Teringat lebih dari dua dekade yang lalu. Dimana akupun mampu menorehkan prestasi lulus seleksi menjadi salah satu mahasiswa baru di Unhas. Di tengah cibiran orang-orang yang tidak yakin atas kemampuanku.
Saat itu, orang tuaku sangat bangga padaku. Mereka sudah banyak mendengar betapa sulitnya menembus kampus Unhas. Maklum, saat itu-dan saat ini-Unhas menjadi perguruan tinggi negeri terbaik se-Indonesia timur.
Aku pernah mendengar langsung dari Bapakku kalau sedari awal mereka sudah yakin aku pasti bisa menaklukan ujian masuk ini. Bukan saja karena keseriusanku dalam mempersiapkan diri namun yang lebih berpengaruh adalah derasnya doa yang dipanjatkan ibuku di setiap sujud akhir di penghujung malam.
Saat berkuliah, begitu besar pengorbanan orang tuaku. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, mereka tidak pernah mempersoalkan biaya kuliahku. Belum lagi adik-adikku yang juga membutuhkan biaya untuk bersekolah. Padahal aku tahu penghasilan Bapakku tidak menentu, sebagai nelayan tradisional yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan tentu hasilnya tidak banyak sedangkan ibuku hanya pembuat sekaligus penjual kue rumahan.
Mereka tidak pernah mengeluh dengan biaya kuliahku. Meskipun di beberapa kali kesempatan lewat surat yang ditulis Bapakku, mereka memintaku agar sedikit bersabar. Di kala aku membutuhkan uang secara tiba-tiba dan nominalnya cukup banyak, untuk kuliah dan kebutuhan hidup di tanah rantau, mereka hanya meminta sedikit waktu untuk terus mengusahakannya. Segala daya upaya telah dilakukan. Aku pernah mendengar dari beberapa orang, Ibuku pernah menggadaikan perhiasan kesayangannya hanya untuk memenuhi permintaan uang anaknya di negeri seberang.
Mereka benar-benar bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Mereka meyakini hanya dengan pendidikan nasib kami bisa berubah. Baginya, cukup mereka saja yang berpendidikan rendah. Anak-anaknya harus meneruskan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Pada titik ini, Bapakku pernah berpesan, tugas kami hanya belajar dan berprestasi, sedangkan biaya semasa kuliah menjadi urusan mereka. Sedemikian getirnya mengais rezeki menjadi rahasia mereka.
Orang tuaku tidak mau anaknya hidup sengsara di daerah orang. Lebih memilih mereka yang menahan lapar dan mengetatkan ikat pinggang daripada mendengar kabar anaknya sakit karena kekurangan makan. Begitu pedulinya mereka demi keberhasilanku menuntut ilmu, sampai harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan segalanya dari mereka.
Aku tahu kondisi keuangan orang tuaku. Pas-pasan jika tidak mau dikatakan miskin. Aku harus pandai menyiasati kiriman uang dari mereka. Menggunakan uang sehemat mungkin. Berbelanja hanya untuk keperluan prioritas. Meskipun terkadang godaan teman untuk sedikit foya-foya berhasil meruntuhkan sikap efisienku.
Hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari waktu normal. Menyandang status wisudawan terbaik fakultas. Menambah gelar bergengsi di ujung namaku. Mengakhiri secara perlahan tanggung jawab orang tua membiayai kuliahku. Dengan sedikit senyum terbersit di bibir, ada janji yang diam-diam mulai ditunaikan.
Namun, prosesi wisudaku belumlah sempurna. Karena alasan keuangan, hanya Bapakku saja yang datang dari kampung menghadiri acara wisudaku. Ibuku di rumah, di kampung, tetap bekerja, mencari nafkah, bergelut dengan adonan, berkutat dengan asap kompor minyak tanah, membuat kue untuk dijual sendiri di pasar.
Aku masih ingat, memeluk erat Bapakku dengan toga kebesaran. Tubuh yang semakin ringkih, yang saban waktu diterpa angin laut malam. Bapak Andalan yang akrab dengan gemintang, bulan dan debur ombak. Saat itu dia begitu sangat berbahagia. Senyum khasnya tak pernah luput dari bibirnya. Matanya berkaca-kaca diliputi keharuan tiada terkira. Matakupun berlinang air mata. Bersyukur satu langkah sudah membuat orang tuakua bahagia. Di satu sisi, aku bersedih, ibuku tidak bersama kami.
22 tahun berlalu, kini anak sulungku sudah menjadi mahasiswa baru. Sebentar lagi akan disibukkan dengan tugas kuliah. Menimba ilmu di dunia kampus. Bersosialisasi sesama mahasiswa dan dosen pengajar. Mengetahui dunia akademika lebih dalam.
Kini aku dan istriku gantian yang akan memerankan kisah lama itu. Dengan dinamika yang sedikit berbeda. Setidaknya, aku sudah banyak belajar dari pengalaman masa silam. Mulai memahami tanggung jawab besar sebagai orang tua.
Kunilai besar karena anakku perempuan. Lebih was-was rasanya jauh darinya. Ia harus pandai menjaga diri. Memilih kawan tidak boleh sembarangan. Tinggal sendiri secara mandiri di sebuah kost menjadi tantangan baru baginya.
Waktu SMP dan SMA ia memang sudah bersekolah pondok pesantren di Makassar. Saat itu, perasaan dan pikiran lebih tenang. Menitipkan anak bersekolah di pondok pesantren adalah pilihan yang tepat. Anak-anak tinggal dalam satu asrama. Ditempa ilmu agama dan ilmu dunia secara bersama-sama.
Sebagai pelipulara, alasan yang membuatku sedikit bernafas lega. Pengalamanya terbiasa jauh dari orang tua dan kebiasaan mengurus sendiri kebutuhan di dalam pondok pesantren, menjadi bekal berharga baginya untuk hidup lebih mandiri.
Tak bisa ku pungkiri, biaya kuliah dan biaya hidup di kota besar saat ini tidaklah murah namun syukur tak terhingga kepada Allah Azza wa jalla, kedua orang tuanya memiliki penghasilan tetap dan cukup. Sudah diagendakan khusus dalam satu bulan untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya secara tepat waktu.
Pada titik ini, ku sadari tanggung jawabku membiayai kuliahnya sampai wisuda nanti mungkin lebih mudah karena aku membayarnya dari gaji bulanan yang ku terima. Yang kuraih hari ini merupakan kristalisasi keringat, air mata dan doa kedua orang tuaku selama ini yang menginginkan anaknya sukses dan berhasil di kemudian hari.
Aku harus membayar lunas pengorbanan kedua orang tuaku kepada anakku untuk pendidikan. Bukankah sudah tertanam jelas di sanubari bahwa hanya dengan pendidikan kita bisa mengubah nasib sekaligus merubah dunia. Tentu dengan seturut doa agar anak-anakku juga merengkuh kesuksesan di masa mendatang. Aamiin YRA 🤲🏻