk kesekian kalinya masuk melingkar nyaman di kotak jam tangan yang
dipajang. Saya pun penasaran untuk mencobanya. Apa daya hingga lemparan gelang
tak terhitung, belum pernah sekalipun gelang itu masuk. Terlihat mudah namun
sesungguhnya itu sangat sulit dilakukan.
Khawatir
uang saya hilang begitu saja untuk satu permainan yang sulit saya taklukkan,
saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan beralih ke permainan
ketangkasan lainnya yakni menegakan botol kecil kosong pada bidang miring
menggunakan tongkat yang diikatkan benang kasur dan ujungnya dikaitkan dengan
gelang dan gelang inilah yang kemudian bersentuhan langsung dengan mulut botol
limbah minuman suplemen dewasa. Permainan ini mirip orang memancing dengan
tarif Rp.5 ribu untuk lima kali kesempatan. Apabila sukses menegakan botol,
silahkan memilih sendiri hadiah yang ada dibelakang seperti gitar, handpone dan
boneka ukuran besar. Dalam beberapa kali percobaan, botol kosong itu selalu
saja nyaris berdiri tegak. Saya melupakan ambisi membawa pulang gitar yang diming-imingi karena saya menyadari disaat botol tersebut nyaris berdiri tegak
justeru disitulah rasa penasaran berkecamuk di pikiran. Kalau tidak segera
dihentikan niscaya uang yang ada didompet tak terasa menguap begitu saja.
![]() |
| Permainan Ketangkasan: Lempar Gelang |
Seusai
mengelilingi setiap sudut lokasi pasar malam, saya tidak menemukan arena
atraksi tong setan atau tong maut. Pantas saja saya merasa ada sesuatu yang
kurang padahal dari dahulu pasar malam selalu identik dengan pertunjukan
atraksi tong setan/tong maut ini. Atraksi dimana pengendara motor mengendarai
sepeda motor dengan kecepatan maksimal bergerak leluasa dalam wadah yang
berbentuk tong dengan diameter tidak terlalu besar. Saya menduga mungkin minat remaja
yang menggeluti atraksi ini dari masa ke masa terus berkurang karena begitu
tingginya resiko kecelakaan yang mungkin terjadi bahkan hingga merenggut nyawa
pengendaranya seketika. Jangankan menjadi pengendara, menjadi penonton yang
menyaksikan atraksi saja membutuhkan nyali yang luar biasa.
Tak
bisa dipungkiri, keberadaan pasar malam atau rona-rona di Labuan Bajo
setidaknya mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang haus akan hiburan khususnya
hiburan yang digelar pada malam hari. Tengok saja perhelatan Festival Komodo
dan Gebyar Undian BPD se-Indonesia yang digelar di Labuan Bajo beberapa waktu
lalu, hampir tidak ada ruang kosong di sekitar panggung acara yang dapat
dipijak. Masyarakat dari berbagai kalangan tumpah ruah memenuhi lokasi acara.
Pun pertunjukkan pasar malam yang selalu disesaki penonton tiap malamnya.
Pemerintah Daerah seharusnya mampu menyediakan tempat hiburan rakyat yang dapat
diakses masyarakat pada malam hari sebagai kompensasi dari minimnya tempat
hiburan yang murah meriah dan mudah diakses di siang hari. Pantai Pede yang
selama ini menjadi satu-satunya pilihan favorit masyarakat Labuan Bajo, saat
ini terkesan tidak terawat akibat tidak adanya kepastian kepemilikan lahan
antara Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat.
Masing-masing dari mereka mengklaim sepihak lahan Pantai Pede. Kedua tingkatan pemerintahan ini rupanya alpa bahwa Pantai Pede adalah ruang interaksi
publik masyarakat. Tempat masyarakat menghilangkan penat dan stres sekaligus
tempat berkreasi menyalurkan bakat dan kreativitas.
Pasar
malam apabila dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin menjadi sarana
pariwisata yang dapat menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke daerah ini.
Saya melihat sendiri ada bule bersama keluarga kecilnya datang ke pasar malam
dan menikmati seluruh wahana dan pertunjukkan yang ada. Pada bagian lain
sepasang bule tengah sibuk mengabadikan gambar ekspresi wajah remaja yang
sedang asyik menaiki wahana puting beliung atau gelombang putar. Sinyal positif
ini seharusnya dapat direspon dengan sigap oleh Pemerintah Daerah. Saya yakin
meski dalam hitungan empat minggu, jumlah uang yang beredar selama pertunjukkan
pasar malam dapat menembus angka ratusan juta. Sebagai seorang yang sedikit banyak
memahami ekonomi, jumlah uang sebesar tersebut tentu dapat memberi efek domino
(multiplier effect) pada perekonomian daerah. Seharusnya pertunjukkan
pasar malam menjadi kebijakan daerah dan menjadi even tahunan rutin dan dikemas
lebih menarik seperti Shilin Night Market yang digelar setiap malam di Kota
Shilin, Taiwan. Pada titik ini saya optimis kedepan Labuan Bajo Night Market
akan menjadi kenyataan. Layak kita tunggu.
Rona-rona
Kampung Ujung Labuan Bajo, 25 Maret 2017





No comments:
Post a Comment