Sunday, December 29, 2024

Yaumul Milad Rais Bumi


Hari ini kamu ulang tahun. Kali ini agak berbeda, kamu menuntut supaya hari jadimu dirayakan di luar rumah. Sebenarnya ini sama saja kamu meminta untuk berlibur singkat. Sekalian libur semester ganjil sekolah katamu.

Tidak perlu jauh-jauh apalagi harus keluar kota. Di Labuan Bajo semua tersedia. Namun, memilih bertamasya di area terbuka di penghujung bulan desember khawatir hujan turun membuyarkan keseruan. Ke pantai sedikit membosankan. Apalagi kondisi laut sementara tidak baik-baik saja. 
Pilihan pamungkas mengajakmu berenang di kolam renang. 

Aku tahu hobimu (termasuk Nauzan-adikmu) akhir-akhir ini keranjingan berenang. Kalau sudah asyik berenang, kamu sulit sekali berhenti. Terkadang gigi sudah gemeretak, ujung jari-jarimu sudah keriput pertanda tubuhmu sudah tidak kuat lagi merespon suhu dingin, namun kamu belum mau beranjak keluar dari kolam renang. 
Dari itu, aku bersepakat dengan ibumu untuk mengajakmu berlibur singkat menginap di hotel tentu yang dilengkapi fasilitas kolam renang. Semalam saja, bagiku itu sudah cukup memuaskanmu. 

Setali tiga uang, saudara sepersepupuanmu juga berencana menginap di hotel meskipun cukup semalam. Gayung bersambut, diamini pula oleh kedua orang tua mereka. Jadilah barang itu.
Setelah check in dan menyimpan barang-barang di kamar, pikiranmu langsung tertuju ke kolam renang yang letaknya persis berada di bawah kamar kita. 
Tanpa ba-bi-bu kamu langsung meluncur turun ke kolam renang dengan baju renang yang sudah kamu persiapkan sedari awal di rumah.
Tidak berselang lama, kamu sudah menguasai setiap sudut kolam renang. Adikmu serta selusin sepupumu juga tak terasa sudah memenuhi kolam renang.
Dari balkon kamar, aku sedikit berteriak mengingatkanmu batas waktu berenang hanya 2 jam. Suasana sore yang sedikit mendung membuatmu terlihat betah berlama-lama di kolam renang. 

Waktu berenang sore habis !

Selepas menunaikan sholat maghrib, giliran aku yang ingin menguasai kolam renang. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi mandi di kolam renang malam-malam. Baru saja telapak kakiku menyentuh air kolam, rupanya diam-diam kamu dan adikmu juga sudah bersiap untuk mandi kolam lagi. 
Karena air kolam terasa hangat, (SIM) Surat Ijin Mandi pun keluar untuk kalian berdua. 
Biar ramai gerombolan sepupumu juga tidak mau kalah ikut berenang. Suasana sangat riuh. Untung saja tetamu hotel banyak yang sedang keluar cari makan di luar sehingga serasa kolam renang ini milik pribadi kami. 
Satu jam kami berenang, menurutku itu sudah lumayan.
Malampun beranjak hingga di perbatasan waktu. Beberapa detik memasuki tanggal 29 Desember 2024. Sebuah momen penting bagimu. Tepat 12 tahun lalu, kamu dilahirkan ke dunia. Putera pertama yang aku dan ibumu sangat nantikan. Sebaris nama penuh doa yang kusiapkan kusematkan padamu, "Muhammad Rais Bumi".

Di pertengahan malam, sebenarnya aku dan ibumu berencana memberikan kejutan padamu. Layaknya sinetron, skenarionya kami akan membangunkanmu yang sedang tidur hanya ingin memberikan.ucapan selamat ulang tahun padamu. Rencana ini kutunda dulu hingga pagi hari karena tidak ingin mengganggu lelapmu. Lagian kehebohan di tengah malam dipastikan akan menggangu tamu lain yang menginap di hotel ini.

Fajar menyingsing, skenario dimatangkan. Komunikasi diintensifkan. Paman dan bibimu serta segenap sepupumu mengendap-endap menuju kamar. Bermaksud memberimu kejutan. Membawa beraneka kue ulang tahun. Pintu kamar dibuka, medley ulang tahun dinyanyikan oleh empunya suara yang sebagian belum cuci muka dan kumu-kumur. Membuatmu tidak percaya, terbengong dan sedikit malu-malu.
Selaksa doa bergantian dipanjatkan untukmu. Semua pengharapan yang terbaik bagimu di masa depan ditinggikan. Kami ingin kamu kelak menjadi anak yang sholeh, senantiasa sehat, cerdas, mulia dan menjadi pemimpin yang bermanfaat untuk agama, semesta dan seisinya. Insya Allah..Aamiin..

Mumpung masih gratis, setelah sarapan pagi kalianpun kembali berhambur menuju kolam renang. Mandi sepuasnya, berenang dengan aneka gaya, loncat, lompat, menyelam, jungkir balik, bermain game di air semua boleh kalian lakukan. 
Hari ini kita terus bersyukur masih diberkahi kesehatan dan umur panjang. Mari bergembira dan menikmati momen ulang tahunmu yang ke-12 ini, kebetulan bersamaan dengan hari libur sekolah dan libur kantor. Semoga Allah SWT selalu meridhoi usaha kita kedepannya sehingga kebersamaan dan kekompakan dapat terus terjalin sampai nanti. Aamiin YRA 🤲🏻

Friday, May 10, 2024

Yaumul Milad Nilam..

Aku tahu, ingat dan hafal kapan kamu dilahirkan. 
Ibumu, kakak dan adik-adikmu serta orang-orang terdekatmu pun tahu hari paling bersejarahmu.
Bahkan tema pembicaraan mengenai hari jadimu semakin intens dibicarakan akhir-akhir ini. 
Ada yang mengaitkannya dengan hari ulang tahunku yang memang jaraknya berdekatan, kurang lebih sepekan.
Ada yang telah merencanakan untuk menggelar hajatan syukuran sederhana, meski itu belum kami sepakati.
Semua mengingat ulang tahunmu dengan jelas.
Meskipun aku tak mungkin lupa, aku tetap berupaya memasang alarm pengingat lewat Hpku.  
Namun sayang, manusia tempatnya khilaf.
Sering alpa dan lalai. Lupa dan cenderung amnesia.
Begitupun dengan aku. Ohh, ternyata bukan aku saja. Ibumu, kakakmu, adik-adikmu, kakek dan nenekmu, paman dan bibimy, sepupu-sepupumu semuanya seperti terserang penyakit lupa massal. 
Memori otak kami tak satupun ada yang mengingatnya lagi.
Bunyi alarm yang kupasang berlalu begitu saja.
Riuh pembicaraan dengan tema tunggal hari ulang tahunmu menguap tak berbekas.
Tadi pagi pun aku sempat mencermati kalender gantung. Menghitung sisa waktu libur cuti bersama.
Sungguh sama sekali aku tak mengingatnya. 
Tak tebersit sedikitpun dalam ingatanku kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu. 
Hingga di suatu pagi, disaat sinar mentari masih hangat-hangatnya.
Hp ibumu berdering, sebuah nada notifikasi pesan chat masuk.
Sebuah pesan singkat masuk darimu.
"Ma, aku ulang tahun hari ini" begitu isi chatmi.
Sontak, mamamu kaget lantas menghampiriku dan memberitahu kalau kamu baru saja menyampaikan informasi super penting dan mendadak yang membuat kami kembali siuman. 
Astaga, aku tak menyangka. Sederet alasan tetap tidak sanggup meyakinkanku bahwa aku memang sudah lupa. Rencana matangku ambyar. 
Padahal sudah jamak, setiap memasuki pukul 00.01 WITA hari ulang tahun orang terkasih, aku menjadi orang yang pertama mengucapkan kalimat selamat milad. Pun denganmu.
Aku tidak mau berlaku salah untuk kedua kalinya. Memanfaatkan momentum sejenak.
Menengadahkan tangan, mengambil sikap berdoa. Melafazkan seuntai doa khusyuk kepada Allah Azza wa Jalla, Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.
"Ya Rabb, Alhamdulillah atas rezeki umur panjang buat anakku, Nilam. Berkahilah usianya dengan penuh kebaikan. Semoga tetap menjadi anak sholehah. Kabulkanlah cita-citanya menjadi Hafidzah Al-Qur'an. Lindungilah dia selama menuntut ilmu di pesantren. Jadikan dia anak yang sukses dunia dan akhirat serta kelak menjadi sang penyejuk mata kedua orang tua dan sesamanya. Aamiin YRA 🤲

Friday, April 5, 2024

Beruntai Doa untuk Lunar di Hari Jadinya yang ke-17

Sudah lama aku tidak menulis di blog ini. Kalau diingat-ingat mungkin sudah mendekati satu lustrum. 
Aku tiba-tiba saja mau menulis. Ada sejumput harapan ingin kutuangkan dalam tulisan ini. Persis momentumnya sama dengan hari jadi Lunar Bulan hari ini, putri sulungku yang kini menginjak usia 17 tahun. Yah, tidak terasa, kini kau telah remaja bahkan sebentar lagi akan melewati masa transisi menjadi dewasa. 
Sweet seventeen atau usia 17 tahun sederhananya merupakan tapal batas antara remaja dan dewasa. Di usiamu yang baru ini, terdapat sejumlah perkembangan yang akan kau jelang. Setidaknya itu berupa perkembangan fisik, kognitif, emosional, psikologis, bahasa dan sosial. 
Secara fisik tentu akan nampak secara jelas. Perkembangan kognitif, maka kau akan merasakan pikiranmu menjadi lebih dewasa, mimpimu kian realistis, lebih mandiri dan berani menerima realitas kehidupan.
Secara emosional juga ada yang berubah pada dirimu. Kau dituntut untuk lebih mandiri dan siap menjunjung tanggung jawab yang lebih besar. 
Secara psikologis, merasa lebih bebas namun jiwamu masih labil, emosimu masih gampang naik turun serta mulai nyaman dengan lawan jenis.
Secara bahasa, kosa katamu lebih gaul,  slengean, mengikuti tren dan viral di sosmed. 
Terakhir, perkembangan sosial. Terus terang ini yang paling aku khawatirkan. Nanti, kecenderungan dirimu akan menjaga jarak dengan orang tua dan keluarga dekatmu. Kamu akan lebih memilih teman atau sahabat sebagai tempat pergumulan bathin. Curhatmu bukan lagi dibagikan kepada kami orang tuamu. 
Saat ini, sesuai persyaratan administrasi, kamu sudah diperbolehkan memiliki kartu identitas berupa KTP dan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Dengan mengantongi dua dokumen tersebut, bukan tidak mungkin untuk mengurus surat-surat penting lainnya dapat kamu lakukan sendiri tanpa meminta persetujuan orang tua. Itu artinya, kamu lebih independen untuk menentukan arah masa depan yang akan kamu tuju. 
Di usiamu yang kini 17 tahun. Tak pernah berhenti aku dan ibumu mendaraskan doa demi kebijaksanaanmu kelak. 
Pinta sederhana dari kami sebagai orang tua kepada Allah Azza wa Jalla: "isilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-Mu yang layak untuk menerima nikmat-Mu, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka". Aamiin YRA..







Thursday, April 4, 2024

Menangkap Peluang Bisnis Menjelang Buka Puasa

Bulan Ramadhan memang merupakan bulan penuh berkah.. Berkah tidak hanya bersifat spritual tetapi juga nyata kehadirannya dalam bentuk fisik.. Setidaknya inilah yang dirasakan para ibu rumah tangga yang sengaja memanfaatkan momentum ramadhan untuk berjualan aneka makanan untuk takjil atau makanan yang sengaja disediakan untuk menyegerakan waktu berbuka puasa.
***

Seperti ramadhan tahun-tahun yang lalu, setiap kali menjelang waktu berbuka puasa nampak terlihat di kiri kanan trotoar sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Labuan Bajo para pedagang dadakan sekaligus musiman menggelar aneka kuliner yang menggoda selera. Aneka makanan dan minuman ditata sedemikian rupa diatas meja panjang untuk menarik calon pembeli. Bagi seorang pembeli sudah pasti akan dibuat bingung untuk memikih kuliner apa yang akan dibeli karena jenis dan bentuknya yang beraneka ragam. Semuanya telah tersaji lengkap dengan harga yang cukup terjangkau. Pembeli hanya perlu menyediakan uang lebih untuk melengkapi menu buka puasanya sesuai selera masing-masing. Butuh minuman yang segar, telah tersedia es cendol, es buah, es campur dan es kelapa muda. Mau sesuatu yang dapat sedikit menunda rasa lapar, dapat mencoba kolak pisang, es pisang ijo dan es kacang hijau. Mau merasakan sensasi makanan lembut dapat mencoba aneka puding dan kue-kue tradisional. Kalau perut kita terbiasa langsung menyantap makanan berat, juga telah tersedia aneka lauk pauk.. Sate padang dan madura lengkap dengan lontongnya, menu olahan ikan dan telur serta olahan sayur juga menggugah selera kita.
***
Pada titik ini saya justru menaruh apresiasi kepada kelihaian para penjual takjil ini. Bagaimana mereka mampu melihat momentum ini sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan dan sayang bila tidak dimanfaatkan. Sepertinya mereka paham betul teori ekonomi Opportuniity cost, biaya yang hilang (sesungguhnya tidak hilang) bila tidak memanfaatkan peluang. Mereka sadar bahwa pangsa pasarnya jelas, pembeli begitu antusias membeli bahkan memborong barang dagangannya. Mereka juga tau psikologi seorang pembeli saat ini, bahwa pembeli lebih memilih makanan siap saji  dengan pilihan bervariasi itu dibanding harus mengolahnya sendiri. Tidak efektif dan juga tidak efisien,
Sayang peluang emas itu berlalu begitu saja, ibu-ibu rumah tangga yang kesehariannya diluar bulan puasa tidak aktif berbisnis serta-merta menggelar dagangan dengan menu makanan yang spesial. Berbeda sendiri bahkan dianggap jenis makanan untuk takjil yang dijualnya terbilang langka dan sangat sulit ditemukan di hari-hari biasanya. Ramadhan juga menjadi momentum bagi ibu-ibu untuk menguji kemampuan jiwa bisnis mereka. Sebab dari memilih bahan baku, memproduksi sampai memasarkannya semua dilakukan sendiri.
Karena bersifat dadakan, semua menu takjil yang dijual harus cermat memperhitungkan singkatnya waktu berjualan. Begitu adzan maghrib berkumandang, semua dagangan diharapkan habis terjual. Bila tidak, diobral pun sepertinya sulit menemukan calon pembeli sebab semua konsumen sudah memilih dan membeli menu takjilnya masing-masing.
Menjelang lebaran idul fitri, semua keuntungan direkapitulasi. Sepertinya jumlah yang cukup untuk digunakan memburu kebutuhan lebaran. Kerja keras sebagai wirausahawan dadakan dibayar lunas dengan pendapatan yang meningkat. Dari hasil memeras keringat itu, kebutuhan lebaran seperti busana muslim baru, sepatu dan sandal baru, kue-kue dan menu hidangan wajib lebaran, perlengkapan rumah baru dan kebutuhan lainnya menjadi lebih mudah direalisasikan.
***
Teringat kata seorang manajer terkenal yang mengatakan bahwa sesungguhnya yang berusaha keras dan tak mengenal lelah serta mampu membaca peluanglah yang mampu memenangkan persaingan bisnis sudah terbukti.

Labuan Bajo, 13 Juni 2016 (puasa hari ke-8)

Wednesday, October 16, 2019

Kebetulan Tidak Ada yang Kebetulan

Banyak yang menganggap sesuatu yang mustahil terjadi dianggap kebetulan. Bagi yang percaya pendapat ini bisa langsung mematahkan semangatnya untuk berbuat sesuatu. Ragu untuk memulai kembali. Sebaliknya, bagi orang optimis atau oportunis sekalipun, hal tersebut justru menjadi pelecut untuk berusaha lebih keras lagi. Bukankah temuan-temuan spektakuler abad ini lahir dari mimpi-mimpi besar. Perkembangan teknologi dewasa ini sesungguhnya bermula dari sebuah hayalan. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Bahkan dipikirkan saja sudah berat apalagi direalisasikan. Waktu yang bergulir membuktikan. Suara-suara putus asa dibungkam. Yang mustahil satu persatu nampak di depan mata. Kita tidak pernah membayangkan sebelumnya Neil Amstrong dan kawan-kawan berhasil menerbangkan Apollo XI dan mendarat di bulan. Saat ini, orang-orang telah bolak-balik keluar angkasa. Tidak hanya melakukan penelitian tetapi juga melakukan perjalanan wisata. Beberapa dekade sebelumnya. Kita hanya bisa berkomunikasi jarak jauh menggunakan gelombang suara. Saat ini, kita sudah dapat beinteraksi langsung saling berhadap-hadapan dengan lawan bicara hanya dengan sebuah alat bernama ponsel yang menggunakan jaringan internet. Dahulu sebuah televisi berbentuk tabung besar. Sekarang sudah sangat tipis dengan layar yang sangat lebar. Hampir seluruh peralatan elektronik menggunakan kabel sebagai perantara arus. Hari ini kita menyaksikan penggunaan kabel semakin berkurang. Diganti bluetooth dan jaringan wifi. Semuanya seperti instan. Dipermudah oleh adanya teknologi masa kini. Waktu semakin efisien namun hasilnya akan lebih efektif. Perkembangan zaman dimotori oleh orang-orang kreatif dan inovatif. Tak pernah puas dengan hasil yang dicapai sekarang. Dikembangkan terus menerus tanpa batas. Kita tahu bahwa kemampuan berpikir otak manusia ada batasnya. Namun bukan berarti monoton dan tidak akan berkembang lagi. Justru rasa ingin tahu banyak yang mendorong kita memutar otak untuk mencapainya. Merancang kembali cara yang tepat untuk merealisasikan rasa penasaran. Wajar orang berprinsip bahwa tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini.

***
Istilah kebetulan hanya lahir dari mulut orang yang tidak percaya diri dengan usaha dan kerja keras. Memandang kebetulan sebagai kemustahilan belaka. Ibarat mimpi di siang bolong yang tak pernah berbuah kenyataan. Kalaupun terjadi tidak bakal terulang kembali. Mentok. Padahal kemajuan jaman yang serba modern ini ditunjukkan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kemajuannya melebihi ekspektasi sebagai besar orang. Setiap saat selalu saja ada yang baru dicetuskan. Berbeda dari sebelumnya. Kebetulan bagian dari ketidaksengajaan. Alih-alih diulangi. Realitaspun masih dipertentangkan. Pada titik ini, orang dengan argumentasinya masing-maisng. Mencoba memberi jawaban dengan sejuta alasan. Dan itu adalah hak mereka masing-masing.

***
Menarik untuk didiskusikan. Sebagai contoh sederhana. Hari ini, tanggal 29 September 2019. Saya terbang menggunakan pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 029 dari Labuan Bajo menuju Denpasar. Tidak sampai disitu, saya duduk di kursi nomor 29. Kebetulankah?Saya rasa tidak. Bukankah pada setiap bulan yang akan datang kejadian akan berulang kembali. Tanggal 29, nomor penerbangan 29 dan duduk di kursi 29. Paling tidak sebulan dari sekarang.

Labuan Bajo, 29 September 2019

Ruang Tunggu

Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang kebanyakan tidak saling mengenal. Berkumpul untuk maksud yang sama. Menunggu sesuatu. Di ruang tunggu.

***

Ruang tunggu biasanya tersedia di bandara, pelabuhan, terminal dan stasiun. Namun, tidak jarang juga terlihat di fasilitas publik lainnya seperti di rumah sakit atau tempat praktek dokter, di bank dan di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta yang kegiatannya berinteraksi langsung dengan masyarakat umum. Fasilitas ruang tunggu sengaja disediakan untuk memberi kenyamanan kepada seseorang dalam menunggu sesuatu atau seseorang. 
Mengangkat tema sederhana ruang tunggu menjadi menarik manakala juga membicarakan aktivitas orang-orang di ruang tunggu.


***
Saat menulis blog ini, saya sementara berada di dalam ruang tunggu Bandara Komodo Labuan Bajo. Di tengah-tengah penumpang lain yang sama-sama sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Tentu dengan tujuan masing-masing. Sambil menulis, saya mengamati tingkah laku orang-orang di sekitar. 
Sebagian besar sedang memainkan ponsel mereka. Sudah bisa ditebak kalau mereka satu tanah air dengan saya. Ada yang membawa anak-anak. Dibiarkannya anak-anak mereka lari ke sana kemari. Beberapa kelompok terlihat sedang asyik bercerita. Sesekali tertawa lepas dan mengagetkan orang yang duduk diam namun sesekali menguap di dekatnya. Bahkan terlihat ada yang sedang tidur-tiduran di kursi panjang di sudut ruang tunggu. Sengaja menjauh dari kerumunan. Dua orang ibu-ibu tidak jauh dariku dari tadi sedang asyik menikmati makanan ringan yang dibawanya dari rumah sambil menonton layar tv besar yang menyiarkan berita demonstrasi di berbagai penjuru negeri. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan momen dengan berselfie ria pada titik-titik tertentu. Bergaya sedemikian rupa dan klikkk. Satu gambar memenuhi memori.

Berbeda dengan aktivitas penumpang lokal. Saya juga memperhatikan bagaimana tingkah laku penumpang asing (baca: bule).
Di antara mereka, terlihat sedang bercengkrama. Saling menyela pembicaraan satu sama lain. Mungkin mereka sedang mendiskusikan sesuatu.
Beberapa sibuk dengan bacaannya. Sebuah buku tebal yang dipegang dibaca dengan serius. Seorang berkaca mata sedang mengetik di laptop yang ditaruh di pahanya. Sepertinya dia sedang melihat kembali foto-foto aktivitasnya selama di Labuan Bajo yang tampil di layar monitor. Beberapa orang memperhatikan informasi penerbangan pada layar besar di ruang tunggu. Memastikan informasi yang dilihatnya dengan tiket yang dipegang. Sepasang dari mereka bahkan ada yang nekat. Mengumbar kemesraan dengan berciuman. Satu dua kali dengan jeda beberapa menit. Tidak malu dengan orang di sekitarnya termasuk saya yang duduk tepat berada di belakangnya.

Untuk menjaga privasi penumpang dalam ruang tunggu ini, saya sengaja tidak mengambil gambar mereka.

***

Ruang tunggu didesain senyaman mungkin. Dimaksudkan agar orang-orang tidak dilanda kejenuhan menunggu. Seharusnya, saat berada di ruang tunggu. Banyak hal positif yang bisa dilakukan. Seperti beberapa orang bule yang memanfaatkan waktu dengan membaca buku. Kalaupun menggunakan telpon genggam, sebaiknya pula digunakan untuk membaca buku dan berita dari aplikasi online yang banyak tersedia. Tidak hanya sekedar main game-meskipun saya tahu ada juga manfaatnya.
Saya tidak tahu apakah menulis blog ini dapat dikategorikan kegiatan positif. Lamat-lamat petugas bandara memanggil seluruh penumpang pesawat tujuan Denpasar untuk segera masuk ke dalam pesawat. Saya pun bergegas ke pintu pemeriksaan tiket.

Labuan Bajo, 29 September 2019