Thursday, May 10, 2018

Nilam di usia 10 tahun

Di pertama kali kau mengintip dunia
Di tenggelamnya kau memagut asi
Di timang kau terlelap merenda mimpi
Di mulainya kau merangkak lantas mengayun derap kaki
Di tengah kau mengeja satu-satu nama yang mencintai
Di sederhananya pagi kau pergi mengejar asa
Di pendar cahaya bintang kau melafalkan kalam Ilahi
Seolah semuanya barusan terlewati

Alhamdulillah...Dirimu kini telah menjejaki usia 10 tahun.
Selamat ultah buatmu sang gerimis "RINAI LANGIT NILAKANDI"
Doa kami masih sama seperti tahun-tahun lalu..Amiinn..

Monday, March 19, 2018

Ketika Lunar Menjuarai Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten


Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Dari nomor baru yang tidak saya kenal. Pikiran saya sontak mengarah ke Lunar-anak sulung saya. Hari ini dia tengah serius mengikuti Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten. Saya menduga Lunar sengaja meminjam HP milik gurunya untuk memberitahukan saya agar segera menjemputnya di sekolah atau mengabarkan hasil lombanya kepada saya dan ibunya. Dugaan saya tidak keliru, Lunar nekat meminjam HP Kepala Sekolahnya karena tidak sabar ingin segera menginformasikan kepada kami bahwa dia telah berhasil keluar sebagai pemenang Lomba Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten Manggarai Barat, menyingkirkan peserta lainnya dengan status masing-masing sebagai pemenang lomba tingkat kecamatan. Berita baik ini dalam sekejap memenuhi antero rumah. 

Foto: Lunar menerima Piala Juara I Olimpiade
Mobil hitam metalik milik Kepala SDN Labuan Bajo II yang mengantar Lunar menepi di sisi kiri jalan persis di depan gerbang gang menuju rumah. Lunar turun dengan senyum tersungging sambil memegang sebuah piala besar. Piala yang mengkultuskan dirinya sebagai pemenang lomba Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten Manggarai Barat. Sebentuk penghargaan yang pantas diberikan atas sederet kerja keras yang telah dilakoni Lunar selama ini. Bagaimana tidak, belakangan ini nyaris tidak ada waktu luangnya yang digunakan untuk bersantai. Sepulang sekolah dia hanya beristirahat sebentar karena sore harinya dia sudah ditunggu oleh guru pembimbing di sekolah. Berkutat dengan rumus matematika yang rumit hingga menjelang malam. Otaknya tidak berhenti berpikir sampai di situ. Selepas makan malam, dia kembali harus mematut satu-satu buku kisi-kisi soal olimpiade. Kali ini saya sendiri yang menjadi mentornya. Mentor dengan tampang sangar yang berlaku sok hebat padahal selalu mengandalkan youtube manakala menemui soal-soal yang super sulit.




Foto: Lunar Juara I Olimpiade Matematika Tk. Kabupaten
Harus diakui soal-soal dalam lomba olimpiade (baca: matematika) memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi dari sekedar lomba mata pelajaran biasa. Sebagian besar soal-soal yang diuji belum pernah diajarkan oleh guru di dalam kelas. Tidak jarang soal-soalnya adalah pelajaran matematika tingkat SMP. Bisa dibayangkan otak anak kelas V SD dituntut untuk menyelesaikan soal yang sejatinya anak SMP saja kesulitan dalam mengerjakannya. Belum lagi komposisi soal yang diuji seluruhnya berisi uraian, bukan pilihan ganda. Memang pada saat seleksi tingkat sekolah, gugus dan tingkat kecamatan, setengah soal yang diuji masih dijumpai pertanyaan disertai jawaban alternatif. Setelah tingkat kabupaten, seluruhnya mutlak uraian yang jawabannya pun perlu disertai proses bagaimana menemukan jawaban yang benar tersebut. Sungguh sebuah tantangan yang berat dijalani. Pada titik ini, saya tidak segan mengacungkan dua jempol buat peserta yang bisa menjawab setiap soal dengan benar. 

Melihat betapa sulitnya soal-soal olimpiade matematika SD, Lunar harus memiliki persiapan yang matang. Dia perlu melatih lagi kemampuan menghitung cepat, mengasah kembali pisau analisisnya menghadapi beragam jenis pertanyaan. Lunar merasa tertantang dan termotivasi untuk terus belajar. Terlihat dia sering mengutak-atik soal sendirian, mencorat-coret di banyak kertas untuk memecahkan soal yang ada, membuka buku pelajaran sekedar memastikan rumus yang dipakai sudah tepat. Sebuah pendekatan yang saya kira sangat bijak. Lunar merasa mustahil ikut berperang di medan laga tanpa dibekali keahlian mumpuni. Setidaknya dia mesti mengenal siapa sang musuh sebenarnya. Berbekal semangat dan tekad yang keras, sebagai orang tua saya harus mampu mendampingi dan membimbingnya dalam belajar. Saya harus mampu membaca momentum di kala semangatnya tengah membuncah, saya memberinya materi yang sulit dan pelik untuk dibahas dan saat dia mulai kelihatan lelah, saya hanya membahas materi yang relatif mudah dan tidak lupa memberinya waktu untuk sekedar refreshing. Bagaimanapun juga otaknya tidak boleh terlalu dipaksakan. 

Di tahun ini, tepatnya di semester I sekolah, Lunar juga pernah menjuarai lomba mata pelajaran matematika SD tingkat kabupaten. Sayang lomba ini memang hanya sampai tingkat kabupaten. Untuk itu dia berambisi agar gelaran lomba olimpiade matematika kali ini, dia bisa lolos sampai tingkat provinsi di Kupang. Mewakili sekolah sekaligus daerahnya berlomba dalam ajang olimpiade matematika di tingkat provinsi itu merupakan prestasi tersendiri. Baginya menang dan kalah di sana urusan kedua, setidaknya hanya dengan matematika dia dapat mengobati rasa penasarannya menginjakkan kaki di ibukota Provinsi NTT. Selama ini Kota Kupang hanya didengar lewat cerita heroik Rais -adik Lunar- dimana dalam satu kesempatan saya pernah mengajak Rais ke kota yang terkenal dengan cendana tersebut.

Foto; Lunar Juara Lomba Mata Pelajaran Matematika Tk. Kabupaten
Berkat kerja keras dan ketekunan yang luar biasa serta sejumput doa yang terus terpanjat, secara bertahap Lunar mampu menjuarai lomba olimpiade matematika SD dari tingkat sekolah, tingkat gugus, tingkat kecamatan bahkan tingkat kabupaten. Kali ini dia benar-benar menjadi utusan Kabupaten Manggarai Barat untuk berlomba di tingkat Provinsi NTT. Target Lunar bergeser, dia ingin kembali berjaya di Kupang sehingga bisa lolos ke tingkat nasional. Sebuah impian yang perlu diwujudkan dengan usaha, kerja keras dan doa yang beribu kali lipat dari sebelumnya. Sebagai orang tua, saya siap mewujudkan mimpinya itu. Yakinilah hasil tak pernah mengkhianati proses.


Labuan Bajo, 15 Maret 2018










Thursday, December 28, 2017

Selaksa doa untuk Rais Bumi di Usia yang ke-5 tahun

Tanggal 29 Desember 2017 menjelang. Di tengah orang-orang hiruk-pikuk dengan nuansa tahun baru 2018. Rais Bumi pun bersiap menyambut hari kelahirannya dengan penuh syukur, suka cita dan pengharapan.

***

Saya mulai menyusun tulisan ini ketika jam di sudut kanan ponsel saya menunjukkan waktu pukul 23.04 Wita. Itu berarti kurang dari satu jam lagi roda waktu akan bergulir ke perbatasan malam dan siang. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, biasanya waktu tengah malam seperti ini saya sudah tertidur pulas di tempat tidur. Namun, malam ini saya sengaja melewatkannya dengan kedua mata terus terjaga. Saya ingin melewatkan detik-detik peralihan hari dengan jiwa penuh kesyukuran. Sebab ketika jarum panjang jam lewat sedikit dari jarum pendek yang menunjukkan angka dua belas, di momen itu anak ketiga sekaligus putra pertama saya yang bernama Rais Bumi genap berumur lima tahun.

Sebenarnya saya ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia tapi saya tidak mungkin membangunkannya dari buaian mimpi tidurnya. Sebab kalaupun dia bangun, mungkin dia belum terlalu paham maksud doa yang saya panjatkan. Baginya ucapan ulang tahun adalah hadiah yang diberikan kepadanya. Dalam bentuk mainan ataupun ajakan berlibur. Padahal umur yang bertambah merupakan salah satu hadiah paling berharga dari Empunya kehidupan.

Muhammad Rais Bumi begitu nama yang saya dan ibunya pilihkan untuk dia. Nama yang mengandung selaksa doa untuk keberkahan hidupnya kelak. Nama yang harus selalu dijaga kesuciannya sepanjang hayat karena secara sengaja mencatut nama Manusia Pilihan di depan namanya. Identitas yang akan menegaskan kepada semua orang dan seluruh alam semesta apa agamanya dan siapa junjungannya.

Waktu menunjukkan jam 12 kurang empat menit. Dalam hitungan detik umur rais terus bertambah. Tidak terasa usianya kini sudah menginjak angka 5 tahun. Di sunyinya malam, seraya mengucap syukur saya ingin mengetuk pintu langit agar berkenan selalu memberkahi umur Rais Bumi. Senantiasa Melindungi dirinya dalam menapaki keras, berkelok dan terjalnya kehidupan. Semoga Rais Bumi kelak menjadi anak yang sholeh, menjadi qurrota a'yun-penyejuk jiwa- orang tuanya. Menjadi anak yang selalu diliputi keberanian dalam menegakkan panji Islam terus berkibar.

Di penghujung malam, tak ada yang melihat diam-diam saya mengecup kening Rais Bumi yang masih terlelap. Selamat panjang umur sang cahaya mataku.

Di samping Rais, Kamar, 29 Desember 2017

Tuesday, December 26, 2017

Cerita Singkat Sang Calon Pilot




Rais berlonjak kegirangan ketika di suatu sore, saya berencana mengajaknya ke Kupang. Rais tidak tahu kota Kupang itu dimana dan apa yang akan dilakukan di sana. Dalam benaknya ia hanya berfikir bahwa kota Kupang itu letaknya jauh dari kotanya dan untuk sampai ke sana perlu menggunakan pesawat terbang. Saat logikanya terbentur pada kata pesawat terbang, rasa penasaran akan sensasi terbang bersama burung besi itu semakin meluap-luap. Ia sudah tidak sabar untuk segera merasakan bagaimana rasanya terbang di ketinggian seperti superman.

*****

Rais bersama Petugas Bandara Komodo

Sudah lama terpikir dalam benak saya untuk sesekali mengajak anak-anak saya terutama Rais berlibur keluar kota. Bukan bermaksud mengistimewakan Rais seorang, kalau boleh jujur, diantara ke-4 anak saya, Raislah yang saat ini dibilang masih bebas dibawa kemana-mana. Dua anak perempuanku, Lunar dan Nilam saat ini masih harus berkutat dengan tugas sekolah. Sedangkan si bungsu-Nauzan, usianya baru menginjak 15 bulan. Masih terlalu belia untuk diajak bepergian. 

Hari yang dinanti Rais menjelang. Kota tujuan sudah dipilih. Tanggal keberangkatan sudah pula ditetapkan. Tiket pesawatpun sudah di tangan. Sebentar lagi mimpinya menaiki pesawat terbang terobati. Meskipun demikian ia belum cukup percaya kalau saya akan mengajaknya ke Kupang kali ini. Berulang kali ia bertanya ketika deru suara pesawat terbang terdengar jelas di telinganya saat landing dan take off di bandara yang jaraknya hanya dua kelokan dari rumah. 
"Kapan kita berangkat ke Kupang, pa?" Saya hanya menjawab singkat. "Besok nak!"

Tiba hari keberangkatan. Rais nampak sudah siap sedari pagi meskipun jadwal pesawat ke Kupang sore hari. Semua keperluannya selama di kota karang seperti beberapa potong baju dan celana telah semua dimasukkan ke dalam ransel yang saya bawa. Agar ia bisa lebih leluasa bergerak, ia hanya menyampirkan tas mungil bergambar Ultraman di pundak. Isinya berupa sedikit makanan ringan dan susu kemasan. Ia tidak lupa memasukkan IPAD kesayangan dengan dominasi fitur game ke dalam tasnya. 

Rais berpose sejenak di dekat pesawat

Dengan celana panjang dipadukan kaos oblong lengan panjang yang ditutupi jaket berwarna senada serta dengan sepatu sneaker menghias kedua kaki, Ia melangkah mantap dari ruang tunggu menuju apron pesawat. Sekilas penampilan Rais tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan penampilan anak-anak artis yang sering muncul di televisi. Dalam hati saya tersenyum geli. Ternyata Rais telah mewarisi ketampanan ayahnya.


Rais tidak sabar menggandeng
tangan saya memasuki pesawat
Rais duduk berdampingan dengan saya di  deretan kursi nomor 6 sebelah kiri. Saya sengaja memilihkan dia posisi duduk dekat jendela. Semula niat saya hanya ingin melihat respon dia ketika berada di ketinggian. Apakah dia termasuk anak acrophobia, seseorang yang cemas atau takut ketika berada di tempat tinggi. Dugaan saya salah. Sebaliknya Rais justru sangat bersemangat melihat pesawat perlahan-lahan lepas landas. Dia sangat takjub melihat rumah, kendaraan, gunung, pohon dan semuanya yang berada di bawah berangsur-angsur semakin mengecil dan nampak tidak terlihat jelas. Rona gembira terpancar jelas di wajahnya saat pesawat sesekali bermanuver di antara awan-awan. Sepertinya sang pilot tahu kalau salah satu penumpangnya ada yang begitu senang dengan penerbangan ini. Senyum Rais mengembang luas saat seorang pramugari iseng menanyakan perasaannya. Saya tahu Rais tak bisa menjawab pertanyaan pramugari dengan detail sebab perasaannya bercampur aduk antara kaget, takjub, senang dan tidak percaya. Kalau saya membaca ekspresinya, perasaan Rais sangat senang dan bahagia. Namun sayang kesenangan dan kebahagiaan itu sulit untuk diungkapkannya dengan kata-kata.


Rais bersama Pramugari
Rais sedang memandang keluar jendela pesawat

Matanya hampir selalu tertuju ke pemandangan di luar pesawat. Ia seperti tak mau kehilangan momentum menikmati setiap detik di udara. IPAD yang dibawanya tak pernah sekalipun disentuh. Pesawat terus terbang melewati Laut Sawu. Itu berarti sebentar lagi pesawat yang ditumpangi Rais akan tiba di Kupang. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam di tengah cuaca bulan Desember yang tidak menentu tak mengurangi antusiasme Rais di atas pesawat. Saya sempat memperhatikan dia sedang tertegun. Seperti ada pertanyaan besar menyelinap di kepalanya. 
"Bagaimana bisa benda sebesar ini bisa terbang dan melayang dengan anggun di udara? Siapakah gerangan sosok jenius yang telah menciptakan moda transportasi sehebat ini?" Pertanyaan Rais tetap menjadi misteri di benaknya. Terdengar suara pramugari menginformasikan bahwa dalam waktu dekat pesawat yang kami tumpangi akan mendarat di Bandar Udara El Tari Kupang. Rais kembali mengenakan sabuk pengaman dan memegang erat tumpuan tangan pada kursi miliknya. Ia memejamkan mata sejenak seraya menghembuskan nafasnya pelan. Pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di landasan. "Alhamdulillah" kalimat pujian keluar dari mulut saya dan Rais secara serentak. Welcome to Kupang, Rais Bumi..
Di dalam taksi menuju hotel tempat kami menginap, Rais berbisik lirih di telinga saya. 
"Papa, kalau sudah besar, saya mau jadi pilot !!"
Saya menjawab dengan senyum mengembang namun di hati penuh pengharapan agar kelak Tuhan mendengar doa Sang Calon Pilot..


*****

Rais berdiri di depan Gedung Sasando
Kantor Gubernur NTT di Kupang
Kupang, 14 Desember 2017

Monday, April 17, 2017

Setelah Membaca Buku Bunda Ana


Semula saya tidak pernah tertarik membaca buku insiratif, buku tips sukses dan buku psikologi pupuler. Bagi saya membaca buku semacam itu sungguh membosankan. Saya tidak pernah merasakan “kenikmatan” saat membaca buku-buku tersebut. Beda halnya dengan membaca buku non fiksi bertema lainnya seperti ekonomi, politik, sosial maupun agama, saya masih dapat menikmatinya. Untuk urusan membaca buku, saya paling suka membaca buku fiksi seperti novel dan komik. Sehingga wajar saja dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, yang paling banyak memenuhi rak buku saya justeru novel dan komik. Kemudian disusul buku bertema agama, ekonomi, dan politik. Satu-satunya buku psikologi yang saya miliki adalah buku “tes psikologi”. Buku ini sengaja saya beli beberapa saat setelah diwisuda. Buku ini berisi kisi-kisi dan tips menghadapi tes psikologi dan tes wawancara saat akan melamar kerja di perusahaan.

***

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat undangan dari seorang sahabat untuk menghadiri pembukaan seminar parenting dengan tema “Menjadi Orang Tua Efektif: Mengasuh Anak Sesuai dengan Potensi Genetiknya”. Seminar yang dibawakan oleh Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi,M.Si. Seorang psikolog pendidikan yang sudah malah melintang di kancah permotivasian. Jujur saja, awalnya saya memutuskan untuk menghadiri acara pembukaan ini bukan karena terkesima dengan narasumbernya yang bergelar "Doktor" namun karena semata-mata ingin menghargai undangan sahabat saya ini yang kebetulan bertindak sebagai Ketua Panitia kegiatan seminar. 

Undangan Seminar
Meski acara pembukaan tidak sempat dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat –hanya diwakilkan oleh Camat Komodo- undangan yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat cukup banyak yang hadir, menunjukkan mereka begitu antusias mengikuti acara pembukaan seminar ini. Di tengah acara berlangsung, narasumber seminar yang biasa akrab disapa Bunda Ana ini membagikan cenderamata secara simbolis kepada beberapa orang yang telah dipiih khusus oleh Panitia berupa buku karya terbaru dari sang bunda berjudul “Menjadi Orang Tua”.

Camat Komodo Membuka Seminar Parenting
Melihat cover buku dengan desain menarik, sedikit membuat saya terpikat. Saya betul-betul merasa penasaran terhadap isi buku tersebut saat ekor mata saya tidak sengaja membaca sub judul buku yang sedang dipegang oleh seorang bapak yang barusan menerima buku tersebut di atas panggung. Di sana tertulis kalimat inspiratif “Tidak Ada Kesempatan Kedua dalam Mengasuh Anak”. Sebuah kalimat pembangun jiwa yang membuat saya mantap harus bisa segera memiliki buku itu. Untuk sementara saya melupakan adagium “jangan melihat buku dari sampulnya”. 

Di akhir acara pembukaan seminar, saya menyempatkan diri membeli buku tersebut dengan harga yang relatif murah. Saya tidak pernah merasa rugi membeli sebuah buku sepanjang buku tersebut berkualitas. Di tahap ini, saya ingin segera larut membacanya, menyelami isinya, menimba ilmu yang ada di dalamnya dan menerapkan maknanya dalam kehidupan keluarga kecil saya.
Buku Karya Bunda Ana
Buku itu tidak terlalu tebal sehingga terkesan tidak menjemukan ketika memulai membacanya. Membaca sekilas buku ini kelihatan menarik. Betul saja, dalam mukaddimah, kurang lebih dua puluh halaman berisi testimoni 24 orang yang memberi apresiasi pada buku ini. Setelah larut membaca beberapa halaman pertama, saya lantas bisa mengambil kesimpulan bahwa materi buku ini terbilang ringan. Mudah dicerna dan dipahami karena Bunda Ana sengaja menggunakan bahasa sederhana untuk memudahkan proses transfer pengetahuan kepada para orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. 

Buku ini tidak sekadar berisi teori yang lahir dari sebuah hipotesa bagaimana mengasuh anak yang baik tetapi juga berangkat dari fakta dan pengalaman nyata Bunda Ana dalam mengasuh ketiga anaknya. Di sini Bunda Ana tidak hanya “omdo” (omong doang) tetapi menawarkan solusi mengasuh anak yang efektif dengan mengkombinasikan aspek teoritis dengan pengalaman pribadi hasil pendekatan interaksi intensif dengan ketiga anaknya sekaligus dengan lingkungannya.

Saya membaca buku ini hingga tuntas selama tiga hari. Terlalu lama untuk ukuran buku berhalaman kurang lebih 200 halaman. Apalagi besar huruf yang digunakan relatif besar. Belum lagi pada setiap bab disisipkan motto dari beberapa tokoh dunia terkenal yang dicetak dengan huruf cukup besar pula. Saya biasanya mampu melahap membaca novel setebal kitab suci dalam tempo dua hari. Itupun tidak terus-menerus bergumul dengan novel tersebut dari pagi hingga malam hari. Bahkan saya sering mengkhatam habis satu buah novel tebal dalam perjalanan udara dari Kupang-Labuan Bajo, atau sebaliknya yang hanya ditempuh waktu kurang lebih dua jam.

Waktu membaca buku Bunda Ana terbilang lama karena dalam setiap bab saya perlu merefleksikan kembali apa yang saya baca dan saya pahami terkait metode pengasuhan anak yang efektif dengan metode yang selama ini saya dan isteri saya terapkan dalam mengasuh anak kami. Untuk beberapa kasus, sebagai orang tua kami merasa metode pengasuhan anak yang selama ini kami terapkan sepertinya keliru.

Bunda Ana menyampaikan Materi Parenting
Anak adalah mutiara titipan Tuhan, sebagai anugerah sekaligus amanah. Oleh karenanya orang tua bertanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani serta kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi diri sendiri dan sesama. Peran yang dijalankan orang tua ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemberi Hidup.

Benar kata Bunda Ana, yang telah mengutip pendapat Virginia Satir, seorang penulis dan psikoteraphis dari Amerika yang dikenal luas sebagai “Ibu dari Terapi Keluarga” bahwa mengasuh anak bukanlah tugas yang mudah bahkan dapat dikatakan pekerjaan paling rumit. Setiap orang tua mungkin merasa telah melakukan yang terbaik demi anaknya, namun terkadang hasilnya berujung kurang bahagia –kalau tidak mau dikatakan tidak bahagia-. 

Untuk itu menjadi penting bagi orang tua untuk mengenal potensi anak, kemudian diasah dan dikembangkan dengan benar, maka keberhasilan sekaligus kebahagiaan hidup anak adalah sebuah keniscayaan. Mengasuh anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya akan membuat anak menjalani kehidupan dengan suka cita, sebaliknya orang tua merasa nyaman dan tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang tua idaman keluarga.

Potensi yang dimiliki anak layaknya sebuah pisau. Kelebihan berada pada sisi pisau yang tajam, sebaliknya kekurangan anak adalah sisi pisau yang tumpul dan mengarah ke atas. Orang tua harus cermat melihat kelebihan dan kekurangan anaknya. Kelebihan anak semestinya akan selalu diasah dan ditumbuhkembangkan hingga menjadi kekuatan anak. Sebaliknya kekurangan yang ada  pada diri anak tidak lantas membuat anak menjadi apatis, introver dan eksklusif.

Pola pengasuhan yang tidak mendikte anak untuk menjadi seseorang menurut kemauan orang tua atau sekadar mengikuti tren yang sedang berlangsung. Tidak juga menambah beban anak untuk menutupi kegagalan orang tua pada masa lalu. Di sini peran orang tua harus mampu berlaku adil. Memposisikan anak sesuai masanya karena setiap generasi memang memiliki masa dan tantangannya sendiri. Saya menggarisbawahi dengan dua garis bawah kalimat inspiratif dalam buku Bunda Ana “orang tua pernah menjadi anak-anak sedangkan anak-anak belum pernah menjadi orang tua, sehingga orang tualah yang harus menyesuaikan dengan kehidupan anak-anak”. 

Di bagian lain buku ini, Bunda Ana mengulas dengan runtut bagaimana berlaku sebagai orang tua yang bijak. Sebab seluruh tutur kata, sikap dan perbuatan orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Pada tahap ini, wajar ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan orang tua. Orang tua dituntut harus pandai menjadi teman sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Keterbukaan menjadi kata kunci di tengah komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak. Komunikasi yang disampaikan dengan jujur dan dituturkan dengan bahasa yang halus dan sopan diyakini akan memperkuat ikatan bathin antar keduanya.

Buku karya Bunda Ana, merupakan satu dari sekian buku psikologi popular cara mengasuh anak yang tersebar banyak di toko buku, selayaknya menjadi koleksi berharga bagi orang tua, baik yang telah lama berumah tangga, belum lama maupun yang akan berumah tangga. Karena dalam buku tersurat dan tersirat bagaimana memperlakukan anak agar anak tidak saja menjadi perhiasan tetapi juga penyejuk mata dan penenang jiwa orang tuanya.

Sebagai orang tua dari empat orang anak yang masih kecil, saya merasa buku Bunda Ana ibarat peta yang sangat membantu saya dalam menuntun biduk rumah tangga khususnya dalam hal mengasuh anak, bergerak ke arah mana nantinya. Belum terlambat kiranya apabila arah yang saya tuju kini meleset dari sasaran untuk selanjutnya memutar kemudi berbalik haluan. Sebab jauh di lubuk hati yang paling dalam saya berharap agar keempat anak saya dapat menjadi penyejuk hati dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat. Amiin

Terakhir, saya sedikit memberi saran kepada Bunda Ana agar pada edisi berikutnya buku ini disempurnakan lagi karena ada hal yang sifatnya memang bukan prinsipil namun sangat mengganggu saya sebagai pembaca dalam membaca. Maaf, terkesan banyak penggunaan tanda baca dan penulisan huruf yang salah yang sepertinya luput dari mata editor. Sukses selalu Bunda..Terima kasih..

Labuan Bajo, 18 April 2017





Thursday, April 13, 2017

Ironi Kehidupan Warga Kepulauan



Air adalah sumber kehidupan. Sejak awal kehidupan seluruh makhluk hidup terutama manusia sangat bergantung pada ketersediaan air demi menjaga kelangsungan hidupnya. Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi di samping energi dan bahan pangan. Tanpa ketiganya manusia tidak akan bisa hidup dengan layak. Air yang dibutuhkan selain tawar juga harus bersih dan layak dikonsumsi. Terkadang, kondisi ini tidak berlaku bagi warga di kepulauan. Di tengah apatisme, saat ini mereka hanya menuntut tersedianya air tawar. Bersih dan layak dikonsumsi menjadi urusan kemudian. 

Ilustrasi: Krisis Air Tawar di Kepulauan
Krisis air tawar di pulau-pulau kecil berpenghuni maupun tidak berpenghuni yang masuk dalam wilayah laut Kabupaten Manggarai Barat telah menjadi permasalahan klasik yang tak kunjung diselesaikan secara sistemik. Air tawar telah menjadi sesuatu yang langka dan bernilai ekonomi tinggi. Bagaimana tidak, di tengah kondisi ekonomi warga kepulauan yang relatif rendah, mereka dituntut harus bisa membagi pengeluaran sehari-hari antara memenuhi kebutuhan dasar lainnya dan kebutuhan untuk membeli air tawar. Harga air tawar di pulau-pulau menjadi lebih mahal karena harus dipasok dari Labuan Bajo (kota kabupaten) menggunakan perahu nelayan. Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan sekadar untuk mendatangkan se-jerigen, se-ember atau se-drum air tawar ke pulau. Saat laut tidak bersahabat, dimana ombak tinggi menghalangi pelayaran ke Labuan Bajo, membuat krisis air tawar di kepulauan berada pada titik nadir. Begitu sulitnya memperoleh air tawar, warga di kepulauan terpaksa menggunakan air laut untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Penggunaan air laut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sedikit berkurang saat musim penghujan datang. Pada saat air hujan turun membasahi tanah di kepulauan, seolah-olah inilah anugerah terindah yang dirasakan warga kepulauan. 

Melihat kondisi riil warga kepulauan bak anak tiri dan kurang mendapat perhatian, saya mencoba mengungkap beberapa ironi pembangunan yang kelihatannya masih mengedepankan pembangunan di daratan utama dan sebaliknya masih kerap memunggungi lautan dan pulau-pulau kecil.

Ironi Pembangunan antara Pulau Berpenghuni dengan Pulau (dulunya) Tidak Berpenghuni.  

Kabupaten Manggarai Barat memiliki gugusan pulau yang indah dan menarik baik yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni. Secara umum hampir seluruh pulau berpenghuni mengalami krisis air tawar. Sebut saja Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Papagarang, Pulau Messah, Pulau Kukusan, Pulau Seraya Besar dan Seraya Kecil, Pulau Boleng dan Pulau Longos. 

Krisis air tawar yang dialami warga pada beberapa pulau di atas, bertolak belakang dengan kondisi pulau-pulau kecil lainnya (sebelumnya tidak berpenghuni) namun kini telah berpenghuni karena telah dikuasai oleh pihak ketigaiInvestor (biasanya orang asing) melalui transaksi jual beli atau sewa-menyewa dengan warga pulau yang mengklaim sebagai pemilik pulau tersebut. Sederet pulau seperti Pulau Bidadari, Pulau Sebayur, Pulau Kanawa saat ini telah dikuasai oleh pihak ketiga. Di pulau-pulau tersebut, telah dibangun hotel (bungalow) dan restoran. Maklum saja dengan garis pantai putih yang membentang dan dipadupadankan dengan panorama pulau dan bawah laut yang memukau, pulau-pulau tersebut sangat prospektif apabila dikelola untuk usaha di bidang pariwisata. Untuk menjalankan bisnisnya lebih optimal, permasalahan air tawar harus segera ditanggulangi. Dengan kekuatan modal yang tidak terbatas, pihak ketiga ini (baca investor) memasang alat penyulingan air laut, yang dapat merubah rasa asin air laut menjadi air tawar bahkan bersih dan layak diminum. Dari sini nampak terlihat bahwa pulau-pulau yang dikuasai pihak ketiga (investor) tidak lagi merasakan kekurangan air tawar. Sementara pulau-pulau yang dihuni warga kepulauan masih tetap merana akibat krisis air tawar yang melanda.

Ironi Pembangunan di Kepulauan dan di Daratan Utama.

Secara kasat mata kita dapat melihat orientasi pembangunan di daratan lebih banyak dibandingkan dengan di wilayah kepulauan. Di daratan nampak terlihat geliat pembangunan di sana-sini. Beragam alasan demi memuluskan pembangunan di daratan. Lajur jalan yang baru dibuka dikerjakan dengan alasan untuk membuka aksesibilitas. Kondisi jalan ditingkatkan tiap tahun  berlindung pada kalimat untuk memudahkan mobilitas. Jembatan baru dibentang berbekal argumentasi sebagai penghubung wilayah terisolir. Irigasi dibangun untuk mengejar swasembada pangan. Jaringan listrik dan air bersih dipasang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pada titik ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa wilayah kepulauan sama sekali tidak tersentuh pembangunan karena jelas dapat dilihat pada beberapa pulau telah dibangun dermaga, jalan setapak dan tembok penahan gelombang. Saya tahu infrastruktur yang dibangun tersebut ditujukan untuk kepentingan warga kepulauan. Namun saya yakin kalau kita melakukan survey yang objektif untuk mengetahui kebutuhan mendasar warga kepulauan, sebagian besar -kalau mau tidak dikatakan seluruhnya- akan menjawab pemenuhan kebutuhan air tawar. Hal ini sekaligus menjawab bahwa pembangunan fisik lainnya selama ini belumlah bersifat urgen dan mendesak.

Ironi Pembangunan Sektor Pariwisata dengan Peningkatan Kesejahteraan Warga Kepulauan

Sebagai daerah yang menggalakkan pariwisata sebagai leading sector, sudah saatnya bagi daerah ini memperhatikan denyut nadi warga kepulauan. Meskipun keberadaan binatang langka komodo hanya terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, hal ini tidak lantas membuat warga di kedua pulau tersebut menjadi sejahtera padahal jumlah kunjungan wisatawan yang datang melihat langsung komodo di habitatnya dari tahun ke tahun terus meningkat. 

Warga di kedua pulau masih sering mengeluhkan masalah air tawar/bersih. Belum lagi berbicara dampak nyata yang dirasakan warga kepulauan di sekitar dua pulau besar tersebut. Kebijakan daerah seharusnya bergerak simultan. Sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau harus terlampaui. Harus diakui, pengembangan pariwisata daerah saat ini masih mengandalkan komodo sebagai daya tarik utama serta keindahan pulau-pulau sebagai destinasi wisata alternatif. Kondisi ini dapat dimaknai bahwa wisata alam dan wisata bahari di kepulauan masih lebih menjanjikan bila dibandingkan dengan wisata alam lain yang ada di daratan. Menjadi ironis manakala daerah ini gencar mempromosikan keelokan objek wisata pantai, karakteristik terumbu karang dan keunikan biota lautnya tanpa dibarengi upaya berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan warga lokal di kepulauan. Kerinduan mereka yang utama sebagai kompensasi dari dieksploitasinya wilayah kepulauan adalah terpenuhinya kebutuhan air tawar/bersih. Tentu dengan tidak menafikkan kebutuhan akan listrik/penerangan, fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Pada akhir tahun 2014 yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menggagas program desalinasi di Desa Papagarang yakni teknologi penyulingan air laut untuk menghilangkan kadar garam berlebih pada air laut sehingga menghasilkan air tawar yang dapat dikonsumsi dengan hasil produksi tinggi tetapi menggunakan energi yang murah dan ramah lingkungan. Namun program tersebut tidak berlangsung lama, belakangan saya mendengar alat penyuling air laut tersebut mengalami kerusakan. Selain tidak adanya biaya pemeliharaan atas kerusakan alat, saya menduga operator yang mengoperasikan alat ini tidak mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang memadai sehingga pada saat alat ini mogok bekerja lantas dibiarkan teronggok begitu saja.  

Program desalinasi tidak menjangkau semua desa di kepulauan. Padalah dalam satu desa terdapat dua sampai tiga pulau kecil berpenghuni yang jaraknya satu sama lain cukup jauh masih merasakah kekurangan air tawar. Mungkin saja alat penyulingan ini mahal harganya karena mesti diimpor dari luar negeri. Namun kalau benar pemerintahan saat ini konsekwen dengan program nawacita membangun dari pinggir, dari daerah perbatasan dan kepulauan, saya rasa harga alat yang mahal sekalipun bukan menjadi alasan rasional yang dapat diterima. Pada titik ini, saya sulit memahami bagaimana mau meningkatkan kesejahteraan warga kepulauan kalau air tawar saja masih menjadi mimpi panjang mereka. 

*** 
Pulau Kelor dari Ketinggian
Di satu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah mendampingi Tim dari Kemendagri mengunjungi Pulau Rinca untuk melihat langsung komodo di habitatnya. Kami menyempatkan diri singgah di Pulau Kelor. Menikmati sejenak keindahan pulau ini. Tim dari pusat tidak mau kehilangan momentum. Mereka terlihat asyik memanjakan diri dengan berenang atau sekadar berendam di lautnya. Ada yang terlihat sibuk menyusuri pantai dengan hanya bermain pasir. Ada pula yang nekat naik ke atas puncak gunung untuk menikmati keindahan pulau dari ketinggian. 
 
Pulau Kukusan
Semburat kekecewaan nampak tergambar dari wajah mereka saat saya mengingatkan untuk segera menghentikan aktivitas sementara karena harus menunaikan sholat jumat yang waktunya sudah hampir dekat. Sebenarnya bisa saja kita memburu waktu untuk sholat jumat di Labuan Bajo namun salah satu pejabat menginginkan untuk sholat jumat di pulau terdekat. Akhirnya Pulau Kukusan yang menjadi pilihan yang masuk akal. Pulaunya hanya sepelemparan batu dari Pulau Kelor.

Bersama Tim dari Pusat di Dermaga Pulau Kukusan
Tanpa membilas tubuh dengan air tawar karena persediaan air tawar di kapal yang kami tumpangi habis, mereka langsung berganti pakaian. Tiba di masjid Pulau Kukusan tepat saat khatib hendak naik ke atas mimbar. Kesulitan air tawar sungguh terasa saat kami akan berwudhu. Kran air tempat wudhu tidak mengeluarkan air. Toilet dan kamar mandi terkesan tidak terawat. Bahkan dipenuhi kotoran kambing. Bau busuk menyeruak menyegel hidung. Karena tidak tersedianya air tawar, sepertinya toilet dan kamar mandi ini telah beralih fungsi menjadi kandang kambing warga. Seorang ibu menawarkan air tawar untuk kami berwudhu. Dari rasanya saya menduga itu adalah air hujan yang turun semalam dan sengaja ditadah untuk persediaan keluarganya beberapa hari ke depan. 
Miris, Tempat Wudhu yang Dipenuhi Kotoran Kambing

Toilet dan Kamar Mandi Beralih Fungsi Menjadi Kandang Kambing
Selepas sholat saya iseng berdialog dengan anak-anak di teras masjid.

"Kenapa rambutmu merah, sengaja dipirang kah?" Pertanyaan retorik yang jawabannya sudah saya ketahui.
"Terlalu sering mandi air laut" Kata anak itu dengan ekspresi malu-malu.
"Memang tidak ada air tawar?" Saya terus menimpali.
"Air tawar hanya dipakai untuk memasak dan untuk minum". Jawaban miris dari mulut seorang bocah kelas dua SD.
"Berarti kalian mandi pakai air laut sebelum ke masjid tadi?" Tanyaku terus.
"Setiap hari kami mandi air laut. Pagi hari sebelum ke sekolah, siang hari setelah mengaji dan sore hari sebelum sholat maghrib" Anak itu bertutur panjang yang membuat teman-teman dari pusat menggelengkan kepala. 

Anak-anak Pulau Kukusan yang Sedang Mandi di Laut
Pulau Kukusan, satu dari beberapa pulau berpenghuni di Kabupaten Manggarai Barat yang hingga kini belum mandiri dalam penyediaan air tawar/bersih. Air tawar apalagi air bersih dan air layak minum masih menjadi janji yang selalu terngiang saat musim kampanye menjelang. Belum terealisir atau mungkin dilupakan. Saya hanya berpikir, belum terlambat apabila pengambil kebijakan memutar arah kebijakan dengan memprioritaskan pembangunan di kepulauan melalui pemenuhan kebutuhan dasar berupa penyediaan air tawar/bersih bagi warga kepulauan. Sebab dari raut wajah anak-anak kepulauan, saya dapat menangkap perasaan kebosanan atas kondisi krisis air tawar/bersih selama ini. Mereka menitip pesan melalu senyum getirnya, agar kedepan mereka dapat memanfaatkan air tawar/bersih untuk mandi ke sekolah dan bersuci ke masjid atau ke tempat mengjia. Sebab sabun dan shampo yang digunakan selama mereka mandi tak pernah sempurna berbusa di kulit tubuh dan kepala mereka. 

Senyum Getir Anak-anak Pulau Kukusan bersama Tim dari Pusat

Di tengah perjalanan pulang...Labuan Bajo, 7 April 2017