Wednesday, July 25, 2018

Ketika PNS Rangkap Jabatan Menjadi Pemulung

Libur panjang lebaran usai sudah. Sebagian besar pekerja (pegawai dan karyawan) telah kembali bergelut dengan rutinitas semula. Hadir dengan cerita dan pengalaman libur masing-masing. Ada yang merasa belum puas menikmati liburan meski telah diberi jatah libur hingga 10 hari. Kelompok ini biasanya masih ingin bermalas-malasan di rumah. Mereka sebenarnya terpaksa masuk kantor karena takut diberi sanksi akibat bolos kerja. Sebaliknya ada juga yang memang sangat bersemangat masuk kerja kembali. Tentu jumlah mereka dapat dihitung dengan jari. Pada kesempatan ini, saya hanya mau mengulik sikap ASN (PNS dan Tenaga Kontrak) di Kabupaten Manggarai Barat saat pertama kali mendengar perintah untuk mengumpulkan sampah kantong kresek (SKK).

Tidak seperti ASN di daerah lain, mungkin hanya di Kabupaten Manggarai Barat pesan khusus Bupati kepada para ASN lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang sedang berlibur untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya SKK dan dikumpulkan setiap orang minimal 3 kg pada saat pertama kali masuk kantor. SKK ini disinyalir akan diuji coba sebagai bahan campuran aspal untuk membangun jalan dalam kota Labuan Bajo sepanjang 9 KM agar kualitas jalan yang dibangun nantinya bisa lebih tahan lama. Formula SKK yang dibutuhkan adalah sebanyak 4 ton untuk setiap kilo meter jalan yang dibangun. Praktis dibutuhkan sekitar 36 ton SKK untuk mendukung program pembangunan jalan dalam kota yang sumber pembiayaannya berasal dari APBN. Sebuah jumlah yang sungguh sangat tidak sedikit namun tetap perlu segera dipenuhi mengingat Bupati sudah terlanjur menyanggupinya langsung di hadapan Menko Kemaritiman sebagai penyedia anggaran pembangunan. 

Beberapa kali Bupati menegaskan kepada para pimpinan OPD untuk memerintahkan para stafnya mengumpulkan SKK tersebut. Perintah berjenjang yang ketika sampai di telinga bawahan sontak membuat wajah mereka menjadi merengut. Bagaimana tidak, di sela-sela keasyikan menikmati liburan, dimana seharusnya fisik diistirahat sejenak dari aktivitas keseharian dan pikiran sengaja dibiarkan segar kembali setelah saban hari harus memikirkan tanggung jawab pekerjaan di kantor, harus direcoki dengan beban mengumpulkan SKK yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung minimal 3 kg perorang. Memang mengumpulkan SKK tidaklah terlalu berat namun karena momennya dirasa kurang tepat karena libur lebaran seperti ini sangat diidentikan dengan mudik ke kampung halaman atau setidaknya momentum yang tepat untuk mengajak anggota keluarga berlibur ke daerah lain atau sekadar berdarma wisata ke tempat wisata favorit. Pada titik ini wajar kiranya bila memungut sampah kresek dirasa menjadi beban tersendiri. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara ASN yang mudik ke daerah masing-masing-katakanlah yang berasal dari Jawa, Bali atau Sulawesi untuk mendapatkan SKK sebanyak yang dipersyaratkan. Tidak mungkin bila SKK tersebut dibawa dari bersamaan dengan oleh-oleh yang dibawa pada saat balik. Padahal biasanya mereka yang mudik baru datang kembali sehari sebelum waktunya masuk kantor. Tidak mungkin bagi mereka untuk memulung SKK sebanyak 3 kg dalam durasi waktu yang sangat singkat tersebut.  Belum lagi nyaris tidak ada lagi SKK yang berserakan di pinggir jalan dan di sekitar permukiman. Semuanya telah diangkut tangan-tangan ASN yang nyambi sebagai pemulung. Tidak putus asa dengan keadaan, mereka berpikir instan untuk membeli kantong kresek baru langsung dari toko atau pedagang di pasar. Dengan mengorbankan selembar uang lima puluh ribuan, mereka telah bisa mendapatkan kantong kresek sebanyak 3 kg yang baru, bersih, tidak bau dan rapih. Seturut senyum mereka merekah sempurna. Ternyata trik ini justru dimulai oleh para ASN yang enggan berjibaku dengan STK, merasa wibawanya jatuh seketika ketika harus memungut SKK dari tempat-tempat sampah. 

Uji coba SKK dijadikan bahan campuran aspal pembuatan jalan perlu dipikirkan kembali ketika proses pengumpulannya hanya melibatkan para ASN. Kebutuhan SKK yang sangat banyak bila disandingkan dengan jumlah seluruh ASN, maka rata-rata ASN bertanggung jawab untuk mengumpulkan SKK sebanyak 10 kg. Seharusnya program kontroversial ini juga melibatkan seluruh masyarakat termasuk anak sekolah. Peran RT juga mesti dioptimalkan. Bagaimana mendorong warganya untuk mengumpulkan STK di masing-masing rumah. Perkara pengangkutan dapat dikomunikasikan. Pelibatan masyarakat setidaknya dengan memberikan sugesti kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Miris rasanya kalau sampah produksi mereka menjadi ladang memulung bagi ASN secara keseluruhan. Tugas ASN yang sejatinya bukan bergelut di ranah persampahan, terkesan dituntut untuk membagi tugas dengan para petugas kebersihan. Padahal jumlah petugas kebersihan yang sengaja direkrut daerah untuk menyapu dan mengangkut sampah terlalu asing kalau dikatakan sedikit. Untuk mencapai target jumlah SKK yang dibutuhkan, tidak berlebihan rasanya bila para petugas kebersihan khususnya yang bertugas mengangkut sampah dari TPS menggunakan mobil sampah untuk langsung menyortir STK sebelum seluruhnya dibuang ke TPA untuk dibinasakan.
Sekilas, niat baik untuk mengumpulkan SKK berdampak baik pada upaya menjaga kebersihan dan keindahan kota. Dengan begitu, SKK telah menjadi barang langka yang semakin sulit dijumpai lagi. Seorang kawan aktivis lingkungan hidup mengatakan bahwa dibutuhkan waktu yang cukup lama agar SKK dapat terurai hancur oleh tanah. Kawan pecinta alam ini melanjutkan argumentasinya bahwa tanah yang telah terkontaminasi plastik dan bahan kimia dapat mengganggu kehidupan ekosistem, di darat maupun di laut. Dalam jangka panjang dikhawatirkan juga akan mengancam kehidupan manusia manakala mengkonsumsi hewan-hewan yang tercemar limbah plastik tersebut.
Tekad untuk mengurangi STK dengan alasan untuk menjaga kesimbangan alam dinilai belum efektif mengingat STK merupakan bagian terkecil dari banyaknya sampah plastik yang berhasil diproduksi setiap hari. Aneka sampah plastik mulai yang bertekstur lunak seperti botol minuman kemasan, bungkusan makanan ringan atau bungkusan deterjen bubuk maupun plastik bertekstur relatif keras terlihat masih banyak berserakan di pinggir jalan dan lingkungan pemukiman warga kota Labuan Bajo. Gerakan mengumpulkan STK ini seolah-olah mengabaikan resiko buruk yang sama terhadap jenis sampah plastik lainnya. Tidak jarang, demi mengumpulkan STK, banyak ASN yang justru sengaja membuka dan membuang isi STK yang kebetulan juga berisi sampah lainnya dan membiarkan isinya berserakan begitu saja. Seharusnya seluruh sampah termasuk yang berbahan dasar plastik menjadi target gerakan ini. Apabila skenario semacam ini berjalan dengan baik, bisa dipastikan wajah kota Labuan Bajo akan berseri kembali dan sedap dipandang mata. 

***

Disadari memang kondisi jalan dalam Kota Labuan Bajo sungguh sangat memprihatinkan. Tidak saja sempit namun juga berlubang di sana-sini. Sebuah potret buruk di tengah gencar-gencarnya daerah mempromosikan sektor pariwisata sebagai potensi unggulan dengan binatang komodo sebagai primadona utama. Gayung bersambut. Pemerintah pusat menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari sepuluh destinasi tujuan wisata prioritas di Indonesia yang kemudian didukung oleh program dan kegiatan pembangunan infrastruktur vital yang sangat sensitif terhadap minat wisatawan seperti pembangunan jalan, jembatan, dermaga/pelabuhan dan bandara, ruang publik, TPA serta pemenuhan kebutuhan listrik dan air bersih. 

Khusus menjawab kebutuhan daerah terhadap jalan dalam kota Labuan Bajo yang mulus, Pemerintah Pusat telah memprogramkan pembangunan jalan yang berkualitas dengan bahan dasar aspal dicampur STK yang telah dicacah menjadi lembaran-lembaran kecil. Meskipun masih dalam tahap uji coba, kualitas jalan komposisi aspal dan STK yang dihasilkan nanti diyakini lebih tahan lama jika dibandingkan dengan jalan dengan bahan aspal murni. Mendengar argumentasi ini begitu saja tanpa perlu mencernanya lebih jauh, maka sangat wajar jika program pengumpulan STK perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Siapa yang tidak senang jika dibangunkan jalan yang bagus hanya dikompensasi dengan mengumpulkan STK?Kita bisa menebak, semua akan setuju. Namun, fenomena rusaknya jalan aspal dalam kota Labuan Bajo bukan sekadar akibat kontur tanah yang labil sehingga harus menyalahkan alam tetapi apabila ditelaah secara seksama, banyaknya jalan yang rusak akibat pengerjaan yang tidak maksimal dan pengawasan proyek yang kurang dikoordinasikan dengan baik. Beberapa titik kerusakan jalan dalam kota terlihat akibat adanya penumpukan material di badan jalan seperti batu, tanah, pasir dan krikil. Sederet unsur material tersebut terkesan sengaja ditaruh begitu saja oleh kontraktor tanpa ada yang mencoba menegur. Kebanyakan material yang teronggok akan digunakan untuk pembangunan median jalan, trotoar dan drainase milik Pemerintah. Material yang menggunung kemudian dilindas oleh kendaraan yang mondar-mandir. Sudah bisa disimpulkan bagaimana jadinya jalan aspal beradu otot dengan kerikil yang dilindas barang berat. Jalan aspal akan rusak. Mula-mula berlubang, terkikis sedikit demi sedikit, tergerus oleh air hujan dan akhirnya rusak parah. Bahkan tidak jarang pekerja sengaja mencampur adukan semen di badan jalan. Setelah pekerjaan selesai, sisa-sisa campuran semen yang sudah mengering akan ditinggal begitu saja dan tentu beresiko akan merusak kondisi aspal yang sebelumnya sudah bagus.
Usia jalanan beraspal semakin singkat disaat ada pekerjaan galian pipa air dan kabel listrik serta pemasangan atau pemindahan tiang listrik dan telepon. Proyek-proyek galian tanah yang dikerjakan kurang terpadu dan terkoordinasi dengan baik ini memaksa jalanan beraspal dirusak sedemikian rupa dengan cara menggali lubang untuk membenamkan pipa dan kabel terutama pada persimpangan jalan. Pekerjaan rampung, lubang ditutup seadanya. Menyisakan gundukan tanah. Kondisi jalan beraspal tidak dikembalikan seperti sedia kala.
Akibat miskoordinasi seperti ini melahirkan kesan nyata di tengah masyarakat "membangun dengan cara merusak" telah menjadi hal yang biasa.

***

Saat ini, aspal dan STK menjadi kata yang sangat familiar di kalangan ASN di Kabupaten Manggarai Barat. Gerakan untuk mengumpulkan SKK terus digelorakan. Satu persatu SKK terkumpul dan akhirnya membukit. Meski masih jauh dari target 36 ton, setidaknya dalam beberapa hari terakhir para ASN telah sukses banting stir menjadi pemulung dadakan. Sebuah fenomena langka yang dialami ASN daerah ini karena meskipun uji coba penggunaan aspal dan STK dalam membuat jalan ini terbilang sukses, saya menyangsikan daerah lain akan mengikutinya apalagi harus menerjunkan laskar ASN untuk memungut satu-satu STK yang dibuang bebas masyarakat. 

Jejak langkah Lunar menembus Lomba OSN di Padang

Lunar bersama Bpk. Bupati sesaat sebelum berangkat ke Padang
Ternyata usaha itu tidak sia-sia. Tuhan mendengar doa Lunar. Di sepertiga bulan puasa, berita yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Lunar dinyatakan sebagai pemenang lomba Olimpade Sains Provinsi tingkat SD untuk Mata Pelajaran Matematika mengalahkan wakil-wakil sekolah dari kabupaten lainnya se-Provinsi NTT sekaligus menasbihkan dirinya sebagai salah satu dari dua orang peserta yang akan mewakili Provinsi NTT mengikuti lomba OSN di Padang Provinsi Sumatera Barat.
Lunar bersama teman-teman sesama kontingen dari Provinsi NTT
Pasca dirinya ditetapkan sebagai peserta OSN melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  Lunar diliput kebahagiaan tiada tara. Ia berhasil menjungkirbalikkan prediksi saya yang meremehkan dia bakal gagal di tingkat Provinsi NTT. Kesimpulan saya sangat prematur. Hanya berdasar pada kekeliruan dia dalam mengerjakan soal yang relatif mudah pada saat lomba di Kupang, ternyata pada soal lain yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, dia dengan enteng menemukan jawabannya. Sejatinya sayalah yang paling bahagia mendengar berita kalau Lunar berhasil menjuarai OSP di Kupang beberapa waktu lalu. 
 
Foto bersama Bupati, Kadis PKO, Guru dan Ibunda tercinta
Sebelum semuanya larut terbuai euforia kemenangan, saya perlu mengingatkan Lunar untuk tidak lekas berpuas diri. Sebaliknya dia harus kembali mempersiapkan diri. Semakin tekun belajar dan terus bersemangat mematut semua contoh soal-soal OSN matematika yang pernah diperlombakan. Mengurangi waktu bermain bahkan mengorbankan sedikit waktu istirahatnya demi mempelajari kisi-kisi atau prediksi soal olimpiade matematika yang mungkin keluar. Lunar harus menyadari bahwa setelah tiba di level ini tantangan yang dihadapi sangat berat. Selain karena bobot soalnya semakin sulit, saingannya pun tidak boleh dianggap remeh mengingat seluruhnya merupakan para pemenang utusan provinsi masing-masing. 
Lunar mengenakan rompi khas Manggarai Barat
Meskipun demikian, Lunar tidak boleh terlihat apatis. Menganggap para saingannya terlalu digdaya, hebat dan sulit untuk dikalahkan. Saya harus mampu menjaga ritme daya juangnya tetap stabil. Memastikan semangatnya jangan sampai kendor. Tidak boleh kalah sebelum bertarung. Doa dan dukungan sahabat, guru, orang tua, keluarga dan masyarakat Manggarai Barat dan NTT secara luas, setidaknya menjadi spirit bagi Lunar untuk mempersembahkan yang terbaik. 

Mendampingi Lunar sebagai bentuk dukungan langsung kepadanya
Apapun hasil yang diraih di Padang nanti, Lunar harus menerimanya dengan lapang dada. Setidaknya Lunar telah berhasil mewakili Provinsi NTT berlaga di ajang lomba pengetahuan bergengsi: Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SD Tahun 2018 dengan mata pelajaran spesialisasi Matematika. Sekali lagi Lunar telah membuktikan bahwa dengan Matematika dia dapat menginjakkan kaki di tanah Minang, tanah kelahiran para cerdik cendikia negeri ini. Selamat berjuang, Raih medalimu !!!. 
Perjalanan Labuan Bajo-Kupang-Padang, 2 Juli 2018

Thursday, May 10, 2018

Nilam di usia 10 tahun

Di pertama kali kau mengintip dunia
Di tenggelamnya kau memagut asi
Di timang kau terlelap merenda mimpi
Di mulainya kau merangkak lantas mengayun derap kaki
Di tengah kau mengeja satu-satu nama yang mencintai
Di sederhananya pagi kau pergi mengejar asa
Di pendar cahaya bintang kau melafalkan kalam Ilahi
Seolah semuanya barusan terlewati

Alhamdulillah...Dirimu kini telah menjejaki usia 10 tahun.
Selamat ultah buatmu sang gerimis "RINAI LANGIT NILAKANDI"
Doa kami masih sama seperti tahun-tahun lalu..Amiinn..

Monday, March 19, 2018

Ketika Lunar Menjuarai Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten


Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Dari nomor baru yang tidak saya kenal. Pikiran saya sontak mengarah ke Lunar-anak sulung saya. Hari ini dia tengah serius mengikuti Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten. Saya menduga Lunar sengaja meminjam HP milik gurunya untuk memberitahukan saya agar segera menjemputnya di sekolah atau mengabarkan hasil lombanya kepada saya dan ibunya. Dugaan saya tidak keliru, Lunar nekat meminjam HP Kepala Sekolahnya karena tidak sabar ingin segera menginformasikan kepada kami bahwa dia telah berhasil keluar sebagai pemenang Lomba Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten Manggarai Barat, menyingkirkan peserta lainnya dengan status masing-masing sebagai pemenang lomba tingkat kecamatan. Berita baik ini dalam sekejap memenuhi antero rumah. 

Foto: Lunar menerima Piala Juara I Olimpiade
Mobil hitam metalik milik Kepala SDN Labuan Bajo II yang mengantar Lunar menepi di sisi kiri jalan persis di depan gerbang gang menuju rumah. Lunar turun dengan senyum tersungging sambil memegang sebuah piala besar. Piala yang mengkultuskan dirinya sebagai pemenang lomba Olimpiade Matematika SD tingkat Kabupaten Manggarai Barat. Sebentuk penghargaan yang pantas diberikan atas sederet kerja keras yang telah dilakoni Lunar selama ini. Bagaimana tidak, belakangan ini nyaris tidak ada waktu luangnya yang digunakan untuk bersantai. Sepulang sekolah dia hanya beristirahat sebentar karena sore harinya dia sudah ditunggu oleh guru pembimbing di sekolah. Berkutat dengan rumus matematika yang rumit hingga menjelang malam. Otaknya tidak berhenti berpikir sampai di situ. Selepas makan malam, dia kembali harus mematut satu-satu buku kisi-kisi soal olimpiade. Kali ini saya sendiri yang menjadi mentornya. Mentor dengan tampang sangar yang berlaku sok hebat padahal selalu mengandalkan youtube manakala menemui soal-soal yang super sulit.




Foto: Lunar Juara I Olimpiade Matematika Tk. Kabupaten
Harus diakui soal-soal dalam lomba olimpiade (baca: matematika) memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi dari sekedar lomba mata pelajaran biasa. Sebagian besar soal-soal yang diuji belum pernah diajarkan oleh guru di dalam kelas. Tidak jarang soal-soalnya adalah pelajaran matematika tingkat SMP. Bisa dibayangkan otak anak kelas V SD dituntut untuk menyelesaikan soal yang sejatinya anak SMP saja kesulitan dalam mengerjakannya. Belum lagi komposisi soal yang diuji seluruhnya berisi uraian, bukan pilihan ganda. Memang pada saat seleksi tingkat sekolah, gugus dan tingkat kecamatan, setengah soal yang diuji masih dijumpai pertanyaan disertai jawaban alternatif. Setelah tingkat kabupaten, seluruhnya mutlak uraian yang jawabannya pun perlu disertai proses bagaimana menemukan jawaban yang benar tersebut. Sungguh sebuah tantangan yang berat dijalani. Pada titik ini, saya tidak segan mengacungkan dua jempol buat peserta yang bisa menjawab setiap soal dengan benar. 

Melihat betapa sulitnya soal-soal olimpiade matematika SD, Lunar harus memiliki persiapan yang matang. Dia perlu melatih lagi kemampuan menghitung cepat, mengasah kembali pisau analisisnya menghadapi beragam jenis pertanyaan. Lunar merasa tertantang dan termotivasi untuk terus belajar. Terlihat dia sering mengutak-atik soal sendirian, mencorat-coret di banyak kertas untuk memecahkan soal yang ada, membuka buku pelajaran sekedar memastikan rumus yang dipakai sudah tepat. Sebuah pendekatan yang saya kira sangat bijak. Lunar merasa mustahil ikut berperang di medan laga tanpa dibekali keahlian mumpuni. Setidaknya dia mesti mengenal siapa sang musuh sebenarnya. Berbekal semangat dan tekad yang keras, sebagai orang tua saya harus mampu mendampingi dan membimbingnya dalam belajar. Saya harus mampu membaca momentum di kala semangatnya tengah membuncah, saya memberinya materi yang sulit dan pelik untuk dibahas dan saat dia mulai kelihatan lelah, saya hanya membahas materi yang relatif mudah dan tidak lupa memberinya waktu untuk sekedar refreshing. Bagaimanapun juga otaknya tidak boleh terlalu dipaksakan. 

Di tahun ini, tepatnya di semester I sekolah, Lunar juga pernah menjuarai lomba mata pelajaran matematika SD tingkat kabupaten. Sayang lomba ini memang hanya sampai tingkat kabupaten. Untuk itu dia berambisi agar gelaran lomba olimpiade matematika kali ini, dia bisa lolos sampai tingkat provinsi di Kupang. Mewakili sekolah sekaligus daerahnya berlomba dalam ajang olimpiade matematika di tingkat provinsi itu merupakan prestasi tersendiri. Baginya menang dan kalah di sana urusan kedua, setidaknya hanya dengan matematika dia dapat mengobati rasa penasarannya menginjakkan kaki di ibukota Provinsi NTT. Selama ini Kota Kupang hanya didengar lewat cerita heroik Rais -adik Lunar- dimana dalam satu kesempatan saya pernah mengajak Rais ke kota yang terkenal dengan cendana tersebut.

Foto; Lunar Juara Lomba Mata Pelajaran Matematika Tk. Kabupaten
Berkat kerja keras dan ketekunan yang luar biasa serta sejumput doa yang terus terpanjat, secara bertahap Lunar mampu menjuarai lomba olimpiade matematika SD dari tingkat sekolah, tingkat gugus, tingkat kecamatan bahkan tingkat kabupaten. Kali ini dia benar-benar menjadi utusan Kabupaten Manggarai Barat untuk berlomba di tingkat Provinsi NTT. Target Lunar bergeser, dia ingin kembali berjaya di Kupang sehingga bisa lolos ke tingkat nasional. Sebuah impian yang perlu diwujudkan dengan usaha, kerja keras dan doa yang beribu kali lipat dari sebelumnya. Sebagai orang tua, saya siap mewujudkan mimpinya itu. Yakinilah hasil tak pernah mengkhianati proses.


Labuan Bajo, 15 Maret 2018










Thursday, December 28, 2017

Selaksa doa untuk Rais Bumi di Usia yang ke-5 tahun

Tanggal 29 Desember 2017 menjelang. Di tengah orang-orang hiruk-pikuk dengan nuansa tahun baru 2018. Rais Bumi pun bersiap menyambut hari kelahirannya dengan penuh syukur, suka cita dan pengharapan.

***

Saya mulai menyusun tulisan ini ketika jam di sudut kanan ponsel saya menunjukkan waktu pukul 23.04 Wita. Itu berarti kurang dari satu jam lagi roda waktu akan bergulir ke perbatasan malam dan siang. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, biasanya waktu tengah malam seperti ini saya sudah tertidur pulas di tempat tidur. Namun, malam ini saya sengaja melewatkannya dengan kedua mata terus terjaga. Saya ingin melewatkan detik-detik peralihan hari dengan jiwa penuh kesyukuran. Sebab ketika jarum panjang jam lewat sedikit dari jarum pendek yang menunjukkan angka dua belas, di momen itu anak ketiga sekaligus putra pertama saya yang bernama Rais Bumi genap berumur lima tahun.

Sebenarnya saya ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia tapi saya tidak mungkin membangunkannya dari buaian mimpi tidurnya. Sebab kalaupun dia bangun, mungkin dia belum terlalu paham maksud doa yang saya panjatkan. Baginya ucapan ulang tahun adalah hadiah yang diberikan kepadanya. Dalam bentuk mainan ataupun ajakan berlibur. Padahal umur yang bertambah merupakan salah satu hadiah paling berharga dari Empunya kehidupan.

Muhammad Rais Bumi begitu nama yang saya dan ibunya pilihkan untuk dia. Nama yang mengandung selaksa doa untuk keberkahan hidupnya kelak. Nama yang harus selalu dijaga kesuciannya sepanjang hayat karena secara sengaja mencatut nama Manusia Pilihan di depan namanya. Identitas yang akan menegaskan kepada semua orang dan seluruh alam semesta apa agamanya dan siapa junjungannya.

Waktu menunjukkan jam 12 kurang empat menit. Dalam hitungan detik umur rais terus bertambah. Tidak terasa usianya kini sudah menginjak angka 5 tahun. Di sunyinya malam, seraya mengucap syukur saya ingin mengetuk pintu langit agar berkenan selalu memberkahi umur Rais Bumi. Senantiasa Melindungi dirinya dalam menapaki keras, berkelok dan terjalnya kehidupan. Semoga Rais Bumi kelak menjadi anak yang sholeh, menjadi qurrota a'yun-penyejuk jiwa- orang tuanya. Menjadi anak yang selalu diliputi keberanian dalam menegakkan panji Islam terus berkibar.

Di penghujung malam, tak ada yang melihat diam-diam saya mengecup kening Rais Bumi yang masih terlelap. Selamat panjang umur sang cahaya mataku.

Di samping Rais, Kamar, 29 Desember 2017

Tuesday, December 26, 2017

Cerita Singkat Sang Calon Pilot




Rais berlonjak kegirangan ketika di suatu sore, saya berencana mengajaknya ke Kupang. Rais tidak tahu kota Kupang itu dimana dan apa yang akan dilakukan di sana. Dalam benaknya ia hanya berfikir bahwa kota Kupang itu letaknya jauh dari kotanya dan untuk sampai ke sana perlu menggunakan pesawat terbang. Saat logikanya terbentur pada kata pesawat terbang, rasa penasaran akan sensasi terbang bersama burung besi itu semakin meluap-luap. Ia sudah tidak sabar untuk segera merasakan bagaimana rasanya terbang di ketinggian seperti superman.

*****

Rais bersama Petugas Bandara Komodo

Sudah lama terpikir dalam benak saya untuk sesekali mengajak anak-anak saya terutama Rais berlibur keluar kota. Bukan bermaksud mengistimewakan Rais seorang, kalau boleh jujur, diantara ke-4 anak saya, Raislah yang saat ini dibilang masih bebas dibawa kemana-mana. Dua anak perempuanku, Lunar dan Nilam saat ini masih harus berkutat dengan tugas sekolah. Sedangkan si bungsu-Nauzan, usianya baru menginjak 15 bulan. Masih terlalu belia untuk diajak bepergian. 

Hari yang dinanti Rais menjelang. Kota tujuan sudah dipilih. Tanggal keberangkatan sudah pula ditetapkan. Tiket pesawatpun sudah di tangan. Sebentar lagi mimpinya menaiki pesawat terbang terobati. Meskipun demikian ia belum cukup percaya kalau saya akan mengajaknya ke Kupang kali ini. Berulang kali ia bertanya ketika deru suara pesawat terbang terdengar jelas di telinganya saat landing dan take off di bandara yang jaraknya hanya dua kelokan dari rumah. 
"Kapan kita berangkat ke Kupang, pa?" Saya hanya menjawab singkat. "Besok nak!"

Tiba hari keberangkatan. Rais nampak sudah siap sedari pagi meskipun jadwal pesawat ke Kupang sore hari. Semua keperluannya selama di kota karang seperti beberapa potong baju dan celana telah semua dimasukkan ke dalam ransel yang saya bawa. Agar ia bisa lebih leluasa bergerak, ia hanya menyampirkan tas mungil bergambar Ultraman di pundak. Isinya berupa sedikit makanan ringan dan susu kemasan. Ia tidak lupa memasukkan IPAD kesayangan dengan dominasi fitur game ke dalam tasnya. 

Rais berpose sejenak di dekat pesawat

Dengan celana panjang dipadukan kaos oblong lengan panjang yang ditutupi jaket berwarna senada serta dengan sepatu sneaker menghias kedua kaki, Ia melangkah mantap dari ruang tunggu menuju apron pesawat. Sekilas penampilan Rais tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan penampilan anak-anak artis yang sering muncul di televisi. Dalam hati saya tersenyum geli. Ternyata Rais telah mewarisi ketampanan ayahnya.


Rais tidak sabar menggandeng
tangan saya memasuki pesawat
Rais duduk berdampingan dengan saya di  deretan kursi nomor 6 sebelah kiri. Saya sengaja memilihkan dia posisi duduk dekat jendela. Semula niat saya hanya ingin melihat respon dia ketika berada di ketinggian. Apakah dia termasuk anak acrophobia, seseorang yang cemas atau takut ketika berada di tempat tinggi. Dugaan saya salah. Sebaliknya Rais justru sangat bersemangat melihat pesawat perlahan-lahan lepas landas. Dia sangat takjub melihat rumah, kendaraan, gunung, pohon dan semuanya yang berada di bawah berangsur-angsur semakin mengecil dan nampak tidak terlihat jelas. Rona gembira terpancar jelas di wajahnya saat pesawat sesekali bermanuver di antara awan-awan. Sepertinya sang pilot tahu kalau salah satu penumpangnya ada yang begitu senang dengan penerbangan ini. Senyum Rais mengembang luas saat seorang pramugari iseng menanyakan perasaannya. Saya tahu Rais tak bisa menjawab pertanyaan pramugari dengan detail sebab perasaannya bercampur aduk antara kaget, takjub, senang dan tidak percaya. Kalau saya membaca ekspresinya, perasaan Rais sangat senang dan bahagia. Namun sayang kesenangan dan kebahagiaan itu sulit untuk diungkapkannya dengan kata-kata.


Rais bersama Pramugari
Rais sedang memandang keluar jendela pesawat

Matanya hampir selalu tertuju ke pemandangan di luar pesawat. Ia seperti tak mau kehilangan momentum menikmati setiap detik di udara. IPAD yang dibawanya tak pernah sekalipun disentuh. Pesawat terus terbang melewati Laut Sawu. Itu berarti sebentar lagi pesawat yang ditumpangi Rais akan tiba di Kupang. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam di tengah cuaca bulan Desember yang tidak menentu tak mengurangi antusiasme Rais di atas pesawat. Saya sempat memperhatikan dia sedang tertegun. Seperti ada pertanyaan besar menyelinap di kepalanya. 
"Bagaimana bisa benda sebesar ini bisa terbang dan melayang dengan anggun di udara? Siapakah gerangan sosok jenius yang telah menciptakan moda transportasi sehebat ini?" Pertanyaan Rais tetap menjadi misteri di benaknya. Terdengar suara pramugari menginformasikan bahwa dalam waktu dekat pesawat yang kami tumpangi akan mendarat di Bandar Udara El Tari Kupang. Rais kembali mengenakan sabuk pengaman dan memegang erat tumpuan tangan pada kursi miliknya. Ia memejamkan mata sejenak seraya menghembuskan nafasnya pelan. Pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di landasan. "Alhamdulillah" kalimat pujian keluar dari mulut saya dan Rais secara serentak. Welcome to Kupang, Rais Bumi..
Di dalam taksi menuju hotel tempat kami menginap, Rais berbisik lirih di telinga saya. 
"Papa, kalau sudah besar, saya mau jadi pilot !!"
Saya menjawab dengan senyum mengembang namun di hati penuh pengharapan agar kelak Tuhan mendengar doa Sang Calon Pilot..


*****

Rais berdiri di depan Gedung Sasando
Kantor Gubernur NTT di Kupang
Kupang, 14 Desember 2017

Monday, April 17, 2017

Setelah Membaca Buku Bunda Ana


Semula saya tidak pernah tertarik membaca buku insiratif, buku tips sukses dan buku psikologi pupuler. Bagi saya membaca buku semacam itu sungguh membosankan. Saya tidak pernah merasakan “kenikmatan” saat membaca buku-buku tersebut. Beda halnya dengan membaca buku non fiksi bertema lainnya seperti ekonomi, politik, sosial maupun agama, saya masih dapat menikmatinya. Untuk urusan membaca buku, saya paling suka membaca buku fiksi seperti novel dan komik. Sehingga wajar saja dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, yang paling banyak memenuhi rak buku saya justeru novel dan komik. Kemudian disusul buku bertema agama, ekonomi, dan politik. Satu-satunya buku psikologi yang saya miliki adalah buku “tes psikologi”. Buku ini sengaja saya beli beberapa saat setelah diwisuda. Buku ini berisi kisi-kisi dan tips menghadapi tes psikologi dan tes wawancara saat akan melamar kerja di perusahaan.

***

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat undangan dari seorang sahabat untuk menghadiri pembukaan seminar parenting dengan tema “Menjadi Orang Tua Efektif: Mengasuh Anak Sesuai dengan Potensi Genetiknya”. Seminar yang dibawakan oleh Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi,M.Si. Seorang psikolog pendidikan yang sudah malah melintang di kancah permotivasian. Jujur saja, awalnya saya memutuskan untuk menghadiri acara pembukaan ini bukan karena terkesima dengan narasumbernya yang bergelar "Doktor" namun karena semata-mata ingin menghargai undangan sahabat saya ini yang kebetulan bertindak sebagai Ketua Panitia kegiatan seminar. 

Undangan Seminar
Meski acara pembukaan tidak sempat dihadiri oleh Bupati Manggarai Barat –hanya diwakilkan oleh Camat Komodo- undangan yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat cukup banyak yang hadir, menunjukkan mereka begitu antusias mengikuti acara pembukaan seminar ini. Di tengah acara berlangsung, narasumber seminar yang biasa akrab disapa Bunda Ana ini membagikan cenderamata secara simbolis kepada beberapa orang yang telah dipiih khusus oleh Panitia berupa buku karya terbaru dari sang bunda berjudul “Menjadi Orang Tua”.

Camat Komodo Membuka Seminar Parenting
Melihat cover buku dengan desain menarik, sedikit membuat saya terpikat. Saya betul-betul merasa penasaran terhadap isi buku tersebut saat ekor mata saya tidak sengaja membaca sub judul buku yang sedang dipegang oleh seorang bapak yang barusan menerima buku tersebut di atas panggung. Di sana tertulis kalimat inspiratif “Tidak Ada Kesempatan Kedua dalam Mengasuh Anak”. Sebuah kalimat pembangun jiwa yang membuat saya mantap harus bisa segera memiliki buku itu. Untuk sementara saya melupakan adagium “jangan melihat buku dari sampulnya”. 

Di akhir acara pembukaan seminar, saya menyempatkan diri membeli buku tersebut dengan harga yang relatif murah. Saya tidak pernah merasa rugi membeli sebuah buku sepanjang buku tersebut berkualitas. Di tahap ini, saya ingin segera larut membacanya, menyelami isinya, menimba ilmu yang ada di dalamnya dan menerapkan maknanya dalam kehidupan keluarga kecil saya.
Buku Karya Bunda Ana
Buku itu tidak terlalu tebal sehingga terkesan tidak menjemukan ketika memulai membacanya. Membaca sekilas buku ini kelihatan menarik. Betul saja, dalam mukaddimah, kurang lebih dua puluh halaman berisi testimoni 24 orang yang memberi apresiasi pada buku ini. Setelah larut membaca beberapa halaman pertama, saya lantas bisa mengambil kesimpulan bahwa materi buku ini terbilang ringan. Mudah dicerna dan dipahami karena Bunda Ana sengaja menggunakan bahasa sederhana untuk memudahkan proses transfer pengetahuan kepada para orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. 

Buku ini tidak sekadar berisi teori yang lahir dari sebuah hipotesa bagaimana mengasuh anak yang baik tetapi juga berangkat dari fakta dan pengalaman nyata Bunda Ana dalam mengasuh ketiga anaknya. Di sini Bunda Ana tidak hanya “omdo” (omong doang) tetapi menawarkan solusi mengasuh anak yang efektif dengan mengkombinasikan aspek teoritis dengan pengalaman pribadi hasil pendekatan interaksi intensif dengan ketiga anaknya sekaligus dengan lingkungannya.

Saya membaca buku ini hingga tuntas selama tiga hari. Terlalu lama untuk ukuran buku berhalaman kurang lebih 200 halaman. Apalagi besar huruf yang digunakan relatif besar. Belum lagi pada setiap bab disisipkan motto dari beberapa tokoh dunia terkenal yang dicetak dengan huruf cukup besar pula. Saya biasanya mampu melahap membaca novel setebal kitab suci dalam tempo dua hari. Itupun tidak terus-menerus bergumul dengan novel tersebut dari pagi hingga malam hari. Bahkan saya sering mengkhatam habis satu buah novel tebal dalam perjalanan udara dari Kupang-Labuan Bajo, atau sebaliknya yang hanya ditempuh waktu kurang lebih dua jam.

Waktu membaca buku Bunda Ana terbilang lama karena dalam setiap bab saya perlu merefleksikan kembali apa yang saya baca dan saya pahami terkait metode pengasuhan anak yang efektif dengan metode yang selama ini saya dan isteri saya terapkan dalam mengasuh anak kami. Untuk beberapa kasus, sebagai orang tua kami merasa metode pengasuhan anak yang selama ini kami terapkan sepertinya keliru.

Bunda Ana menyampaikan Materi Parenting
Anak adalah mutiara titipan Tuhan, sebagai anugerah sekaligus amanah. Oleh karenanya orang tua bertanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani serta kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi diri sendiri dan sesama. Peran yang dijalankan orang tua ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemberi Hidup.

Benar kata Bunda Ana, yang telah mengutip pendapat Virginia Satir, seorang penulis dan psikoteraphis dari Amerika yang dikenal luas sebagai “Ibu dari Terapi Keluarga” bahwa mengasuh anak bukanlah tugas yang mudah bahkan dapat dikatakan pekerjaan paling rumit. Setiap orang tua mungkin merasa telah melakukan yang terbaik demi anaknya, namun terkadang hasilnya berujung kurang bahagia –kalau tidak mau dikatakan tidak bahagia-. 

Untuk itu menjadi penting bagi orang tua untuk mengenal potensi anak, kemudian diasah dan dikembangkan dengan benar, maka keberhasilan sekaligus kebahagiaan hidup anak adalah sebuah keniscayaan. Mengasuh anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya akan membuat anak menjalani kehidupan dengan suka cita, sebaliknya orang tua merasa nyaman dan tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang tua idaman keluarga.

Potensi yang dimiliki anak layaknya sebuah pisau. Kelebihan berada pada sisi pisau yang tajam, sebaliknya kekurangan anak adalah sisi pisau yang tumpul dan mengarah ke atas. Orang tua harus cermat melihat kelebihan dan kekurangan anaknya. Kelebihan anak semestinya akan selalu diasah dan ditumbuhkembangkan hingga menjadi kekuatan anak. Sebaliknya kekurangan yang ada  pada diri anak tidak lantas membuat anak menjadi apatis, introver dan eksklusif.

Pola pengasuhan yang tidak mendikte anak untuk menjadi seseorang menurut kemauan orang tua atau sekadar mengikuti tren yang sedang berlangsung. Tidak juga menambah beban anak untuk menutupi kegagalan orang tua pada masa lalu. Di sini peran orang tua harus mampu berlaku adil. Memposisikan anak sesuai masanya karena setiap generasi memang memiliki masa dan tantangannya sendiri. Saya menggarisbawahi dengan dua garis bawah kalimat inspiratif dalam buku Bunda Ana “orang tua pernah menjadi anak-anak sedangkan anak-anak belum pernah menjadi orang tua, sehingga orang tualah yang harus menyesuaikan dengan kehidupan anak-anak”. 

Di bagian lain buku ini, Bunda Ana mengulas dengan runtut bagaimana berlaku sebagai orang tua yang bijak. Sebab seluruh tutur kata, sikap dan perbuatan orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Pada tahap ini, wajar ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan orang tua. Orang tua dituntut harus pandai menjadi teman sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Keterbukaan menjadi kata kunci di tengah komunikasi yang terbangun antara orang tua dan anak. Komunikasi yang disampaikan dengan jujur dan dituturkan dengan bahasa yang halus dan sopan diyakini akan memperkuat ikatan bathin antar keduanya.

Buku karya Bunda Ana, merupakan satu dari sekian buku psikologi popular cara mengasuh anak yang tersebar banyak di toko buku, selayaknya menjadi koleksi berharga bagi orang tua, baik yang telah lama berumah tangga, belum lama maupun yang akan berumah tangga. Karena dalam buku tersurat dan tersirat bagaimana memperlakukan anak agar anak tidak saja menjadi perhiasan tetapi juga penyejuk mata dan penenang jiwa orang tuanya.

Sebagai orang tua dari empat orang anak yang masih kecil, saya merasa buku Bunda Ana ibarat peta yang sangat membantu saya dalam menuntun biduk rumah tangga khususnya dalam hal mengasuh anak, bergerak ke arah mana nantinya. Belum terlambat kiranya apabila arah yang saya tuju kini meleset dari sasaran untuk selanjutnya memutar kemudi berbalik haluan. Sebab jauh di lubuk hati yang paling dalam saya berharap agar keempat anak saya dapat menjadi penyejuk hati dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat. Amiin

Terakhir, saya sedikit memberi saran kepada Bunda Ana agar pada edisi berikutnya buku ini disempurnakan lagi karena ada hal yang sifatnya memang bukan prinsipil namun sangat mengganggu saya sebagai pembaca dalam membaca. Maaf, terkesan banyak penggunaan tanda baca dan penulisan huruf yang salah yang sepertinya luput dari mata editor. Sukses selalu Bunda..Terima kasih..

Labuan Bajo, 18 April 2017