![]() |
| Di salah satu momen kita berkumpul |
Wednesday, August 22, 2018
Reuni itu Kan Kita Jelang
Wednesday, July 25, 2018
Ketika PNS Rangkap Jabatan Menjadi Pemulung
Tekad untuk mengurangi STK dengan alasan untuk menjaga kesimbangan alam dinilai belum efektif mengingat STK merupakan bagian terkecil dari banyaknya sampah plastik yang berhasil diproduksi setiap hari. Aneka sampah plastik mulai yang bertekstur lunak seperti botol minuman kemasan, bungkusan makanan ringan atau bungkusan deterjen bubuk maupun plastik bertekstur relatif keras terlihat masih banyak berserakan di pinggir jalan dan lingkungan pemukiman warga kota Labuan Bajo. Gerakan mengumpulkan STK ini seolah-olah mengabaikan resiko buruk yang sama terhadap jenis sampah plastik lainnya. Tidak jarang, demi mengumpulkan STK, banyak ASN yang justru sengaja membuka dan membuang isi STK yang kebetulan juga berisi sampah lainnya dan membiarkan isinya berserakan begitu saja. Seharusnya seluruh sampah termasuk yang berbahan dasar plastik menjadi target gerakan ini. Apabila skenario semacam ini berjalan dengan baik, bisa dipastikan wajah kota Labuan Bajo akan berseri kembali dan sedap dipandang mata.
Khusus menjawab kebutuhan daerah terhadap jalan dalam kota Labuan Bajo yang mulus, Pemerintah Pusat telah memprogramkan pembangunan jalan yang berkualitas dengan bahan dasar aspal dicampur STK yang telah dicacah menjadi lembaran-lembaran kecil. Meskipun masih dalam tahap uji coba, kualitas jalan komposisi aspal dan STK yang dihasilkan nanti diyakini lebih tahan lama jika dibandingkan dengan jalan dengan bahan aspal murni. Mendengar argumentasi ini begitu saja tanpa perlu mencernanya lebih jauh, maka sangat wajar jika program pengumpulan STK perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Siapa yang tidak senang jika dibangunkan jalan yang bagus hanya dikompensasi dengan mengumpulkan STK?Kita bisa menebak, semua akan setuju. Namun, fenomena rusaknya jalan aspal dalam kota Labuan Bajo bukan sekadar akibat kontur tanah yang labil sehingga harus menyalahkan alam tetapi apabila ditelaah secara seksama, banyaknya jalan yang rusak akibat pengerjaan yang tidak maksimal dan pengawasan proyek yang kurang dikoordinasikan dengan baik. Beberapa titik kerusakan jalan dalam kota terlihat akibat adanya penumpukan material di badan jalan seperti batu, tanah, pasir dan krikil. Sederet unsur material tersebut terkesan sengaja ditaruh begitu saja oleh kontraktor tanpa ada yang mencoba menegur. Kebanyakan material yang teronggok akan digunakan untuk pembangunan median jalan, trotoar dan drainase milik Pemerintah. Material yang menggunung kemudian dilindas oleh kendaraan yang mondar-mandir. Sudah bisa disimpulkan bagaimana jadinya jalan aspal beradu otot dengan kerikil yang dilindas barang berat. Jalan aspal akan rusak. Mula-mula berlubang, terkikis sedikit demi sedikit, tergerus oleh air hujan dan akhirnya rusak parah. Bahkan tidak jarang pekerja sengaja mencampur adukan semen di badan jalan. Setelah pekerjaan selesai, sisa-sisa campuran semen yang sudah mengering akan ditinggal begitu saja dan tentu beresiko akan merusak kondisi aspal yang sebelumnya sudah bagus.
Usia jalanan beraspal semakin singkat disaat ada pekerjaan galian pipa air dan kabel listrik serta pemasangan atau pemindahan tiang listrik dan telepon. Proyek-proyek galian tanah yang dikerjakan kurang terpadu dan terkoordinasi dengan baik ini memaksa jalanan beraspal dirusak sedemikian rupa dengan cara menggali lubang untuk membenamkan pipa dan kabel terutama pada persimpangan jalan. Pekerjaan rampung, lubang ditutup seadanya. Menyisakan gundukan tanah. Kondisi jalan beraspal tidak dikembalikan seperti sedia kala.
Akibat miskoordinasi seperti ini melahirkan kesan nyata di tengah masyarakat "membangun dengan cara merusak" telah menjadi hal yang biasa.
Jejak langkah Lunar menembus Lomba OSN di Padang
![]() |
| Lunar bersama Bpk. Bupati sesaat sebelum berangkat ke Padang |
![]() |
| Lunar bersama teman-teman sesama kontingen dari Provinsi NTT |
![]() |
| Foto bersama Bupati, Kadis PKO, Guru dan Ibunda tercinta |
![]() |
| Lunar mengenakan rompi khas Manggarai Barat |
Thursday, May 10, 2018
Nilam di usia 10 tahun
Di pertama kali kau mengintip dunia
Di tenggelamnya kau memagut asi
Di timang kau terlelap merenda mimpi
Di mulainya kau merangkak lantas mengayun derap kaki
Di tengah kau mengeja satu-satu nama yang mencintai
Di sederhananya pagi kau pergi mengejar asa
Di pendar cahaya bintang kau melafalkan kalam Ilahi
Seolah semuanya barusan terlewati
Alhamdulillah...Dirimu kini telah menjejaki usia 10 tahun.
Selamat ultah buatmu sang gerimis "RINAI LANGIT NILAKANDI"
Doa kami masih sama seperti tahun-tahun lalu..Amiinn..
Monday, March 19, 2018
Ketika Lunar Menjuarai Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten
![]() |
| Foto: Lunar menerima Piala Juara I Olimpiade |
Harus diakui soal-soal dalam lomba olimpiade (baca: matematika) memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi dari sekedar lomba mata pelajaran biasa. Sebagian besar soal-soal yang diuji belum pernah diajarkan oleh guru di dalam kelas. Tidak jarang soal-soalnya adalah pelajaran matematika tingkat SMP. Bisa dibayangkan otak anak kelas V SD dituntut untuk menyelesaikan soal yang sejatinya anak SMP saja kesulitan dalam mengerjakannya. Belum lagi komposisi soal yang diuji seluruhnya berisi uraian, bukan pilihan ganda. Memang pada saat seleksi tingkat sekolah, gugus dan tingkat kecamatan, setengah soal yang diuji masih dijumpai pertanyaan disertai jawaban alternatif. Setelah tingkat kabupaten, seluruhnya mutlak uraian yang jawabannya pun perlu disertai proses bagaimana menemukan jawaban yang benar tersebut. Sungguh sebuah tantangan yang berat dijalani. Pada titik ini, saya tidak segan mengacungkan dua jempol buat peserta yang bisa menjawab setiap soal dengan benar.
Melihat betapa sulitnya soal-soal olimpiade matematika SD, Lunar harus memiliki persiapan yang matang. Dia perlu melatih lagi kemampuan menghitung cepat, mengasah kembali pisau analisisnya menghadapi beragam jenis pertanyaan. Lunar merasa tertantang dan termotivasi untuk terus belajar. Terlihat dia sering mengutak-atik soal sendirian, mencorat-coret di banyak kertas untuk memecahkan soal yang ada, membuka buku pelajaran sekedar memastikan rumus yang dipakai sudah tepat. Sebuah pendekatan yang saya kira sangat bijak. Lunar merasa mustahil ikut berperang di medan laga tanpa dibekali keahlian mumpuni. Setidaknya dia mesti mengenal siapa sang musuh sebenarnya. Berbekal semangat dan tekad yang keras, sebagai orang tua saya harus mampu mendampingi dan membimbingnya dalam belajar. Saya harus mampu membaca momentum di kala semangatnya tengah membuncah, saya memberinya materi yang sulit dan pelik untuk dibahas dan saat dia mulai kelihatan lelah, saya hanya membahas materi yang relatif mudah dan tidak lupa memberinya waktu untuk sekedar refreshing. Bagaimanapun juga otaknya tidak boleh terlalu dipaksakan.
Di tahun ini, tepatnya di semester I sekolah, Lunar juga pernah menjuarai lomba mata pelajaran matematika SD tingkat kabupaten. Sayang lomba ini memang hanya sampai tingkat kabupaten. Untuk itu dia berambisi agar gelaran lomba olimpiade matematika kali ini, dia bisa lolos sampai tingkat provinsi di Kupang. Mewakili sekolah sekaligus daerahnya berlomba dalam ajang olimpiade matematika di tingkat provinsi itu merupakan prestasi tersendiri. Baginya menang dan kalah di sana urusan kedua, setidaknya hanya dengan matematika dia dapat mengobati rasa penasarannya menginjakkan kaki di ibukota Provinsi NTT. Selama ini Kota Kupang hanya didengar lewat cerita heroik Rais -adik Lunar- dimana dalam satu kesempatan saya pernah mengajak Rais ke kota yang terkenal dengan cendana tersebut.
![]() |
| Foto; Lunar Juara Lomba Mata Pelajaran Matematika Tk. Kabupaten |
Thursday, December 28, 2017
Selaksa doa untuk Rais Bumi di Usia yang ke-5 tahun
Tanggal 29 Desember 2017 menjelang. Di tengah orang-orang hiruk-pikuk dengan nuansa tahun baru 2018. Rais Bumi pun bersiap menyambut hari kelahirannya dengan penuh syukur, suka cita dan pengharapan.
***
Saya mulai menyusun tulisan ini ketika jam di sudut kanan ponsel saya menunjukkan waktu pukul 23.04 Wita. Itu berarti kurang dari satu jam lagi roda waktu akan bergulir ke perbatasan malam dan siang. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, biasanya waktu tengah malam seperti ini saya sudah tertidur pulas di tempat tidur. Namun, malam ini saya sengaja melewatkannya dengan kedua mata terus terjaga. Saya ingin melewatkan detik-detik peralihan hari dengan jiwa penuh kesyukuran. Sebab ketika jarum panjang jam lewat sedikit dari jarum pendek yang menunjukkan angka dua belas, di momen itu anak ketiga sekaligus putra pertama saya yang bernama Rais Bumi genap berumur lima tahun.
Sebenarnya saya ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia tapi saya tidak mungkin membangunkannya dari buaian mimpi tidurnya. Sebab kalaupun dia bangun, mungkin dia belum terlalu paham maksud doa yang saya panjatkan. Baginya ucapan ulang tahun adalah hadiah yang diberikan kepadanya. Dalam bentuk mainan ataupun ajakan berlibur. Padahal umur yang bertambah merupakan salah satu hadiah paling berharga dari Empunya kehidupan.
Muhammad Rais Bumi begitu nama yang saya dan ibunya pilihkan untuk dia. Nama yang mengandung selaksa doa untuk keberkahan hidupnya kelak. Nama yang harus selalu dijaga kesuciannya sepanjang hayat karena secara sengaja mencatut nama Manusia Pilihan di depan namanya. Identitas yang akan menegaskan kepada semua orang dan seluruh alam semesta apa agamanya dan siapa junjungannya.
Waktu menunjukkan jam 12 kurang empat menit. Dalam hitungan detik umur rais terus bertambah. Tidak terasa usianya kini sudah menginjak angka 5 tahun. Di sunyinya malam, seraya mengucap syukur saya ingin mengetuk pintu langit agar berkenan selalu memberkahi umur Rais Bumi. Senantiasa Melindungi dirinya dalam menapaki keras, berkelok dan terjalnya kehidupan. Semoga Rais Bumi kelak menjadi anak yang sholeh, menjadi qurrota a'yun-penyejuk jiwa- orang tuanya. Menjadi anak yang selalu diliputi keberanian dalam menegakkan panji Islam terus berkibar.
Di penghujung malam, tak ada yang melihat diam-diam saya mengecup kening Rais Bumi yang masih terlelap. Selamat panjang umur sang cahaya mataku.
Di samping Rais, Kamar, 29 Desember 2017
Tuesday, December 26, 2017
Cerita Singkat Sang Calon Pilot
Rais berlonjak kegirangan ketika di suatu sore, saya berencana mengajaknya ke Kupang. Rais tidak tahu kota Kupang itu dimana dan apa yang akan dilakukan di sana. Dalam benaknya ia hanya berfikir bahwa kota Kupang itu letaknya jauh dari kotanya dan untuk sampai ke sana perlu menggunakan pesawat terbang. Saat logikanya terbentur pada kata pesawat terbang, rasa penasaran akan sensasi terbang bersama burung besi itu semakin meluap-luap. Ia sudah tidak sabar untuk segera merasakan bagaimana rasanya terbang di ketinggian seperti superman.
![]() |
| Rais bersama Petugas Bandara Komodo |
![]() |
| Rais berpose sejenak di dekat pesawat |
![]() |
| Rais sedang memandang keluar jendela pesawat |
Di dalam taksi menuju hotel tempat kami menginap, Rais berbisik lirih di telinga saya.
"Papa, kalau sudah besar, saya mau jadi pilot !!"
Saya menjawab dengan senyum mengembang namun di hati penuh pengharapan agar kelak Tuhan mendengar doa Sang Calon Pilot..
![]() |
| Rais berdiri di depan Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT di Kupang |
















