Wednesday, January 8, 2025

Bapakku Hebat, Bapak Andalanku

Dulu, lebih dari tiga dasawarsa yang lalu, saat tubuhnya masih sangat tegap. Jalannya masih terlihat tegak. Bapakku berkarakter keras sekali. Tampak dari rahangnya yang kokoh dan tegas. Setidaknya itu yang aku dan adik-adikku rasakan selama itu. 

Bapakku memiliki cara tersendiri untuk mendidik anak-anaknya. Ini kutahu setelah membandingkan dengan gaya mendidik bapak teman-temanku yang lain. Bapak mereka cenderung lebih lembut bahkan terkesan masa bodoh. Terkadang aku iri dengan perlakuan bapak mereka.
Bapakku bisa dibilang cukup kejam. Salah sedikit, dia bereaksi keras apalagi saat kami melakukan kesalahan fatal. Hukuman fisik tanpa ampun berlaku.

Dia cukup adil, sanksi untuk anak-anaknya tidak pilih-pilih. Laki-laki dan perempuan sama saja. Hanya saja anak perempuan cenderung bertingkah baik. Sehingga jarang mendapatkan hukuman. Beda dengan anak laki-lakinya. Terutama saya, putra pertama sekaligus paling tua diantara enam orang bersaudara. Harus tampil sempurna menjadi teladan bagotadik-adikku.
Ketika marah, jangankan menatap wajahnya, mendengar suaranya saja kami tidak sanggup. 

Hardikan, jewer telinga, cubit di bagian paha seperti menjadi sarapan pagi bagi kami. Makan siang dan malamnya tentu lebih parah dari itu. Dari tangan dan kaki kosong, menggunakan media sepotong kayu dan seutas tali serupa cambuk sudah biasa kami rasakan. Seluruh tubuh lebam bahkan pernah cedera. Saat dia naik pitam, rasa kasihannya entah hilang kemana. 

Waktu itu, saya belum bisa menelaah dengan baik metode mendidik anak yang ia terapkan. Bagiku, Bapak kelewat keras pada anak-anaknya. Saya belum memahami arti sebuah disiplin. Tidak mengerti maksudnya untuk menapaki hidup mandiri, menuntun sekaligus menuntut anak-anaknya agar bersikap santun dan sholeh.

Lama kelamaan saya baru paham. Ada hal yang selama ini belum sampai pada penelaran kami. Bahkan jauh dari pemikiran dasarnya. Sehingga kami mengambil kesimpulan keliru. 

Sebenarnya dia sangat mencintai keluarga termasuk kami anak-anaknya. Apa yang dilakukannya semata-mata agar anaknya menjadi manusia seutuhnya, sukses dunia dan akhirat, bermanfaat untuk diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Cerdas namun berbudi pekerti yang luhur.

Mungkin sebagian orang berpikir itu memang kewajiban sebagai orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi baik di kemudian hari. 
Sejak aku menyadari ikhwal ini, betapa menyesalnya aku telah menjustifikasinya sebagai Bapak yang over protektif, kejam bin ditakuti. 
Ternyata di relung hatinya yang paling dalam dia menyimpan banyak kasih sayang untuk kami. Dia tidak pandai mengungkapkan sesuatu dengan kalimat romantis. Mungkin dia enggan. Semua itu hanya bisa diselami dalam sukma. Dia begitu pengertian. Dia sosok Bapak yang berwibawa. Dia seorang perfeksionis sekaligus bertanggung jawab. Dia teguh menjaga harga diri keluarganya. Dia tokoh inspirasiku.

Semakin dewasa, pengalaman itu semakin menemukan kebenaran. Terutama saat memanen hasilnya saat ini. Alhamdulillah semua anak-anaknya relatif sudah sukses di bidangnya masing-masing. Saya bersumpah ini sebagian besar berkat campur tangannya dalam mendidik anak-anaknya. Karakter itu tertanam kuat di hati dan terealisasi dalam tindakan keseharian kami. Memiliki mental baja, tahan banting dan tak kenal putus asa. 

Sayang keberhasilan anak-anaknya tidak lama dirasakannya. Kami pun belum sedikitpun bisa membalas jasa-jasanya. Kami hanya bisa memberinya secuil kebahagiaan di masa tuanya. Ibarat setetes embun dari bermilaran titik hujan yag jatuh ke bumi. Tidak seberapa, tidak bernilai dan tak ada apa-apanya. 

Hari ini, Bapak telah pergi meninggalkan dunia ini untuk menghadap Sang Penciptanya. Meninggalkan kami orang- orang dicintai sekaligus mencintainya dengan tulus. Mewariskan kenangan berharga buat kami. Membekali kami dengan deretan panjang cerita berkesan tentangnya. Menegaskan tekad kami agar terus berjuang untuk menjadi seperti yang dia mau.

Bapakku hebat, Bapak andalanku telah pergi selama-lamanya. Pergi untuk tidak kembali. Pergi menjelang adzan shubuh berkumandang. Pergi dengan tenang setenang suasana saat itu. Langit sedikit mendung seakan awan berarak bersedih mengantar jenazahnya ke peristirahatan terakhir.

Jarak dengannya tinggal sebatas doa. Doa yang tak pernah putus kami panjatkan. Semoga mampu menembus langit dan diijabah langsung oleh Allah Azza wa Jalla. 
Doa diiiringi tangis agar Allah SWT saat memanggilnya pulang ke haribaan Ilahi dalam keadaan husnul khatimah, memberikan ampunan terhadap salah dan khilaf selama hidupnya, diterima seluruh amal ibadahnya, dibebaskan dari siksa kubur dan siksa neraka seeta dimasukkan ke dalam tempat yang paling mulia, surga firdaus Allah SWT. Aamiin YRA 🤲🏻

Labuan Bajo, 8 Januari 2025 (5 hari setelah kepulangan Bapakku)